BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Tim Indonesia Bangkit (TIB) menyodorkan perhitungan baru utang pemerintah, yakni membagi total utang dengan jumlah penduduk Indonesia.

Tim Indonesia Bangkit (TIB) menyodorkan perhitungan baru utang pemerintah, yakni membagi total utang dengan jumlah penduduk Indonesia.

Written By gusdurian on Sabtu, 04 April 2009 | 15.20

Tim Indonesia Bangkit (TIB) menyodorkan perhitungan baru utang pemerintah, yakni membagi total utang dengan jumlah penduduk Indonesia.

H ASILNYA, utang Indonesia dengan perhitungan per kapita malah me ningkat. Ini berkebalikan dengan fakta yang selama ini didengungkan pemerintah.
Menurut pengamat ekonomi dari TIB Ichsanuddin Noorsy, ji ka dilihat dengan produk domestik bruto (PDB) secara persentase utang luar negeri Indonesia menurun dari 56% menjadi 31%.

Namun jika dilihat secara per kapita, beban utang meningkat dari Rp5,8 juta per orang per tahun menjadi Rp7,7 juta per orang per tahun.

Berarti ada peningkatan utang per kapita Indonesia hingga 32% jika dibandingkan dengan 2004 ketika jumlah penduduk mencapai 217 juta jiwa. Pada tahun ini jumlah penduduk mencapai 227 juta jiwa.

"Beban masyarakat sekarang jelas lebih berat karena beban utangnya lebih besar. Jadi, hebat apabila disebut utang kita menurun," kata Ichsanuddin di Jakarta, Rabu (1/4).

Pengamat ekonomi dari UGM ini mengatakan utang luar negeri Indonesia pada 2004 lalu mencapai Rp1.205 triliun meningkat menjadi Rp1.667 triliun per Februari 2009.

Selain itu, nilai surat berharga negara (SBN) yang dikeluarkan pemerintah pun me ningkat. Jika pada 2005 jum lahnya mencapai Rp656 triliun, pada 2009 telah mencapai Rp920 triliun.

Calon presiden sekaligus ekonom TIB, Rizal Ramli, meminta Partai Demokrat mencabut iklan partai yang mengklaim berhasil menurunkan jumlah utang Indonesia. Total utang selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) justru meningkat Rp392 triliun.

Bisa menyesatkan Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto menyatakan pemerintah tidak mengetahui cara dan esensi perhitungan utang per kapita. Pasalnya perhitungan yang menjadi praktik normal adalah rasio utang terhadap PDB.

"Normal practice yang dihitung adalah rasio utang terhadap PDB, yang sampai saat ini rasio tersebut semakin menu run dari 95% pada 2000 menjadi sekitar 32% saat ini," kata Rahmat saat dihubungi di Jakarta, kemarin.

Menurut Rahmat, angka tersebut menunjukkan penggunaan dana dari utang yang semakin produktif dan efisien sehingga mampu menaikkan PDB. Juga menunjukkan kemampuan ekonomi dalam menanggung beban utang yang semakin meningkat.

Menurut Rahmat, pendapat perhitungan utang per kapita adalah pendapat yang misleading.

Jika menggunakan utang per kapita, artinya utang tersebut diperoleh tapi tidak digunakan sama sekali atau ditaruh di bawah bantal. Jadi, setiap orang termasuk bayi-bayi harus menanggung utang yang tambah besar.

Rahmat menilai para pengamat ekonomi kebanyakan belum punya kemampuan melihat hal-hal semacam itu.

Sementara itu, pengamat ekonomi Sri Adiningsih menyatakan utang yang diambil pemerintah harus memiliki dampak lanjutan dengan membiayai kegiatan yang produktif. "Kalau utang itu digunakan untuk konsumtif, itu berbahaya."

Dengan adanya direktorat jen deral pengelolaan utang, Sri berharap, utang Indonesia da pat dikelola dengan baik. Na mun, pemerintah jangan berhenti hanya dengan mengurangi rasio utang. "Malah kalau bisa memberi utang," tegasnya. (Tup/*/Ant/E-2)

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/04/03/ArticleHtmls/03_04_2009_013_007.shtml?Mode=1
Share this article :

0 komentar: