BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Pertumbuhan Minus Kualitas

Pertumbuhan Minus Kualitas

Written By gusdurian on Kamis, 19 Mei 2011 | 16.52

BPS melaporkan bahwa perekonomian Indonesia pada kuartal I/2011 mengalami pertumbuhan yang cukup meyakinkan.

Berdasarkan pendekatan sektoral (lapangan usaha), secara q on q (kuartal I/2011 terhadap kuartal IV/2010) perekonomian tumbuh 1,5%, sedangkan secara y on y (kuartal I/2011 terhadap kuartal I/2010) ia tumbuh 6,5%,lebih tinggi dari kuartal I-2010 sebesar 5,7%. Tren pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi kuartal pertama selalu lebih rendah daripada kuartal-kuartal selanjutnya. Jika tren ini terus berlanjut, kemungkinan pertumbuhan ekonomi pada kuartal selanjutnya akan lebih tinggi dari 6,5% sehingga akumulasi pertumbuhan ekonomi 2011 bisa lebih tinggi dari yang ditargetkan (6,4%).

Meski tumbuh secara meyakinkan, seperti yang terjadi pada beberapa tahun terakhir, motor penggerak pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2011 masih tetap terfokus pada sektor non-tradable.Seacara y on y, pada kuartal I/2011,sektor nontradable berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 66,2% (4,3% dari 6,5%), sedangkan sektor tradable hanya menyumbang 33,8% (2,2% dari 6,5%). Relatif masih kecilnya peran sektor tradable dalam mendorong pertumbuhan menunjukkan bahwa meskipun tumbuh relatif tinggi, pola pertumbuhan ekonomi negeri ini tidak cukup berkualitas untuk mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan.

Argumentasinya, kesempatan kerja yang diciptakan sektor tradable jauh lebih besar dibandingkan dengan sektor non-tradable.Misalnya, sampai Februari 2011 tiga sektor tradable (pertanian, industri, dan pertambangan) mampu menyediakan kesempatan kerja 55,5% dari total kesempatan kerja yang bisa diciptakan perekonomian (111,28 juta orang). Jika pertumbuhan ekonomi di masa datang tetap mengikuti pola seperti yang terjadi pada kuartal I/2011, paling tidak terdapat dua kemungkinan yang muncul. Pertama, lemahnya pertumbuhan sektor tradable membuat kesempatan kerja yang bisa diciptakan sektor ini juga mengalami keterbatasan.

Akibatnya, kue pembangunan ekonomi terkonsentrasi dan hanya bisa dinikmati oleh kelompok kecil tertentu. Hal ini bisa membuat upaya mengatasi kesenjangan pendapatan yang sudah menjadi penyakit kronis perekonomian Indonesia berjalan di tempat. Kedua, kualitas kesempatan kerja yang tercipta tidak akan mengalami perbaikan yang signifikan. Argumentasinya, dalam sektor non-tradable, dua sektor utama yang mampu menciptakan kesempatan kerja terbesar adalah sektor perdagangan (23,24 juta) dan jasa kemasyarakatan (17,03 juta). Masalahnya, kedua sektor itu cenderung menciptakan kesempatan kerja informal yang lebih banyak daripada kesempatan kerja formal. Ini berarti bahwa proses informalisasi kesempatan kerja dalam perekonomian Indonesia akan terus berlanjut.

Karakter Pertumbuhan Ideal

Kualitas pertumbuhan yang mengandalkan sektor nontradeable juga akan mandul di dalam memerangi kemiskinan. Simulasi yang dikembangkan P2E-LIPI menunjukkan kemampuan sektor tradable dalam menekan proporsi kemiskinan tujuh kali lebih besar daripada sektor non-tradable. Setiap 1% pertumbuhan sektor tradableberpotensi mengurangi proporsi kemiskinan sebesar 0,069, sedangkan 1% pertumbuhan sektor non-tradable hanya akan mengurangi proporsi kemiskinan sebesar 0,011.

Dalam sektor tradable, kemampuan sektor industri dalam memerangi kemiskinan lebih baik dibandingkan dengan sektor pertanian (dan pertambangan). Setiap 1% pertumbuhan sektor industri berpotensi mengurangi proporsi kemiskinan sebesar 0,034, sedangkan 1% pertumbuhan sektor pertanian hanya mengurangi proporsi kemiskinan sebesar 0,027. Kemampuan sektor industri dalam menyediakan pekerjaan yang lebih berkualitas (seperti jaminan sosial, upah regional provinsi, dan perlindungan terhadap PHK) daripada sektor pertanian kemungkinan menjadi elemen krusial yang membuat sektor industri lebih mampu daripada sektor pertanian dalam menekan proporsi kemiskinan.

Sayangnya, sebagaimana dilaporkan BPS, secara q on q, sektor industri termasuk salah satu sektor yang pada kuartal I/2011 mengalami pertumbuhan negatif (-1,2%). Dalam kaitan dengan sektor pertanian, walaupun kemampuan sektor ini dalam menekan angka kemiskinan tidak setinggi seperti sektor industri, tidak bisa diterjemahkan bahwa upaya pengembangan sektor pertanian tidak perlu mendapat prioritas. Sebaliknya, pembangunan sektor ini perlu mendapat perhatian penting, tidak hanya karena sektor pertanian mampu menciptakan kesempatan kerja yang lebih besar dibandingkan dengan sektorsektor ekonomi lainnya, tetapi juga proporsi terbesar dari penduduk miskin banyak yang bekerja di sektor ini (63,6% dari total orang miskin).

Apabila sektor pertanian tumbuh dan berkembang, diharapkan akan berdampak secara positif terhadap pengurangan angka kemiskinan di sektor ini. Mengacu pada hasil simulasi, sinkronisasi dan integrasi di antara sektor industri dan sektor pertanian harus kuat mewarnai karakter pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Dalam konteks ini, pengembangan agricultural based industries menjadi salah satu cara untuk merealisasikan integrasi di antara sektor industri dan pertanian. Penting untuk dikemukakan bahwa selain diharapkan mampu menjadi perekat di antara pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan serta pengangguran, pengembangan agricultural based industries juga menyediakan beragam manfaat bagi perekonomian Indonesia.

Pengembangan agricultural based industries memungkinkan negeri ini memanfaatkan secara optimal sumber daya pertanian yang dimilikinya. Dengan demikian,Indonesia akan bisa menikmati manfaat dari proses nilai tambah dan mengurangi ketergantungan industri di negeri ini terhadap bahan baku impor. Pada gilirannya, pengurangan ketergantungan industri di Indonesia terhadap bahan baku impor akan bermanfaat terhadap upaya penghematan penggunaan cadangan devisa.●

LATIF ADAM
Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi (P2E)-LIPI

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/399649/
Share this article :

0 komentar: