BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Sex, Power, and Murder

Sex, Power, and Murder

Written By gusdurian on Selasa, 05 Mei 2009 | 11.42

Sex, Power, and Murder
Oleh Djoko Pitono *)

Kisah-kisah menyangkut seks, kekuasaan, dan tokoh terkenal selalu menarik untuk diikuti. Kita dapat mengikuti beragam kisah itu mulai masa para nabi, zaman Romawi, zaman pertengahan, hingga sekarang. Konsep-konsep tentang kesetaraan dan hak-hak perempuan sekarang memang telah mencapai banyak kemajuan. Tetapi, semua itu belum mampu mengakhiri pandangan tentang perempuan dan kenikmatan seks sebagai aksesori kekuasaan.

Kisah tentang para harem King Solomon (Raja/Nabi Sulaiman) sering ditulis sebagai hak eksklusif sang raja. Kita juga dapat mengikuti bagaimana Sidharta muda sebelum menjadi Buddha. Dalam suatu kisah disebutkan, agar Pangeran Sidharta tidak meninggalkan istana, sang ayahanda mencoba mencegah dengan menyediakan ratusan perempuan cantik di dalam kompleks istana. Tetapi, usaha itu gagal total karena Sidharta tidak tertarik. Dari buku-buku, kita juga bisa mengikuti kisah-kisah kehidupan para kaisar Romawi dan Tiongkok serta raja-raja dan bupati di Jawa dengan banyak selirnya.

Kisah tentang seks dan kekuasaan akan lebih menarik bila tersaji dalam kaitan skandal, apalagi ada isu berbau agama, politik, atau kriminal, seperti pembunuhan.

Kita pernah mengenal kasus Sum Kuning di Jogjakarta saat seorang perempuan penjual jamu bernama Sumariyem diperkosa oleh sejumlah anak muda pada 18 September 1970. Kasus yang diduga melibatkan anak-anak pejabat elite itu dihentikan oleh Presiden Soeharto meskipun Kapolri Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso waktu itu bertekad mengungkapnya secara tuntas.

Apa yang disebut kasus Dice pada 1986 tak kurang menariknya. Dalam kasus itu, mantan peragawati bernama Dice mati terbunuh. Ada sejumlah pejabat yang disebut berkaitan dengan kasus tersebut sebelum akhirnya polisi menangkap Sirajuddin alias Pak De. Pengadilan akhirnya menghukum Pak De seumur hidup. Pada masa Presiden Habibie, hukuman dikurangi menjadi hanya 20 tahun. Tetapi, pada akhir Desember 2000 dia telah bebas bersyarat. Meskipun begitu, banyak pihak menilai kasus itu tetap misterius.

Di negeri lain, ada kisah Presiden Israel Moshe Katsav yang dipaksa mundur pada 2007 karena sering melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan-peremuan di kantornya.

Laporan Asuncion, Paraguay, pekan lalu lebih menarik lagi. Pasalnya, Presiden Fernando Lugo ternyata punya tiga anak dari tiga perempuan yang berbeda saat masih menjadi uskup! Rakyat Paraguay terperangah. Itu bukan sensasi atau fiksi karena Lugo telah mengakui dosa masa lalunya itu. Dia pun menolak desakan mundur.

Kita juga sudah tahu kisah petualangan libido Bill Clinton, terutama saat menjadi presiden Amerika Serikat. Kisah dengan warna kebohongan itu menyangkut Monica Lewinski, perempuan muda yang bekerja sebagai pegawai magang di Gedung Putih. Kasus tersebut membuat Clinton diadili oleh Senat AS meskipun selamat dari pelengseran sebagai kepala negara.

Kasus menarik lain menyangkut O.J. Simpson, mantan bintang sepak bola dan aktor film, yang dituduh membunuh istrinya, Nicole Brown Simpson, dan temannya, Ronald Goldman, pada 1994. Kasus tersebut begitu menggegerkan dan memperoleh perhatian luar biasa dari masyarakat. Banyak sumpah serapah dialamatkan kepada Simpson. Namun, setelah melalui sidang pengadilan yang berlarut-larut, pada 3 Oktober 1995 hakim menyatakan O.J. Simpson tidak bersalah.

Toh begitu, gugat-menggugat masih terus berlangsung antara keluarga korban dan O.J. Simpson. Tapi, akhirnya pada 21 Februari 2008 Pengadilan Los Angeles menangguhkan semua gugatan terhadap Simpson. Kasus tersebut begitu menarik sehingga banyak penulis mengabadikan dalam buku-buku. Beberapa di antara buku yang mengulas kasus itu adalah Outrage: 5 Reasons Why O.J. Simpson Got Away with Murder (1997) karya Vincent Bugliosi; O.J. Simpson Facts and Fictions (Daniel M. Huntt, 1999); O.J. Simpson is Guilty, but Not of Murder (William Dear, 2000); dan The Overlooked Suspect (2007).

KPK dan Antasari Azhar

Sekarang kita disuguhi laporan-laporan tentang terbunuhnya Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnain. Kasus itu jelas menarik sekali karena disebut menyangkut skandal seks. Polisi telah menangkap sejumlah tersangka dan akan memeriksa lainnya, termasuk Antasari Azhar, yang tidak lain adalah ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Laporan-laporan menyebutkan, Antasari dituduh berada di balik pembunuhan itu, mungkin karena khawatir perselingkuhannya dengan istri ketiga Nasrudin, Rani Juliani, diungkapkan ke publik. Dia telah dibebaskan sementara dari jabatannya di KPK.

Orang-orang bertanya akan bagaimanakah kelanjutan kasus tersebut? Banyak pertanyaan memang, tapi jelas tidak bisa dijawab dengan cepat. Mampukah penegak hukum menangani kasus itu secara profesional dan bermartabat? Atau sebaliknya, dapatkah Antasari membuktikan secara gamblang bahwa dirinya tidak terlibat pembunuhaan tersebut?

Masyarakat pantas mempertanyakan hal-hal itu karena pertaruhannya sangat besar, menyangkut reputasi KPK dan agenda besar bangsa ini dalam memberantas tindak pidana korupsi. Masyarakat pantas gelisah dan khawatir atas kemungkinan Antasari terbukti terlibat pembunuhan itu.

Sama gelisah dan khawatirnya dengan kemungkinan ketua KPK itu menjadi korban semacam konspirasi orang-orang yang menaruh dendam kesumat terhadapnya. Itulah akibat banyaknya tokoh dan pejabat terkemuka yang dikirim ke penjara oleh KPK karena korupsi.

Namun, ke mana pun arah perkembangannya, perlulah diingatkan bahwa masyarakat tidak dapat dibohongi. Siapa pun yang mencoba berbohong, tidak jujur, atau membuat rekayasa, betapa pun canggihnya, akan sia-sia. Benar kata sebuah ungkapan, "Crime does not pay." Sejarah telah membuktikannya. Berkali-kali. (*)

* Djoko Pitono adalah jurnalis dan editor buku.

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=showpage&kat=7
Share this article :

0 komentar: