BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Rasa Aman yang Mulai Mahal

Rasa Aman yang Mulai Mahal

Written By gusdurian on Sabtu, 04 April 2009 | 15.22

Rasa Aman yang Mulai Mahal


RASA aman telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat.Tingkatannya sudah satu level dengan kebutuhan dasar lain seperti sandang,pangan,dan papan.


Dalam masyarakat modern di negara-negara maju maupun negara berkembang seperti Indonesia, rasa aman adalah salah satu tolok ukur paling penting yang menjadi tanggung jawab negara di samping pendidikan, kesehatan,maupun kesejahteraan.

Salah satu dasar didirikannya sebuah negara adalah untuk menjamin rasa aman rakyat dari serangan pihak luar maupun penggerogotan dari dalam. Beberapa waktu terakhir ini kasus-kasus kriminal kategori berat yang disajikan media massa telah mengusik rasa aman kita.Betapa mudahnya nyawa manusia melayang karena tindak kejahatan seperti pembunuhan, perampokan, atau tindakan kriminal lain.

Kasus pembunuhan sadis dengan berbagai motif seperti penembakan salah satu direksi perusahaan BUMN di Tangerang adalah salah satu bukti bahwa rasa aman itu kini telah menjadi barang mewah. Kejahatan bisa mengincar siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Bukan hanya kaum berpunya, masyarakat biasa pun bisa jadi korban kejahatan.

Telinga kita sudah akrab mendengar kawanan perampok bersenjata api gentayangan di Ibu Kota mencari mangsa.Aksinya pun semakin nekat.Tidak hanya dilakukan malam hari atau pagi-pagi buta di tempat sepi, tapi perampokan maupun pembunuhan telah terang-terangan dilakukan di siang bolong,di tengah-tengah kerumunan yang ramai.

Terbaru,seorang bapak dan anak perempuannya yang masih berusia 10 tahun dibunuh secara sadis oleh seorang perampok karena memergoki aksinya di rumah korban. Ini menjadi sangat memprihatinkan karena betapa mudahnya orang menghabisi nyawa orang lain untuk merampas hartanya. Contoh lain aksi perampokan yang kian marak di daerah seperti di Medan,Palembang, maupun kota-kota di Jawa.

Dalam sepekan terakhir kawanan perampok menggasak uang miliaran rupiah dari sejumlah bank di Medan.Perampok ini pun kabur dan sangat mungkin akan mengulangi aksinya lagi pada korban-korban lain. Kita belum mengetahui persis apa yang mendorong tindak kejahatan dengan kekerasan itu meningkat pada beberapa bulan terakhir.

Apakah jaringan para penjahat kakap ini memanfaatkan kelengahan aparat keamanan yang sedang sibuk mengamankan pemilu,atau memang karena impitan krisis ekonomi. Dua hal ini mungkin saja terjadi.Pemilu adalah momentum besar yang menguras energi dan konsentrasi semua pihak,termasuk aparat keamanan.

Bisa saja aparat kita lengah karena personel dan konsentrasinya fokus dikerahkan untuk pengamanan pemilu. Tapi kalau kemungkinan kedua yang terjadi, kejahatan meningkat karena krisis ekonomi,ini yang memprihatinkan.Berarti perlu penangan lintas sektoral dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan keamanan.

Penciptaan lapangan kerja dan pengendalian harga kebutuhan pokok adalah jawaban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ungkapan bahwa kemiskinan lebih dekat dengan kejahatan bisa jadi benar. Kesenjangan ekonomi yang semakin tinggi antara yang kaya dan yang tak berpunya juga makin menajamkan kecemburuan sosial yang sangat mungkin diimplementasikan dengan perilaku anarkistis maupun tindak kejahatan.

Namun intinya, pemerintah dalam hal ini aparat kepolisian bertanggung jawab penuh atas terjaminnya rasa aman masyarakat. Karena gaji aparat keamanan berasal dari setoran pajak masyarakat. Seperti kita ketahui bersama, masyarakat kita dengan antusias telah menyambut ajakan pemerintah untuk sadar membayar pajak dan tidak keberatan dengan kewajiban memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP).

Tentu masyarakat yang bijak karena membayar pajak ini juga berharap pemerintah sebagai pengelola negara yang digaji dari pajak itu bisa memberi pelayanan yang lebih baik dari sebelumnya.Termasuk bagaimana meningkatkan rasa aman yang sudah mulai terusik karena berbagai persoalan seperti diuraikan di atas.

Jangan sampai niat baik dan tulus dari masyarakat yang taat pajak ini dinodai atau bahkan dikhianati oleh para pejabat negara yang bermental korup yang hanya mengejar kepentingan pribadi.Akan sulit dimengerti jika masyarakat dikejar-kejar untuk membayar pajak, tapi setelah membayar tetap saja dihantui rasa ketakutan karena setiap saat bisa menjadi korban para penjahat yang bebas berkeliaran mencari mangsa.(*)


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/226521/
Share this article :

0 komentar: