BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Imperialisme Bahasa dalam Sepak Bola

Imperialisme Bahasa dalam Sepak Bola

Written By gusdurian on Sabtu, 22 Januari 2011 | 09.17

Sumarno, AKTIVIS KOALISI PENDIDIKAN

Sepak bola mampu memS bangkitkan semangat nasio nalisme. Antusiasme
masyarakat dalam mendukung tim nasional selama laga Piala ASEAN
Football Federation (AFF) 2010 menunjukkan bentuk nasionalisme di saat
bangsa tanpa memiliki suatu kebanggaan.

Euforia masyarakat Indonesia mendukung timnas pada Piala AFF masih
diwarnai oleh hal-hal kontroversal. Pertama, masalah kepengurusan
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, induk organisasi sepak bola
nasional.
Kedua, soal naturalisasi beberapa pemain asing. Dua hal yang
bersinggungan dengan persatuan dan kesatuan serta nasionalisme bangsa.

Namun ada satu hal yang terlupakan dan seolah tidak disadari, yaitu
mengenai bahasa.
Persoalan bahasa tercecer di kancah persepakbolaan nasional.
Lalu apakah hubungannya antara bahasa dan sepak bola? Indonesia, di
samping memiliki kekayaan budaya, di antaranya berupa keanekaragaman
bahasa daerah, mempunyai bahasa nasional yang merupakan bahasa resmi
negara: bahasa Indonesia. Selain fungsi utamanya sebagai sarana
komunikasi, sebagaimana sepak bola, bahasa nasional merupakan
pemersatu dan simbol nasionalisme bangsa. Tentu di samping simbol-
simbol lain.

Bahasa juga merupakan bentuk kebudayaan sebagai cermin jati diri
bangsa. Kenyataannya, persepakbolaan nasional bukan hanya dibanjiri
oleh pelatih dan pemain asing, tapi banyak pula digunakan istilah
asing, terutama bahasa Inggris. Penggunaan istilah atau bahasa asing
baik oleh penyelenggara, media massa yang meliput, kelompok suporter,
maupun tim-tim sepak bola itu sendiri. Sebuah televisi swasta yang
berlangganan menyiarkan pertandingan Liga Super Indo nesia (LSI),
misalnya, walaupun siarannya berbahasa Indonesia, pembawa acaranya
selalu menyebut pelatih dengan istilah coach.

Musim kompetisi 2010/2011, di Indonesia setidaknya terdapat tiga
kompetisi sepak bola berskala nasional, yakni Divisi Utama Liga
Indonesia, LSI, dan Liga Primer Indonesia (LPI). Jika mencermati nama-
nama klub sepak bola peserta pada ketiga kompetisi itu, dari 39 klub
dalam Divisi Utama Liga Indonesia semua menggunakan bahasa Indonesia.

Dari 18 klub LSI, dua di antaranya menggunakan istilah asing atau
bahasa Inggris, yakni Sriwijaya Football Club dan Bontang Football
Club. Football club biasa disingkat FC.

Adapun di LPI lebih banyak lagi. Dari 19 klub peserta kompetisi, 10 di
antaranya menggunakan nama bahasa asing. Kesepuluh klub sepak bola itu
adalah Aceh United, Bali Devata, Bandung FC, Batavia Union,
Cendrawasih FC, Ksatria XI Solo FC, Manado United, Medan
Chiefs, Real Mataram, Semarang United, dan Tangerang Wolves.

LPI disebut-sebut kompetisi yang dikelola lebih profesional daripada
dua kompetisi nasional lainnya dan punya kumpulan klub yang lebih
profesional pula.
Sudah menjadi anggapan umum bahwa yang berbau asing dianggap lebih
hebat, lebih profesional. Penggunaan istilah asing dianggap lebih
membanggakan dibanding istilah dalam bahasa Indonesia.

Ada pendapat; kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme sebagai
penyebab suatu bahasa bisa mendunia. Pendapat tersebut sesuai dengan
fakta sejarah bahwa negara seperti Jerman, Jepang, Prancis, dan
Inggris adalah negara-negara yang terlibat dalam Perang Dunia II dan
mereka melakukan ekspansi atau penyerangan terhadap beberapa negara
lain.

Dalam kajian tentang bahasa, bahasa itu sendiri bukan domain dari
faktor-faktor lain, melainkan faktor yang berdiri sendiri, sehingga
timbul istilah imperia lisme linguistik. Dalam bukunya, Linguistic
Imperialism, Giles dan Middleton (1999) mendefinisikan imperialisme
linguistik sebagai suatu bentuk kolonialisme yang terjadi melalui
media bahasa, ketika bahasa mayoritas menjajah bahasa minoritas.

Dampak imperialisme linguistik sangat hebat, terutama bahasa Inggris
memegang hegemoni dunia dewasa ini. Pemerintahan Soeharto pada suatu
saat pernah melarang pemberian nama perusahaan atau kompleks perumahan
menggunakan bahasa asing. Akibatnya, terjadi upaya penggantian papan
nama di setiap perusahaan atau perumahan. Misalnya perumahan Modern
Land diganti menjadi Kota Modern, bukan Tanah Modern atau Daratan
Modern. Kata "modern", jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia
edisi II cetakan kesepuluh (1999), memiliki padanan, yaitu terbaru
atau mutakhir.

Namun kini, karena tidak ada pelarangan penggunaan bahasa asing,
penggunaan bahasa Inggris masuk ke berbagai lini. Nama perusahaan,
gedung-gedung perkantoran, perumahan, pusat belanja, hotel, dan
restoran nyaris semua menggunakan bahasa Inggris. Tak terkecuali dalam
dunia sepak bola, seperti nama-nama klub sepak bola nasional di
berbagai daerah yang tersebut di atas.
Bukan sekadar nama Bukan hanya nama, penggunaan bahasa Inggris juga
merambah pada aktivitas di dalamnya. Di restoran, daftar menu yang
disodorkan menggunakan bahasa Inggris. Kalau menyebut menu asing
mungkin maklum, bisa jadi tidak ditemukan padanan katanya dalam bahasa
Indonesia. Untuk menyebut jenis minuman yang sudah familiar di
kalangan masyarakat Indonesia pun menggunakan bahasa Inggris.

Demikian pula dalam persepakbolaan nasional. Tendangan pojok atau
tendangan penjuru di Indonesia sering disebut dengan corner kick,
tendangan bebas dengan istilah free kick, pelatih biasa disebut coach.
Memang, tak beda dengan seni, olahraga, khususnya sepak bola, bersifat
universal, mampu menembus batas wilayah dan sekat-sekat perbedaan suku
bangsa, ras, dan agama.

Dalam sejarahnya, sepak bola mampu mempertemukan berbagai bangsa dalam
suatu event yang besar. Namun, manakala nama-nama klub sepak bola yang
notabene klub daerah yang lahir di wilayah Indonesia beramai-ramai
menggunakan bahasa asing, sesungguhnya mereka telah terjebak dalam
imperialisme bahasa. Imperialisme bahasa telah merasuk ke berbagai
sendi kehidupan, dari politik, ekonomi, pendidikan, sampai olahraga
sepak bola.

Sepak bola di Tanah Air dikenal sebagai olahraga paling merakyat,
digandrungi masyarakat dari anak-anak hingga orang dewasa, dari
pelosok desa di pucuk gunung hingga perkotaan. Ia adalah kekuatan
besar sebagai modal yang mengandung spirit nasionalisme. Ironisnya,
tak satu pun orang menyadari bahwa sepak bola menjadi celah terjadinya
imperialisme bahasa, yang tidak tertutup kemungkinan akan mengubah
spirit nasionalisme menjadi fanatisme berlebihan yang berujung pada
tindak kekerasan. Fenomena tersebut tampak pada seringnya sepak bola
diwarnai perkelahian antarpenonton, antarpemain, bahkan perseteruan
antar-elite pengurus organisasi sepak bola nasional karena saling
berebut kepentingan.

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2011/01/22/ArticleHtmls/22_01_2011_010_013.shtml?Mode=1
Share this article :

0 komentar: