Semar Gugat
Ditulis Oleh Juwakhid Hadi Sunarto
Krisis global yang berimbas ke berbagai belahan negara di dunia termasuk Indonesia, menyebabkan jutaan buruh dan karyawan terkena atau terancam PHK masal dikarenakan banyak perusahaan yang gulung tikar.
Dari berbagai kejadian itu semua apakah dikarenakan oleh human error ataukah memang sudah masanya Indonesia harus mengalami zaman kalabendhu sebagaimana yang telah di ramalkan oleh Prabu Jaya baya pada kala itu?
Sebagai umat yang beragama, tentu tidak akan percaya tentang ramalan yang akan menjurus kita kepada kemusyrikan, namun pada sisi yang lain kita tidak bisa tutup mata begitu saja, sebab dari berbagai fakta kejadian yang telah cukup menjadi bukti dari kebenaran ramalan tersebut, entah sifatnya kebetulan ataupun ataupun dengan alasan yang lainnya.
Dari berbagai kejadiaan dan bencana yang secara berurutan melanda Indonesia, tidak sedikit dari orang Jawa yang menghubung-hubungkan dengan cerita wayang terutama dalam lakon "Semar Gugat".
Mayoritas orang Indonesia meyakini bahwa wayang bukanlah sekadar tontonan namun juga merupakan tuntunan. Adapun inti cerita dalam lakon tersebut adalah, bahwa berbagai gonjang ganjing kekacauan, peperangan, malapetaka, kerusakan, ketakutan, "Goro goro" terjadi di muka bumi, yang tiada lain dikarenakan Prabu Duryudono (raja Kurowo) pada saat itu enggan menyerahkan tahta yang ia peroleh dari hasil taruhan judi dengan Raden Arjuno (Raja Ngastina) yang sesuai dalam perjanjiannya hanya sebatas 11 tahun, namun ternyata hingga 13 tahun lamanya Prabu Duryudono tetap berkuasa dan justru para Pandawa dijebloskan ke dalam penjara selama 3 tahun.
Penyebab lainnya, Betara Kalla marah membabi buta hendak membunuh dan memakan pandawa lima guna menyempurnakan kekuatan yang ia miliki.
Perang Baratayuda pun tak dapat dihindarkan lagi, ribuan orang harus menjadi korban peperangan. Lagi-lagi, rakyat kecil jadi tumbal dalam perebutan tahta.
Untungnya, peperangan tersebut berhasil dimenangkan oleh pihak Pandawa. Namun saat itu, Semar menggugat sang Batara Guru karena ketidak adilan dan kekacauan yang luar biasa telah berkobar di muka bumi. Walhasil, bumipun kembali aman, rakyatpun menjadi tentram, damai dan sejahtera, di bawah kepemimpinan Raden Arjuno sang ratu adil, raja yang sangat bijak, sangat dekat dengan rakyatnya, sangat dicintai dan disegani, pandai mendengar dan bukan hanya pandai memerintah serta merupakan raja yang pandai mengayomi rakyat bukan ngeyem-ngeyemi (janji-janji). Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit yo iku ratu adil (menuruut ramalan Jaya Baya).
Lalu, siapakah gerangan Prabu Duryudono, Betara Kalla, Raden Arjuno, dan siapa pula sosok Semar tersebut?
Menurut pandangan pribadi penulis, Prabu Duryudono itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono atau Presiden RI untuk saat ini, sedang Batara Kalla adalah M. Yusuf Kalla (wakil presiden RI). Adapun sosok semar adalah kawula atau rakyat Indonesia dimana dalam lakon wayang dirinya hanya sebagai Punokawan atau abdi dalem atau sebagai rakyat biasa yang kini sedang marak-maraknya menggugat atau melakukan berbagai aksi demonstrasi menolak berbagai kebijakan pemerintah yang kurang memihak kepada rakyat.
Sedangkan Raden Arjuno sebagaimana yang kita ketahui nama asli dari Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah Raden Herjuno Darpito. Yang pada tanggal 28 Oktober 2008 yang lalu dengan mengatas namakan Tuhan Yang Maha Esa dan atas panggilan Ibu Pertiwi beliau mendeklarasikan diri siap untuk maju menjadi calon presiden RI 2009. Masa depan bangsa ada dalam diri kita, apakah akan kita biarkan Prabu Duryudono untuk tetap berkuasa hingga dua periode, ataukah sudah saatnya kita usung sang Ratu Adil itu untuk memimpin Negeri ini?
Juwakhid Hadi Sunarto, Mahasiswa United Arab Emirates University
http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=613&Itemid=1
Semar Gugat
Written By gusdurian on Rabu, 21 Januari 2009 | 11.43
Related Games
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar