BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » “Please Call Me Mbak Nia”

“Please Call Me Mbak Nia”

Written By gusdurian on Kamis, 26 Maret 2009 | 12.40

“Please Call Me Mbak Nia”



Laporan: Kartika Sari




Jakarta, RMonline. Sebulan Ngubek-ngubek Negeri Kanguru

Sebagai pemenang Elizabeth O’Neill Journalism Award dari Pemerintah Australia, wartawan Rakyat Merdeka Kartika Sari mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Negeri Kanguru selama satu bulan. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan bisa berpetualang dan mengubek-ubek empat kota sekaligus di Australia. Berikut ini laporannya yang akan disajikan secara bersambung.

Kita boleh bangga karena Aus­tralia punya beberapa Indone­sianis. Kebanyakan dari mereka adalah para akademisi. Salah satunya Virginia Hooker, dosen senior dari Australia National University (ANU) di Canberra yang belum lama ini pensiun.

Meski sudah pensiun, namun karena sumbangsih dan jasanya yang besar di dunia pendidikan, Nyonya Hooker masih dikar­yakan di ANU. Tak menghe­ran­kan jika dia mendapat gelar “Emi­ratus Professor” dari ANU.

Di ANU, salah satu universitas terkemuka di Australia, Hooker adalah Koordinator Program Pasca Sarjana yang mengajar mengenai agama Islam dan Indo­nesia. Dia juga dosen menjadi pembimbing di Department of Political & Social Change, Re­search School of Pacific and Asian Studies di ANU.

Saya pertama kali bertemu profesor yang masih tampak sehat dan cantik di usianya yang 62 tahun itu empat tahun lalu. Saat itu, saya diundang Peme­rin­tah Australia untuk meliput Aus­tralia-Indonesia Ministerial Meeting (AIMM) di Canberra ber­sama almarhumah Elizabeth O’Neill, Atase Kedubes Australia di In­donesia yang meninggal dalam kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta pada 7 Maret 2007.

Rakyat Merdeka sangat senang me­ndapat kesempatan berbin­cang-bincang dengan Hooker di hari terakhir Konferensi Bilateral di Sydney pertengahan Februari lalu. Di coffee shop Hotel Inter­con­tinental Sydney, saya dan Hooker mengobrol sambil lunch. Tak di­ragukan lagi, akademisi yang sangat ramah itu, sangat In­do­nesianis dan mencintai Indonesia.

Saking cintanya dengan In­donesia, Hooker bahkan punya na­ma panggilan Indonesia. “Please call me (tolong panggil saya) Mbak Nia aja. Ja­ngan panggil saya Nyonya Hooker atau Virginia ya,” pintanya ke­pada saya sambil tersenyum.

Sebagai orang asing, bahasa Indonesia ibu dua anak itu cukup lancar. Hooker yang juga anggota Member of the Board Australia Indonesia Institute (AII) itu, tak henti-hentinya memuji Indonesia dan kebaikan serta keramahan masyarakat Indonesia.

“Saya sangat senang negara Anda. Menurut saya, Indonesia tidak hanya negara yang kaya akan sumber daya alam, tapi juga masyarakatnya sangat ramah, baik, tulus dan penolong. Saya juga sangat kagum dengan bu­daya dan kehidupan majemuk masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Di mata Hooker, masyarakat Indonesia sangat pintar, artistik, sensitif, supportive, terus terang, ramah dan punya sense of humor yang tinggi. “Saya punya teman dari banyak negara. Tetapi teman-teman dari Indonesia lah yang paling baik dan tulus. Misalnya saat saya terkena musibah atau sedang sedih, pasti teman-teman dari Indonesia yang rajin meng­kontak entah itu lewat e-mail atau telepon untuk memberikan du­kungan sehingga saya menjadi lebih tegar.”

Menurut Hooker, dia belajar bahasa Indonesia di Canberra sejak tahun 1964 jaman Presiden Soekarno. Pelajaran bahasa Indo­nesia sendiri, tambahnya, baru diajarkan di sejumlah sekolah Australia tahun 1980-an.

Nenek dua cucu yang hobi melahap rendang, gule, gado-gado dan masakan Sunda itu, mengaku salut dengan ma­sya­rakat Indonesia yang kuat. “Saya sangat bangga dengan orangtua di Indonesia yang tetap menye­kolahkan anak-anak mereka, meskipun kondisi negara Anda di jaman Presiden Soekarno tahun 1960-an sangat sulit,” pujinya.

Menurut profesor kelahiran 16 September 1946 itu, kelebihan-kelebihan yang dimiliki ma­sya­rakat Indonesia itu, sangat baik untuk menjalin hubungan dengan dunia luar, termasuk dengan Australia sebagai tetangga dekat.

Kesalahpahaman

Pada kesempatan itu, dia me­ng­akui masih banyak kesa­lah­pa­haman dan ketidaktahuan dari ma­syarakat Australia tentang Indonesia. Misalnya, orang Aus­tralia secara umum sulit mem­bedakan Islam secara umum dan Islam di Indonesia. Mereka ta­hunya Islam secara umum seperti dari Timur Tengah.

Menurutnya, terdapat sekitar 150.000 warga Muslim di Aus­tralia. Sebagian besar dari mereka adalah imigran dari Turki, Le­ba­non, Afrika dan Timur Tengah. Da­ri jumlah tersebut, Muslim In­donesia di Australia sangat se­dikit sehingga tidak jadi mainstream.

“Warga Australia tidak tahu banyak tentang Islam di In­donesia. Makanya, ini menjadi tantangan kita bersama untuk menjelaskan kepada mereka seperti apa sih Islam di Indonesia. Mereka cuma tahu Islam secara umum,” katanya.

Sebagai salah satu upaya so­sialisasi mengenai Islam dan kehidupan masyarakat Muslim di Australia, lanjutnya, warga non Muslim Australia diundang ma­suk ke masjid. Bahkan selama bulan Ramadhan, setiap hari ada berita mengenai kegiatan berbuka puasa bersama di sejumlah media massa Negeri Kanguru.

Profesor Hooker juga mengaku sangat tertarik melakukan peru­bahan sosial lewat sastra dan rajin membaca buku-buku sastra ten­tang Indonesia. “Saya bertemu dengan banyak sastrawan dan budayawan dari Indonesia, mi­sal­nya WS Rendra, Si Burung Me­rak,” pungkasnya.

http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=72913
Share this article :

0 komentar: