BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Parodi Deklarasi Pemilu

Parodi Deklarasi Pemilu

Written By gusdurian on Sabtu, 13 Juni 2009 | 13.15

Parodi Deklarasi Pemilu

Di tengah-tengah karutmarut berita pemilu dan kritik yang tajam terhadap
kinerja KPU, bolehlah publik sejenak memberikan apresiasi atas
kreativitas KPU menyajikan Deklarasi Pemilu Damai (10/6).

Deklarasi ini mengisyaratkan komitmen para calon presiden dan wakil
presiden yang akan menciptakan Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 aman,
tertib, dan damai, dilandasi semangat persatuan dan persaudaraan. Suatu
pilpres yang bermartabat tidak lain adalah kemampuan semua pihak untuk
ikut menyukseskan pesta demokrasi ini tanpa melakukan kegiatan-kegiatan
yang tercela.

Sebut saja maslah menjelekjelekkan lawan politik,membunuh karakter
pesaing dan melakukan secara sistematis penggelembungan suara dengan
memanipulasi proses pemungutan suara dari TPS hingga penghitungan suara
akhir. Deklarasi pemilu damai kali ini menarik dicermati karena ada
parodi politik yang menampilkan monolog seniman Butet Kartaredjasa.

Muatan kritik sosialnya yang dikemas dalam gaya teaterikal yang menarik
dan kocak telah membuat ekspresi dan mimik para capres dan cawapres
sering kali berubah-ubah dalam hitungan detik. Menurut Butet—yang sangat
mantap menirukan suara mantan presiden Soeharto itu–apa yang
disajikannya bukan fiksi, tapi fakta.

Sebagai profesional dia tak peduli apakah ada yang senang ada yang
cemberut atau benci, karena itulah seni menurutnya. Dia tampil atas
permintaantimMega- Prabowo dengan syarat tidak disensor, sehingga walau
mewakili aspirasi Mega-Prabowo, pasangan ini pun sempat dibuat
terperangah karena celetukannya yang di luar dugaan.

*** Mempersoalkan kritik Butet yang dibahas di media televisi
sesungguhnya lebih mengatrol popularitas Butet itu. Bagi kita masyarakat
awam parodinya adalah suatu hiburan karena materi politik yang sangat
kompleks mampu dikemas dengan menonjolkan sense of humor.

Kalau saja ahli semiologi atau semiotika Ferdinand de Saussure dan pakar
dramaturgi Kenneteh Duva Burke masih hidup, mereka pasti tersenyum
menyaksikan monolog Butet yang mencoba mengombinasikan permainan bahasa
yang sarat dengan simbol-simbol, aksentuasi, dan nilai yang terkandung
di dalamnya.

Di tataran pemahaman bahasa semiotika, kemampuan memainkan
denotasi—sebagai first order of signification—memberikan aksentuasi pada
common sense dan konotasi sebagai second order of comunication yang
merujuk pada nilai,kaidah dan emosi. Sesuatu menjadi sinis di mata orang
politik jika melihat pernyataan budayawan yang lepas dari aturan-aturan
birokratis.

Pada hakikatnya budayawan berpikir merdeka, bebas, dan penuh imajinasi
yang melampaui limit waktu serta sekat-sekat aturan dan nilainilai umum
yang sering memasung dirinya. Budayawan sejati tidak akan
mempresentasikan sekadar titipan pesan dari kelompok yang memintanya
untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Untungnya seorang komedian sekaliber Butet tidak terjebak pada pesan
sponsor,bahkan menurut pengamatan kita,dalam parodinya dia malah sempat
mencengangkan Mega dan Prabowo.Para capres dan cawapres yang lengkap
hadir menjadi sulit menduga apa yang diinginkan mereka.

*** DalamsebuahorasicapresMegawati menilai sukses tidaknya pemilu bukan
ditentukan oleh siapa yang menang atau kalah,tapi oleh penyelenggaraan
pemilu yang adil, jujur, tegasdanbebasdariintervensipihak manapun. Dia
berharap para birokrat, dari pusat hingga daerah, bersikap
netral,bertindak independen, dan tegas.

Capres SBY lebih mengimbau rakyat agar menggunakan hak pilih.Meski
diakui situasi panas, hendaknya rakyatbisamenahandiri, sehingga tidak
terjadi benturan atau tindak kekerasan apa pun. Kemudian capres Kalla
mengharapkan pemilu berlangsung demokratis dan penuh kedamaian,
penyelenggara pemilu harus melakukannya sesuai dengan aturan hukum.

KPU dan aparat keamanan diharapkan bersikap netral. Bagi kita, apa pun
komitmen Deklarasi Damai tetap harus mengedepankan moral dan etika.
Hindarkan cara-cara main curang dan menghalalkan segala cara karena itu
akan mengingkari dan memerkosa hak-hak rakyat.

Sikap kenegarawanan para capres/cawapres akan menjadi tuntunan bagi
tercapainya pemilu yang damai.Karena pada akhirnya siapa pun yang akan
terpilih harus memenuhi janji dan merealisasikan harapan rakyat untuk
hidup sejahtera,adil,dan bermartabat. Memang calon-calon yang ada
sekarang dan sebentar lagi akan menjadi presiden dan wakil presiden
merupakan primus interpares, pribadi yang terpilih dan terbaik dari
pribadi-pribadi yang memang baik.

Deklarasi pemilu damai tampaknya merupakan suatu budaya demokrasi di
dunia.Banyak negara yang menjalankan pemilu tanpa melalui ritual yang
dibalut dengan seremoni yang kental dengan nilainilai budaya.Amerika
Serikat memang suka melakukan ritual-ritual politik yang menggugah emosi
publik. Begitu juga beberapa negara di Eropa seperti Jerman,Prancis,
Inggris, dan Italia.

Mereka kerap menampilkan ritual dan parodi politik yang mampu menggalang
massa. Tapi bolehlah bagi kita, sebagai salah satu negara demokrasi
terbesar di dunia ini,memerkan ritual politik yang diharapkan akan
menjadi tradisi positif untuk lebih merekatkan persatuan dan kesatuan
bangsa. Bagi Indonesia menjaga pluralisme merupakan sesuatu komitmen
yang harus diusung dan dijaga oleh siapa pun yang memimpin.

Indonesia tidak boleh tercabik karena ambisi dan kekerasan politik yang
mengakibatkan rakyat kehilangan harapan untuk menggapai masa depan.
Capres dan cawapres kita adalah teladan utama yang perilakunya akan
ditiru oleh masyarakat banyak. Di tengah-tengah spekulasi siapa yang
akan memenangkan pilpres masih terlihat bagaimana bahasa tubuh dari
masing-masing capres dan cawapres pada saat deklarasi pemilu damai.

Capres Jusuf Kalla ketika bersalaman mengulurkan kedua tangannya yang
disambut hangat oleh SBY, lalu keduanya berangkulan. Bahasa tubuh kedua
tokoh ini dapat dibaca oleh publik, meskipun perseteruan politik mereka
semakin seru saja, bahkan tingkat sindir menyindirnya semakin
menggelitik publik, tapi tetap saja terlihat masih hangatnya hubungan
silaturahmi di antara mereka.

Tentu Butet dengan sedikit humor provokasinya mengharapkan
akanterjadinya salamanmesraantara SBY dengan Megawati.Tapi begitulah
Megawati,walaupun Butet sedikit banyaknya pada malam itu penyambung
lidahnya, tetapi tidak mau begitu saja mengikuti ajakan Butet untuk
melakukan tindakan bersahaja dengan memamerkan salaman yang mesra dengan
SBY.

Apakah itu by design atau kebetulan pemirsa tidak melihat SBY–Megawati
bersalaman seperti pada waktu acara pengundian nomor di KPU . Patut pula
kita cermati bahwa Deklarasi Pemilu Damai 2009 yang diikrarkan oleh
capres/cawapres berbunyi sebagai berikut.

”Kami calon presiden dan calon wakil presiden peserta Pemilu 2009 dengan
semangat persatuan dan persaudaraan menyatakan siap menciptakan pemilu
yang aman,tertib,dan damai demi terwujudnya kemajuan dan kesejahteraan
bangsa serta terpeliharanya keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.”Semoga deklarasi tersebut menjadi kenyataan.(*)

Prof Bachtiar Aly
Pemerhati Komunikasi
Politik

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/246524/
Share this article :

0 komentar: