BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Xuping, "Pahlawan" Xiashuixi

Xuping, "Pahlawan" Xiashuixi

Written By gusdurian on Jumat, 29 Januari 2010 | 11.23

CHINA
Xuping, "Pahlawan" Xiashuixi


Pemuda berusia 19 tahun, Zhang Xuping, pasti sudah menyadari jika
tawaran uang sebanyak 1.000 yuan (sekitar Rp 1,4 juta) kemungkinan
harus dibayar dengan nyawanya. Akan tetapi, pemuda desa di pinggiran
kota Xiashuixi di China utara itu tak menyesal dan bahkan dianggap
sebagai pahlawan.

Dengan imbalan 1.000 yuan, Zhang kemudian menikam Li Shi Ming hingga
tewas pada September 2008. Zhang kemudian ditangkap, dan pada 15
Januari lalu sebuah pengadilan China menjatuhkan hukuman mati
kepadanya.

Otoritas dan pengadilan China mengatakan Zhang sebagai seorang
pembunuh. Namun, para warga desa pinggiran Xiashuixi menganggapnya
sebagai pahlawan mereka.

Lebih dari 20.000 warga di lokasi pertambangan batu bara itu kemudian
menyampaikan petisi ke pengadilan. Mereka meminta agar Zhang diberi
hukuman lebih ringan.

”Saya tidak terkejut sama sekali ketika mendengar Li Shi Ming dibunuh
karena memang sudah sejak lama banyak orang yang ingin membunuhnya,
termasuk saya, tetapi saya terlalu lemah,” kata Xin Xiaomei, seorang
wanita setempat.

Xin mengatakan, suaminya selama bertahun-tahun ditindas Li, setelah
terlibat pertengkaran.

Li Shi Ming bukan orang sembarangan. Dia adalah pejabat lokal Partai
Komunis. Namun, selama ini—sebagaimana disampaikan banyak warga—Li
telah membuat kehidupan mereka seperti di neraka. Li dengan seenaknya
mengambil tanah, memeras, dan mempermainkan perasaan rakyat selama
bertahun-tahun.

Salahgunakan kekuasaan

Pengadilan kasus pembunuhan itu juga kembali menyoroti penyalahgunaan
kekuasaan kader-kader komunis. Ulah mereka meningkatkan rasa frustrasi
yang dialami banyak rakyat biasa.

China dengan sistem satu partai sering kali memungkinkan para pejabat
menjalankan pemerintahan di distriknya seperti sebuah tanah milik
sendiri.

Zhang melakukan pembunuhan itu setelah ditawari upah oleh Zhang
Huping, seorang petani berusia 35 tahun yang tak tahan lagi karena
terus-menerus diperas Li Shi Ming.

Surat kabar setempat melaporkan, Zhang Huping rutin dipenjara karena
tuduhan yang dibuat-buat oleh Li Shi Ming. Li Shi Ming terus menekan
sejak Huping memimpin sebuah kelompok petani dengan tujuan meminta
bantuan kepada otoritas provinsi. Hal itu dipicu ulah Li Shi Ming,
yang pada 2003 membabat pepohonan di areal seluas 11,1 hektar milik
para petani. Li Shi Ming melakukan itu tanpa izin apalagi kompensasi.

Lampiaskan kemarahan

Xuping memasuki sebuah sekolah di mana Li menghadiri sebuah pertemuan.
Saat melihat Li sendirian, Xuping mendekat dan menikam Li tepat di
jantungnya. Li sempat berlari keluar gedung menuju mobil mewahnya,
tetapi dia tewas sebelum tiba di rumah sakit.

Kasus itu segera mengundang simpati banyak orang kepada sang pembunuh
muda itu. Sebaliknya, mereka melampiaskan kemarahan kepada Li.
Pengadilan kasus Xuping semula dijadwalkan pada Agustus 2009, tetapi
ditunda hingga November karena ribuan orang mendatangi pengadilan
untuk menyaksikan.

”Ketika kami mendengar Li tewas, kami merasa bahagia karena dia
melakukan banyak sekali kejahatan dan benar-benar membuat kami para
penduduk desa menderita. Kami semua membenci dia,” ungkap Zhang
Weixing, salah seorang warga desa yang tidak memiliki hubungan
keluarga dengan pelaku maupun pengupahnya.

Surat kabar harian pemerintah Beijing Youth melaporkan, saat
persidangan, pelaku meminta maaf kepada keluarga Li Shi Ming. Namun,
putra tertua Li Shi Ming menolak permintaan maaf itu di pengadilan dan
mengatakan dia berharap para hakim akan menghukum pembunuh ayahnya
dengan ”hukuman mati di depan regu tembak”.

Kasus ini seperti mengulang kasus sebelumnya ketika seorang perempuan
China menikam seorang pejabat partai komunis untuk mempertahankan
harga diri dari pejabat yang akan memerkosanya. (AP/OKI)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/23/0339178/.xuping.pahlawan.xiashuixi
Share this article :

0 komentar: