BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Ahlan Wa Sahlan Obama

Ahlan Wa Sahlan Obama

Written By gusdurian on Senin, 19 Januari 2009 | 11.42

Pada 20 Januari 2009 Barrack Hussein Obama akan dilantik sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat (AS). Obama menorehkan sejarah baru sebagai presiden kulit hitam ”berdarah”Islam pertama Amerika.


Dia membuka mata dunia bahwa demokrasi, keterbukaan, dan fairness memungkinkan siapa pun yang kompeten dan bekerja keras mampu meraih impian.Rakyat Amerika memberi contoh bagaimana perbedaan ras, etnis, dan agama bukanlah penghalang bagi umat manusia untuk saling mencintai, menghormati, dan bekerja sama.

Dengan mandat dari 53% pemilih AS, Obama menjadi presiden yang paling fenomenal dengan tingkat kepercayaan rakyat yang sangat tinggi. Merujuk survei Gallup Poll, 75% responden menilai kampanye Obama dengan nilai A atau B,hanya 24% yang menilai C, D, atau E.

Penilaian ini merupakan capaian tertinggi sejak 30 tahun terakhir (1988).Setelah terpilih, 68% rakyat Amerika menyatakan favorableterhadap Obama,jauh di atas George W Bush (56%) dan Bill Clinton (60%). Mayoritas rakyat Amerika(65%) yakin Obama akan sukses melaksanakan kepemimpinan.

Tingkat kepercayaan ini melampaui Bill Clinton 51% dan George W Bush 50%.Masyarakat Amerika percaya Obama mampu mengatasi 13 dari 16 masalah yang menjadi tanggung jawabnya, membangun relasi yang sangat baik antara Republik dengan Demokrat dan meningkatkan citra Amerika di luar negeri.Gallup menyimpulkan ”Obama mayhaveasweeterandlongerhoneymoon than most new president….”

Tantangan Dunia Islam

Selain harus mengatasi masalah ekonomi domestik yang terburuk sejak 70 tahun terakhir, Obama juga harus bekerja ekstrakeras memperbaiki citra Amerika di luar negeri yang sangat buruk, terutama di negara-negara berpenduduk muslim. Selain faktor pribadi yang cenderung fundamentalis, tiga kebijakan George W Bush dinilai merugikan dunia Islam.

Sikap Amerika yang mendukung Israel secara berlebihan, menyerang Irak tanpa alasan jelas, dan perang melawan terorisme, membuat Amerika semakin tidak disukai. Mayoritas rakyat di negara-negara Islam dan sekutu Amerika tidak suka dan cenderung membenci Amerika.

Survei Pew Global Attitude (2003) menunjukkan popularitas Amerika yang ”tarnished” (buruk, ternoda), meskipun sempat meraih simpati internasional setelah pengeboman World Trade Center, 9/11.

Sejak 2000, popularitas Amerika merosot di 19 dari 27 negara Timur Tengah dan Asia Tengah. Alih-alih mendapatkan dukungan, keberhasilan war on terror George W Bush yang ambisius dan menguras habis kas Amerika jauh panggang dari api.

Survei Pew Global Attitude menunjukkan proyek war on terror mendapatkan tantangan luas di Jordan (85%), Pakistan (45%), Lebanon (56%), Mesir (79%), dan Turki (58%). Dalam pidato perpisahannya, George W Bush mengklaim telah berhasil meningkatkan rasa aman bagi rakyat Amerika.Tetapi langkahlangkah pre-emptive yang dilakukannya atas nama war on terror telah menciptakan dunia yang saling membenci dan kekacauan global (global disorder).

Walau demikian dunia tidak membenci rakyat Amerika.Mayoritas responden di 35 negara dari 42 negara yang diteliti menyatakan suka terhadap rakyat Amerika. Mereka sangat mendambakan dan mengagumi teknologi dari Amerika.

Bahkan di tengah popularitas pemerintah yang buruk, budaya pop Amerika seperti film,musik, dan gaya hidup semakin diterima luas. Ini merupakan modal penting diplomasi publik Obama di dunia dan negara-negara Islam.

Membangun Citra Baru

Meski tidak ikut memilih di bilik suara,pemimpin dan rakyat di negaranegara Islam sangat berharap Obama menang dan membawa perubahan di Amerika. Lemparan sepatu seorang jurnalis Irak menggambarkan betapa dunia sudah muak dengan George W Bush. Dalam artikelnya, ”Obama on the Nile” yang dimuat di Washington Post (11/6/2008), Thomas L Friedman memaparkan bagaimana harapan dunia Islam kepada Obama.

Dalam berbagai kesempatan, Obama menegaskan bahwa dia bukan seorang muslim. Obama adalah seorang Kristen yang taat.Tetapi bagi masyarakat Islam, latar belakang keluarga ayahnya yang seorang muslim Kenya dan pengalamannya belajar di Indonesia merupakan elemen primordial yang membuat Obama lebih diterima dibandingkan George W Bush.

Obama yang dalam buku Dreams From My Father mengaku sempat belajar Alquran di sebuah sekolah di Jakarta itu dinilai lebih bisa memahami psikologi kaum muslim. Citra dan harga diri Amerika di negara-negara Islam berada di tangan Obama. Untuk itu Obama perlu melakukan dua perubahan mendasar.

Pertama, mengubah paradigma war on terror (perang melawan terorisme) menjadi world without terror (dunia tanpa teror). Substansi program tersebut bisa saja sama: menghapuskan terorisme. Harus diakui, terorisme masih menjadi ancaman dunia,tidak hanya bagi Amerika.Yang sangat berbeda adalah pendekatan dan metode yang dikembangkan.

Terkait perubahan paradigma tersebut, sebagai seorang demokrat, Obama perlu memperkuat langkahlangkah diplomatik yang lebih santun, saling menghormati, dan mengakui kedaulatan negara lain. Selama ini Amerika terkesan sangat arogan, memaksakan kehendak dan mendikte negara lain dengan segala cara.

Kearifan Obama sangat diperlukan untuk meyakinkan dan memastikan bahwa penghapusan terorisme bukanlah peperangan melawan Islam. Pilihan utama tentu saja pada penguatan diplomasi publik (public diplomacy), bukan pengiriman serdadu militer. Tampaknya Amerika perlu lebih banyak belajar dan mendengar melalui dialog, pertukaran budaya, dan kerja sama dengan negara-negara Islam.

Pendekatan kultural ini memungkinkan Amerika memperbanyak kawan yang sejati dan abadi. Kedua, Obama perlu mengembangkan gentlemen democracy(demokrasi yang jantan). Dunia sesungguhnya mulai skeptis terhadap ketulusan Amerika mengembangkan budaya dan nilai-nilai demokrasi. Konflik dunia sebagiannya bermuara pada sikap inkonsistensi, bias, dan kemunafikan Amerika.

Sikap Amerika yang tidak mengakui Hamas sebagai pemenang pemilu merupakan sumber malapetaka yang harus dibayar mahal oleh rakyat Palestina. Karena ulah Amerikalah Irak dan Afghanistan sampai kini masih tercabik-cabik oleh perang saudara. Change.Yes We Can.

Dari pribadi Obama, dunia sudah menyaksikan Amerika yang berubah.Tetapi dunia tidak ingin melihat Amerika yang hanya bersolek, merias wajah, dan berganti busana,tetapi tidak berubah tabiat dan perilakunya.

Perubahan dunia ditentukan oleh Amerika. Perubahan Amerika ditentukan oleh Obama. Dunia sudah lelah oleh konflik dan pertikaian. Dunia sangat rindu perubahan dan perdamaian. Ahlan wa sahlanObama!(*)

Abdul Mu’ti
Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and
Cooperation Among Civilizations (CDCC), Jakarta


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205898/
Share this article :

0 komentar: