BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Menanti Sikap Kesatria Elite Politik

Menanti Sikap Kesatria Elite Politik

Written By gusdurian on Jumat, 10 Juli 2009 | 12.09

Menanti Sikap Kesatria Elite Politik
*HAMPIR* seluruh lembaga /quick count/ menunjukkan kemenangan pasangan
SBY-Boediono dengan satu putaran. Ini memang bukan keputusan suara resmi
KPU. Namun, hasil akhir penghitungan manual nanti bakal tak jauh dari
penghitungan cepat yang marak ditayangkan sejumlah televisi itu.

/Incumbent/ hampir dipastikan menang. Tapi, pemenang sesungguhnya dari
pencontrengan ini adalah rakyat. Sekali lagi rakyat. Rakyat begitu
dewasa menatap hasil pencontrengan. Hingga kemarin sore belum ada yang
memberi reaksi negatif, apalagi membuat kerusuhan yang bisa mengacaukan
keamanan negara.

Perhelatan pemilihan presiden yang berlangsung sekali dalam lima tahun
itu disikapi publik seperti peristiwa biasa. Semua berlangsung dengan
tenang, tanpa ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Seakan-akan tidak
terjadi peristiwa politik yang menentukan arah bangsa lima tahun ke
depan. Ini sebuah petanda yang baik dalam proses demokratisasi. Ini juga
sebuah pertanda bahwa publik mulai legawa dari apa pun hasil kompetisi
pemilu itu.

Rakyat sudah siap dengan apa pun hasilnya. Sekarang tinggal kesiapan
elite, apakah juga sudah siap menerima kekalahan atau kemenangan. Apakah
elite kita sudah siap menerima pilihan mayoritas rakyat.

Kita perlu khawatir dengan kemungkinan munculnya konflik dengan sumbu
pada elite politik yang tidak bisa menempatkan diri dalam koridor siap
kalah dan siap menang. Di sini, konteks elite politik, tak sekadar calon
presiden atau calon wakil presiden. Juga para orang yang berada di
sekitar capres, baik sebagai tim pemenangan atau semacamnya, sebagai
elite parpol yang mendukung, atau elite yang memberi dukungan finansial
dan jaringan.

Katakanlah seorang yang menjadi 'ATM', mesin kampanye yang telah
habis-habisan memberi support, tapi calon yang dijagokan kalah. Atau
seorang politikus berpengaruh yang telah bekerja keras membangun
jaringan, tapi calonnya juga kalah. Mereka ini bila tidak siap menerima
kekalahan, tentu sangat berpotensi menjadi pemantik gelombang protes,
demonstrasi, dan tidak mustahil memunculkan kerusuhan. Ini sangat
mungkin karena para elite itu mempunyai kemampuan ke sana.

Para capres dan cawapres yang kalah serta elite-elite di sekitarnya
harus bisa menahan diri. Artinya, mereka bisa memosisikan diri dalam
koridor aturan. Kekalahan pasti melahirkan kekecewaan. Tapi, ekspresi
kekalahan itu harus dilakukan dengan cara bermartabat dan kesatria,
yakni dengan jalur hukum.

Bukankah kita mempunyai Mahkamah Konstitusi (MK) yang hingga hari ini
masih bisa menjaga reputasi dan kredibilitas? Bila para elite merasa
dicurangi atau dirugikan, mari kita bersam-sama menyelesaikannya ke MK.
Penyelesaian lewat pintu hukum jauh lebih terhormat daripada
penyelesaian dengan cara anarkis yang mengorbankan rakyat. Jangan ajak
rakyat yang sudah bersikap damai dalam kancah konflik. (*)

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=79402
Share this article :

0 komentar: