BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Bom,Terorisme dan Operasi Intelijen

Bom,Terorisme dan Operasi Intelijen

Written By gusdurian on Sabtu, 18 Juli 2009 | 14.48

Bom,Terorisme dan Operasi Intelijen

Setelah meledaknya bom di Hotel JW Marriot dan The Ritz-Carlton, isu pun
simpang siur. Kekhawatiran masyarakat kembali memuncak dan rasa tidak
aman kembali menyelimuti.

Sayangnya bukannya fokus menyelesaikannya, malah isu ini digiring
melebar ke isu politik. Kasus ini memang sudah selayaknya untuk dibahas
dari sudut pandang intelijen. Maka itu, saya sebagai pengamat intelijen
akan berbicara berdasarkan data-data intelijen.

Ketika kemarin saya menonton konferensi pers yang digelar oleh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana, tampak dia menggelar data-data
intelijen dalam omongannya serta beberapa foto. Perlu dipahami, untuk
membaca kasus terorisme tak bisa sepotong- sepotong.Untuk itu,dalam
memandangnya, kita harus melihatnya dalam suatu konteks.

Kejadian seperti peledakan ini merupakan bagian dari rangkaian. Yang
terjadi sekarang ini merupakan bagian dari kejadian-kejadian sebelumnya
seperti penangkapan tersangka teroris di Palembang, Cilacap, dan
lainnya, yang menariknya berdekatan dengan HUT Polri.Peristiwa yang
sekarang juga merupakan indikasi bahwa gangguan keamanan akan terjadi lagi.

Nah, tentu timbul pertanyaan dari masyarakat dan dari pengamat
intelijen, yaitu mengapa peristiwa ini tidak bisa di-counteratau
didahului dengan pencegahan sehingga peristiwa yang memilukan ini tidak
perlu terjadi? Menurut saya intelijen wajib memperkirakan indikasi yang
ada. Mereka memang seyogianya sudah tahu faktor-faktor yang memengaruhinya.

Saya pun sudah menerbitkan buku berjudul Terorisme dan Pan Intelijen.
Setelah buku itu diterbitkan, dari tahun 2006 sampai 2008,setahu saya
tidak lagi ada aksi terorisme. Dalam buku itu saya tuliskan bahwa mereka
sama-sama tahu aktivitas masing-masing.Teroris tahu kerja intelijen,
begitu juga sebaliknya intelijen sebenarnya sudah tahu apa kerja para
teroris. Jadi, dalam konteks ini memang bisa dikatakan bahwa intelijen
kita kecolongan.

*** Dalam peristiwa ini, menurut saya, ada beberapa pendapat yang malah
bisa menyesatkan. Dalam beberapa keterangan secara terburu-buru––baik
dari Presiden, Menko Polhukam,Kapolri maupun yang lainnya––dikatakan
bahwa bom ini adalah bom bunuh diri.

Ini adalah kesimpulan yang terburuburu, karena masih butuh penyelidikan
lebih jauh. Teroris pun pasti belajar dan makin canggih dari aksi
sebelumnya. Menurut perkiraan saya,ini adalah pengeboman yang
menggunakan pemicu/pengontrol dari jarak jauh (remote controlled bombing).

Kemungkinan ini masih terbuka lebar karena penyelidikan masih pada tahap
awal. Penyesatan lainnya,dalam konferensi persnya Presiden
mengindikasikan bahwa dia sudah tahu siapa pelaku pengeboman dan siapa
di baliknya (man behind the gun).

Bahkan dia pun menyatakan telah menerima laporan intelijen sembari
mengatakan bahwa ada latihan menembak di suatu tempat yang menggunakan
foto SBY sebagai target latihan. Ini dipahami Presiden dan para
pembantunya sebagai ancaman fisik. Secara intelijen, memaparkan fakta
beserta foto-foto seperti itu adalah satu kesalahan.

Kalau memang benar ada gerakan itu, seharusnya Presiden segera
memerintahkan aparat keamanan untuk menindaknya karena itu bukan tugas
intelijen lagi. Saya sendiri baru pertama kali ini melihat ada Presiden
yang bersumpah akan menindak tegas siapa pun yang menjadi pelaku
terorisme, tetapi tidak bersumpah akan menindak keras pihak yang
dianggapnya akan memberi ancaman fisik kepadanya.

Dalam intelijen dikenal istilah deception operation (operasi
penyesatan). Operasi ini digunakan untuk menyesatkan gerakan tujuan
target operasi intelijen agar mereka tidak waspada. Namun, jangan sampai
deception operationini malah mengarah pada kelompok tertentu,umpamanya
pesaing-pesaing yang kalah dalam pilpres.

Mereka itu bisa saja jadi marah dan situasi menjadi kian tidak kondusif.
Ini setidaknya terjawab dengan konferensi pers yang dilakukan Prabowo
yang menangkal arah isu yang seperti mengarah kepadanya. Kondisi ini
malah bisa dimanfaatkan oleh teroris. Ingat bahwa kita ini hidup di era
globalisasi.

Kita ada dalam grand strategy global Amerika Serikat (AS) yang mengusung
neoliberalisme dan neokapitalisme.Keduanya memiliki masalah dengan Islam
yang kuat di Indonesia. Analisis kita harus ditarik ke ranah itu.
Lalu,kenapa terorisme ini semakin menjadi-jadi? Bukan tidak mungkin (ada
keterkaitan demikian) karena negara kita ini berada di negara kaya dan
menjadi rebutan negara lain.

Arah intelijen asing itu tak lain tak bukan adalah untuk kepentingan
negara asalnya. Maka itu ada perang intelijen. Bukannya kita menuduh
mereka––bahkan kita harus banyak belajar dari mereka––, tetapi ini harus
dimasukkan dalam perhitungan.

Sementara itu, sebenarnya Islam sendiri tak pernah menjadi teroris.Namun
teroris inilah yang memanfaatkannya untuk perjuangan mereka.Perlu kita
ingat, bukan hanya Islam yang dimanfaatkan, tetapi juga isu-isu lain
seperti isu kelaparan, kemiskinan, dan isu apa pun yang bisa dijadikan
alat melawan penguasa. Namun, target utamanya neoliberalisme dan
neokapitalisme itu.

*** Intelijen itu bukan kepentingan politik pihak tertentu. Fokus utama
intelijen adalah kepentingan negara dan target yang harus dicapai dalam
kerangka kepentingan negara,bukan kepentingan perseorangan. Jangan
sampai memakai intelijen untuk menuduh satu kelompok.

Kita seharusnya bersama-sama untuk tegas melawan terorisme dan kekerasan
di negeri ini. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa dalam intelijen
itu bukan hanya ada penangkapan, pencidukan, apalagi pemberangusan.
Operasi intelijen itu harus terdiri atas penelitian, pengamanan, dan
penggalangan.Nah, penggalangan inilah yang tak berjalan bagus.

Sementara itu ada lima bentuk operasi intelijen, yaitu
infiltrasi,penetrasi, spionase, sabotase, serta deception
operation(operasi penyesatan). Media massa harus jadi sarana pencerdasan
masyarakat. Kita harus mengadakan penggalangan isu agar masyarakat
menjadi intelligent minded.

Tujuannya adalah agar masyarakat memahami peran intelijen. Harus
dipahami bahwa intelijen itu sangat penting fungsinya bagi negara. Kalau
intelijen lumpuh negara lumpuh,intelijen bubar negara bubar,sementara
jika intelijen kuat maka negara akan kuat. Dalam kerangka intelligent
minded itu,kita harus melirik siapa yang memiliki intelijen yang kuat?

Kemampuan ini ada pada TNI ––yang dulu membuatnya dibenci masyarakat.
Semenjak direkrut, anggota TNI sudah memiliki darah intelijen.Namun saat
ini kemampuan itu tidak dimanfaatkan. This is the beginning of the end
and the end of the beginning.(*)

Dr AC Manullang
Pengamat Intelijen
dan Militer


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/255665/
Share this article :

0 komentar: