BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Dari Sabang sampai San Fransisco

Dari Sabang sampai San Fransisco

Written By gusdurian on Rabu, 21 Januari 2009 | 12.01

Dari Sabang sampai San Fransisco
Para ahli menemukan hubungan gempa Aceh dengan reaktivasi Sesar San Andreas di California.
"Ini sudah cukup jelas. Tidak ada pertanyaan lain, getaran ini dipicu oleh gelombang seismik dari Sumatera," kata Abhijit Ghosh kepada rekan-rekannya dari University of Washington dan Georgia Institute of Technology. Mereka sedang mendiskusikan analisis serangkaian instrumen yang ditanam dalam lubang di segmen Sesar San Andreas di wilayah Parkfield, Amerika Serikat.

Instrumen tersebut ternyata masih merekam data pada 26 Desember 2004. Saat itu terjadi gempa dan tsunami mahadahsyat di perairan Aceh. Dalam bencana itu, 250 ribu warga Aceh dan beberapa negara lain di utara Samudra Hindia tewas. Media internasional menyebut musibah itu sebagai "Great Indian Ocean Earthquake". Getaran gempa itu mereaktivasi Sesar San Andreas di California. Patahan atau sesar yang memiliki panjang 350 kilometer itu menyusuri pantai barat Amerika Serikat.

Bukti reaktivasi tersebut diperoleh dari serangkaian instrumen. Sinyal getaran berhubungan secara ruang dan waktu dengan gelombang gempa yang datang dari gempa Aceh. Gelombang gempa dari Sumatera itu melalui wilayah Parkfield, menyebabkan tremor, dan terukur oleh instrumen-instrumen yang ditanam pada suatu titik yang jaraknya 200 kilometer dari stasiun pengamatan.

Temuan Ghosh dan rekan-rekannya dipaparkan dalam pertemuan tahunan American Geophysical Union, 17 Desember 2008. Tim peneliti itu menamai fenomena reaktivasi Sesar San Andreas oleh gempa Aceh tersebut sebagai non-volcanic tremor. ScienceDaily.com mengupas temuan Ghosh itu pada edisi akhir Desember.

Temuan itu menjadi menarik. Maklum, selama ini belum pernah ada kasus pengaruh gempa terhadap sesar-sesar lain dengan jarak lebih dari 10 ribu kilometer. Data sebelumnya adalah reaktivasi Sesar San Andreas oleh gempa Denali yang episentrumnya di Alaska pada 2002. Jarak Alaska dengan California sekitar 4.000 kilometer.

Para ahli selama ini menemukan bukti bahwa sebuah gempa yang terjadi di suatu wilayah dapat mereaktivasi sesar gempa yang jaraknya ratusan bahkan ribuan kilometer. Pengaruh ini biasanya terjadi dalam satu wilayah lempeng tektonik. Tentunya, semakin besar magnitude gempa, semakin besar pula peluang reaktivasi tersebut.

Penemuan Ghosh bahwa gempa Aceh yang magnitudenya 9,2 mereaktivasi Sesar San Andreas menjadi penting. Bukan apa-apa, terbentang jarak sekitar 15 ribu kilometer antara sesar tersebut dan titik episentrum Gempa Aceh. Kedua wilayah itu juga tidak berada dalam satu lempeng tektonik yang sama. Bahkan, jika mengikuti analisis Ghosh, reaktivasi itu melewati beberapa lempeng: Eurasia, Filipina, dan Pasifik.

Ghosh menunjuk reaktivasi gempa Aceh melewati Parkfield. Wilayah itu merupakan bagian dari segmen Sesar San Andreas yang paling banyak dipelajari di dunia. Dari data historis, setiap 22 tahun terjadi gempa bermagnitude 6,0 di Parkfield. Alhasil, berbagai instrumen ditanam di dekat jalur sesar itu untuk mempelajari bagaimana tingkah laku sebuah sesar menjelang gempa terjadi.

Selama ini, para ahli mempertanyakan apakah suatu non-volcanic tremor berhubungan dengan pergeseran nyata pada suatu sesar gempa atau akibat aliran fluida di bawah permukaan Bumi. "Riset Ghosh mendukung kesimpulan bahwa non-volcanic tremor diakibatkan pergeseran sesar," kata Awang Harun Satyana, ahli geologi.

Ghosh dan rekan-rekannya memang menjelaskan bahwa bila sesar bergeser dari suatu tremor di satu tempat, maka bakal terjadi stres di tempat lain pada jalur sesar tersebut. Stres itu suatu hari akan menyebabkan gempa sehingga memonitor tremor dan akan membantu para ahli memahami bagaimana kondisi tersebut terbentuk dan terakumulasi di suatu tempat di jalur sesar. Sebuah wilayah tertekan yang mendekati retak dan bergeser (failure) akan menyebabkan tremor pada saat tekanannya ditambah. Sedangkan suatu wilayah yang masih dalam keadaan low stress tidak akan menimbulkan tremor, meskipun tekanannya bertambah.

Menurut Awang Harun, mempelajari fenomena non-volcanic tremor berguna untuk mengetahui peran apa yang dibawanya dalam melepaskan atau memindahkan stres di sebuah sesar. Kondisi itu menjadi salah satu faktor penyebab gempa. Menemukan tremor, katanya, dapat membantu menelusuri evolusi stres di suatu sesar berdasarkan ruang dan waktu. Selain itu, temuan tersebut bisa dimanfaatkan untuk menganalisis bahaya gempa. Untung Widyanto [sciencedaily]



http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/01/21/Ilmu_dan_Teknologi/krn.20090121.154410.id.html
Share this article :

0 komentar: