BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Fulus Irit, Cita-cita Melangit

Fulus Irit, Cita-cita Melangit

Written By gusdurian on Senin, 19 Januari 2009 | 11.40

DANA CALON LEGISLATOR
Fulus Irit, Cita-cita Melangit
Ada calon yang membuka rekening khusus, ada juga yang pinjam sanak keluarga dan tetangga
Dalam siraman hujan gerimis sore itu, Murjoko mengayuh sepedanya pelan. Memakai jaket warna merah dan topi bundar, lelaki kelahiran Malang 5 Mei 1959 ini menuju sebuah kios rokok di pinggir Jalan Ir. Rais Kota Malang.

Di tempat ini, dia mengajak main catur sekumpulan pemuda yang sedang nongkrong. "Ini salah satu model kampanye saya," katanya, Kamis pekan lalu.

Murjoko adalah Ketua DPC Partai Sarikat Indonesia (PSI) Kota Malang. Dia mencalonkan sebagai calon legislator Kota Malang dengan nomor urut 1 untuk daerah pemilihan Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Politik adalah dunia baru bagi Murjoko. Sebelumnya, ia menjadi aktivis LSM. Pada Agustus lalu, ia memutuskan masuk partai. Di Malang, ia lebih akrab dipanggil Abah Slank.

Bekerja sebagai pengecer gas elpiji, Murjoko menyediakan uang sebesar Rp 15 juta sebagai modal pencalonannya. Uang itu berasal dari tabungannya sebesar Rp 5 juta dan pinjaman dari para sahabatnya sebesar Rp 10 juta. Bapak tiga anak ini menghitung idealnya, modal yang harus dia punyai sebanyak Rp 65 juta. "Masih kurang," katanya. "Uang yang ada itu saya cukup-cukupkan."

Untuk mengikat pendukungnya, dia akan membuat kontrak politik. "Saya akan serahkan separuh gaji saya untuk konstituen," ujarnya.

Berbeda dengan Abah Slank, sejumlah calon justru banyak yang khawatir dengan cekaknya kocek yang dipunyainya. Karena itu, banyak calon yang mulai berlomba-lomba mencari pinjaman modal ke sana-kemari demi bisa duduk di kursi Dewan. Bahkan, ada juga calon yang terang-terangan membuka rekening sumbangan, seperti sumbangan dana kemanusiaan bencana.

Seperti yang dilakukan calon legislator untuk DPRD Tulungagung dari PKB, Muhiburrohman. alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Tulungagung 2007, sudah berniat membuka rekening sumbangan bagi pengusaha yang ingin membantu pencalonannya. Ia memperkirakan biaya kampanye bisa mencapai Rp 70 juta lebih. Tak jelas benar berapa modal dasar yang dimilikinya.

Ahmad Syauki, calon legislator nomor 1 di daerah pemilihan satu untuk Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Licin, Kalipuro, dan Wongsorejo dari PKNU punya cerita. Sebelum ada keputusan Mahkamah Konstitusi soal perolehan suara berdasarkan suara terbanyak, ia bisa leha-leha karena ada di urutan 1. Ia beranggapan bahwa dengan modal Rp 60 juta yang sudah dikeluarkan, dirinya bisa masuk jadi legislator.

Putusan MK itu membuatnya syok berat. Sebab, ia sadar dirinya belum banyak dikenal. Agar bisa dikenal, mantan staf ahli DPRD Banyuwangi ini harus merogoh kocek lagi. Ia pun mencari pinjaman ke sana-kemari hingga terkumpul Rp 30 juta. "Utang tambah menumpuk," katanya.

Padahal, praktis selama 6 bulan ini ia menjadi pengangguran. "Kalo ndak minjam, dari mana lagi? Sehari-hari saja sudah minus."

Utang ini melecut dirinya untuk bisa meraih kursi di Dewan. Sebab, bila jadi, bebannya bisa lebih ringan untuk mencicil dengan gaji bulanan. "Kalau gagal, ndak tahu lagi dari mana bayar utang," katanya sambil terkekeh.

Putusan MK itu juga yang dirasakan Hanky Kurniadi, calon legislator DPR dari PDI Perjuangan nomor urut 5 untuk daerah pemilihan Surabaya-Sidoarjo. Meski tak mau membeberkan modal yang dikantongi, pengusaha properti menganggap pada pemilu kali ini calon harus memiliki stamina finansial yang kuat. BIBIN | HARI | IKA | KUKUH



http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/01/19/Berita_Utama_-_Jatim/krn.20090119.154220.id.html
Share this article :

0 komentar: