BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Menurunkan Angka Kelahiran?

Menurunkan Angka Kelahiran?

Written By gusdurian on Jumat, 08 Juli 2011 | 01.58

ARIS ANANTA:

Melihat hasil sementara Sensus Penduduk 2010,sebagian kawan gencar menyampaikan ancaman peledakan penduduk Indonesia. Mereka mengatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia akan terus bertambah.


Hal ini menyebabkan hambatan yang besar dalam pembangunan Indonesia karena Indonesia harus memenuhi kebutuhan orang yang semakin banyak. Oleh sebab itu, kata kawan ini, angka kelahiran harus terus diturunkan. Namun, benarkah jumlah penduduk Indonesia akan meledak lagi seperti yang terjadi pada 1960-an dan 1970-an?

Jawaban ini penting untuk dapat menentukan kebijakan pembangunan di Indonesia. Istilah “peledakan penduduk” muncul ketika angka kelahiran tetap tinggi,sekitar 6 anak atau lebih per seorang perempuan. Pada saat yang sama, angka harapan hidup meningkat dengan cepat, dari sekitar 40 tahun ke 50 tahun.

Banyak bayi lahir dan hampir semuanya bertahan hidup. Jumlah penduduk balita dan yang di bawah 15 tahun kemudian meningkat dengan amat cepat. Inilah yang biasanya disebut dengan peledakan penduduk, peningkatan dengan cepat jumlah penduduk balita ataupun mereka yang berusia di bawah 15 tahun.

Itu yang terjadi di Indonesia tahun 1960-an.Penduduk yang masih muda ini telah melakukan konsumsi, mereka membutuhkan pangan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan,kesehatan, dan rekreasi.Namun, mereka, karena masih muda, belum mampu berproduksi.

Pengeluaran yang besar untuk mereka menyebabkan perekonomian tak dapat menabung. Akibatnya perekonomian tidak dapat berinvestasi. Maka,kalau peledakan jumlah penduduk ini tidak dihentikan, Indonesia akan tetap miskin, dengan jumlah anak yang makin banyak.

Pada 1960-an, keluarga Indonesia tidak tahu bahwa mereka dapat mengatur jumlah kelahiran mereka. Berapa pun yang akan lahir adalah “nasib” belaka. Bahkan, ada pula yang percaya bahwa anak yang banyak merupakan rezeki keluarga. Oleh sebab itu, Pemerintah Indonesia kemudian memperkenalkan program Keluarga Berencana.

Dengan program ini, keluarga dapat mengatur jumlah kelahiran mereka. Dengan jumlah anak yang lebih sedikit, keluarga dapat meningkatkan mutu anak mereka. Para orang tua juga dapat meningkatkan mutu kehidupan mereka sendiri. Keluarga dua anak adalah keluarga bahagia, demikian slogan pemerintah waktu itu.

Apa yang Terjadi Saat Ini?

Dengan gencarnya program Keluarga Berencana dan kemajuan perekonomian Indonesia, angka kelahiran di Indonesia pun telah turun dengan relatif cepat, walau tidak secepat di Singapura dan Thailand. Saat ini, angka kelahiran sudah di sekitar replacement level, sekitar 2 anak per perempuan.

Saat ini, tampak aneh kalau kita melihat pasangan usia sekitar 35 yang mempunyai 4 atau 3 anak.Padahal, pada 1960-an, sangat sering kita melihat pasangan yang mempunyai 6 anak atau lebih. Namun, Indonesia masih beruntung dibandingkan dengan Singapura. Singapura menurunkan angka kelahiran dengan amat cepat.

Ia mencapai replacement level pada 1975. Hanya dalam waktu 10 tahun, Singapura mencapai replacement level, dari angka yang mirip Indonesia pada 1960-an. Saat ini, angka kelahiran di Singapura telah amat rendah, sekitar 1 anak per seorang perempuan. Sangat jauh di bawah replacement level.

Akibatnya, Singapura mengalami masalah kekurangan tenaga kerja muda. Tanpa migrasi dari negara lain, jumlah penduduk Singapura akan menurun. Bersamaan dengan hal itu, Singapura juga mengalami peningkatan jumlah dan proporsi penduduk lansia,usia 60 tahun ke atas.Para lansia ini masih membutuhkan pangan, papan, pakaian.

Bahkan dengan kesehatan yang menurun, mereka membutuhkan biaya kesehatan yang terus meningkat. Lebih sulit lagi, proporsi penduduk muda, kalau tidak ada migrasi, akan terus menurun. Padahal penduduk mudalah yang menyokong penduduk tua. Dari mana uang akan dihasilkan untuk membiayai para lansia yang jumlahnya terus meningkat dan makin cepat itu?

Pada 1960-an,Indonesia dan Singapura menghadapi ancaman peledakan penduduk, dengan peningkatan jumlah penduduk muda yang luar biasa. Kini Singapura menghadapi ancaman peledakan jumlah penduduk lansia, yang berasal dari meledaknya jumlah bayi tahun 1960-an. Indonesia?

Ancaman peledakan jumlah penduduk lansia belum sehebat di Singapura karena penurunan angka kelahiran di Indonesia lebih lambat daripada di Singapura. Namun,tidak berarti ancaman itu tidak ada. Di Singapura proporsi lansia makin tinggi, tetapi ekonominya sudah amat baik.

Ketika proporsi lansia di Indonesia meningkat, apakah perekonomian Indonesia juga akan seperti Singapura? Kalau tidak, tantangan di Indonesia akan menjadi lebih besar daripada di Singapura. Apalagi, secara absolut,jumlah lansia di Indonesia amat jauh lebih besar daripada jumlah di Singapura.

Bukan Peledakan Penduduk

Apa yang terjadi saat ini di Indonesia amat berbeda dengan yang terjadi pada 1960- an. Indonesia tidak lagi mengalami ancaman peledakan penduduk seperti yang dialami tahun 1960, dengan kemungkinan amat banyaknya jumlah bayi dan penduduk muda. Ancaman justru datang dari jumlah lansia yang makin banyak,akibat jumlah bayi dan penduduk muda yang amat banyak di masa lalu.

Kalau angka kelahiran terus menurun, ancaman peledakan jumlah lansia akan makin besar karena proporsi penduduk muda, yang mendukung penduduk lansia,akan makin kecil. Indonesia akan mengalami kekurangan tenaga kerja muda. Kalau hal itu terjadi, Indonesia akan mendatangkan tenaga kerja asing?

Oleh sebab itu, penurunan angka kelahiran janganlah menjadi target kebijakan pembangunan Indonesia.Sediakan alat kontrasepsi yang murah, aman, dan mudah didapatkan, tetapi tujuannya bukan menurunkan angka kelahiran. Tujuannya: memenuhi kebutuhan masyarakat akan alat kontrasepsi yang murah,aman, dan mudah didapat.●
ARIS ANANTA Peneliti Senior di Institute of Southeast Asian Studies, Singapura

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411353/
Share this article :

0 komentar: