BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Morgan Stanley tentang Indonesia

Morgan Stanley tentang Indonesia

Written By gusdurian on Senin, 29 Juni 2009 | 12.03

Morgan Stanley tentang Indonesia

MORGAN Stanley adalah salah satu bank investasi terkemuka di Amerika
Serikat (AS). Meskipun didera krisis keuangan beberapa waktu yang lalu
sehingga harus ditolong oleh Pemerintah AS, kemampuan Morgan Stanley
dalam melakukan analisis tidaklah surut.


Itulah sebabnya apa yang dikatakan perusahaan tersebut tentang suatu
negara senantiasa menarik perhatian para investor. Kredibilitasnya mirip
dengan Goldman Sach yang telah berhasil melambungkan negara-negara BRIC
(Brasil, Rusia, India, dan China) menjadi suatu kelompok elite negara
berkembang saat ini. Dengan latar belakang tersebut, apa yang
dikemukakan Morgan Stanley dalam publikasinya yang membahas Indonesia
tanggal 12 Juni 2009 lalu memicu perhatian yang besar.

Dalam publikasi yang berjudul Adding another “I” to the BRIC story?
itu,Indonesia mulai dikategorikan setara dengan negaranegara BRIC.
Publikasi itu melihat kemiripan Indonesia dengan India sebagai suatu
perekonomian yang berbasis penduduk yang besar. Itulah sebabnya Morgan
Stanley menyatakan perlu menambah “cerita” tentang Indonesia, di samping
India, dalam akronim BRIC tersebut. Pernyataan dari Morgan Stanley
tersebut tentu didasarkan pada berbagai fakta yang berkembang. Sumber
pertumbuhan ekonomi Indonesia dikategorikan berupa jumlah penduduk yang
besar dan sumber daya alam yang melimpah.

Namun dalam beberapa tahun terakhir sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia
juga berasal dari biaya modal yang semakin murah. Sumber pertumbuhan
yang lain berupa reformasi kebijakan yang pada akhirnya akan lebih
memberikan kesempatan kepada dunia usaha untuk berkembang lebih baik.
Terlebih lagi dengan tetap positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di
masa krisis global ini, perhatian dari berbagai investor di seluruh
dunia tertuju kepada Indonesia.

Sampai dengan 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia digambarkan dalam
grafik mereka mulai melampaui Brasil (yang memang relatif rendah selama
bertahun-tahun) dan Rusia sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia berada
di antara Rusia dan India (dan China). Grafik tersebut akan menjadi
lebih menarik lagi jika memasukkan data terakhir tahun 2009 di mana
Brasil bahkan mengalami pertumbuhan negatif.

Persepsi dan Prospek Perekonomian Indonesia

Publikasi Morgan Stanley tentang Indonesia tersebut pada akhirnya
memperkuat persepsi yang sudah berkembang sampai hari ini tentang
prospek perekonomian Indonesia.Persepsi tersebut antara lain terbangun
oleh studi yang dilakukan Goldman Sach (N-11: Not just an acronym) pada
2007 yang menempatkan Indonesia dalam kedudukan yang sangat terhormat di
antara negara-negara berpenduduk besar yang memiliki prospek ekonomi
besar dan tergabung dalam N-11 (Next Eleven) tersebut.

Persepsi tersebut semakin diperkuat oleh studi Pricewaterhouse Coopers
(The World in 2050 yang diperdalam dengan Banking in 2050) yang kembali
menempatkan Indonesia dalam jajaran perekonomian elite di percaturan
perekonomian global. Dengan berkembangnya persepsi semacam itu, minat
para investor untuk melakukan investasi di Indonesia menjadi semakin
berkembang. Selain bank-bank Inggris yang secara berturut-turut
melakukan akuisisi di Indonesia beberapa waktu terakhir,perbankan
Indonesia memperoleh perhatian investor yang semakin besar dari seluruh
penjuru dunia.

Sampai hari ini masih saja terdengar minat yang serius dari investor
maupun bankir asing untuk melakukan akuisisi perbankan di Indonesia.
Demikian juga di berbagai sektor ekonomi lain,minat tersebut mirip
dengan apa yang timbul setelah maraknya perhatian orang pada
negara-negara BRIC.Perkembangan inilah yang akhirnya akan melahirkan
self fulfilling prophecy karena minat investor tersebut akhirnya akan
mampu merealisasi prediksi Morgan Stanley tentang prospek pertumbuhan
Indonesia di tahun 2011 dan sesudahnya.

Dalam studi Morgan Stanley tersebut, PDB Indonesia yang dalam tahun 2008
dinyatakan sebesar USD509 miliar diprediksi akan mencapai antara USD700
sampai USD800 miliar pada 2013. Prediksi ini mendasarkan diri pada
pertumbuhan ekonomi riil sebesar antara 6–7% mulai tahun 2011 ke
atas.Sebagaimana prediksi dari Goldman Sach yang meleset cukup jauh
hanya dalam waktu dua tahun (Goldman Sach memprediksi PDB Indonesia 2010
sebesar USD419 miliar dalam studi N-11: Not just an acronym, padahal
pada 2008 sudah mencapai USD509 miliar), bukan tidak mungkin prediksi
Morgan Stanley juga akan meleset.

Hal ini terutama berkaitan dengan deviasi yang cukup besar antara
pertumbuhan PDB riil dengan PDB nominal yang dikonversikan dalam mata
uang dolar AS.Sebagai contoh, dalam tahun 2008, PDB nominal Indonesia
tumbuh dengan 25,4%,sementara PDB riil tumbuh dengan 6,1%. Bahkan
setelah dikonversi dengan kurs yang sedikit melemah,pertumbuhan PDB
Indonesia dalam dolar menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan
dengan pertumbuhan PDB riil.

Dengan melihat perkembangan tersebut, PDB nominal yang diprediksi Morgan
Stanley sebesar USD700–800 miliar tahun 2013 memiliki kemungkinan akan
terlampaui. Ini berarti bahwa PDB nominal Indonesia memiliki kemungkinan
akan mencapai antara USD800–1.000 tahun 2013 sehingga memungkinkan
Indonesia untuk mencapai pendapatan per kapita sekitar USD5.000 pada
saat kita semua memasuki era ASEAN Economic Community tahun 2015.Tingkat
pendapatan yang sedemikian akan menempatkan kekuatan ekonomi Indonesia
sekitar delapan kali dari kekuatan ekonomi Malaysia saat ini.

Prospek semacam itu akan menjadi lebih cepat terealisasi dengan dukungan
perbankan yang lebih besar. Publikasi dari Morgan Stanley tersebut juga
memperlihatkan tingkat penetrasi perbankan di Indonesia yang diukur
dengan rasio kredit perbankan terhadap PDB termasuk sangat rendah
dibandingkan dengan negaranegara BRIC dan dengan negaranegara di kawasan
Asia Tenggara.

Optimisme terhadap perekonomian Indonesia sudah berkembang secara luas
di luar negeri.Rasanya kita pantas berharap bahwa optimisme yang sama
juga akan semakin berkembang di negara kita sehingga pada ujungnya
kesejahteraan masyarakat dapat terus berkembang.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/249040/38/
Share this article :

0 komentar: