BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » AUTOKRITIK yang dilakukan Sekretaris Fraksi Partai Golkar Idrus Marham saat mempertahankan disertasinya, Demokrasi Setengah Hati, di depan Dewan Pengu

AUTOKRITIK yang dilakukan Sekretaris Fraksi Partai Golkar Idrus Marham saat mempertahankan disertasinya, Demokrasi Setengah Hati, di depan Dewan Pengu

Written By gusdurian on Senin, 19 Januari 2009 | 11.45

AUTOKRITIK yang dilakukan Sekretaris Fraksi Partai Golkar Idrus Marham saat mempertahankan disertasinya, Demokrasi Setengah Hati, di depan Dewan Penguji Universitas Gadjah Mada (UGM) sungguh menarik.


Idrus secara telanjang membeberkan bahwa 60% anggota DPR kualitasnya tidak bermutu dan hanya 40% yang memiliki konsep yang baik sebagai wakil rakyat. Anggota Dewan yang tidak siap mendengarkan atau membaca disertasi Idrus tentu akan marah,minimal menggerutu karena tidak sependapat dengan pendapatnya.

Anggota DPR lain yang sepaham dengan pendapat Idrus akan mengamini karena senang ada autokritik yang disampaikan secara terbuka tentang kredibilitas dan integritas para wakil rakyat. Argumentasi 60% anggota DPR tidak bermutu telah diilustrasikan Idrus Marham karena memiliki kultur yang kurang baik sebab datang ke gedung yang terhormat itu sekadar absen.

Harapan besar bahwa anggota DPR yang mengemban amanat rakyat memiliki konsep dan gagasangagasan besar dalam merumuskan perundang-undangan nyaris tidak ada. Kalau kita menangkap pesan Idrus, tidak bermutunya 60% anggota Dewan sebenarnya bisa kita terjemahkan lebih luas, tidak sekadar masalah absensi dan tidak memilikinya konsep yang jelas.

Namun, ada persoalanpersoalan lain yang juga substansial menjadi faktor penyebab lemahnya kredibilitas anggota Dewan. Kita percaya bahwa masyarakat sudah memahami dan menangkap semua persoalan anggota Dewan yang tidak bermutu seperti yang dijelaskan Idrus Marham.

Pertanyaan kita, mengapa banyak anggota Dewan lemah alias tidak bermutu? Faktornya cukup banyak.Yang jelas, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada individu-individu yang tidak bermutu itu ada di DPR.Ada persoalan rekrutmen, komitmen partai, budaya ajimumpung dan ketidaktegasan, serta lembaga Dewan tidak memiliki standar yang jelas dalam menilai maupun mengontrol para anggotanya.

Pengalaman politik yang diterapkan hampir seluruh partai, sistem rekrutmen dalam menjaring kader yang disiapkan duduk di anggota Dewan,tidak melalu fit and proper test yang ketat.Ada kecenderungan orang-orang kunci di partai yang sangat menentukan dalam menyusun siapa saja yang akan disiapkan duduk di DPR.

Sedangkan standardisasi yang lebih mementingkan kualitas dalam tataran konsep –bukan sekadar loyalitas—kurang menjadi faktor pertimbangan utama. Ya, kita sadar banyak partai yang lebih memilih kader loyalis–meski integritas keilmuannya kurang mendukung— karena key person di partai juga memiliki ambisi untuk membangun kroni serta melanggengkan kekuasaannya di partai.

Faktor lain yang ikut membawa pengaruh besar dalam pencitraan yang tidak bermutu yakni secara tidak langsung ada ”bisnis” dalam partai. Artinya, mereka yang bisa mendapatkan posisi terjamin bisa menjadi anggota Dewan adalah mereka yang secara finansial bisa memberikan ”sumbangan”yang lebih besar ke partai.Salahkah cara ini? Bisa iya bisa tidak,bergantung dari mana melihatnya.

Gambaran lain yang akan mempertegas bahwa citra DPR tidak bermutu dengan sistem penentuan yang dipakai sekarang,yakni dengan merujuk suara terbanyak. Sebenarnya, sistem yang akan dipakai sekarang mencerminkan demokrasi yang sehat karena mendorong objektifitas figur yang akan dipilih, tetapi yang menjadi persoalan adalah tidak ada edukasi terhadap publik dari KPU maupun pimpinan partai dalam menilai figur yang berkualitas.

Yang dikhawatirkan sekarang, dengan penentuan suara terbanyak, hanya mereka yang populer (artis dan kiai) yang akan terpilih.Kalau alasan masyarakat memilih anggota Dewan hanya berdasarkan yang dikenal (populer) ya jangan heran ketika Gedung DPR nanti dipenuhi artis dan kiai.

Tetapi, kita masih berharap kepada masyarakat karena kita meyakini bahwa saat ini tingkat terdidik masyarakat kita jauh lebih baik, sehingga dalam menentukan nanti bukan sekadar berdasarkan aspek populer, tetapi juga aspek lain seperti integritas dan kapabilitas intelektual figur yang akan dipilih.

Kita percaya,masyarakat memiliki iktikad baik dalam membenahi performance anggota Dewan, sehingga citra buruk seperti yang digambarkan Idrus Marham sekarang tidak akan terjadi lagi pada periode DPR mendatang.(*)



http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/205904/
Share this article :

0 komentar: