BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Latest Post

Aceh Menunggu Komitmen SBY

Written By gusdurian on Sabtu, 01 Agustus 2009 | 12.04

Aceh Menunggu Komitmen SBY

Jangan tanya soal kesetiaan kepada orang Aceh. Pada zaman Soekarno,
rakyat Aceh mendedikasikan diri secara heroik. Salah satunya melalui
sumbangan pesawat Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Pada era Orde Baru,
Gubernur Syamsuddin menyerahkan 200 kilogram emas kepada Presiden
Soeharto. Pada pemilu presiden (pilpres) 2004, Aceh secara dominan (73%)
menyumbangkan suara untuk kandidat Amien Rais. Kali ini, Aceh kembali
mengejutkan jagat perpolitikan dengan sumbangan suara sangat signifikan
untuk SBY (93,2%). Jauh di atas rata-rata perolehan suara di provinsi lain.

Sukses SBY itu bermula dari kunjungan beliau ke Aceh pada akhir Maret
2009. Kunjungan ini dianggap sebagai momen penting yang meredam berbagai
aksi kekerasan pemilu. Berdasarkan catatan Aceh Institute (AI), terdapat
37 kasus kekerasan pada periode Oktober 2008-Maret 2009. Kekerasan itu
berupa pembakaran, penggranatan, dan perusakan fasilitas kantor partai
politik. Perusakan alat kampanye partai, misalnya, terjadi pada spanduk
dan poster, hingga penembakan dan pembunuhan, belum termasuk beredarnya
SMS liar yang bernada mengancam untuk memilih atau tidak memilih partai
lokal tertentu. Sumber SMS itu tidak diketahui secara pasti.

Sukses SBY meredam kekerasan ini membuat citranya --termasuk citra
Partai Demokrat-- naik. Faktor penting lain adalah masuknya Sofyan Daud,
mantan juru bicara GAM, sebagai tokoh kunci informal bagi pemenangan
Demokrat di Sumatera bagian utara. Ada /gentlement agreement /untuk
berbagi suara: level lokal untuk Partai Aceh (PA) dan level nasional
untuk SBY melalui Demokrat.

Sukses itu pun berlanjut ke pilpres. Seluruh rakyat Aceh, dimotori oleh
sikap PA, bertekad memenangkan SBY-JK. Kondisinya menjadi sedikit
membingungkan ketika JK juga mencalonkan diri. JK pun berinisiatif
merangkul PA, yang membuat PA tidak bisa bersikap. Faktanya, JK memang
lebih banyak berperan untuk perdamaian Aceh. Namun, pada sisi lain,
komitmen untuk SBY juga sudah diberikan jauh-jauh hari. Melalui Adnan
Beuransah, juru bicara PA, keluar statemen bahwa PA tidak mendukung
siapa pun, walaupun keberadaan orang-orang PA dalam mesin politik SBY
tetap dipertahankan.

Kampanye JK menggunakan kartu "arsitek perdamaian" relatif sukses pada
waktu itu. Banyak publik mulai paham tentang peran belakang layar JK
selama ini. Namun pembuatan keputusan tidak hanya ditentukan oleh elemen
kognitif, melainkan juga harus disertai dengan elemen afektif. Bahkan,
dalam beberapa kasus, elemen afektif justru berperan lebih signifikan.

Tentu tidak ada yang meragukan peran JK dalam perdamaian Aceh.
Sayangnya, pencitraan yang terlambat dibangun membuat masyarakat tidak
mudah mengalihkan pilihan. Satu minggu setelah kunjungan JK ke Aceh,
suara JK terdongkrak signifikan hingga level 40%. Banyak tokoh muda,
ulama, dan masyarakat mulai menaruh harapan pada JK. Sebagian warga Aceh
pun bingung menentukan sikap.

Namun, dalam kebingunan tersebut, warga Aceh tergiring pada
penyederhanaan informasi (/heuristics/), seperti dicatat Lau & Redlawsk
(2006). Dua elemen penting yang terkait untuk konteks ini adalah dengan
melihat ke kubu mana para politikus PA merapat (/group endorsement/) dan
siapa saja dari ketiga kandidat yang berpotensi merusak proses
perdamaian (stereotipe).

Dalam persepsi orang Aceh, pasangan Mega-Pro kurang bersahabat. Namun,
anehnya, Wiranto juga masuk dalam /list /bersama Mega-Pro, walaupun
Wiranto relatif tidak terlibat langsung dalam penerapan Daerah Operasi
Militer (DOM), bahkan mencabutnya pada 7 Agustus 1998. Sebaliknya,
justru SBY --sebagai penanggung jawab Operasi Militer II pada Mei 2003--
yang dianggap sebagai orang bertangan bersih. Lagi-lagi soal pencitraan.

Lalu SBY pun terpilih secara mutlak. Tidak bisa dimungkiri, peran dan
keberadaan politisi PA sangat dominan. Kita tidak tahu, konsesi apa yang
akan diberikan untuk kemenangan tersebut kepada Aceh secara khusus.
Menarik dicatat, hasil penelitian AI yang didukung IRI menunjukkan,
pertama, tema-tema hukum dan politik masih menjadi isu mayoritas. Dari
total 69 anggota parlemen Aceh yang baru, 51 orang menyatakan bahwa hal
ini mendesak dituntaskan, termasuk agenda reintegrasi, kriminalitas
bersenjata, dan pengungkapan kebenaran serta rekonsiliasi (KKR).

Kedua, lebih menarik lagi, 33 anggota parlemen, yang kebetulan semuanya
mewakili PA, sepakat menuntut ketegasan pemerintah pusat soal definisi
/self-governance/. Hal yang termaktub dalam MoU Helsinki, tapi tidak
tegas disebutkan dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh serta dalam
implementasinya. Hal ini terkait dengan pembagian kewenangan pusat dan
daerah. Ketiga, 33 orang parlemen yang sama menuntut dilakukan /review/
terhadap Undang-Undang Pemerintahan Aceh karena diyakini bertentangan
dengan MoU Helsinki.

Tiga tema besar itulah yang akan menjadi perjuangan parlemen Aceh ke
depan. Seperti telah kita lihat, PA menguasai parlemen provinsi pada
angka 48% dan parlemen kabupaten secara total 54%. Pertanyaannya,
setelah Aceh memberi kado istimewa untuk kemenangan SBY, apa hal
istimewa (/in reward/) yang bisa SBY berikan untuk Aceh?

*Fajran Zain*
/Manajer Analisis Aceh Institute/
[*Kolom*, /Gatra/ Nomor 38 Beredar Kamis, 30 Juli 2009]

http://gatra.com/artikel.php?id=128765

Membangkitkan Rasa Kebangsaan lewat Dunia Maya

*Ke depannya, gerakan Indonesia Unite yang dimotori oleh anak muda bisa
menjadi budaya, yang tidak cuma memerangi terorisme, tetapi aksi-aksi
lain, seperti halnya korupsi. Semangat bersatu yang membangkitkan rasa
kebangsaan itu dituangkan di social networking, seperti Facebook,
Twitter, dan Plurk. Cara yang banyak dipakai saat ini adalah dengan
memberikan nuansa merah putih pada avatar profil.*

ENTAH siapa yang memulai lebih dulu, kini simpatisan #Indonesiaunite
(IU), yang mencuat tidak lama setelah terjadinya insiden berdarah bom
bunuh diri di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton, Kuningan Jakarta,
sudah mencapai ratusan ribu orang.

Di Facebook saja, sampai kemarin (Kamis, 30/7) siang simpatisannya sudah
mencapai 181 ribu orang. Itu belum termasuk simpatisan di situs web dan
Twitter. Gerakan tersebut cukup dahsyat karena dalam waktu dua minggu
aktivitas di dunia maya itu mampu membangkitkan rasa kebangsaan di
kalangan anak muda.

Maka tidak mengherankan kalau banyak kalangan, termasuk dari luar negeri
memberi respons positif. `'Menjadi perhatian juga di Australia,
Pakistan, Afghanistan, Nepal, Vietnam, dan Singapura,'' ujar Pandji
Pragiwaksono, penyiar radio Hard Rock FM, yang aktif mencuatkan
Indonesia Unite.

Menurut Pandji, yang juga menciptakan lagu Kami Tidak Takut, IU bukanlah
organisasi, melainkan sebuah gerakan. Jadi tidak ada pengurusnya,
seperti ketua, wakil ketua, atau sekretaris. Siapa saja boleh
berpartisipasi asalkan mengemukakan hal-hal positif tentang Indonesia.

`'Roh gerakan ini mirip Serangan 1 Maret yang berhasil menduduki
Yogyakarta selama 6 jam. Tujuan serangan itu kan bukan untuk mengusir
penjajah saat itu juga, melainkan mau menunjukkan kepada dunia bahwa
Indonesia tetap bertahan. Dari peristiwa itu muncullah simpati dunia
atas Indonesia,'' jelas Pandji.

Gerakan IU, lanjutnya, juga seperti itu.
Para simpatisan bukan mau ikut-ikutan terjun langsung mencari para
teroris, melainkan mau mengajak orang untuk tidak takut. Minimal dapat
menyuarakan semangat bersatu.

`'Sekarang ini banyak pihak mengajak supaya gerakan IU tidak cuma di
online, tetapi juga menjadi sebuah gerakan offline,'' tambah Pandji.

Gerakan budaya Jika melihat tingginya antusias anak muda berpartisipasi
dalam gerakan IU, Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh
mengatakan ke depan gerakan-gerakan yang dilakukan anak muda, seperti
IU, perlu dikembangkan menjadi suatu budaya baru.

`'Di teori permainan (game theory), dikenal istilah zero-zum,
positive-sum dan negativesum. Yang diperlukan di Indonesia adalah
positive-sum, artinya harus ada aksi-aksi bermuatan positif,'' ujar Nuh.

Saat dihubungi secara terpisah, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero
Wacik mengharapkan, komunitas Indonesia Unite tidak hanya ada di
kota-kota besar, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya,
yang notabene melek teknologi informasi. Jadi bisa lebih dikembangkan ke
kota-kota kecil, yang sebagian masyarakatnya tidak melek teknologi
informasi.

`'Saya mendukung, apalagi jika komunitas Indonesia Unite tidak hanya
online, tapi juga dilakukan offline secara massal dalam lingkup
menekankan peran masyarakat. Dan ini harusnya juga masuk ke
masyarakatmasyarakat yang tingkat pendidikannya relatif rendah, karena
di daerah-daerah seperti itulah, otak-otak dan pelaku teroris muncul
secara sembunyi-sembunyi,'' kata Menbudpar.

Lebih lanjut, Pandji menambahkan bahwa saat ini gerakan IU yang offline
sudah terjadi, misalnya memakai t-shirt atau pin bertulisan `Kami Tidak
Takut', memasukkan semangat IU dengan program Jakarta Great Sale, pentas
musik, dan lain sebagainya.

`'Bahkan ada komunitas yang menyediakan sablon gratis bertuliskan `Kami
Tidak Takut' atau `#Indonesiaunite', mereka cuma suruh orang membawa
kausnya,'' ujar Pandji lagi.

Gerakan IU adalah sebuah gerakan yang muncul tidak lama setelah
terjadinya insiden berdarah bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan
Ritz-Carlton sebagai reaksi dari tindakan terorisme tersebut.

Indonesia Unite menyatakan ketidaktakutan atas serangan terorisme
tersebut dan mengajak masyarakat Indonesia untuk bersatu melawannya.

Semangat bersatu yang membangkitkan rasa kebangsaan itu dituangkan di
social networking, seperti Facebook, Twitter, Plurk dan lain sebagainya.
Cara yang banyak dipakai saat ini adalah dengan memberikan nuansa merah
putih pada avatar profil.

Jika tidak pandai mengedit foto, di website Indonesia Unite ternyata
sudah tersedia fitur untuk overlay avatar. Sesudah itu, bisa langsung
dipasang di profil Facebook, Twitter, Plurk dan sebagainya. Cara
berikutnya adalah dengan memberikan hashtag #indonesiaunite pada setiap
update status terutama di Twitter.

Gerakan IU memang baru langkah awal atau cara minimal dalam menyuarakan
perdamaian, persatuan, dan nasionalisme.
Namun, bila sudah menjadi budaya, gerakan IU tidak cuma memerangi aksi
teroris, tetapi dapat juga aksi-aksi lain, seperti korupsi.

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/07/31/ArticleHtmls/31_07_2009_023_002.shtml?Mode=0

Memajaki Petani

Memajaki Petani



*Toto Subandriyo *

Negeri ini makin miskin kearifan. Mungkin semua teori di gudang sudah
habis sehingga traktor milik petani pun akan dikenai pajak daerah.

Kehabisan akalkah pemerintah dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
dalam memburu harta para pengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank
Indonesia yang mencapai ratusan triliun rupiah sehingga yang ecek-ecek
seperti traktor petani mau dikenai pajak?

Seperti diberitakan harian Kompas (11/7), pemerintah dan DPR saat
membahas Rancangan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
berencana memajaki traktor milik petani. Rencana pengenaan pajak daerah
terhadap alat produksi pertanian itu menunjukkan upaya membunuh petani
dan pertanian republik ini masih berlangsung.

Sebagaimana ditulis Jakob Sumardjo, bangsa ini telah membunuh para
petaninya sejak adanya industri agrikultur tahun 1830. Sumber hidup
bangsa yang telah berabad-abad ini dimatikan kaum penjajah abad ke-19
dilanjutkan bangsa sendiri setelah kemerdekaan (Kompas, ”Membunuh
Petani”, 28/4/2007).

Selama ini pembangunan pertanian cenderung bias perkotaan (urban bias).
Pangan sebagai unsur pembentuk inflasi terbesar harganya terus ditekan.
Sementara itu, berbagai bentuk pajak dan pungutan yang dikenakan kepada
petani makin memperbesar biaya produksi dan mengurangi pendapatan petani.

Secara kasatmata, petani selalu diposisikan sebagai pengganjal inflasi
dalam konotasi sebenarnya. Pemerintah mungkin bisa menepuk dada atas
keberhasilan meningkatkan produksi beras secara signifikan. Namun,
ketika prestasi peningkatan produksi itu disandingkan dengan tingkat
kesejahteraan petani, kenyataan yang didapat justru amat berlawanan.

Badan Pusat Statistik melaporkan, produksi beras tahun 2008 naik 5,46
persen dari tahun 2007. Namun, kenaikan itu ternyata tidak diikuti
peningkatan nilai tukar petani. Angka nilai tukar petani padi Juni 2008
sebesar 93,95, lebih rendah 6,05 poin dibandingkan dengan nilai tukar
petani bulan yang sama tahun 2007. Dengan kata lain, ketika produksi
beras naik 5,46 persen, tingkat kesejahteraan petani padi turun 6,05 poin.

*Bencana*

Departemen Keuangan dan Panitia Khusus DPR yang sedang membahas RUU itu
mungkin lupa, kehadiran traktor di tengah petani, selain berperan dalam
teknis pengolahan lahan yang lebih cepat, juga berperan dalam
memperlambat fenomena gerontokrasi yang melingkupi sektor pertanian.
Fenomena gerontokrasi pertanian ditandai oleh dominasi tenaga kerja
petani tua kurang produktif dalam komposisi ketenagakerjaan.

Survei terhadap kondisi ketenagakerjaan petani di Jawa menyimpulkan
terjadinya fenomena gerontokrasi. Komposisi tenaga kerja sektor
pertanian didominasi petani berusia di atas 50 tahun sebesar 75 persen,
30-49 tahun (13 persen), dan 12 persen sisanya berusia di bawah 30
tahun. Sepinya peminat yang melanjutkan ke SMK pertanian dan program
studi pertanian di perguruan tinggi beberapa waktu lalu mengamini
kebenaran survei itu.

Kurangnya insentif fiskal maupun nonfiskal yang diberikan negara, mulai
dari keringanan pajak bumi dan bangunan bagi pemilik lahan sawah hingga
jaminan harga jual yang memadai bagi komoditas pertanian, membuat
konversi lahan pertanian berlangsung masif.

Saat ini banyak pemilik sawah beranggapan, konversi lahan pertanian ke
nonpertanian lebih menguntungkan. Hasil analisis ekonomi sewa lahan
(land rent economics) menunjukkan, rasio land rent pengusahaan lahan
untuk usaha tani padi dibandingkan dengan perumahan dan industri adalah
1:622:500 (Nasoetion dan Winoto, 1996).

Selain mengancam ketahanan pangan bangsa, masifnya konversi lahan ini
juga merupakan bencana bagi petani penggarap dan buruh tani. Penelitian
terhadap permasalahan ini menyimpulkan, jika di suatu lokasi terjadi
konversi lahan pertanian, lahan pertanian di sekitarnya akan segera
terkonversi secara progresif. Petani penggarap dan buruh tani tidak
serta-merta dapat beralih pekerjaan ke sektor industri sehingga menjadi
permasalahan sosial baru.

Masifnya konversi lahan itu secara tidak langsung merupakan buah
kebijakan pemerintah di bidang pangan yang bersifat myopic. Memandang
peran pangan dalam horizon pendek dan domain sempit. Mengabaikan
pentingnya kedaulatan pangan karena mudahnya akses impor.

Jadi jangan heran jika pernah ada petinggi negeri ini yang keseleo lidah
mengatakan lebih untung mendirikan pabrik daripada mempertahankan sawah
karena akan menciptakan lapangan pekerjaan 50 kali lipat.

Ketika para penentu kebijakan negeri ini tidak lagi memberi perhatian
kepada sektor pertanian, sejatinya mereka telah mematikan sumber hidup
bangsa. Memajaki petani di satu sisi, dan membatasi akses petani ke
semua sumber daya di sisi lain, merupakan upaya membunuh petani dan
pertanian republik ini secara sistematis.

Toto Subandriyo /Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI),
Kabupaten Tegal, Jateng
/

/http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/31/03073769/memajaki.petani

Michael Jackson

Michael Jackson

Manusia yang satu ini memang luar biasa.Walau sudah satu bulan lebih
meninggal (25/6),kisruh mengenai kematiannya terus ramai. Bahkan
terakhir dokternya dituduh membunuh Michael Jackson karena salah
memberikan obat.

Pada 1972–1973, ketika saya masih kuliah di Skotlandia,Inggris, saya
sudah menonton dia di pesawat televisi hitam putih di kamar kos saya
yang dingin sekali.Waktu itu dia masih bocah dan masih menyanyi bersama
saudara-saudaranya dalam grup The Jackson Five. Waktu anak saya remaja
(sekarang umurnya 40 tahun) dia sangat tergila- gila dengan moon
walk-nya Michael Jackson juga.

Sekarang, ketika Michael Jackson meninggal, cucu saya yang umur 9 tahun
sudah ikut-ikutan jadi Michael Jackson mania.Benar-benar,orang ini sudah
menjadi idola tiga generasi dalam umurnya yang cuma 50 tahun. Tetapi
bukan keluarga saya sendirian yang ngefans sama Michael Jackson,
melainkan seluruh dunia, termasuk di negara-negara komunis dan Timur Tengah.

Jutaan orang ikut berduka atas kematian Michael Jackson. Saat Michael
Jackson meninggal,kebetulansaya sedangdi Meksiko,terus ke
Argentina.Seperti biasa saya suka masuk ke toko CD, untuk cari CD
lagu-lagu lokal.Tetapi yang ada CD Michael Jackson semua, laku keras
seperti kacang asin (lebih laris dari kacang goreng).

Orang ini sampai mati pun masih menghasilkan duit.Sementara saya sesudah
pensiun,harus cari job baru, dan menulis di berbagai koran dan majalah
supaya terus dapat duit. Kalau saya sakit,apalagi mati,tamat juga
penghasilan saya,kecuali pensiun janda untuk istri kalau panjang
umur.Luar biasa.

*** Manusia bernama Michael Jackson ini juga sangat kontroversial. Dia
lahir sebagai anak dari keluarga kulit hitam Amerika yang berhidung
pesek seperti hidung orang Jawa atau Papua.Tetapi dia meninggal dengan
kulit yang jauh lebih putih, hidung mancung, dan dagu terbelah setelah
melalui operasi berkali-kali sepanjang hidupnya.

Seakan dia mau jadi orang Amerika yang berkulit putih. Bahkan wajah itu
makin lama makin seperti perempuan. Cantik, berbibir kemerahan. Malah
dia pernah tampil dengan busana wanita Arab yang bercadar tertutup rapat
di suatu negara Timur Tengah. Dia pernah nikah dua kali. Tidak
tanggung-tanggung, istri pertamanya adalah Lisa Marie Presley, anak dari
penyanyi legendaris tahun 1960-an, Elvis Presley.

Dari dua perkawinan itu ia mendapat tiga anak. Dua laki-laki (dinamainya
Prince Michael Jackson I dan II) dan seorang perempuan (Paris Michael
Katherine Jackson). Tetapi dia masih memungut tiga orang anak lagi,
seolah-olah anak sendiri masih kurang.

Bukan itu saja, dia malah pernah dituduh memerkosa anak-anak. Tuduhan
yang membuatnya stres, walau tidak sampai ke pengadilan. Saking stresnya
Michael Jackson mulai mengonsumsi obat antistres.

*** “We are the world//We are the children//We are the ones who make a
brighter day//So let’s start giving// There’s a choice we’re
making//We’re saving our own lives//It’s true we’ll make a better
day//Just you and me.” Itulah sebagian lirik lagu ciptaan Michael
Jackson yang telah mempersatukan manusia sejagat, setidaknya dalam lagu.

Saya kira belum ada seorang pun manusia biasa sepanjang sejarah yang
bisa mempersatu kan manusia sejagad selain Michael Jackson. Bukan hanya
lewat lagu We Are the World, tetapi juga puluhan lagu lainnya. Seperti
Ben (favorit saya), Thriller (yang masih best seller sampai sekarang),
Beat It, Billie Jean, dan lainnya.

Pantaslah kalau dia mendapat 13 Grammy Award dan masuk The Guinness Book
of World Records sebagai “The most succesful entertainer of all
time”,dan uangnya konon USD236 juta. Itulah imbalannya bagi seseorang
yang telah begitu berjasa menghibur berjuta umat sejagat, membuat mereka
berdendang, tersenyum, dan menari bersama koreografi Michael Jackson
yang luar biasa hebat itu.

Di sisi lain, Michael Jackson tidak mampu mengatur dirinya sendiri. Di
mulai dengan ketidakjelasan identitas diri: hitam atau putih? Laki-laki
atau perempuan? Anak kandung atau anak angkat? Sampai akhirnya dia
beralih agama. Terlahir dari keluarga pemeluk agama Saksi Jehova.

Bahkan Michael Jackson konon bermualaf menjadi muslim,mengikuti kakaknya
Jermaine Jackson yang sudah lebih dulu mualaf. Seperti yang bisa diduga,
banyak orang Indonesia yang sudah kegirangan mendengar isu yang satu
ini. Mereka berharap benar bahwa Michael Jackson adalah muslim, seperti
halnya dengan petinju Mohammad Ali.

Sayangnya isu ini tidak pernah jelas, karena Michael Jackson sendiri
konon berkonversi secara rahasia. Namanya pun ditukar. Salah satu versi
mengatakan namanya menjadi Mikaeel Jackson, tetapi versi yang lain
mengatakan bahwa namanya ditukar menjadi Muhammad Jackson. Mana yang
benar, tak jelas.

Yang jelas, waktu dimakamkan, tidak ada bau-baunya Islam. Bahkan konon
keluarga Jackson minta agar dilakukan otopsi, sedangkan Michael Jackson
sendiri pernah berwasiat bahwa dia ingin dikremasi saja setelah
meninggal. Dua istilah (otopsi dan kremasi) yang sangat tidak lazim di
kalangan Islam mana pun di dunia,kecuali ada alasan yang sangat masuk akal.

*** Dalam ilmu psikologi,keajekan dari kepribadian harus ada.Orang bisa
berubah karena bertambah usia atau karena pengalaman, pekerjaan,
pendidikan, atau pelatihan, atau bisa juga karena penyakit atau
kecelakaan.Karena itu wajar kalau di setiap reuni, selalu ada orang yang
tidak bisa mengenali kawannya yang sudah 20 tahun tidak bertemu.

Wajahnya berubah, busananya berubah,tubuhnya berubah. Tetapi setelah
beberapa saat, pasti memori dari masa lalu kembali, dan teringatlah
ketika kawan yang satu ini suka mengganggu guru, atau paling pandai di
kelas dan sebagainya. Mungkin kawan ini sudah tidak seperti itu lagi,
namun ketika diingatkan, dia masih mengakuinya, bahkan bisa menertawakan
dirinya sendiri yang luar biasa bandel ketika masih di SMP.

Artinya,ada keajekan pada diri pribadi seseorang yang selalu melekat
pada ingatannya dan menjadi referensi kapan pun dia berada. Michael
Jackson lain.Tidak ada yang menetap pada dirinya, selain kepiawaiannya
dalam menyanyi, mencipta lagu, menari, dan mencipta gerak tari.Di luar
itu,dia tidak tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

Dia memang lahir dari pasangan suami istri Joseph dan Katherine Jackson
yang berkulit hitam,tetapi dia tidak mau mengakui itu lagi, malah dengan
sengaja mau mengubah dirinya agar tampil putih dan feminin. Dia masuk
Islam, bahkan menciptakan lagu puja-puji untuk Allah, itu pun saya kira
untuk mengingkari eksistensi dia sebagai anak Jackson yang berkulit
hitam dan beragama Saksi Jehovah.

Dalam psikologi (ilmu perilaku) dan psikiatri (ilmu kedokteran jiwa)
kasus inkonsistensi kepribadian sepertiinisangatlangka. Yangjelas,saya
belum menemukannya dalam DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual seri
IV),yaitu “kitab suci”-nya dokter jiwa dan psikolog dalam mendiagnosis
pasien atau kliennya.Mungkin sudah saatnya ditambah lagi satu jenis
penyakit atau gangguan jiwa di buku itu,yang kita namai saja dengan
“Sindrom Michael Jackson ”.(*)

Sarlito Wirawan Sarwono
Psikolog Universitas Indonesia dan
Dekan Fakultas Psikologi UPI YAI


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/258976/

MEDIA TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA

Written By gusdurian on Kamis, 30 Juli 2009 | 08.18


MEDIA TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA

http://mediaislam-bushro.blogspot.com/


KETERANGAN RESMI TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA
ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH
DI HOTEL JW. MARRIOT JAKARTA

Pemerintahan SBY dan Kebangkitan Indonesia

Written By gusdurian on Selasa, 28 Juli 2009 | 12.08

Pemerintahan SBY dan Kebangkitan Indonesia

Setelah selama satu dekade dianggap sebagai “orang sakit dari Asia
Tenggara”, Indonesia saat ini sudah dapat melepaskan imej tersebut dan
bahkan dianggap sebagai role model atau anutan di kawasan regional.

Demokrasi telah berkembang dengan pesat dan perekonomian Indonesia
berhasil mengatasi krisis finansial global dengan lebih baik
dibandingkan negara-negara ASEAN lain. Tiga presiden yang berkuasa
setelah lengsernya Soeharto tidak banyak berhasil dalam mengatasi
masalah-masalah yang telah mengakar di negara ini.Kekerasan, kekacauan
politik,dan stagnasi perekonomian adalah hal-hal yang de rigueur dalam
periode tersebut.

Namun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil
mendobrak dan menjadi katarsis terhadap kebuntuan tersebut.Korupsi dan
kemiskinan tetap menjadi masalah di Indonesia. Namun setelah beberapa
tahun berada dalam kepemimpinan nasional yang tidak menentu, SBY beserta
Wakil Presiden Jusuf Kalla telah berhasil menciptakan kestabilan politik
dan ekonomi di Indonesia.

Walaupun dihadang berbagai bencana yang menimpa sejak SBY dan JK
menjabat pada 2004— tsunami, epidemi flu burung dan polio, serta
melambungnya harga minyak dunia—,Indonesia saat ini adalah negara yang
memiliki kestabilan struktural yang jauh lebih baik. Indonesia adalah
satu-satunya negara di kawasan regional yang berhasil mengatasi dan
mengalahkan mitos “demokrasi yang bermasalah”.

Indonesia telah berhasil melampaui masa-masa yang sulit di mana negara
ini pernah tersandera oleh anarkisme yang terjadi di seluruh negara
kepulauan ini. Dapat dikatakan bahwa “genie of violence” sudah berada di
dalam botolnya lagi. Kekhawatiran akan terpecahnya negara ini adalah
suatu hal yang usang.Tidak ada bukti akan adanya kekuatan sentrifugal
yang akan memicu “Balkanisasi” atau pecahnya Indonesia seperti yang
terjadi di negara-negara Balkan.

Tidak ada satu pun serangan teroris di Indonesia sejak 2005. Pencapaian
perekonomian oleh pemerintahan SBY sendiri juga tidak kalah signifikan.
Pada saat negara-negara lain mengalami “musim dingin ekonomi”,Indonesia
sepertinya bisa mengatasi badai ini dengan lebih baik. Namun, turunnya
bursa saham dan melemahnya mata uang rupiah menunjukkan bahwa Indonesia
memang tidak bisa menghindar sepenuhnya dari krisis keuangan dunia.

Perekonomian Indonesia memang tumbuh melambat seperti juga yang terjadi
di negara-negara lain.Ekonomi bertumbuh sebesar 5,2% pada kuartal
IV/2008 dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya akibat
menurunnya permintaan dunia terhadap produk-produk komoditas.Akibatnya,
perekonomian Indonesia bertumbuh sebesar 6,1% pada 2008 dibandingkan
dengan 6,3% pada 2007.

Pemerintah memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi di tahun 2009 akan
lebih rendah dari tahun sebelumnya, berkisar antara 4,0% sampai
4,5%.Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi sekitar 4,0% atau
bahkan lebih rendah apabila pelemahan ekonomi global lebih besar dari
perkiraan sebelumnya. Namun,pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini
akan jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia.

Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah
efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin fiskal yang
tinggi dan pengurangan utang negara. Saat ini, Indonesia memiliki
perekonomian yang kuat dengan cadangan devisa sebesar USD58 miliar per
akhir Mei 2009 dan utang luar negeri yang lebih kecil dari 35%
PDB—dibandingkan dengan 77% dari PDB di tahun 2001.

Ini adalah salah satu rasio utang yang terendah di negara-negara ASEAN
kecuali dibandingkan Singapura yang tidak memiliki utang luar negeri.
Dunia pun mulai memperhatikan perkembangan ini. Di dalam publikasinya
tahun lalu, The Australian Strategic Policy Institute menyatakan bahwa
dunia perlu mengubah pola pandang mereka terhadap Indonesia dan mulai
memperlakukan Indonesia sebagai negara yang “normal” sebagaimana
negara-negara berkembang lain seperti Brasil, India,dan Meksiko.

*** Perkembangan yang terjadi dalam lima tahun terakhir membawa
perubahan yang signifikan terhadap persepsi dunia mengenai
Indonesia.Namun masalah-masalah besar lain masih tetap ada. Pertama,
pertumbuhan makroekonomi yang pesat belum menyentuh seluruh lapisan
masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan vitalitas
ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki
pertumbuhan ekonomi yang pesat,masih banyak warga Indonesia yang hidup
di bawah garis kemiskinan.

Sekitar 150 juta penduduk Indonesia tidak memiliki akses yang baik untuk
air bersih. Indonesia juga masih memiliki tingkat kematian ibu dan bayi
yang terburuk di kawasan Asia. Kedua, UU Ketenagakerjaan yang ada saat
ini memiliki implikasi terhadap berkurangnya daya saing Indonesia
sebagai salah satu perekonomian padat karya di Asia.

Demikian juga mengenai UU Agraria dan peraturan pertanahan yang membuat
investasi di bidang infrastruktur menjadi suatu proses yang
berbelit-belit. Ketiga,korupsi dari pihak yudisial mengakibatkan
lemahnya ikatan hukum dalam suatu kontrak. Memang,di pihak lain Komite
Pemberantasan Korupsi (KPK) telah banyak melakukan investigasi
kasus-kasus korupsi besar yang menjadi berita utama di berbagai media.

Adalah suatu kenyataan bahwa Indonesia masih terpuruk sebagai salah satu
negara yang paling korup di dunia.Berdasarkan penelitian Transparency
International dalam publikasinya yang berjudul 2009 Global Corruption
Barometer, Indonesia dianggap sebagai negara paling korup di Asia dengan
lembaga legislatif sebagai institusi publik yang paling korup, disusul
oleh lembaga yudisial dan polisi.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa Indonesia masih memerlukan
banyak perbaikan. Namun apa yang telah dicapai selama ini merupakan
hasil dari visi dan perencanaan pemerintahan SBY. Dapat dibayangkan
hal-hal lain yang akan terjadi dalam pemerintahan yang akan berjalan
untuk lima tahun ke depan lagi.(*)

Gita I Wirjawan Chairman
Ancora International


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/257789/

Prospek Ekonomi Indonesia Pasca-Pemilihan Presiden

Prospek Ekonomi Indonesia Pasca-Pemilihan Presiden

*Sunarsip*

# Ekonom Kepala The Indonesia Economic Intelligence, Jakarta

Kita baru saja melangsungkan hajatan politik terbesar: pemilihan
presiden. Dan kita sudah sama-sama tahu (meski belum final), pasangan
Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono akhirnya memenangi pemilihan umum
presiden. Sayangnya, pemilu presiden yang berlangsung tertib dan damai
ini tiba-tiba dinodai aksi teror bom yang terjadi di Jakarta. Teror bom
ini seolah menjadi antiklimaks dari proses pemilu presiden yang aman.
Pertanyaannya: apakah teror bom ini akan menjadi batu sandungan yang
berarti bagi ekonomi kita? Bagaimana prospek ekonomi Indonesia
pasca-pemilu presiden ini?

Kemenangan SBY-Boediono menandakan bahwa masyarakat masih menaruh
kepercayaan kepada SBY untuk membawa Indonesia (khususnya ekonomi) ke
arah yang lebih baik. Meski demikian, harus dipahami bahwa kinerja
ekonomi sesungguhnya merupakan kombinasi banyak faktor: kepemimpinan,
kebijakan, dan momentum. Dan, selama pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono-Jusuf Kalla, kombinasi beragam faktor inilah yang membentuk
dinamika ekonomi kita.

Penulis masih ingat, ketika kampanye pada Pemilu 2004, salah satu kunci
sukses kemenangan SBY-JK adalah karena program-program ekonominya yang
menarik: pertumbuhan ekonomi 7,6 persen pada 2009, mengurangi angka
pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen pada 2009 dari 10,1 persen pada
2003, dan menurunkan angka kemiskinan menjadi 8,2 persen pada 2009 dari
17,4 persen pada 2003. Apakah semua program SBY-JK tersebut dapat
terealisasi? Jawabnya: tidak satu pun yang dapat direalisasi.

Meski begitu, masyarakat tetap memberikan kepercayaan kepada SBY (minus
JK) untuk melanjutkan apa yang sudah tercapai. Apakah ini berarti
masyarakat sudah lupa akan janji-janji SBY-JK tersebut? Jawabnya: tidak.
Tentu, masyarakat masih ingat kepada janji-janji tersebut. Namun,
masyarakat juga sadar bahwa banyak hal yang terjadi (di luar kendali
SBY-JK) yang akhirnya menghambat capaian kinerja SBY-JK.

Baru dua bulan memerintah, SBY-JK dihadapkan kepada musibah tsunami.
Pada 2006, kita juga mengalami musibah gempa bumi, yang terjadi di
sejumlah daerah di Jawa. Pada akhir 2005, kita juga dihadapkan kepada
krisis harga minyak dunia yang memaksa pemerintah menaikkan harga bahan
bakar minyak di atas 100 persen. Memasuki 2008, kita kembali dihadapkan
kepada krisis ekonomi global, yang memberikan dampak negatif bagi
ekonomi kita, terutama ekspor. Termasuk pula kenaikan harga minyak
mentah hingga di atas US$ 130 per barel, yang terjadi pada pertengahan
2008, menyebabkan pemerintah kembali menaikkan harga BBM hingga 25 persen.

Beragam faktor inilah yang menyebabkan SBY-JK seakan tidak memiliki
kesempatan untuk menata ekonomi agar sesuai dengan target yang
dicanangkan. Masyarakat pun bisa memahami dan lebih memilih mencermati
langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk mencegah atau minimal
mengurangi dampak negatif berbagai faktor penghambat tersebut. Dari sisi
ini, pemerintah dinilai cukup berhasil. Program-program seperti Bantuan
Langsung Tunai, konversi minyak tanah dan tabung gas gratis, PNPM
Mandiri, serta Kredit Usaha Rakyat cukup meyakinkan masyarakat bahwa,
dari sisi kepemimpinan dan kebijakan, Indonesia sudah dalam /track/ yang
benar. Ekonomi Indonesia dinilai hanya tidak memiliki momentum yang baik
untuk bisa tumbuh lebih besar.

*Modal dan momentum *

Apakah pemerintah SBY-Boediono akan menghadapi situasi yang sama dengan
pemerintah SBY-JK? Pemerintah mendatang sesungguhnya memulainya dari
kondisi yang tidak terlalu bagus. Ekspor kita terpuruk sejak September
2008, sekalipun beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan.
Pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2009 hanya 4,4 persen atau turun
dibanding Triwulan IV 2008 sebesar 5,2 persen.

Namun, kita juga memiliki modal cukup bagus. Dari sisi domestik,
membaiknya kinerja Neraca Pembayaran Indonesia telah mendorong apresiasi
nilai tukar. Di Asia, rupiah mengalami penguatan tertinggi. Selama
Triwulan II 2009, rupiah rata-rata terapresiasi 9,99 persen. Penguatan
nilai tukar ini ditopang oleh meningkatnya aliran masuk modal asing,
terutama investasi portofolio.

Di sektor keuangan, bursa efek selama Triwulan II 2009 ditandai oleh
peningkatan indeks harga saham gabungan. Fundamental domestik yang
membaik telah mendorong maraknya pembelian saham baik oleh investor
asing maupun domestik. Di pasar obligasi, sekalipun masih tinggi,
/yield/ Surat Utang Negara mencatat penurunan sejalan dengan menurunnya
suku bunga BI Rate dan meningkatnya minat investasi modal asing.

Selain itu, kita memiliki momentum yang bagus pula. Momentum itu
terutama berasal dari luar negeri, di mana sejumlah negara yang
mengalami krisis telah memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. Di Amerika
Serikat, misalnya, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Data Departemen
Perdagangan AS pada 10 Juli 2009 menunjukkan bahwa ekspor AS pada Mei
2009 meningkat, sementara impornya menurun. Kondisi ini ikut memperkecil
defisit neraca perdagangan AS menjadi US$ 26 miliar pada Mei 2009, lebih
rendah dibanding posisi April 2009 sebesar U$ 28,8 miliar.

Laporan ini mendorong para ekonom merevisi estimasi pertumbuhan produk
domestik bruto (PDB) AS pada Triwulan II 2009. Beberapa ekonom bahkan
memprediksi pada Triwulan II 2009, ekonomi Amerika Serikat mengalami
pertumbuhan positif. Macroeconomic Advisers, misalnya, sebelumnya
memproyeksikan pertumbuhan PDB AS pada Triwulan II 2009 mengalami
kontraksi sebesar -1,6 persen. Namun, dengan adanya perkembangan ekspor
Mei 2009, Macroeconomic Advisers memproyeksikan, pada Triwulan II 2009,
ekonomi AS bisa tumbuh positif 0,2 persen atau meningkat sebesar 1,8
persen dari proyeksi sebelumnya.

Hal yang sama terjadi di sejumlah negara di Asia, seperti Jepang, Cina,
dan Hong Kong, sebagaimana ditunjukkan dari indeks produksi
masing-masing negara. Membaiknya kondisi ekonomi global tersebut dalam
jangka pendek juga akan mendorong pemulihan ekonomi domestik, khususnya
ekspor.

Mungkin dilatarbelakangi kondisi inilah, Dana Moneter Internasional
(IMF) bahkan memperkirakan pemerintah SBY-Boediono diyakini mampu
mencetak pertumbuhan ekonomi hingga 9 persen dan bisa menempel negara
dengan pertumbuhan pesat, seperti Brasil, Rusia, India, dan Cina. Bahkan
kemampuan pasangan SBY-Boediono memicu ekspektasi Indonesia akan menjadi
bintang baru di antara /emerging market/. Meski demikian, IMF
mensyaratkan, untuk mencapai kondisi setara dengan Cina dan India,
SBY-Boediono harus mampu mengatasi kendala infrastruktur, korupsi, dan
memperkuat hukum, yang tentunya ini bukan pekerjaan yang mudah untuk
mengatasi berbagai ketertinggalan tersebut.

Selain itu, berapa pun target pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai
(katakanlah 7-9 persen), haruslah tetap memperhatikan kualitasnya. Dalam
artian bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut tidak diikuti dengan
peningkatan kesenjangan pendapatan antara kelompok masyarakat kaya dan
kelompok masyarakat miskin. Sebab, faktanya, dalam beberapa tahun
terakhir, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, meski perekonomian
kita mampu tumbuh baik, hal itu juga diikuti dengan semakin melebarnya
/gap/ antara si kaya dan si miskin.

Kesimpulannya, bisa dikatakan bahwa kita memiliki semua kombinasi:
kepemimpinan, kebijakan, dan momentum yang baik untuk bisa tumbuh lebih
baik dari kondisi saat ini. Penulis melihat bahwa aksi teror bom tidak
akan berpengaruh signifikan terhadap jalannya pemulihan ekonomi. Kita
yakin bahwa prospek ekonomi tahun ini berpotensi bisa tumbuh lebih
tinggi dari perkiraan semula.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/07/28/Opini/krn.20090728.172234.id.html

Putus Hubungan dengan Nikotin

Putus Hubungan dengan Nikotin
Dari 70 persen perokok yang ingin berhenti, hanya 5-10 persen yang mampu berhenti tanpa bantuan.
Suatu malam, saat berdua dengan suaminya, Irna mencoba menggoda suaminya. Ibu rumah tangga dengan dua anak itu tak bersungguh-sungguh karena ia sadar yang ia sarankan kecil peluangnya dilakoni suaminya yang perokok berat. Ia pun hanya melontarkan pernyataan, "Tidak merokok itu lebih sehat lho!" Apa jawabannya, "Basi dah, jangan harap aku berhenti, ya!" Pasangannya itu benar-benar tersinggung. Suasana malam itu pun menjadi tegang.
Spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, dr Tribowo T. Ginting, menyebutkan bila perokok tidak mempunyai keinginan untuk berhenti, ketika ia dibawa ke Klinik Stop Merokok di RS Persahabatan pun, ia akan sulit menjalani prosesnya. Salah satu kunci keberhasilan untuk berhenti merokok ialah adanya keyakinan dari si perokok, selain dukungan dari keluarga.
Tri pun menjabarkan, diperlukan keinginan kuat karena berhenti merokok merupakan suatu proses yang memerlukan waktu panjang. Lantas, perlu juga dukungan dari orang lain untuk membantu dan memotivasi. Selain itu, bisa dengan dibantu oleh farmakoterapi. Gabungan pola ini bisa meningkatkan peluang keberhasilan menjadi 35 persen. Spesialis paru, dr Ahmad Hudoyo SpP(K), pun menyatakan dari 70 persen perokok yang ingin berhenti, hanya 5-10 persen yang mampu berhenti tanpa bantuan.
Tri menyebutkan nikotin pada rokok memiliki zat adiktif tinggi, zat psikoaktif poten yang mencetuskan euforia dan menyusut bila tidak digunakan. Bagi perokok, nikotin pun mempengaruhi suasana hati dan penampilan. "Hingga jadilah sumber ketergantungan," ujarnya. Hudoyo pun menjelaskan bahwa nikotin diserap dalam darah dan diteruskan ke otak. Di otak, reseptor alpha4beta2 menerima nikotin, kemudian otak melepas dopamin dan dopamin membuat rasa nyaman pada perokok. "Ketika zat dopamin berkurang, rasa nyaman pun hilang dan timbul lagi keinginan untuk merokok," katanya.
Tri menyatakan efek nikotin sama dengan kokain meski dalam kadar yang ringan dan dalam waktu sebentar. Namun, memicu penurunan sensitivitas. Bila reseptor itu kembali aktif, timbul keinginan untuk merokok lagi.
Sudah lama kecanduan nikotin ini dikaitkan dengan sederet penyakit kronis, sedikitnya ada 20 jenis penyakit yang didorong oleh kebiasaan buruk ini. Orang mula-mula memang sekadar mencoba, biasanya pada usia remaja, kemudian dalam dua sampai tiga tahun, sekitar 30-50 persennya menjadi perokok reguler. Lantas, kata Tri, dari total perokok reguler itu, sebanyak 70-90 persen mengalami adiksi nikotin.
Begitu kompleksnya masalah yang melingkari perokok, saat melangkah untuk berhenti pun perlu bantuan berbagai ahli. Di Klinik Stop Merokok ini, tak hanya ada spesialis paru dan ahli jiwa yang membantu klien. Berhenti merokok merupakan suatu langkah panjang, sedikitnya lima tahapan. Ketika berhenti, perokok pun mengalami gejala putus nikotin seperti ketagihan tembakau, tersinggung dan marah, cemas dan gelisah, konsentrasi terganggu, tidak tenang, nyeri kepala, mengantuk, serta mengalami gangguan pencernaan.
Sederet kondisi itu bisa membuat perokok gagal menjadi nonperokok. Di sinilah para ahli dan orang di sekelilingnya berperan, termasuk memotivasinya dan melakukan intervensi dengan beberapa langkah. Di antaranya dengan terapi farmakologi yang melakukan intervensi langsung dalam kerja otak, seperti bersentuhan dengan reseptor alpha4beta2 nikotinik asetilkolin sehingga bisa mencegah timbulnya keinginan untuk merokok. Bisa juga dengan bantuan permen karet sebagai ganti rokok. Biasanya dikunyah selama 30 menit satu buah, dengan selang waktu 1-2 jam dan berlangsung selama 1-3 bulan. Bisa juga dengan bantuan spray dan inhaler. Akupunktur pun bisa menjadi pilihan dengan tusukan pada titik STg6 untuk menghambat keinginan mengisap rokok kembali. Lantas, telah hadir pula vaksin yang diharapkan dapat mengikat nikotin yang berada dalam darah. RITA
Tip Berhenti
1. Harus yakin dapat berhenti merokok.
2. Hindari berkumpul dengan perokok untuk beberapa waktu.
3. Jauhi rokok dan hal-hal yang terkait.
4. Lakukan kesibukan setiap hari agar lupa terhadap rokok.
5. Minum air putih, sedikitnya delapan gelas/hari untuk membersihkan tubuh dari nikotin.
6. Konsumsi makanan sehat, tanpa bumbu pedas dan kurangi minuman bersoda serta kopi.
Solusi dari Olahraga
1. Olahraga dapat membantu saat orang dalam proses berhenti merokok.
2. Olahraga mengurangi dorongan untuk merokok karena tubuh terasa segar dan nyaman. Sebaliknya, rokok memicu penumpukan karbon monoksida pada sistem pernapasan sehingga bisa mengakibatkan kejang otot dan susah bernapas saat berolahraga.
3. Menekan nafsu makan. Saat berolahraga, lemak dihancurkan dan dilepas ke aliran darah dan aksi ini menekan nafsu makan. Biasanya, saat berhenti merokok, indra pengecap akan kembali normal dan nafsu makan meningkat.
4. Atasi stres dan kebosanan. Saat berhenti merokok, orang akan merasa stres, bosan, dan tegang, dengan olahraga kondisi ini bisa dipupus. Lagi pula, olahraga bisa memperbaiki tekstur kulit, kekuatan, dan tonus otot.
5. Kemudian, sudah pasti olahraga membakar kalori. Berjalan, lari, dan berenang membakar 200-600 kalori per jam. Metabolisme tubuh juga meningkat hingga 24 jam setelah berolahraga sehingga kalori terbakar lebih cepat. l
Gejala Putus Nikotin
Gejala Pemicu Durasi (minggu)Solusi
1. Gangguan tidur seperti insomnia. Fungsi gelombang otak kembali normal2-4 Relaksasi untuk menghindari kafein.
2. Rasa ingin sekali merokokLevel dopamin turun > 10 Hindari situasi yang memicu keinginan merokok
3. Sakit kepala Kadar CO turun, kadar O2 naik1-2 Telan analgesik dan minum air
4. Emosi tak stabil Ketagihan nikotin 2-4 Jalan-jalan, hindari kafein
5. Susah konsentrasi Hilangnya rangsangan dari nikotinBeberapaHindari stres tambahan
6. Nafsu makan naikIndra pengecap berfungsi normal Beberapa Minum dan makan rendah kalori

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/07/28/Gaya_Hidup/krn.20090728.172186.id.html

Anatomi Sebuah Revolusi yang Tertunda

Written By gusdurian on Senin, 27 Juli 2009 | 11.50

Anatomi Sebuah Revolusi yang Tertunda

*Mansoor Moaddel*
Guru Besar Sejarah Sosiologi pada Eastern Michigan University, pengarang
buku /Islamic Modernism, Nationalism, and Fundamentals: Episode and
Discourse/

Konflik yang sekarang berlangsung antara penguasa dan publik di Iran
merupakan akibat dari benturan di antara dua kekuatan yang bertentangan.
Pada tahun-tahun terakhir ini, sikap publik di Iran sudah menjadi lebih
liberal. Pada saat yang sama, kekuasaan telah bergeser dari pragmatisme
konservatif ke fundamentalisme yang semakin militan. Seruan yang
disuarakan kelompok ulama terkemuka di Iran agar hasil pemilihan
dibatalkan merupakan indikasi perlawanan balik, baik oleh kaum reformis
maupun kaum konservatif yang pragmatis.

Tiga puluh tahun setelah revolusi Islam di Iran, rakyat semakin
menunjukkan sikap yang lebih liberal dan kurang menonjolkan agama. Dua
survei tatap muka yang dilakukan atas lebih dari 2.500 orang dewasa pada
2000 dan 2005 dengan jelas menunjukkan kecenderungan ini. Persentase
mereka yang "sangat setuju" bahwa demokrasi merupakan bentuk
pemerintahan paling baik meningkat dari 20 persen menjadi 31 persen.

Begitu juga pada sejumlah pertanyaan mengenai kesetaraan
gender--termasuk kepemimpinan politik, akses yang sama dalam memperoleh
pendidikan tinggi, serta kepatuhan seorang istri--angkanya terus
menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Mereka yang menganggap cinta
sebagai dasar perkawinan meningkat dari 49 persen menjadi 69 persen,
sementara mereka yang bergantung pada persetujuan orang tua turun dari
41 persen menjadi 24 persen. Pada 2005, tercatat persentase yang lebih
besar dibanding pada 2000 di antara mereka yang menganggap dirinya
"pertama-tama sebagai orang Iran", bukan "pertama-tama sebagai muslim".

Kecenderungan ini tidak sulit dipahami. Pemaksaan wacana monolitik agama
pada masyarakat telah membuat nilai-nilai liberal menarik bagi rakyat
Iran. Tapi, walaupun ini tecermin dari kecenderungan-kecenderungan
reformis dalam kehidupan politik yang lebih luas di Iran, suatu gerakan
ke arah fundamentalisme militan telah mengental di dalam struktur
kekuasaan rezim saat ini. Para politikus yang /reform-minded/ patut juga
disalahkan atas terjadinya perubahan ini. Bukannya menentang kekuasaan
absolutis sebagai perintang menuju demokrasi yang agamis, mereka
berupaya membujuk Pemimpin Agung, Ayatullah Ali Khamenei, agar melakukan
reformasi.

Tapi Khamenei tidak punya minat pada reformasi, seperti yang
dibuktikannya dengan membongkar gerakan reformasi. Masa kepresidenan
Mohammad Khatami, seorang reformis sejati, yang berlangsung selama
delapan tahun mulai 1987, meyakinkan Pemimpin Agung bahwa otoritasnya
bakal terjamin hanya oleh kepresidenan yang dipegang oleh seorang
fundamentalis yang patuh seperti presiden saat ini, yaitu Mahmud
Ahmadinejad. Dalam hal ini Khamenei cuma mengikuti langkah Shan Iran
(almarhum) yang mempertahankan Amir Abbas Hoveyda, seorang abdi yang
loyal, sebagai perdana menteri dari 1965 sampai Shah digulingkan pada 1979.

Masalahnya, dengan perhitungan yang dibuat Pemimpin Agung ini adalah
bahwa Ahmadinejad merupakan tokoh yang sulit dikendalikan. Retorika
populis dan fundamentalisme agama yang dibawakannya telah membuat banyak
ulama konservatif-pragmatis serta para pendukungnya menjauhkan diri
darinya. Banyak anggota kelompok ini menghormati kelembagaan hak milik
perorangan, dan ucapan-ucapan Ahmadinejad, yang mengancam akan
meredistribusi kekayaan perorangan, tidak mengena di hati mereka. Yang
lebih merisaukan lagi adalah keyakinan /apocalyptic/ Ahmadinejad akan
datangnya Imam Mahdi dalam waktu dekat ini, yang kemunculannya diyakini
bakal membawa kiamat dan berakhirnya waktu. Biasanya Ahmadinejad selalu
membuka pidatonya di muka umum dengan doa segera kembalinya Imam Mahdi.

Bagi hierarki ulama Syiah, yang terbiasa dengan keyakinan bahwa tibanya
Imam Mahdi masih jauh di masa depan, keyakinan yang dianut Ahmadinejad
ini sangat merisaukan. Mereka sering menganggap klaim orang-orang yang
mengatakan mengalami kontak pribadi dengan Imam Mahdi atau spekulasi
mengenai ketibaannya sebagai sesuatu yang menyimpang dari atau bahkan
melawan agama. Beberapa ayatullah berpendapat bahwa ucapan-ucapan
mengenai datangnya Imam Mahdi ini tidak pantas dikeluarkan seorang
presiden atau lebih buruk lagi, sebagai pertanda seorang pemimpin yang
tidak stabil.

Keprihatinan semacam ini tecermin dalam sikap Society of Combatant
Clergy, sebuah badan yang konservatif, yang tidak dapat menyepakati
pencalonan Ahmadinejad. Pembangkangan terhadap Pemimpin Agung oleh
jutaan rakyat Iran hanya sehari setelah ia dengan tegas mengesahkan
terpilihnya Ahmadinejad telah membawa negeri ini ke dalam krisis
politik. Ditayangkannya secara luas ke seluruh dunia, gambar-gambar
dipukulinya dan terbunuhnya para demonstran telah merusak citra agamis
rezim yang berkuasa di Iran saat ini.

Dalam upayanya keluar dari situasi yang sulit ini, Pemimpin Agung
menyatakan bahwa sengketa pemilihan ini harus diselesaikan melalui jalur
hukum, bukan di jalan-jalan raya. Mengingat perannya dalam membenarkan
hasil pemilihan, argumentasi seperti ini tampaknya bagaikan upaya
mengulur waktu guna membersihkan jalan-jalan dari kaum demonstran,
menempatkan para pemimpin oposisi di bawah tekanan fisik dan psikologis
yang berat, serta mengucilkan Mir Hussein Musawi, yang mengklaim telah
memenangi pemilihan.

Bagaimanapun seruan Khamenei agar dipatuhinya hukum ini cuma
mengumandangkan tuntutan kaum konservatif-pragmatis yang condong ke arah
Musawi, yang tidak berada dalam posisi untuk secara langsung menentang
otoritas Khamenei. Musawi harus dengan hati-hati melanjutkan kampanye
bagi ditegakkannya hukum tanpa menggadaikan kepercayaan yang telah
diperolehnya dari mayoritas rakyat Iran. Ia harus mempertahankan dua
tuntutan utamanya: dibatalkannya pemilihan dan dibentuknya suatu komisi
yang tidak memihak untuk mengeluarkan keputusan mengenai pelanggaran
undang-undang pemilihan oleh pemerintah.

Apabila Musawi berhasil membujuk Khamenei mempertimbangkan kembali
posisinya, cengkeraman kekuasaan di tangan Pemimpin Agung dapat
dilepaskan. Jika Khamenei tetap memegang kekuasaan itu, Musawi memang
tidak akan dapat merebut kursi kepresidenan, tapi ia tetap mewakili
harapan mayoritas rakyat Iran yang berbeda dramatis dengan
pemerintahnya. Untuk sementara ini, apa yang bakal terjadi bergantung
pada kegigihan Musawi.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/07/27/Opini/krn.20090727.172134.id.html

Tragedi 27 Juli dan Kekalahan PDIP

Tragedi 27 Juli dan Kekalahan PDIP
Oleh: Gugun El-Guyanie

Momentum peringatan tragedi Sabtu kelabu 27 Juli 1996 tepat untuk
dijadikan sebagai ruang reflektif atas kekalahan politik PDIP pada
Pemilu 2009 ini (baik pileg maupun pilpres). Lantas, apa hubungan
kekalahan PDIP dengan tragedi 27 Juli yang merupakan tonggak perjuangan
baru menuju pembaruan politik sekaligus sejarah yang tidak terlupakan
dalam perjalanan PDIP itu?

Peristiwa berdarah tersebut mengakibatkan 5 orang tewas, 149 orang
(sipil maupun aparat) luka-luka, dan 136 orang ditahan. Namun, sampai
saat ini pengusutan peristiwa berdarah 27 Juli selalu kandas di tataran
politis DPR. Hal itu disebabkan masih adanya upaya untuk melindungi
rezim Orde Baru (Orba).

Selama rezim Orba mencengkeramkan taring kekuasaannya, PDI lebih banyak
berperan sebagai "boneka politik" penguasa. Akibatnya, tidak ada agenda
politik yang sepenuhnya otentik, yang lahir sebagai platform PDI. Sampai
pada puncak eskalasi kegundahan yang muncul dari para pewaris
nasionalisme Soekarno, meletuslah tragedi 27 Juli.

Buku /Soeyono: Bukan Puntung Rokok/ yang ditulis Benny Butarbutar dan
sejumlah dokumen sekunder lain paling tidak memberikan gambaran kepada
masyarakat bahwa kasus 27 Juli tidaklah sesederhana yang diungkap
pengadilan. Soeyono meyakini bahwa peristiwa 27 Juli merupakan dampak
rivalitas dua srikandi kembar, Megawati Soekarnoputri dan Siti
Hardiyanti Rukmana, di panggung politik. Rivalitas itu lalu berdampak
pula pada polarisasi di tubuh militer untuk berlomba mendekati Cendana.
Ada militer yang mendukung Megawati. Tapi, ada pula yang mendekat ke
Siti Hardiyanti.

Hasil tragedi 27 Juli tersebut adalah tampilnya Megawati di kancah
perpolitikan nasional. Walaupun sebelum peristiwa itu Megawati tercatat
sebagai ketua umum PDI dan anggota Komisi I DPR, setelah peristiwa 27
Juli-lah, namanya dikenal di seluruh Indonesia.

PDIP pun tidak bisa dilepaskan dari nama Megawati sebagai /public
figure/ yang mampu menjadi magnet bagi rakyat. Sebagaimana keberadaan
Gus Dur bagi PKB, Amien Rais bagi PAN, atau SBY bagi Partai Demokrat,
bagi PDIP, Megawati dan Soekarno adalah satu roh yang menyatu.

Di mata bayangan simpatisannya, popularitas Megawati tidak lepas dari
darah dan ideologi Soekarno. Konstituen PDIP adalah kaum nasionalis
sekuler, Islam abangan, serta kaum marhein yang merindukan kepemimpinan
karismatis gaya Soekarno.

***

Berangkat dari akar historis-geneologis di atas, PDIP ke depan harus
melakukan beberapa langkah mendasar.

/Pertama/, meneguhkan ideologi politik sebagai partai kerakyatan.
Seluruh orientasi politiknya hanya ditujukan untuk mengawal kepentingan
rakyat banyak. Suara konstituen yang mayoritas bersumber dari /grass
root/ harus dibayar dengan memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan
bagi mereka.

/Kedua/, sistem kaderisasi dan regenerasi politik yang masih bercorak
patron-klien dan mengandalkan /public figure/ harus segera ditinggalkan.
Kelemahan sistem seperti ini adalah mandulnya kelahiran kader-kader muda
yang potensial, berkarakter, dan profesional./ /

/Ketiga/, berdiri di atas segala simbol agama dan golongan. Hingga kini
stereotip yang menempel pada partai nasionalis itu adalah PDIP merupakan
kendaraan kubu nonmuslim untuk menjadi tirani minoritas. Sorotan negatif
semacam ini bisa dibendung hanya dengan menegaskan komitmen akan
perjuangan atas nasib orang-orang pinggiran yang telah lama
mendukungnya. Tanpa membedakan agama atau golongan, PDIP tetap menjadi
partainya wong cilik dan berjuang bersama.

Merosotnya dukungan pada Pemilu 2004 -dan semakin terpuruk dalam Pemilu
2009- merupakan pertanda bahwa kepercayaan yang diberikan pascareformasi
telah banyak dikhianati para pejabat partai. Kader-kadernya yang duduk
di legislatif maupun di kursi eksekutif tersangkut korupsi dan
pelanggaran HAM. Terutama potret gagalnya amanat reformasi yang diemban
Megawati sebagai presiden pada waktu itu. Untuk mengembalikan
kepercayaan tersebut, dibutuhkan energi dan waktu yang berlipat.

Profesionalitas kinerja para kadernya juga dipertanyakan sehingga banyak
agenda kerakyatan yang terbengkalai selama PDIP memegang tampuk
kekuasaan. Sebaliknya, PDIP menunjukkan wajah premanisme politik yang
mengandalkan kekuatan anarkistis di berbagai lapisan masyarakat.
Fenomena /rebellious society/ (masyarakat yang suka bergejolak) lebih
banyak dipraktikkan konstituen dan kader PDIP.

Kesalahan fatal pemerintahan Megawati dengan PDIP-nya adalah terlalu
berpihak kepada kelompok pebisnis yang berorientasi pada penumpukan
modal. Banyak aset negara yang strategis jatuh ke tangan swasta asing.

Di sinilah, kata Karl Marx, negara sudah kehilangan otonominya karena
sudah dijadikan /the executive committee of the //bourgeoisie// class/.
Kelas borjuis dengan kemampuan finansial yang besar dapat membeli negara
dan menjadikan negara tidak ubahnya sebagai panitia penyelenggara proyek
borjuis. Gejala itu pun masih berlanjut pada era pemerintahan sekarang.

Menempatkan diri sebagai partai oposisi seperti yang dilakukan lima
tahun lalu, dan mungkin lima tahun ke depan, harus diluruskan agar tidak
semakin memperburuk citra PDIP. Oposisi diambil bukan karena kalah,
namun berniat melakukan mekanisme /control and balances/ terhadap
pemerintahan yang berkuasa. Dengan demikian, PDIP tidak mencari
kelemahan atau merongrong stabilitas pemerintah, tetapi menjaga /rules
of the game/ agar sesuai dengan kepentingan rakyat. *(*)*

/*). Gugun El-Guyanie, staf peneliti Kantata Research Indonesia, Jakarta

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=82423

Teroris, Teori Konspirasi dan Media

Teroris, Teori Konspirasi dan Media


Oleh: Farid Gaban


Laporan intelijen bisa benar dan bisa salah. Tapi, hampir mustahil media melakukan verifikasi terhadap banyak data intelijen. Hanya ada dua kemungkinan: percaya utuh atau meragukan utuh.



Dan kebenaran baru datang umumnya bertahun-tahun kemudian, atau bisa jadi misteri akan tetap jadi misteri sampai kapanpun, meski kepercayaan utuh pada data intelijen telah terlanjur menyebabkan konsekuensi yang sangat merusak.


Kini, delapan tahun setelah Teror 911, dan setelah Rezim George Bush lengser, beberapa media Amerika mulai membicarakan kemungkinan pengadilan terhadap Dick Cheney, wakil presiden, yang dituding merestui cara kotor CIA menangani tersangka teroris dan meminta badan intelijen itu membohongi Kongres.


Pada edisi 20 Juli 2009, majalah Newsweek melansir berita ini (http://www.newsweek.com/id/206300). Jaksa Agung Eric Holder telah menunjuk 10 jaksa untuk kemungkinan menyeret pejabat tinggi di era Bush dengan tuduhan kejahatan melanggar undang-undang domestik maupun hukum internasional.


Diduga atas restu Cheney, CIA menerapkan metode brutal interogasi tersangka teroris (dan pembentukan Guantanamo yang ngawur itu), penangkapan tanpa dasar, penyadapan dan pengintaian yang melanggar prosedur, merencanakan pembunuhan terhadap pemimpin politik asing, serta berbohong kepada Kongres tentang data intelijen yang menjustifikasi serangan ke Irak.


Pengadilan terhadap Cheney ini bisa berlanjut dan bisa pula tidak. Presiden Obama khawatir pengungkapan masalah ini akan membuka kedok kebobrokan sistemik pemerintahan Amerika pada era Bush. Dan akan menjadi pertarungan Demokrat-Republik yang bisa merembet ke mana-mana tanpa kontrol.


Mengapa begitu terlambat media Amerika mendapatkan kesadarannya kembali?


Sistem check-balances demokrasi Amerika yang diagung-agungkan ternyata keropos menyusul Teror 911. Peristiwa dramatis, amarah yang meluap dan prasangka mendalam terhadap Islam, telah menumpulkan daya kritis publik maupun media, sehingga bertahun-tahun kebohongan bisa berjalan. Tumpul daya kritis bahkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana.


Tidak semua kehilangan daya kritis sebenarnya. Sekelompok veteran agen rahasia Amerika yang masih memilki hati nurani sudah sejak 2002 mengingatkan kebusukan praktek intelijen Pemerintahan Bush. VIPS (Veteran Intelligence Professionals for Sanity) telah berteriak dalam memorandum mereka kepada presiden, termasuk mengusulkan pemecatan terhadap Cheney.


Tapi di tengah amarah yang meluap dan prasangka besar pada Islam, peringatan seperti itu terkubur dalam "sampah informasi/disinformasi" tanpa menarik perhatian publik maupun media Amerika.


Kebingungan dan kepanikan menguntungkan kaum demagog, bahkan dalam sistem demokratis seperti Amerika.


Dan kini, setelah bom meledak lagi di Marriot Jakarta, dan Amerika menawarkan "database teroris", masihkah kita akan percaya begitu saja?



Amerika tidak perlu menawarkan secara publik (kecuali untuk menunjukkan kemurahan hati CIA). Database Densus Anti-Teror 88 selama ini sudah sama dengan database CIA.


Beberapa "gembong teroris" Indonesia telah diserahkan kepada Amerika (Anda tidak melihat kejanggalannya?) dan sampai sekarang Indonesia tidak bisa mendapatkan kejelasan tentang keberadaan mereka.



Pelajaran penting bagi media: skeptisisme perlu ditegakkan, lebih awal lebih baik, untuk menanyakan hal-hal sederhana: bagaimana menetapkan sebuah ledakan sebagai teror bunuh diri, bagaimana tersangka diidentifikasi?


Tumpulnya daya kritis menguntungkan kaum demagog dan mereka yang pintar mengail di air keruh.


Tapi, peringatan seperti ini biasanya akan buru-buru dituding sebagai KETOLOLAN "teori konspirasi". Masak Amerika sebusuk itu? Bukankah sudah pasti rangkaian teror ini buah karya teoris Islam yang jahat?


There are conspiracies, not just theories.****


Sumber: http://www.satudunia.net/?q=content/teroris-teori-konspirasi-dan-media

Ngeles ala Presiden SBY

Ngeles ala Presiden SBY
Oleh Tomy C. Gutomo*

Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pasca ledakan di Hotel JW
Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli lalu menimbulkan kontroversi.
Pemenang pemilihan presiden 2009 itu, dinilai sejumlah kalangan,
mengaitkan peristiwa bom tersebut dengan pilpres.

Kontroversi justru berlanjut ketika 22 Juli lalu dalam Rakornas Partai
Demokrat di gedung Jakarta International Expo Center (JIEC) Kemayoran,
SBY membuat pernyataan lanjutan. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu
merasa pernyataannya telah dipelintir dan diputarbalikkan. Siapa yang
dituding memelintir dan memutarbalikkan omongan SBY? Tentu saja media
secara tidak langsung menjadi salah satu tertuduh.

SBY kemudian membacakan lagi penggalan pernyataannya yang telah
ditranskrip oleh Biro Pers dan Media, Rumah Tangga Kepresidenan. Di
antara 24 paragraf, SBY membaca satu alinea saja, yakni alinea delapan.

/''Pagi ini saya mendapat banyak sekali pernyataan atau saudara-saudara
yang mengingatkan kepada saya yang berteori, paling tidak mencemaskan,
kalau aksi teror ini berkaitan dengan hasil pemilihan presiden sekarang
ini. Saya meresponsnya sebagai berikut. Bahwa kita tidak boleh main
tuding dan main duga begitu saja. Semua teori dan spekulasi harus bisa
dibuktikan secara hukum. Negara kita adalah negara hukum dan juga negara
demokrasi. Oleh karena itu, norma hukum dan norma demokrasi harus
betul-betul kita tegakkan. Bila seseorang bisa dibuktikan bersalah
secara hukum, baru kita mengatakan yang bersangkutan bersalah.''/

Paragraf itulah yang dipakai oleh SBY untuk /ngeles/ atau menghindar
dari tudingan mengaitkan terorisme dengan pilpres. Tapi, sebenarnya
bukan paragraf tersebut yang membuat SBY dianggap mengaitkan pilpres
dengan ledakan di dua hotel yang memiliki banyak tamu asing itu. Dalam
pernyataan SBY pada 17 Juli lalu, sebenarnya yang disorot publik adalah
pernyataan di paragraf berikutnya, yakni paragraf 9, 10, dan 11.

Di paragraf ke-9, SBY berkata: /Saya lanjutkan. Saya harus mengatakan
untuk pertama kalinya kepada rakyat Indonesia bahwa dalam rangkaian
pemilu legislatif dan pemilihan presiden serta wakil presiden tahun 2009
ini, memang ada sejumlah informasi intelijen yang dapat dikumpulkan oleh
pihak berwenang. Sekali lagi, ini memang tidak pernah kita buka kepada
umum, kepada publik, meskipun terus kita pantau dan ikuti. Intelijen
yang saya maksud adalah adanya kegiatan kelompok teroris yang berlatih
menembak dengan foto saya, foto SBY, dijadikan sasaran./

Kemudian, paragraf 10 berbunyi: /Ada rekaman videonya, ini mereka yang
berlatih menembak. Dua orang menembak pistol. Ini sasarannya. Dan, ini
foto saya dengan perkiraan tembakan di wilayah muka saya dan banyak
lagi. Ini intelijen, ada rekaman videonya, ada gambarnya. Bukan fitnah,
bukan isu. Saya mendapatkan laporan ini beberapa saat yang lalu. Masih
berkaitan dengan intelijen, diketahui ada rencana untuk melakukan
kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu. /

Yang patut dicermati adalah paragraf ke-11 yang berbunyi: /Ada pula
rencana untuk pendudukan paksa KPU, pada saat nanti hasil pemungutan
suara diumumkan. Ada pernyataan, akan ada revolusi jika SBY menang. Ini
intelijen, bukan rumor, bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan, kita
bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan,
bagaimanapun SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa
menafsirkan apa arti ancaman seperti itu. Dan puluhan intelijen lagi
yang sekarang berada di pihak yang berwenang./

Secara eksplisit, SBY memang tidak menuding siapa pun terkait dengan
ledakan bom di Jakarta. Tapi, secara implisit, tiga paragraf itu
mengaitkan peristiwa bom dengan pemilu dan pilpres. Kalau tidak untuk
mengaitkan peristiwa ledakan bom dengan pemilu maupun pilpres, lantas
untuk apa SBY menyampaikan statemen di paragraf 9, 10, dan 11 tersebut?

Apalagi itu merupakan pernyataan resmi presiden menyikapi ledakan bom di
JW Marriott dan Ritz- Carlton. Pernyataan tersebut disampaikan di
halaman depan kantor presiden. Di belakang SBY, terdapat pejabat-pejabat
teras, mulai Mensesneg Hatta Rajasa, Menko Polhukam Widodo A.S., hingga
semua kepala staf TNI.

Televisi nasional menyiarkan pernyataan SBY itu secara utuh. Publik
menyaksikan dan mendengar secara langsung pernyataan SBY tersebut.
Bagaimana caranya memelintir pidato presiden di televisi? Tidak perlu
dipelintir, publik sudah bisa mempersepsikan sendiri pernyataan SBY
melalui televisi.

***

/Ngeles/ atau menghindar menjadi salah satu ciri politisi Indonesia
ketika terpojok. Sering kita saksikan, politisi berusaha /ngeles
/setelah mengeluarkan pernyataan yang blunder. Tujuannya tentu saja
untuk mengalihkan persepsi publik. Dengan demikian, ''dosa'' yang
dilakukannya bisa dialihkan ke pihak lain.

Itulah yang sekarang dilakukan SBY. Bukan kali ini saja sebenarnya SBY
mengeluarkan jurus /ngeles/. Beberapa kali SBY memeragakan politik
/ngeles/-nya. Tahun lalu setelah melantik KSAL Laksamana Madya Tedjo
Edhy Purdijatno di Istana Negara, SBY di /doorstop/ wartawan soal
kemungkinan menaikkan harga BBM. Waktu itu, harga minyak mentah dunia
hampir menembus USD 100 per barel. Dari kesaksian sejumlah wartawan di
istana, SBY menyatakan akan menghindari opsi menaikkan harga BBM. Tentu
SBY tidak eksplisit menyampaikan janji tidak menaikkan harga BBM. Tapi,
arah pertanyaan wartawan sangat jelas, apakah BBM akan dinaikkan?
Jawaban SBY adalah akan menghindari opsi itu.

Beberapa bulan setelah itu, ternyata, SBY menaikkan harga BBM dari Rp
4.500 menjadi Rp 6.000. Ketua Umum Partai Hanura Wiranto menuding SBY
mengingkari janji. Wiranto menunjukkan bukti kliping koran di sejumlah
media, termasuk berita di website resmi presiden,/
//www.presidenri.go.id//./ Berita di /website/ resmi SBY itu akhirnya
dicabut. Lagi-lagi, SBY /ngeles/. Kembali media dan wartawan yang
disalahkan.

Masih ada contoh-contoh lain. Mudah-mudahan saat memimpin pemerintahan
baru 2009-2014 nanti, jurus /ngeles/ itu tidak sering-sering
dipertontonkan. (*)

/*) Tomy C. Gutomo, wartawan Jawa Pos, tom@jawapos.co.id/

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=82422

Mbah Surip; Kreatif atau Hoki

Written By gusdurian on Minggu, 26 Juli 2009 | 11.08

Mbah Surip; Kreatif atau Hoki
Oleh: Ali Murtadlo*

Apa yang menarik dari Mbah Surip? Tertawanya? Liriknya yang hanya
dibolak-balik? Klipnya yang seperti Casper, setan lucu dan superusil?

Mungkin semuanya, mungkin tidak semuanya. Tapi, yang jelas /ring back
tone /(RBT)-nya sudah tembus Rp 5 miliar. Anak-anak kecil hafal lagunya.
Maia Estianti juga tergila-gila. Benar-benar fenomenal.

Mbah Surip (maaf ya), wajahnya tidak layak jual, suaranya pas-pasan,
liriknya minta ampun sederhana banget. Mau tahu lagu kedua yang akan
digenjot di TV? /Bangun Tidur, Tidur Lagi, Bangun Lagi, Tidur Lagi,
Kalau Lupa Bangun, Tidur Lagi./ He he he, lucu memang. Apalagi, kalau
membayangkan wajah penyanyi yang sudah berumur 60 tahun itu.

Lalu, mengapa berhasil? /He is lucky/. / Absolutely No/. Kita yang biasa
bekerja berkeringat tidak senang mendengar kata-kata /lucky/, mujur, dan
nasib baik. Memang ada faktor keberuntungan pada setiap keberhasilan,
tapi tentu tidak ada sukses yang tidak direncanakan. Tidak ada
kemenangan tanpa strategi, kata /Sun Tzu/. Kerja keras, pantang
menyerah, /persistent/ (teguh), dan strategi mengeksekusi pada momen
yang tepat menjadi kunci sukses keberhasilan ini.

***

Perjuangan gigih itu pernah dilakukan Mbah Surip. Lagu /Tak Gendong/
tersebut sebetulnya sudah dibuat pada 1983 atau 26 tahun lalu, saat dia
bekerja di pengeboran minyak di Amerika. Begitu pulang, dia
menawarkannya ke industri musik. Mbah Surip, konon, telah mengirimnya ke
Sony BMG, Musika, dan Nagaswara. Ketiganya menolak.

Dan, kalau faktor/ luck/, inilah keberuntungan Mbah Surip. Dia bertemu
Falcon Music. Dia datang ke Jalan Duren 3, Jakarta, markas Falcon
Enterprise, naik motor tua yang dimodifikasi. ''Saya punya lagu bagus,''
kata Mbah Surip. Lalu, lagu itu dipertontonkan kepada Naven, bos Falcon.
Reaksinya? ''Boleh juga. Saya mau,'' katanya. Mbah Surip kaget. Kontrak
pun diteken.

Setelah ditunggu-tunggu, lagu itu ternyata tak kunjung muncul di TV.
Bahkan, klip video pun belum dibikin. ''Saya sengaja tahan,'' kata
Naven. ''Sebab, setahun lalu, lagu-lagu yang hit selalu bertema cinta
dan /mellow/,'' ujarnya. Lalu, datanglah grup band Kuburan yang juga
fenomenal dengan lagu andalannya, /A Minor D Minor, /yang semua pemain
memupuri wajahnya serbaputih itu.

''Ini waktunya,'' kata Naven. Pria 38 tahun keturunan India tersebut
segera mengaransemen /Tak Gendong ke Mana-Mana/ ke /beat/ anak muda
dengan klip yang asyik. Promo klip pun dipasang di mana-mana.

Keunikan dan kebaruan yang diperkenalkan kepada penggemar musik pada
saat pasar menantikan jenis kreativitas itulah yang juga berkontribusi
pada kesuksesan. Langkah Naven untuk menunggu pada saat pasar
benar-benar menantikan tentu bukan tanpa perhitungan. Penerimaan produk
yang inovatif bisa kurang bagus pada saat konsumen tidak benar-benar
membutuhkan.

Kini lagu Mbah Surip meledak, laris, populer, dan menjadi /word of
mouth/. Hampir semua TV yang punya acara /live music pop/ mengundangnya.
Dia disuruh menyanyi, disuruh bercerita. Tapi, Mbah Surip tetap Mbah
Surip, lebih banyak diamnya. Atau, kalau sudah muncul /mood/-nya,
ceritanya ke mana-mana.

Itulah bisnis. /When the moment comes, exploit it/. Maka, /Bangun Tidur,
Tidur Lagi /pun sudah beredar di radio-radio. Mengapa klip dan VCD-nya
belum muncul? Inilah strategi major label. Menjajal pasar lewat radio
hingga/ public aware/. Terlalu buru-buru mengeluarkan VCD hanya akan
membuat para pembajak berpesta dan menyebabkan umur pasar berlangsung
pendek.

Naven tak hanya menangkap momen dengan lagu keduanya. Dia kini sudah
siap-siap memfilmkannya. ''Saya sendiri yang membuat,'' katanya.
Genrenya? ''Komedi seperti Mr Bean,'' kata pemegang /right/ RBT ribuan
lagu raja dangdut Rhoma dan anaknya, Ridho, itu. Judul filmnya, kata
Naven, /Bangun Tidur/.

Jadi, siapa yang hebat? Mbah Surip? Atau, Naven? Dua-duanya. Mbah Surip
memenuhi syarat sebagai orang sukses. Yakni, gigih, pantang menyerah,
dan berani beda. Ditolak berkali-kali tidak membuatnya menyerah. Dia
tetap menjual ke mana-mana dan akhirnya sukses. Kita kerap melihat
seseorang pada hasil akhirnya, bukan jalan berlikunya.

Kita senang Mbah Surip bisa sukses. Sebab, dia mewakili banyak sekali
orang yang mempunyai wajah di bawah standar tapi bisa sukses di
belantika industri musik yang selalu diasosiasikan dengan penampilan
serbacantik, ganteng, dan seksi. Dia mewakili jutaan orang yang suaranya
pas-pasan. Dia juga mewakili jutaan orang yang sudah senior dan dia
mewakili /grass root/.

Pasti Anda mempunyai wajah, suara, dan umur yang lebih unggul daripada
Mbah Surip. Kalau Mbah Surip saja bisa, pasti yang lain juga bisa. Mbah
Surip memberikan pesan kepada kita bahwa untuk sukses tidak harus
secantik Luna Maya dan Manohara. Juga, tidak harus seganteng Ariel
Peterpan atau Pasha Ungu. Cukup seperti Mbah Surip yang berambut gimbal,
bergaya reggae, dan bisa tertawa ha... ha... ha... ha... Itulah /brand/
Mbah Surip. Nyanyi itu jenaka, nyanyi itu menghibur.

Mbah Surip menginspirasi kita untuk terus berusaha, pantang menyerah,
dan teguh. Bisakah kita seperti dia? *(*)*

/*) Ali Murtadlo, mantan wartawan Jawa Pos, bekerja di JTV/

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=81959

Target Serangan Teroris Meluas

Target Serangan Teroris Meluas

Dua tersangka pernah bersekolah di madrasah dekat rumah Abu Dujana.

*JAKARTA* -- Markas Besar Kepolisian RI menyatakan target penyerangan
teroris di Indonesia tak lagi melulu pihak asing atau aset-aset yang
dinilai mewakili kepentingan asing. "Bapak Presiden jadi target karena
dianggap memimpin pemerintahan /toghut/ (setan)," kata Kepala Polri
Jenderal Bambang Hendarso Danuri di kantornya kemarin.

Menurut Bambang, pengakuan tentang meluasnya target tersebut datang dari
mulut Kasiman alias Marinda alias Abu Zar, yang dicokok dalam operasi
Detasemen Khusus 88 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 5-9 Mei
lalu. "Dia merencanakan aksi di beberapa tempat, termasuk membunuh Bapak
Presiden," ujar Bambang.

Dari tangan Kasiman, yang juga menggunakan nama Usama alias Salim alias
Udin, polisi menyita sejumlah foto dan video cakram digital. "Termasuk
foto yang ditunjukkan Bapak Presiden," Bambang menambahkan.

Ia menuturkan, dari hasil pengembangan kasus itu, polisi lantas
mengungkap adanya jaringan teroris lain yang tersebar di Sumatera dan
Jawa. Di Malang, kata dia, polisi membekuk kaki-tangan teroris
Singapura, Mas Selamat Kastari, berinisial HSN (Husaini bin Ismail) di
Malang dan kemudian Abdul Samad di Lampung.

Sebelum bom meledak di dua hotel di kawasan Mega Kuningan pekan lalu,
kata Bambang, polisi juga telah menangkap Saefudin Zuhry di Cilacap pada
12 Juni. Dari Zuhry, polisi mengetahui adanya peran BRD (Bahrudin Latif
alias Baridin). "BRD mertuanya sasaran kami (Noor Din M. Top)," ujarnya.

Di halaman belakang rumah Baridin itu polisi menemukan bom yang siap
diaktifkan. Bom tersebut, kata Bambang, serupa dengan bom yang disita di
Palembang dan bom yang ditemukan di kamar 1808 Hotel JW Marriott. "Ini
kami pahami bahwa mereka punya pola," kata dia.

Penangkapan terbaru dilakukan di Cilacap pada Rabu lalu terhadap Achmadi
alias Achmad Jenggot, 39 tahun. Ia memutuskan menyerahkan diri sehari
sebelumnya dan mengaku telah direkrut Noor Din untuk menjadi
"pengantin". "Pengantin" merupakan sebutan bagi pelaku bunuh diri yang
bersedia meledakkan dirinya bersama bom yang ia bawa.

Berdasarkan penelusuran /Tempo/ di wilayah itu, diketahui bahwa Achmadi
merupakan teman satu sekolah Saefudin Zuhry di Madrasah Wathoniyah
Islamiyah di Desa Kebarongan, Kemranjen, Banyumas. Madrasah tersebut
hanya berjarak seratusan meter dari kediaman tokoh teroris yang sudah
ditangkap, yakni Abu Dujana.

Menurut Mahfudz, Direktur Pondok Pesantren Al-Muaddib, Zuhry dan Achmadi
sering datang ke pondok tersebut. "Achmadi itu orangnya suka bekerja
keras," kata Mahfudz. Ia membenarkan bahwa Zuhry dan Achmadi pernah
sekolah di madrasah yang sama.

Kedekatan keduanya juga dibenarkan oleh Supriyanti, sepupu Achmadi.
"Mereka sudah seperti keluarga. Zuhry sering berkunjung ke rumah
Achmadi. Begitu juga sebaliknya."

Hal lain yang dianggap aneh dari sosok Achmadi diungkapkan oleh Sohid,
45 tahu, tetangganya. "Dia tak suka difoto," katanya. "Ketika nikah saja
tidak mau difoto," Supriyanti menimpali. *ARIS ANDRIANTO | ANTON SEPTIAN
*

*http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/07/25/headline/krn.20090725.172045.id.html

Agama dan Terorisme

Agama dan Terorisme


*Budi Kleden*

Sudah menjadi satu ritual yang terulang, setiap ada aksi kekerasan di
negara ini, para pemimpin agama tampil berdoa bersama bagi para korban
sembari mengecam dan menyesalkan aksi itu.

Mereka mendemonstrasikan kesatuan dan menyatakan dengan tegas bahwa
tindak kekerasan dan terorisme adalah perbuatan antikemanusiaan dan
berlawanan dengan ajaran agama mana pun. Tidak ada agama yang
membenarkan kekerasan.

Bersamaan dengan itu, warga pun diajak untuk tidak mengidentikkan agama
tertentu dengan aksi teror dan kekerasan tertentu. Pertanyaan kita
adalah apakah benar agama-agama sama sekali tidak mempunyai kontribusi
dalam aksi teror yang terjadi?

*Ambivalensi agama*

Kita akan mudah menemukan kesepakatan bahwa sejatinya tidak ada agama
yang eksplisit mengajarkan warganya untuk menggunakan kekerasan. Pada
tataran normatif, agama berurusan dengan yang ilahi, yang dipandang dan
disembah sebagai sumber dan tujuan kehidupan manusia. Karena memiliki
Tuhan sebagai sumber dan tujuan, kehidupan manusia terlindung secara hakiki.

Dalam alur silogisme ini, tiap agama juga harus menghargai hak hidup
tiap manusia. Maka, tindak kekerasan yang menghancurkan kehidupan
manusia seperti terorisme adalah bertentangan dengan sikap dasar kepada
yang ilahi. Orang yang membunuh orang lain dalam aksi teror tidak berhak
menyebut diri penyembah Tuhan.

Persoalan yang dihadapi adalah kompleksitas fenomena keagamaan yang
tidak selalu demikian terang layaknya sebuah silogisme. Agama berbicara
dan merayakan yang ultim, yang tidak dapat direduksi hanya pada akal
budi. Tuhan menyentuh seluruh diri manusia.

Karena itu, agama tidak hanya berbicara dan mewartakan, tetapi juga
merayakan. Hanya karena itu, agama menjadi tempat perlindungan bagi
manusia saat dia terancam hanyut dalam kalkulasi ekonomi, perhitungan
politik, atau rekayasa ilmu pengetahuan, dan dapat menjadi inspirasi
untuk pembebasan saat terjadi banjir emosi yang membutakan.

Dalam bahasa Habermas, agama membangkitkan kesadaran akan sesuatu yang
hilang (das BewuƟtsein von dem, was fehlt). Dia mengingatkan, manusia
tidak boleh direduksi hanya pada beberapa faktor.

Dalam cirinya yang holistis serentak misterius ini, agama memiliki alur
argumentasinya sendiri, yang tidak selalu dapat diterima semua orang.
Masalah muncul saat agama dengan pola berpikir yang khas mengklaim diri
mewakili rasionalitas manusia seumumnya.

Dengan anggapan ini, agama mudah terjebak dalam godaan untuk memaksakan
semua orang menerima kebenarannya sebagai satu-satunya yang paling
sesuai jati diri alamiah manusia. Yang berpikir lain dinilai terlalu
angkuh atau terlalu bodoh.

Ketika banyak cara tidak mempan untuk membalikkan orang dari kebodohan
atau keangkuhannya, penggunaan kekerasan pun mudah mendapat legitimasi.
Dan membiarkan diri menjadi sarana untuk tujuan ini merupakan satu
kemuliaan. Maka, segelintir orang rela mati demi tujuan luhur itu.
Godaan ini melekat pada setiap agama. Karena itu, tiap agama memiliki
kisah kekerasan dalam sejarahnya kendati sering kita mendeklarasikan,
agama-agama sejatinya antikekerasan.

*Menjadi peziarah*

Bahaya penggunaan kekerasan, termasuk terorisme, adalah godaan laten
dalam agama-agama. Karena itu, tugas paling mendesak serentak paling
sulit bagi agama-agama adalah menyediakan perangkat penjelasan dalam
tradisinya sendiri untuk mengakui kebebasan yang sama bagi setiap
manusia dan semua kelompok.

Kerangka penjelasan itu harus digali dari tradisi sendiri sebab selama
dia dipaksakan dari luar, sifatnya amat rapuh dan membentuk semacam
toleransi semu. Orang lain terpaksa diterima selama dia belum dapat
disingkirkan.

Toleransi seperti ini dapat dipaksakan oleh ideologi politik, relasi
kekerabatan, atau simbiosis mutualis dalam sebuah sistem ekonomi. Dia
berubah saat ideologi politik runtuh, relasi kekerabatan melonggar atau
saat orang merasa dirugikan dalam hubungan perekonomian.

Untuk memupuk satu kehidupan bersama dalam kedamaian yang langgeng,
seruan toleransi dan demonstrasi kebersamaan agama-agama amat penting
tetapi belum memadai. Lebih dari itu, tiap agama harus
mempertanggungjawabkan kepada para pemeluknya landasan teologis yang
meyakinkan bagi penerimaan dan penghargaan terhadap semua orang dan
kelompok lain.

Toleransi baru menemukan akarnya yang kuat apabila agama sanggup melihat
manusia, apa pun agama dan orientasi politisnya, sebagai makhluk yang
dilindungi Tuhan dan karena itu memiliki hak yang harus dihormati.
Terorisme tidak menambah apa pun pada kemuliaan Tuhan, sebaliknya
merupakan penghinaan terhadap-Nya.

Orientasi kepada kemanusiaan ini mendorong agama-agama untuk menempatkan
dirinya dalam dialog yang hidup dengan setiap kondisi sosio-historis.
Ketika kondisi sosio-historis menampakkan ciri plural yang semakin
radikal seperti dewasa ini, klaim agama sebagai pemangku kebenaran
absolut harus ditafsir secara baru.

Rasionalitas agama harus menjadi kesadaran fragmentaris, yang hanya
dapat menunjuk kepada kebenaran absolut Tuhan tanpa bisa
menggantikannya. Agama menjadi sikap manusia peziarah, bukan pengawal
benteng abadi yang tak tersentuh goresan kefanaan. Peziarah mencari
dalam keterbukaan, pengawal benteng abadi mempertahankan dengan
menghancurkan. Selama kita memilih mempertahankan Tuhan dalam semangat
pengawal benteng, bahaya laten terorisme pun tetap terpelihara.

/*Budi Kleden* Dosen Teologi pada STFK Ledalero
/

/http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/24/04514867/agama.dan.terorisme

TEROKA

TEROKA
Dari Khotbah Bunga ke Sungai Tak Bicara



*Tia Setiadi*

Pada suatu pagi yang bening dan tenang, Sang Buddha mengumpulkan
murid-muridnya yang paling tinggi pencapaian rohaninya di Taman Kijang
yang terletak di daerah pedesaan Isipatana. Suasana hening aneh ketika itu.

Terasa ada kekhusyukan terpancar dari wajah-wajah para murid pinilih
itu. Dedaunan dan burung-burung tak bergerak, seolah ikut khidmat
menanti ajaran yang akan diwedar Sang Buddha. Yang mengherankan, sekian
lama ditunggu-tunggu Sang Buddha masih juga tak mengatakan sepatah
ajaran pun.

Dia hanya berdiam diri. Kemudian-masih tanpa kata-kata terucap Sang
Buddha berjalan perlahan-lahan di hadapan para muridnya, sembari
memutar-mutar setangkai bunga kuning. Pada saat itu seorang arhant
bernama Kasyapa tiba-tiba tersenyum lebar. Maka Sang Buddha yang
dicerahkan pun lantas berkata, ”Hari ini hanya Kasyapa yang terhormat
yang memahami ajaranku.”

Selepas itu Sang Buddha pergi memasuki tempat samadhi-nya, meninggalkan
para murid yang masih tercengang dan Kasyapa yang tersenyum arif.
Syahdan, di kemudian hari Kasyapa menjadi keluarga pertama dari apa yang
kita kenal sebagai Buddha Zen dan khotbah Sang Buddha yang singkat tanpa
kata-kata itu disebut Sutra Bunga.

Hari-hari ini saya kerap teringat adegan indah Khotbah Bunga itu dan
bersyukur bahwa di dunia kita yang sedih dan tak sempurna ini pernah
hadir seorang pengkhotbah seperti Sang Buddha. Seorang pengkhotbah yang
tahu batas kata-kata sekaligus melampauinya. Yang mengingatkan dan
mengembalikan kita pada kepekaan indera-indera dan visi batin kita
sendiri. Pada apa yang terdengar telinga dan tampak di depan mata, yang
tersentuh mesra oleh kaki dan tangan kita: sekuntum bunga kuning yang
baru mekar, derai angin di pepucuk daun, cahaya dan bayangan,
pohon-pohon, dan udara segar.

Sang Buddha sadar betul bahwa ajaran dan kata-kata sering kali justru
bisa memenjara dan mengasingkan kita dari bumi dan dunia, maka ia
memandu murid-muridnya agar intim dengan alam raya, dengan ajaran-ajaran
yang tak tertulis dalam kitab-kitab dan tak terucapkan para juru
khotbah, tetapi hadir dan terpantul di mana-mana.

*Rakit dan pengkhotbah*

Sedihnya, kali ini kita justru dikepung dan dikelilingi oleh para
pengkhotbah yang ceriwis, yang tak tahu batas kata-kata, yang terlampau
berpegang kaku pada tafsir monolitik atas kitab-kitab tertulis dan
mengabaikan rahasia kitab-kitab yang tak tertulis. Lihatlah, begitu
gemarnya para pengkhotbah itu berdiam dalam mikrofon, meneriakkan dan
menjejalkan ajaran-ajarannya.

Padahal, sang pengkhotbah sejati tak pernah menuntut kepatuhan dogmatis
dari para pengikutnya. Bahkan ia selalu menekankan kepada muridnya untuk
mencari dan menemukan pulau pembebasannya sendiri.

Sang Buddha telah mengatakan segala ajaran yang masih mungkin untuk
dikatakan: daya jangkau pikiran dan keterbatasannya, indera-indera dan
ilusinya. Sementara itu, segala ajaran yang tak terkatakan, dia
kembalikan kepada keheningan. Tetapi, keheningan Sang Buddha bukanlah
ungkapan suatu pengetahuan, melainkan ia menyingkap sesuatu yang datang
setelah pantai pengetahuan berakhir: kearifan.

Sampai di sini, saya jadi teringat sebuah novel liris yang ditulis
Herman Hesse, bertajuk Siddartha. Konon, setelah jauh mengembara mencari
jati dirinya, berguru dan hidup bersama para pertapa, Siddharta tak juga
tercerahkan dan dahaga jiwanya belum juga terpuaskan.

Kemudian tibalah dia di sebuah sungai dan Siddharta menyerah. Dia tak
lagi mengingat ajaran atau bekerja keras menggapai pencerahan. Siddharta
hanya mendengarkan suara arus sungai itu. Dan ketika dia mendengar,
Siddharta benar-benar menyatu dengan mendengar, benar-benar suwung.

Siddharta mendengar ribuan jenis lagu sungai: ratap kerinduan,
tetes-tetes kebijaksanaan, bulir rintihan dan tangisan, serta keceriaan
anak-anak. Dalam keheningan dan kediamdiriannya Siddharta menyatu dengan
keseluruhannya.

Kisah tentang Siddharta lagi-lagi mengingatkan kita akan keterbatasan
ajaran dan kata-kata, dan mendorong kita membukakan pintu batin untuk
menyambut arus sungai keheningan yang datang sebelum dan sesudah kata.

Indonesia sepertinya membutuhkan seseorang yang mau dan mampu berjihad
menjadi ”Siddharta politik”, menjadi kearifan. Yang mungkin sepi,
mungkin sendiri.

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/25/03470831/dari.khotbah.bunga.ke.sungai.tak.bicara

Bom Jumat "Legi"...

Bom Jumat "Legi"...



*SUJIWO TEJO*

Terpujilah mengutuk pengebom Mega Kuningan, Jumat (17/7/2009). Namun,
tanpa mengurangi hormat kepada korban dan keluarganya yang menanggung
duka, sepatutnya kita menengok ”bom-bom” dan ”korban-korban” lain.

Inilah tragedi yang bermunculan hampir saban hari tanpa pernyataan
kecaman terhadap pelaku, tanpa pameran duka ke hadapan penanggung deritanya.

Suatu tatanan yang mengakibatkan—terutama—pendidikan tinggi menjadi luar
biasa mahal adalah salah satu wajah lain dari ”bom” sehari-hari yang
penulis maksud. Para korban tidak meninggal, juga tidak luka-luka.
Mereka tetap memiliki tubuh, ditengarai denyut nadi dan detak jantung.
Namun, tubuh-tubuh itu ada di bawah taraf kepatutan hidup. Mereka tak
mendapat pendidikan layak alias—sejatinya—tak ubahnya jenazah.

*Hidup itu bekerja*

Mari menafsir kematian secara lebih arif, lebih dewasa. Sungguh tetap
kekanak-kanakan jika pada era sekarang, era saat kita diam-diam mulai
tahu sama tahu tentang standar hidup minimal, kita masih tetap
mengartikan kematian harfiah sebagai terhentinya aktivitas fisik semata.
Bukankah kita diam-diam tahu sama tahu bahwa pada era seperti ini orang
yang mondar-mandir tak dapat pekerjaan karena di tangannya cuma
tergenggam ijazah SMU, lantaran tak sanggup berkuliah, tak ubahnya orang
kelojotan menjelang sirna?

Bahkan, jauh sebelum ”bayi” Indonesia lahir tahun 1945, jauh sebelum
kita sebagai bangsa matang, nenek moyang kita sudah mengajar, orang baru
sah disebut hidup jika sudah mampu mengaktualisasi diri dalam kerja.
Pandangan Nusantara ini seiring pandangan di Eropa bahwa manusia itu
Homo faber (manusia tukang, manusia pekerja). Tanpa aktualisasi itu,
manusia disebut mati sakjroning urip (ada ya ada, tetapi sejatinya telah
tiada).

Lebih-lebih kesadaran seperti itu sudah ditanamkan sejak kanak-kanak di
berbagai suku dan pelosok antara lain melalui tembang dolanan.
Misalnya... Pak Jenthit Lololobah, wong mati ora obah, yen obah medeni
bocah, yen urip goleko duwit.... Intinya, nenek moyang kita sudah
mencangkokkan wacana sejak usia dini bahwa kalau kelak kalian ingin
disebut hidup, ya bekerjalah. Padahal, tanpa kasus khusus, misalnya
mengandung bakat luar biasa, lapangan kerja macam apa yang kini bisa
digapai lulusan SMU untuk hidup layak karena mereka termehek-mehek akan
biaya melanjutkan belajar ke pendidikan tinggi?

*”Bom” yang lain*

”Bom” lain yang penulis maksud terjadi sehari-hari adalah suatu sistem
yang mengakibatkan modal-modal besar dan asing bisa menyusup dan
merangsek sampai perkampungan untuk membuka perdagangan eceran.
”Korban-korban”-nya yang seakan telah meninggal maupun luka bakar dan
luka ringan adalah seluruh manusia yang mestinya bisa hidup (layak) jika
pasar-pasar tradisional beserta seluruh jaringan distribusinya tidak
remuk redam akibat ”bom” itu.

Suatu sistem yang mengakibatkan kesenian tradisional nyaris mati diikuti
megap-megapnya hampir sebagian besar pelaku seni tradisional juga
termasuk ”bom-bom” lain. Bagaimana mungkin media massa seperti televisi
diberi kebebasan mengikuti mekanisme pasar. Pasti semua berlomba-lomba
mengejar rating acara dan itu sah. Tanpa campur tangan government alias
pamong praja (maaf penulis sejak dulu kurang sreg dengan konsep kata
”pemerintah” alias pangreh praja) agar tiap stasiun televisi menyiarkan
minimal sekian persen tayangan tradisional, tak mungkin televisi swasta
rela menyiarkan program tradisional.

Belum lagi sistem yang mengakibatkan para petani garam, petani padi,
nelayan, dan lain-lain sempoyongan. Semua itu adalah wujud lain dari bom
yang meledak di Mega Kuningan. Sama halnya dengan Rahwana, simbol
angkara murka yang berkepala sepuluh alias dasamuka, bom Mega Kuningan
cuma wajah lain dari keangkaramurkaan yang tunggal dan padu.

Wajah-wajah lain Rahwana adalah sistem-sistem yang telah penulis
singgung. Dan seperti wajah-wajah Rahwana yang bisa bermetamorfosa
sekehendak hati si empunya angkara, tak seluruh wajah itu tampak
mengerikan. Kadang wajah itu mengambil bentuk nun jauh bertolak belakang
dari kesan beringas.

*Norma tradisional kematian*

Jika kita lebih teliti, lebih awas, lebih sejenak tak tertipu oleh indra
penglihatan yang gampang bias dan fana, mengulur-ulur manusia tetap
hidup secara fisik tetapi sejatinya sudah membunuh perlahan-lahan
martabatnya selaku manusia bukankah jauh lebih tega dan kurang sopan
dibandingkan dengan membunuh manusia seketika secara fisik melalui bom
fisik?

Lagi pula, ajakan untuk tak sekadar memaknai kematian secara fisik
bukanlah mengada-ada. Sebenarnya sudah sejak lama dunia menyelenggarakan
imbauan itu. Orang yang tak dihiraukan apalagi sudah dicabut namanya,
meski masih hidup, sebenarnya sudah mati. Lihat tradisi beberapa suku di
Indian maupun Papua. Seseorang tak perlu dihukum mati secara fisik oleh
kepala suku. Sang ketua cuma mewajibkan warganya tidak menghiraukan dan
tidak menyapanya. Jika perlu, cabut namanya sehingga tiap saat warga
cuma menyerunya ”hoiii!!”. Lama-lama tokoh ini nglokro lalu akan
benar-benar mati secara fisik.

Kini bandingkan, adakah beda yang amat prinsip antara orang yang tak
dihiraukan itu, lebih-lebih yang telah dicabut namanya sehingga cuma
menjadi nomor dalam cacah jiwa kependudukan zaman dulu, dan penganggur,
petani, nelayan, serta mantan orang-orang pasar tradisional saat ini?

/SUJIWO TEJO Dalang
/

/http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/25/04465828/bom.jumat.legi...

Mengapa JK Saya Promosikan?

Mengapa JK Saya Promosikan?



*Ahmad Syafii Maarif*

Dalam kultur demokrasi yang kita perjuangkan agar kian sehat, kuat, dan
bersih, mungkin tidak ada salahnya menyampaikan ”rahasia” dapur politik
pribadi.

Pada putaran pertama Pilpres 2004, saya memilih Amien Rais-Siswono.
Mereka saya pandang akan melakukan perubahan politik yang lebih berpihak
kepada rakyat, tidak membungkuk kepada asing. Pilihan itu saya nilai
benar meski kalah—posisi nomor empat, di atas Hamzah Haz-Agum
Gumelar—karena aneka faktor.

Meski Amien Rais-Siswono menjadi pilihan saya, kekalahan ini tidak
mengagetkan meski menyisakan perasan tak sedap. Setelah Amien Rais
kandas, untuk beberapa lama, merasa tak nyaman melihat saya. Tim
suksesnya menduga, saya tidak mendukung sepenuh hati.

Dalam posisi sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, saya tidak mungkin
melangkah lebih jauh. Perkara ada pihak yang tidak nyaman, biarlah itu
menjadi simpanan dalam memori masing-masing. Saya menerima semuanya
dengan perasaan biasa.

*Rindu Indonesia sejahtera*

Jika melihat hasil pertarungan politik beberapa tahun terakhir, saya
sadar tidak punya pengaruh signifikan dalam pemilu legislatif dan
pilpres. Karena itu, jangan memandang saya sebagai warga penting di
republik ini. Saya adalah seorang warga sepuh yang amat merindukan
Indonesia yang adil, sejahtera, dan berdaulat penuh. Jika saya kadang
terkesan mengeluarkan pernyataan bernuansa politik, itu karena kecintaan
saya kepada bangsa dan negara ini agar cepat keluar dari belenggu
ketidakpastian.

Bisa saja pernyataan semacam itu dinilai kurang arif. Itu risiko yang
harus saya terima. Di dunia politik, orang tidak jarang memberi tafsiran
saling berlawanan, bahkan tafsiran liar. Saya ingin, pemimpin puncak
Indonesia modern adalah pribadi yang teguh, berani, tegas, tidak peragu.
Pertimbangan inilah yang sering memaksa saya untuk tidak diam.

*Soal JK*

Kembali ke Pilpres 2004. Karena pilihan saya kandas dalam ronde pertama,
pasangan yang akan bertarung 20 September 2004 adalah Mega-Hasyim versus
SBY-JK. Lagi-lagi karena ingin perubahan, saya beralih ke pasangan
SBY-JK meski hubungan baik dengan Mega-Hasyim tetap terjaga.

Kepala BIN Syamsir Siregar bersama pengusaha Rusdi Latif malah mengajak
saya ke Aceh untuk sekadar membaca peta meski sebenarnya telah terjadi
kampanye terselubung. Di Aceh saya tidak menganjurkan untuk memilih
pasangan yang mana, tetapi karena bersama rombongan BIN, orang tentu
akan memberi tafsiran tersendiri.

Sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, saya berusaha netral, tetapi
amat sulit. Sebagaimana dimaklumi, SBY-JK memenangi Pilpres 2004. KPU
yang dibentuk di bawah pemerintahan Mega-Hamzah, meski belakangan
menyisakan masalah hukum, telah bekerja profesional. Hampir tidak ada
protes atas kinerja KPU dalam Pileg/Pilpres 2004.

Dengan latar belakang itu, mengapa pada Pilpres 2009 saya mempromosikan
JK berpasangan dengan Wiranto? Tentu dengan kelebihan dan kekurangannya.
Mohon maaf jika saya tidak pernah simpati kepada Golkar meski JK ketua
umumnya. Saya memilih JK berdasar jejak rekam dan kiprahnya dalam
politik kebangsaan selama 10 tahun terakhir, yang saya nilai positif dan
berani. Seandainya JK lahir di Jawa, Kalimantan, atau Ende, tetapi
dengan jejak rekam yang sama, saya tetap memilihnya.

Jadi, tidak ada hubungan dengan jargon Jawa-luar Jawa, hal yang sudah
lebur dalam kemasan keindonesiaan saya. Tentang jejak rekam JK, banyak
dibongkar, bertalian dengan proses perdamaian di Poso, Ambon, dan Aceh,
gertakan terhadap IMF yang ingin mendikte Indonesia, atau beberapa
kebijakan publik yang kontroversial. Faktanya jelas. Para penulis
sejarah politik kebangsaan pasti akan bermunculan untuk mengenal lebih
jauh sosok JK meski dia gagal menjadi presiden ke-7 Indonesia.

Sebenarnya, baru belakangan JK menyatakan siap dicalonkan menjadi
presiden karena desakan berbagai situasi, bukan diarsiteki lebih dini.
Jika dirancang sejak dua tahun sebelumnya, strategi akan lebih matang
meski Golkar tidak sepenuh hati mendukung.

Ketika sekitar dua tahun lalu saya katakan kepada JK agar berpikir untuk
maju sebagai capres, isyarat yang terlihat adalah ”geleng”, bukan
”angguk”. Artinya, sejak mula JK tidak pernah bermimpi menjadi presiden.
Maka, kekalahannya secara kesatria dapat dipahami, karena tidak ingin
menjadi presiden.

Namun, jika hoki, saya percaya Indonesia akan berubah ke arah lebih baik
dan bermartabat dalam tempo cepat. Seandainya ada putaran kedua dan yang
lolos pasangan SBY-Boediono versus Mega-Prabowo, demi perubahan, pilihan
saya jatuh kepada Mega-Prabowo, dengan segala catatan kaki terhadap mereka.

*Tak menyesal*

Meski terempas, saya tak menyesal telah mendukung JK-Wiranto karena
negeri ini memerlukan pemimpin nasional yang tangguh dan sigap, kualitas
yang terlihat pada pasangan itu.

Dalam pertimbangan serupa, saya berharap agar pemilih pasangan
SBY-Boediono jangan menyesal jika janji-janji tidak menjadi kenyataan,
kemiskinan tetap mendera bangsa ini.

Kekalahan JK tidak perlu ditangisi sebab sejarah akan mencatat, dalam
Pilpres 2009 demokrasi Indonesia masih terpukau bentuk, bukan jejak
rekam substansial seseorang.

Selamat kepada SBY-Boediono, pemenang Pilpres 2009. Semoga kita belajar
dari kegagalan atau keberhasilan masa lampau. Amanat perbaikan bangsa
lima tahun mendatang ada di pundak SBY-Boediono. Siapa tahu pasangan ini
membawa terobosan signifikan bagi Indonesia yang berwibawa dan
diperhitungkan dalam percaturan global.

/Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah
/

/http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/25/04481387/mengapa.jk.saya.promosikan
/