BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » SBY Akan Perhatikan Budaya

SBY Akan Perhatikan Budaya

Written By gusdurian on Minggu, 31 Mei 2009 | 12.26

SBY Akan Perhatikan Budaya

JAKARTA (SI) – Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono
berpendapat,perhatian pemerintah terhadap kebudayaan nasional selayaknya
terus ditingkatkan seiring membaiknya perekonomian.


“Setiap kepala negara selalu ingin memerhatikan kebudayaan,meski sampai
saat ini belum sampai pada hal yang diinginkan.Tetapi kalau terpilih
kembali sebagai presiden, saya punya semangat memajukan kebudayaan,”
kata SBY saat memaparkan visi-misi dalam dialog Presiden dan Kebudayaan
yang diselenggarakan oleh Federasai Teater Indonesia (FTI) di Graha
Bakti Budaya,Taman Ismail Marzuki (TIM),Jakarta,kemarin.

SBY berharap kebudayaan lima tahun mendatang di negeri ini dapat
memiliki jati diri, karakter, dan budaya nasional yang menjadi pilar dan
dorongan agar Indonesia menjadi negara yang maju, bermartabat, dan
sejahtera.Menurut SBY, Indonesia modern dan maju adalah Indonesia yang
tidak kehilangan jati diri dan karakternya. Untuk mencapai ke arah itu,
diperlukan strategi, aksi, dan langkah-langkah yang konkret baik pada
tingkat nasional maupun tingkat daerah.

“Bagaimanapun, karakter, jati diri, dan budaya bangsa harus diperkuat
dengan cara yang tentu dapat kita pilih,” ujar SBY Pasangan capres
SBY-Boediono sore kemarin menghadiri dialog yang diselenggarakan oleh
seniman dan budayawan Indonesia di gedung Graha Bakti Budaya Taman
Ismail Marzuki.Kehadiran pasangan SBY-Boediono merupakan pasangan capres
yang terakhir memenuhi undangan seniman dan Budayawan, setelah pasangan
JKWiranto dan Megawati-Prabowo pada hari Minggu lalu.

Acara yang berlangsung selama hampir 1,5 jam dipandu langsung oleh Vivi
Alayda Yahya dan Norca M Massardi. Empat budayawan ternama dihadirkan
sebagai panelis dalam dialog itu, dan masing-masing memberikan dua
pertanyaan secara bergiliran kepada pasangan SBY-Boediono yang terbagi
dalam dua sesi. Keempat budayawan tersebut adalah Taufik Abdullah,
Komaruddin Hidayat, Radar Panca Dahana, Taufik Ismail,dan Abdul Hadi.

Disaksikan langsung oleh para pimpinan partai pendukung koalisi,
pasangan SBY-Boediono menjawab dengan gamblang semua pertanyaan panelis
dan memberikan berbagai solusi serta masukan tentang kebudayaan
Indonesia ke depan.SBY-Boediono sempat meminta saran dari para panelis,
bagaimana memajukan budaya bangsa yang selama ini dinilai masih minim
dalam kehidupan masyarakat.

Mulai dari arti kebudayaan di mata SBY-Boediono sampai perlunya sebuah
undang-undang kebudayaan untuk memajukan budaya di dalam negeri, menjadi
sebuah dialog yang menarik untuk disimak.Pertanyaan panelis yang cukup
dalam memunculkan sebuah menu baru yang menjadi pekerjaan rumah bagi
pemerintahan ke depan. Selama empat tahun pemerintahannya, kata SBY,
kebudayaan di Tanah Air mengalami kemajuan yang signifikan. Hal itu
dapat tercermin dari bangkitnya industri perfilman dan industri kreatif
masyarakat yang mulai meluas dan menjadi tren akhirakhir ini.

Kemampuan ekonomi kreatif tersebut menurutnya harus terus didorong untuk
menghidupkan kembali kebudayaan daerah, serta mampu meningkatkan
pendapatan daerah. “Ekonomi kreatif, ekonomi berbasis budaya harus kita
letakkan pada konteksnya yang benar. Bukan komersialisasi budaya untuk
tujuan yang negatif, tetapi bagaimana keunggulan kita harus
didayagunakan untuk kemakmuran rakyat dan untuk kesejahteraan pelaku
budaya itu sendiri, yang barangkali belum mendapatkan atensi yang
sungguh-sungguh,” ujar SBY.

Sementara itu, Boediono mengatakan memang dibutuhkan sebuah korelasi
antara pembangunan ekonomi dan kebudayaan.Dengan tumbuhnya pembangunan
ekonomi, kebudayaan juga bisa berkembang dengan baik.“Tanpa pembangunan
ekonomi,kebudayaan di awang-awang,”tandasnya. Menjawab tentang anggaran
dalam APBN untuk kebudayaan yang sangat minim, Boediono mengatakan
rumusan APBN tidak hanya diajukan oleh pemerintah, tapi juga dibahas
bersama oleh DPR.

Untuk meningkatkan anggaran kebudayaan, budayawan diharapkan dapat
melobi DPR agar anggaran yang dibutuhkan dapat terealisasi. Presiden
Federasi Teater Indonesia Radar Panca Dahana pada kesempatan itu
mengeluhkan minimnya anggaran kebudayaan yang hanya 0,001% dari APBN
atau sekitar Rp500 miliar. Hal ini dia nilai sangat jauh dari memadai,
mengingat kebutuhan untuk memajukan sebuah kebudayaan membutuhkan biaya
yang cukup besar.

“Malaysia itu punya anggaran sebesar Rp1 triliun hanya untuk promosi
wisata, sedangkan Singapura Rp2 triliun. Kebudayaan harus jadi
fundamental kita.Paling tidak untuk memajukannya, kita harus membuat
pertemuan puncak (summit) khusus tentang kebudayaan,”paparnya. (rarasati
syarief)


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/242505/
Share this article :

0 komentar: