BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Sekolah Terpaksa Berutang untuk Biaya Operasional

Sekolah Terpaksa Berutang untuk Biaya Operasional

Written By gusdurian on Minggu, 13 Maret 2011 | 03.01

Dana BOS yang tak Kunjung Cair (Bagian 1)
Herlina tak habis pikir.

Sudah tiga bulan berlalu, namun dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan pemerintah tak juga masuk ke rekening sekolah yang dipimpinnya. Padahal, biasanya, dana BOS itu sudah ditransfer pada pekan kedua setiap bulan. Apa boleh buat, kepala sekolah SDN Bintara Jaya, Bekasi Barat, Jawa Barat, inipun terpaksa mencari utang ke koperasi sekolah untuk menutup keperluan biaya operasional sekolah. "Kalau tidak berutang dulu, gaji guru honorer, kapur, dan tinta, siapa yang mau membayar?" ujar Herlina ketika ditemui Republika, Rabu (9/3).

Uang pinjaman bisa jadi merupakan jalan pintas yang bisa dijadikan solusi oleh Herlina untuk menalangi dana BOS yang tak kunjung cair. Mengingat pula, sekolah kini sudah dilarang untuk memungut biaya operasional sekolah dari orang tua murid.
"Sudah tiga bulan ini kami berutang ke koperasi," ungkapnya.

Herlina menyatakan, biaya operasional yang mesti dikeluarkan sekolah cukup tinggi setiap bulannya. Sebagian besar biaya itu digunakan untuk menggaji guru honorer yang di SDN Bintara Jaya saja terdapat sebanyak delapan orang. Sekolah yang memiliki siswa sekitar 400 orang ini mau tak mau mesti menggunakan jasa mereka karena belum meratanya guru PNS.

Tentu, sekolah tak sanggup bila terus-menerus harus menanggung gaji guru honorer tersebut. Herlina menceritakan, pencairan dana BOS biasanya selalu lancar. Baru tiga bulan terakhir inilah, pembayaran dana BOS macet.
"Keterlambatan ini yang paling parah karena sampai tiga bulan," kata Herlina. Herlina pun kini hanya berharap agar dana BOS segera cair. Apalagi, Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) sekolah yang sekarang dijadikan syarat untuk mencairkan dana BOS telah dibuat.
"Kita sudah buat RKA, tapi dana belum juga cair," ujarnya terheran-heran.

Masalah macetnya pembayaran dana BOS rupanya terjadi di banyak daerah. Di Depok, Jawa Barat, kasus serupa juga terjadi. Seperti yang dialami SDN Pondok Cina 3 dan SDN Mampang 1. Akibat tertundanya dana BOS, Kepala Sekolah SDN Pondok Cina 3 Ade Komalasari tak bisa memperbaiki jalan rusak di depan sekolah.

Karena, perbaikan jalan itu direncanakan sepenuhnya menggunakan dana BOS. "Kami memperbaiki seadanya dulu," ujarnya.

Sedangkan Kepala Sekolah SDN Mampang 1 Yeni Mulyani juga harus menangguhkan beberapa keperluan sekolah sampai dana BOS turun. Dan sebagai cara tercepat, dana pinjaman menjadi solusi untuk menutup kekurangan biaya operasional sekolah. "Ibaratnya rumah tangga, makan jalan terus, kebutuhan ada terus, tapi uangnya tidak ada. Mau tidak mau, kita utang dulu," katanya.

Selain telat, Kepala Sekolah SDN 01 Menteng, Jakarta Pusat, Hasimah, mengkhawatirkan penggunaan dana BOS yang tak boleh lagi digunakan untuk menggaji guru honorer menyusul diterapkannya mekanisme dan rambu-rambu baru. Mekanisme ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Hasimah mengeluhkan penggunaan dana BOS yang lebih rumit dan ketat. Beberapa kriteria penggunaan dana BOS tersebut terkait dengan penggajian guru honorer, belanja modal, dan belanja jasa. "Sekarang sudah tidak bisa `menyeberangkan' dana BOS ke pos lain yang masih butuh dana," ungkapnya.

Ia mengatakan, sebelum aturan baru diberlakukan pada 2011, penggunaan dana BOS masih sangat fleksibel sehingga bisa dimanfaatkan untuk menggaji guru honorer, membeli alat tulis kantor (ATK), atau hal lain yang belum didanai dari sumber dana pemerintah.

Padahal, lanjut Hasimah, di sekolahnya masih terdapat 14 orang pegawai honorer, baik sebagai guru atau karyawan lainnya. Dia menyebutkan, untuk tiga orang guru honorer hanya digaji sebesar Rp 2,6 juta per bulan. Ternyata, sama dengan di sekolah lain, dana BOS juga telat dicairkan hingga tiga bulan lamanya.

Pihak sekolah pun harus putar otak untuk tetap bisa mempekerjakan pegawai honorer dan menggajinya setiap bulan. Kalaupun disiasati, ia juga mengaku khawatir jika diaudit terjadi kesalahan antara data dan fakta di lapangan. "Jalan terakhir mungkin harus dilakukan pemutusan hubungan kerja," katanya dengan berat hati.

Hasimah mengibaratkan, kondisi ini sebagai buah simalakama. Satu pihak, sekolah dibatasi penggunaan dana BOS. Tetapi, jika pemecatan dilakukan, sekolah akan kekurangan tenaga pengajar dan dikhawatirkan itu bisa membuat siswa telantar. "Kalau begini terus, siapa nanti yang mau jadi guru?" tanyanya.

Namun untuk saat ini, Hasimah berkeras tidak akan melakukan PHK terhadap karyawan dan guru honorer. Ia mengaku, untuk tiga bulan pertama, gajinya sendiri `terpaksa' digunakan untuk membayar gaji tenaga pendidik honorer di sekolahnya. "Mereka nggak mungkin harus menunggu tiga bulan untuk dapat gaji dan makan. Nggak mungkin menyengsarakan orang."

Becermin dari persoalan itu, Hasimah meminta pengaturan penggunaan dana BOS bisa lebih fleksibel.
Yang penting, pengalokasian dana BOS bisa tetap dipertanggungjawabkan untuk kegiatan operasional sekolah. "Jumlahnya boleh saja bertambah, tapi alokasinya juga jangan membuat pusing kepala sekolah," tegas Hasimah.

n c01/c02 ed: budi raharjo

http://republika.pressmart.com/RP/RP/2011/03/10/ArticleHtmls/10_03_2011_001_033.shtml?Mode=1
Share this article :

1 komentar:

AMISHA mengatakan...

Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut