BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Bom Jakarta dan Terorisme Global

Bom Jakarta dan Terorisme Global

Written By gusdurian on Sabtu, 18 Juli 2009 | 14.51

Sabtu, 18 Juli 2009 | 03:35 WIB

Oleh *Faustinus Andrea*

Di tengah hiruk pikuk rencana kedatangan klub sepak bola terbesar Eropa,
Manchester United, ke Jakarta, kita dikejutkan berita ledakan bom di
Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton di sekitar Mega Kuningan,
Jakarta, Jumat (17/7). Diperkirakan jumlah korban 50 orang lebih,
sembilan orang di antaranya tewas.

Peristiwa ini sungguh memprihatinkan kita bersama. Di tengah banyak
elite sibuk bermanuver menduduki jabatan kabinet pemerintah 2009-2014,
seolah kita terlena akan bahaya ancaman terorisme. Timbul kesan bahwa
perhatian terhadap isu terorisme akhir-akhir ini kurang mendapat
perhatian bagi pemerintah, padahal terorisme setiap saat mengancam
kehidupan kita.

Lagi-lagi para elite pemerintah kurang tergerak akan bahaya besar dan
berkali-kali aparat intelijen juga kecolongan menghadapi ancaman besar
terorisme. Artikel ini mengingatkan kembali akan peristiwa terorisme
dunia yang terkait dengan kelompok Al Qaeda dan jaringannya di kawasan
Asia Tenggara yang terus melakukan aksinya.

*Terulang di tempat sama*

Tragedi bom di depan Kedubes Australia di Jakarta, 9 September 2004,
yang menewaskan sembi- lan orang, mengingatkan tragedi serupa yang
terjadi di Bali, Oktober 2002, dengan korban tewas lebih dari 200 orang,
dan Hotel JW Marriott, Jakarta, Agustus 2003, dengan korban tewas 13
orang. Bom kembali meneror Bali pada tahun 2005.

Teror bom di dua hotel elite Jakarta asal Amerika Serikat kemarin dapat
diduga dilakukan oleh kelompok Jemaah Islamiyah, seperti teror-teror bom
sebelumnya di Tanah Air. Jaringan ini diketahui beroperasi di
negara-negara Asia Tenggara, utamanya melibatkan warga Malaysia, seperti
Azahari yang telah tewas di Batu, Malang, dan Noordin M Top yang sampai
sekarang belum tertangkap. Motif peledakan bom kemarin dapat
diperkirakan adalah untuk mempermalukan Pemerintah Indonesia berikut
aparat keamanannya, terutama karena mata dunia sebentar lagi tertuju
pada pertandingan persahabatan MU dengan tim sepak bola Indonesia pada
20 Juli ini. Bom meledak di Hotel Ritz-Carlton, tempat tim MU menurut
rencana akan menginap setelah meninggalkan Kuala Lumpur. Kepastian
pembatalan kedatangan MU ke Jakarta kemarin tentu merupakan pukulan bagi
seluruh bangsa Indonesia yang amat mendambakan kedatangan mereka.

Tentang dibomnya lagi Hotel JW Marriot bisa saja bermotif penghinaan
terhadap lemahnya pengamanan di Jakarta, karena sebuah lokasi sampai
mengalami dua kali peledakan bom. Padahal, keledai tak akan terantuk
batu untuk kedua kalinya. Bisakah diartikan kita lebih dungu
dibandingkan dengan keledai?

Terorisme global yang paling fenomenal tentu saja adalah tragedi WTC New
York, September 2001, yang menewaskan sekurangnya 3.000 orang. Sebelum
itu sebenarnya AS sudah beberapa kali dipermalukan dengan rangkaian
peledakan bom kedutaan besarnya di Afrika dan sebuah kapal perangnya
yang sedang merapat di Yaman. Semua jika dirunut adalah ekspresi
kebencian tokoh Al Qaeda, Osama bin Laden, terhadap AS yang semula bahu
membahu memerangi pendudukan Uni Soviet terhadap Afganistan. AS yang
semula mendukung gerilya Mujahidin dan Osama, belakangan balik dianggap
Osama sebagai musuh bersama umat Islam.

Lebih dari itu, seperti publikasi yang dikeluarkan oleh IISS, London
dalam Strategic Survey 2004 bahwa pendudukan AS atas Irak telah
mempercepat dilakukannya perekrutan jaringan Al Qaeda. Kini anggotanya
telah mencapai lebih dari 18.000 militan dan siap menyerang kepentingan
AS dan sekutunya di mana pun. Dalam publikasi itu berbagai aspek
mengenai Al Qaeda juga disebutkan, seperti keuangan kelompok yang rapi,
karena adanya peran manajer menengah yang cakap dan melatih kader di
seluruh dunia. Kekuasaan Osama bin Laden pun hingga kini juga masih eksis.





*Keamanan regional*







Tragedi bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton kemarin telah menambah
sederetan perkembangan keamanan Indonesia pascatragedi bom Hotel JW
Marriott 2003 yang membawa implikasi terhadap perspektif keamanan secara
regional. Dalam rangka merespons aksi-aksi terorisme, Indonesia dan
ASEAN belum mengintroduksi kebijakan luar negeri dan kebijakan dalam
negerinya secara maksimal.

Di tengah krisis keamanan secara regional sebagai akibat dari ancaman
terorisme ini, Indonesia dan ASEAN masih menghadapi dilema yang sulit
antara harus memenuhi tekanan AS dan koalisi global melawan terorisme
maupun penerapan dari langkah antisipasi perang melawan terorisme dari
setiap negara anggota ASEAN.

Diperlukan reformasi intelijen lain dengan melibatkan sumber daya sipil
yang kredibel di bidang teknologi maju. Sebab, tingkat kesulitan melawan
ancaman terorisme sangat tinggi. Aktivitas kaum teroris sangat absurd
dan sulit dicerna akal sehat seperti terlihat pada serangan bom bunuh
diri. Apalagi persenjataan mereka semakin canggih seiring dengan
perkembangan teknologi persenjataan. Tidak tertutup kemungkinan teroris
dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi akan menggunakan persenjataan
kimiawi, biologis, dan nuklir yang bisa dibawa ke mana-mana.

Kredibilitas Pemerintah Indonesia di mata internasional dalam menangani
isu terorisme ini akan meningkat jika ia mampu melaksanakan komitmennya
dalam langkah-langkah kebijakan regional yang realistis dan strategis.
Oleh karena itu, kemampuan Pemerintah Indonesia dan ASEAN untuk lebih
memahami hakikat permasalahan tentang terorisme, serta kemampuan untuk
mengembangkan perangkat dan aturan-aturan kelembagaan yang tepat dalam
mengantisipasi ancaman terorisme masa depan.

*Faustinus Andrea* /Staf Editor Jurnal Analisis CSIS, Jakarta
/

/http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/18/03352735/..bom.jakarta.dan.terorisme.global
/
Share this article :

0 komentar: