BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Bermula dari Jamu Nenek

Bermula dari Jamu Nenek

Written By gusdurian on Senin, 10 Agustus 2009 | 09.14

Bermula dari Jamu Nenek
Dia yakin akan besarnya manfaat obat herbal Indonesia sebagai obat
berbagai penyakit. Ingin lebih banyak pihak yang membantu
pengembangannya.

Semasa kecil, Arijanto Jonosewojo sudah sering diberi rebusan daun
meniran dan kumis kucing oleh sang nenek. Tidak hanya, Arijanto kecil,
yang hidup di lingkungan Keraton Mangkunegaran, Solo, itu juga sering
diminta mencari sendiri dedaunan tersebut di halaman dan kebun. ”Saya
belum tahu khasiatnya, hanya nurut saja,” kata Arijanto, yang mengaku
sudah dibiasakan minum jamu sejak kecil. Yang diketahuinya, rebusan
dedaunan itu membuat dia, juga keluarga serta neneknya, sehat. Malah
nenek tercinta meninggal di usia 76 tahun justru akibat obat modern.

Sejak itu Arijanto selalu tertarik pada bahan-bahan herbal Indonesia.
Bahkan hingga dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga, Surabaya, 1981, dan menyabet gelar dokter spesialis
penyakit dalam dari perguruan tinggi yang sama, 1993, Arijanto tetap
cinta herbal. Pria kelahiran Surabaya 56 tahun silam itu melanjutkan
pendidikan pelatihan bagi pelatih (training of trainer) pengobatan
tradisional Universitas Airlangga. Konsistensinya terbukti setelah dia
berhasil meresmikan berdirinya Poliklinik Obat Tradisional Indonesia
di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo Surabaya pada 19 Oktober 1999,
yang merupakan tempat pelayanan komplementer-alternatif herbal pertama
di rumah sakit Indonesia.

”Banyak sekali bahan herbal di sini yang memiliki khasiat baik bagi
kesehatan, tapi masih belum tergarap,” kata Arijanto. Itulah yang
membuatnya bergembira luar biasa ketika Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono berkunjung ke tempat penanaman tanaman obat di Tawangmangu,
Jawa Tengah, pada 2008, meminta para dokter dan ahli obat
mengembangkan bahan herbal sebagai obat yang berstandar baik.
Arijanto, dan kawan-kawannya, merasa memperoleh dukungan.

Memang tidak mudah mengembangkan tanaman obat hingga menjadi produk
obat berstandar—hingga lulus uji praklinis. Pertama, biaya penelitian
supermahal, lebih dari Rp 1 miliar untuk satu tanaman. Di sini,
penelitian belum terlalu memperoleh perhatian besar, meskipun ada tren
perbaikan. Tapi, bila ada obat herbal dari luar negeri, harga mahal
pun dibeli. ”Potensi kita besar. Saya lihat obat-obatan herbal dari
luar negeri, bahan bakunya dari Indonesia,” kata Arijanto gemas.

Tapi, apa boleh buat, negara lain seperti Malaysia, Singapura, Korea
Selatan, apalagi Cina, semua berlomba di jalur cepat pengobatan
herbal. Bahkan, di Cina, sudah ada obat herbal yang diinjeksikan. Nah,
bila Indonesia ingin ikut berkompetisi di jalur cepat, menurut
Arijanto, harus ada kerja sama semua pihak. Tidak hanya dokter, tapi
juga pemerintah, farmakolog, petani, peneliti, pengusaha, dan lain-
lain.

Bagi Arijanto, mengembangkan obat herbal sudah menjadi jalan hidupnya.
Selain pada penelitian dan pengobatan, dia mendedikasikan diri di
ranah pendidikan, yaitu sebagai Ketua Program Studi D3 Pengobatan
Tradisional Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. ”Tenaga
lulusannya akan disebar di berbagai puskesmas,” tuturnya.

Nah, tugas para tenaga madya tersebut seperti penyebar paham tentang
obat herbal. Arijanto menaruh harapan besar terhadap mereka. Sebab,
penjelasan mereka bisa lebih diterima masyarakat. Ditambah lagi,
berbekal pengetahuannya, lulusan program studi tersebut dapat mencari
dan membudidayakan tanaman obat di lingkungan sekitar. Tidak seperti
ketika Arijanto kecil, yang hanya menuruti kata nenek untuk mencari
dedaunan tanpa tahu manfaatnya.

Kenangannya atas neneknya itu juga yang membuat Arijanto yakin—setelah
melalui penelitian—obat herbal cocok untuk orang tua. Selain karena
efek sampingnya minim, dampak ke tubuh juga bergradasi, tidak
mendadak. ”Obat herbal untuk menurunkan tekanan darah, turunnya juga
perlahan, tidak mendadak,” katanya.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/10/LK/mbm.20090810.LK131064.id.html
Share this article :

0 komentar: