BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Pembelajaran Hidup dalam Puasa

Pembelajaran Hidup dalam Puasa

Written By gusdurian on Selasa, 24 Juli 2012 | 10.01

PUASA, shiyam atau shaum, berarti berpantang menahan diri dari makan, minum,dan hubungan seks suami-istri di siang hari, menahan diri tidak berkata kotor,caci maki,dan marah selama menjalani ibadah puasa. Maksud ibadah puasa ialah agar tindakan manusia menjadi lebih santun dan manusiawi di sepanjang hidupnya. Ibadah puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus, tidak makan, dan minum sehari penuh selama satu bulan. Puasa merupakan pembelajaran penderitaan dan kesabaran, selain empati kemanusiaan universal.Ibadah ini lebih bermakna jika diikuti aksi kemanusiaan penyeimbang kesenjangan sosial-ekonomi sebagai fondasi kehidupan berbangsa. Itulah maksud pahala memberi takjil (berbuka) kepada mereka yang berpuasa dan membayar fitrah bagi fakir-miskin saat 1 Syawal tiba. Ironinya, gerakan kemanusiaan menjadi mati suri ketika ibadah puasa dan korban menjadi sebuah rutinitas. Puasa mesti menumbuhkan empati kemanusiaan atas mereka yang menderita kekurangan makanan dan minuman akibat kemiskinan,ketabahan menghadapi cobaan hidup,tolong- menolong, jujur, dan disiplin diri. Pemihakan kemanusiaan adalah bukti otentik kesetiaan pengabdian (iman) pada Tuhan. Banyak orang berpuasa gagal memperoleh hikmah kearifan,sekadar lapar dan haus sepanjang hari akibat tidak menangkap makna kemanusiaan universalnya.Rasul mengingatkan: “Kam min sha-imin laisa lahu min shaumihi illa alju-’ I wa al-‘athasu”(Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapat apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga). Hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah: “Kullu hasanatin bi’asyri amtsa-liha ila sab’a miati dhi’fin illa al-shiya-m fa innahu li- wa ana- ajzihi”(Setiap amal kebajikan akan mendapat balasan lipat sepuluh sampai tujuh ratus kali, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah hak-Ku.Dan Aku akan membalas puasa itu). Hadits Qudsi dari Abu Hurairah: “Kullu ‘amali ibni adam lahu,illa al-shiya-m fa innahu li- wa ana ijziya bihi,al-shiya-mu junnah“. Artinya, semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa.Amalan puasa itu untuk-Ku,Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai.(HR Bukhari dan Muslim) Siapa menjalani puasa berdasar iman dan kesadaran tinggi, dosa-dosa yang telah lalu terhapus. Jika puasa dijalani secara benar,orang tidak lagi berbuat dosa sesudah Ramadan usai. Hadits Abu Said al-Khudri: “Tidaklah seorang berpuasa sehari di jalan Allah kecuali Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (Bukhari dan Muslim). Karena itu,saat Ramadan tiba,pintu surga dibuka,ditutup pintu neraka,syaitan dipasung,pintu rahmat dibuka lebar. (HR Muslim). Sebaliknya, kegagalan menangkap makna puasa membuat perilaku korup tetap membesar. Bagi yang tidak mampu secara fisik menjalani puasa (sakit, pekerja berat) boleh tidak berpuasa seperti pekerja tambang, sopir bis, nelayan, petani, atau tukang becak. Sebagian ulama membolehkan pekerja berat tidak berpuasa tanpa membayar fidyah dan tanpa qada (mengganti puasa di hari lain) karena digolongkan sebagai orang yang tidak mampu berpuasa. Sebagian lain berpendapat boleh tidak berpuasa tanpa membayar fidyah dan qada jika tergolong miskin. Sementara pejabat kantoran yang naik mobil berpendingin dengan sopir pribadi mesti berbuat lebih dari sekadar tidak makanminum, hubungan seks suami-istri siang hari, tidak berkata jorok,serta marah.Semoga beroleh berkah puasa (Lihat buku Puasa,Jihad Melawan Kemiskinan,2012). ABDUL MUNIR MULKHAN Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/512685/
Share this article :

0 komentar: