BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Caleg dan Stigma Gangguan Jiwa

Caleg dan Stigma Gangguan Jiwa

Written By gusdurian on Minggu, 05 April 2009 | 12.33

Caleg dan Stigma Gangguan Jiwa
Oleh: Andri Suryadi

** missed drop char ** ** missed drop char **elakangan ini, ramai terdengar pemberitaan di media massa mengenai bertambahnya pasien yang mengalami gangguan jiwa usai Pemilu Legislatif 2009. Hal ini disebabkan oleh banyaknya calon legislatif (caleg) yang bakal gagal memenuhi harapan menjadi anggota dewan yang terhormat.

Beberapa rumah sakit jiwa (RS) bahkan telah menyediakan kamar dan ruangan ekstra untuk kondisi "darurat" ini. Masalahnya sudah jelas, banyaknya jumlah caleg yang dikabarkan melebihi 11.000 orang tidak sebanding dengan ketersediaan kursi DPR yang hanya sekitar 500-an saja.

Alhasil, akan sangat banyak caleg yang gigit jari, karena tidak kebagian kursi di DPR. Hal ini tentu mengecewakan dan membuat frustrasi, karena banyaknya pengorbanan yang telah dikeluarkan oleh si caleg. Materi untuk membiayai kampanyenya juga tenaga serta waktu yang tersita.

Apabila merujuk pada teori klasik yang dikemukakan oleh Sigmund Freud tentang depresi, kondisi caleg nanti akan mirip dengan keadaan depresi. Caleg gagal akan berada pada keadaan kehilangan sesuatu yang dicintai atau gagal meraih sesuatu yang diharapkan.

Sesuatu itu berwujud objek subjektif, yaitu materi, kekuasaan, kebanggaan, dan harapan. Jadi, tidak heran akan ada banyak caleg yang mengalami stres dan mungkin akan menuju depresi karena tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.


Gagal = Pasien RS Jiwa?

Para pengamat menyatakan, tidak mengherankan apabila nanti akan banyak caleg gagal yang akhirnya akan menjadi penghuni RS Jiwa, karena stres yang dialami. Bukan hanya stres karena kehilangan materi, tetapi juga karena rasa malu gagal menjadi anggota dewan.

Beberapa RS di daerah bahkan telah bersiap diri dengan membuka kamar baru. Permasalahannya apakah benar caleg itu akan menjadi pasien RS jiwa?

Saya berpikir pendapat itu terlalu dini dan tidak melihat kondisi di masyarakat kita. Sampai saat ini, bidang kesehatan jiwa atau psikiatri masih dirundung oleh stigma yang tak kunjung padam.

Stigma itu adalah pasien yang datang ke psikiater pastilah yang tidak waras otaknya alias gila. Kata gila sendiri mengandung konotasi yang kasar untuk menjelaskan sesuatu penyakit yang dalam ilmu kedokteran dikenal sebagai skizofrenia. Dan yang lebih salah lagi adalah pendapat bahwa gangguan jiwa itu semuanya skizofrenia alias gila.

Caleg yang gagal, sudah kehabisan uang dan menanggung rasa malu serta stres rasanya akan sulit dan bahkan menolak untuk masuk ke rumah sakit jiwa. Hal ini karena akan menambah rasa malu mereka karena stigma yang akan melekat sebagai pasien RS jiwa. Belum lagi pemikiran tentang pembiayaan yang mahal sedangkan isi kocek sudah habis dipakai saat berkampanye.

Saya ingat beberapa pengalaman dengan klien asuransi yang mendatangi saya, karena diminta untuk melakukan tes kejiwaan. Hal itu dilakukan, karena pada data pasien terdapat riwayat kunjungan ke psikiater beberapa tahun sebelumnya karena stres.

Bayangkan, betapa orang yang berpendidikan dokter sekalipun (sejawat yang bekerja di asuransi dan mengirimkan saya surat permintaan pemeriksaan jiwa) masih menaruh stigma dengan pasien jiwa ataupun pasien yang pernah bersinggungan dengan psikiater.

Pikiran positif saya tidak akan menyalahkan sejawat saya ini yang hanya menjalankan ketetapan kantornya. Hanya saja, ini semakin menambah keyakinan saya bahwa stigma gangguan jiwa pada pasien serta keluarganya masih sangat melekat erat.

Lalu kalau si caleg gagal ini bersinggungan dengan dokter jiwa setelah pemilu usai, apakah pada kemudian hari mereka akan semakin merasa tidak nyaman dengan dirinya?


Kurangi Stigma

Tidak hanya di dalam negeri, di luar negeri juga stigma gangguan jiwa masih melekat erat kepada pasien jiwa dan keluarganya. Mendengar kata pasien jiwa saja terkadang pikiran orang selalu merujuk pada kondisi pasien yang dekil, tidak terawat, beringas, dan tidak waras.

Saya sangat tertarik dengan femomena berita tentang caleg gagal yang akan menjadi penghuni RS jiwa. Tidak hanya diberitakan di koran, namun juga di televisi sehingga makin banyak orang semakin tahu.

Setidaknya ini menggambarkan bahwa media sebagai penyebar informasi dapat memberikan kontribusi pada terciptanya opini publik tentang kondisi yang berhubungan dengan kesehatan jiwa tersebut. Sebagian masyarakat menjadi mengerti bahwa stres yang berat dapat mengakibatkan suatu gangguan kesehatan jiwa.

RS jiwa tentunya bukan hanya akan ditujukkan bagi caleg yang gagal saja, melainkan lebih sebagai penyedia pelayanan untuk masyarakat yang membutuhkan. Untuk itu, saya sebagai profesional di bidang kesehatan jiwa tentunya tidak lupa berterima kasih kepada teman-teman wartawan yang berhasil memberikan suatu berita yang menarik dan mampu membuat banyak orang membicarakannya. Semua orang mempunyai potensi mengalami gangguan jiwa dalam hidupnya. Calon anggota wakil rakyat saja rentan terhadap gangguan jiwa, apalagi kita tidak juga tidak luput dari gangguan jiwa itu

Penulis adalah Psikiater, Dosen Kesehatan Jiwa FK UKRIDA


--
Sincerely yours,
Dr.Andri,SpKJ
Consultation Liaison Psychiatrist
Department of Psychiatry Krida Wacana Christian University
Jl. Terusan Arjuna No. 6 Jakarta Barat 11510
INDONESIA
Psychosomatic Clinic
Omni International Hospital
Alam Sutera Boulevard Kav 25 Serpong-Tangerang, INDONESIA
Ph (+6221) 5312 5555 ext 8309
Share this article :

0 komentar: