BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Prestasi Ekonomi dan Korupsi

Prestasi Ekonomi dan Korupsi

Written By gusdurian on Rabu, 30 September 2009 | 12.08

Prestasi Ekonomi dan Korupsi

Nasib upaya pemberantasan korupsi, yang kini di ujung tanduk, sungguh
ironis di tengah derasnya pujian dunia terhadap Indonesia di bidang
ekonomi. Pemerintah seharusnya mementingkan keduanya. Prestasi ekonomi
yang dicapai pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bukan tidak
mungkin akan remuk jika korupsi kembali tak terjamah seperti pada masa
Orde Baru.

Pengakuan dunia atas kinerja ekonomi Indonesia setidaknya tecermin pada
pertemuan kepala negara yang tergabung dalam kelompok G-20 di
Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, akhir pekan lalu. Indonesia
satu-satunya wakil Asia Tenggara di forum ini. Melihat komposisi 20
negara yang tergabung di dalamnya, peran kelompok ini sangat sentral.
Mereka mewakili dua pertiga populasi dunia dan lebih dari 80 persen
perekonomian dunia.

Dengan bergabung ke forum itu, kita punya peluang untuk turut
menciptakan tata perekonomian dunia yang lebih adil dan seimbang,
seperti selalu didengungkan oleh pemenang Nobel ekonomi, Joseph E.
Stiglitz. Soalnya, lebih dari tiga dekade dunia hanya dikendalikan oleh
segelintir negara industri maju yang tergabung dalam kelompok
G-8--sebagian besar dari Eropa, hanya Jepang satu-satunya wakil Asia.

Di tengah ketimpangan itu, negara-negara berkembang akhirnya hanya bisa
menelan pil pahit ketika krisis keuangan global menjalar dari
negara-negara maju. Beruntung Indonesia bisa lolos dari jerat krisis.
Bersama Cina dan India, Indonesia termasuk negara yang masih menikmati
pertumbuhan ekonomi positif. Perekonomian nasional tahun ini ditaksir
tumbuh 4,3 persen, tahun depan bahkan diperkirakan mencapai 5,5 persen.

Wajar jika Indonesia, bersama Cina, India, dan Brasil, kini dilibatkan
dalam kelompok G-20 sebagai kekuatan ekonomi baru. Pujian pun
berhamburan. Senator John Kerry, mantan kandidat Presiden Amerika yang
dikalahkan George W. Bush lima tahun yang lalu, bersama ratusan pebisnis
dan politikus memberikan /standing ovation/ setelah mendengarkan paparan
Presiden Yudhoyono di Boston, sehari setelah forum G-20 berakhir.

Pujian serupa datang dari pakar manajemen top dunia, Kenichi Ohmae.
“Saya kira sebuah kesalahan besar jika Jepang tidak melirik pasar
domestik Indonesia,” kata Ohmae, yang juga pencipta istilah
BRIIC--kekuatan ekonomi baru yang terdiri atas Brasil, Rusia, India,
Indonesia, dan Cina.

Membanjirnya sanjungan mudah-mudahan tak membuat pemerintah takabur.
Pengalaman masa lalu menunjukkan, keberhasilan pembangunan ekonomi
semata, tanpa disertai upaya pemberantasan korupsi, hanya akan
menghasilkan pertumbuhan semu. Di bawah pemerintah Presiden Soeharto,
ekonomi Indonesia rata-rata tumbuh di atas 6 persen. Anak emas Bank
Dunia ini pun kala itu dielu-elukan media internasional sebagai satu
dari empat macan Asia.

Kini media terkemuka, /The Economist/, pun menempatkan Indonesia sebagai
negara yang memiliki prospek ekonomi bagus. Tapi perlu dicatat, peluang
emas yang terhampar di hadapan pemerintah Yudhoyono dalam lima tahun ke
depan, seperti ditulis majalah terkemuka itu, tentu baru bisa diraih
jika upaya pemberantasan korupsi yang selalu didengungkannya benar-benar
ditegakkan.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/09/30/Editorial/index.html
Share this article :

0 komentar: