BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Idul Fitri Bersama Si Miskin

Idul Fitri Bersama Si Miskin

Written By gusdurian on Minggu, 20 September 2009 | 11.35

Idul Fitri Bersama Si Miskin



Oleh Zuly Qodir

Umat Islam yang menjalankan puasa Ramadhan akan merayakan Idul Fitri
setelah menahan nafsu serakah, nafsu amarah, dan nafsu berlebihan.

Tiga hal itu merupakan nafsu Rahwana. Nafsu ini dapat menjerumuskan
umat yang berpuasa sehingga banyak orang berpuasa hanya mendapat lapar
dan haus, tetapi tidak mendapat pahala atas penderitaan yang dialami
sebulan penuh.

Memaafkan

Dalam Idul Fitri, hal yang tidak mungkin ditinggalkan adalah saling
memaafkan. Memaafkan adalah ajaran paling dasar dari Idul Fitri, sebab
hanya dengan saling memaafkan seseorang yang telah berpuasa akan
mendapat pahala dari Tuhan untuk tahun ini dan tahun mendatang.

Inilah ajaran yang memenuhi hakikat kemanusiaan sebab tidak banyak
orang bersedia memaafkan dan dimaafkan. Memaafkan dan dimaafkan
merupakan pekerjaan amat berat dan membutuhkan ketegaran jiwa serta
nurani. Hanya orang yang bernurani dan berjiwa bersih yang bersedia
memaafkan dan dimaafkan atas segala kekurangan dan kesalahan yang
telah dibuatnya.

Karena itu, memaafkan akan dihubungkan dengan ucapan, sikap, dan
tindakan kita kepada orang lain dan orang lain kepada kita.

Di sinilah sebenarnya esensi Idul Fitri yang selalu dirayakan dengan
semangat oleh umat Islam, yakni saling memaafkan atas sesama manusia.
Sebab, tidak ada manusia sempurna dari salah dan kekurangan, demikian
hadis Nabi mengajarkan kepada kita.

Kita mungkin amat kecewa dengan hasil pemilu legislatif karena ada
indikasi kecurangan dan aneka kesalahan yang dilakukan beberapa pihak.
Akibatnya, kita (caleg) gagal atau sudah lolos tetapi ada kabar hendak
digagalkan karena simpang siurnya peraturan. Semua itu membuat caleg
bukan saja marah, tetapi juga mengumpat-umpat.

Fenomena yang juga mungkin menjengkelkan adalah adanya berbagai dugaan
atas kecurangan dalam pemilu presiden sehingga harus berlarut-larut
menunggu hasil resmi KPU dan Mahkamah Konstitusi. Semua ini tentu
menjengkelkan meski akhirnya kemenangan diraih pasangan Susilo Bambang
Yudhoyono-Boediono.

Di tengah kemarahan itu, umat Islam disambut puasa Ramadhan, sebagai
bulan pengendalian tiga nafsu (amarah, serakah, dan berlebihan),
sehingga kita diharapkan menjadi manusia yang benar-benar saleh, bukan
hanya dalam ucapan, tetapi dalam sikap dan tindakan.

Rela menerima hasil pemilu legislatif maupun presiden adalah bentuk
aktualisasi ”pengendalian nafsu”.

Kaum miskin

Hal lain yang amat penting dalam merayakan Idul Fitri adalah ajaran
Tuhan tentang pentingnya memerhatikan kaum miskin. Oleh sebab
pentingnya Idul Fitri yang dirayakan kaum Muslim yang telah berpuasa
sebulan penuh, Nabi berpesan agar pada hari Idul Fitri jangan ada
orang miskin tak bisa menikmati hari kesenangan dan kemenangan orang
berpuasa.

Zakat fitrah adalah salah satu ajaran yang diperuntukkan bagi kaum
miskin (si miskin) agar mereka bersama orang lain dapat menikmati Idul
Fitri meski sehari-hari dalam kekurangan. Minimal dalam hari-hari Idul
Fitri si miskin tak menampakkan sebagai kaum miskin.

Terhadap kaum miskin, pesan mendasar tertulis, ”Tuhan akan bersemayam
di rumah si miskin! Tuhan tidak akan bersemayam di rumah si kaya
tetapi kikir atau si kaya tetapi angkuh. Namun, Tuhan akan bersemayam
di rumah si miskin meski dia tidak saleh secara formal”.

Dengan demikian, betapa berartinya si miskin di muka bumi dan dalam
ajaran agama Ibrahim dan Nabi Muhammad sehingga harus diperhatikan
saksama. Ingat pula pesan Tuhan, orang yang beribadah secara formal
(rajin shalat tetapi melupakan kaum miskin) akan celaka alias tidak
bermanfaat shalatnya. Shalat hanya pelengkap penderita, tetapi sama
sekali tak bernilai.

Karena itu, kaum miskin menempati kedudukan amat mulia dalam agama
Ibrahim dan Nabi Muhammad, bukan karena harus mendapat sedekah, tetapi
harus diperhatikan oleh mereka yang tidak miskin secara material dan
intelektual.

Pesan Tuhan yang lain, kemiskinan akan menyebabkan orang tak ingat
akan Tuhan (baca: ingkar) dan yang pertama kali disalahkan adalah
mereka yang tidak miskin.

Dengan memerhatikan memaafkan dan si miskin, Idul Fitri akan kian
bermakna dan bernilai humanis yang mendalam saat dapat menghadirkan
manusia-manusia saleh yang bersedia memaafkan atas sesama (bukan
selalu mencari-cari kesalahan dan kekurangan) dan memerhatikan si
miskin.

Jika dua hal ini dikerjakan, Idul Fitri akan benar-benar membawa kita
pada kesucian diri, jiwa, pikiran, dan tindakan atas segala perbuatan
yang telah dilakukan setahun penuh dengan memaafkan dan menyantuni si
miskin.

Zuly Qodir Mengajar di Pascasarjana UGM; Anggota Majelis Pemberdayaan
Masyarakat PP Muhammadiyah

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/18/02405625/idul.fitri.bersama.si.miskin
Share this article :

0 komentar: