BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Lho, Emangnya Haram Gunakan Kata-kata Itu...

Lho, Emangnya Haram Gunakan Kata-kata Itu...

Written By gusdurian on Senin, 11 April 2011 | 15.14

WAWANCARA



TIFATUL SEMBIRING


RMOL. Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dinilai bertindak seperti Anak Baru Gede (ABG). Sebab, dalam twitternya menulis dengan gaya ‘alay’.

Gaya menulis ‘alay’ yakni kom­binasi huruf dan angka yang selama ini digemari ABG. Tapi pekan lalu, bekas Presiden PKS ikut ‘ngalay’. Inilah yang bikin santer dunia maya, dan menjadi tren­ding topic di twitter.

Menanggapi hal itu, Tifatul Sembiring mengaku, tidak ada motif apa pun di balik twit alay­nya yang diposting, Senin (28/3) sekitar pukul 20.19 WIB itu.

“Masalah ‘alay’ itu begini, kami kan ada riset tentang peng­guna internet. Menurut riset ter­sebut, 20 persen pengguna inter­net adalah penggemar sepakbola, dan 30 persennya adalah ‘alay’. Karena itu, saya coba membuat tulisan dalam bahasa seperti itu. Kemudian ditanggapi banyak orang,” ujar Tifatul kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, status alay @tifsembiring yakni, JAn64n 4d4 Du5t4 d14ntar4 K1ta. k4L4u b3nC1, b1l4ng b3nC1. k4l4U CiNt4, b1l4Ng C1Nt4. J4N64n B1ArK4n hat1mu tertU5uK 53mB1lu... hE3x.

Tifatul selanjutnya menegas­kan, selain ingin memahami para pengguna sosial media, tidak ada motif lain dalam tulisan tersebut.

“Pengguna sosial media kan di Indonesia tinggi, di atas 30 juta. Itu hal yang harus kita fahami. Kita kan tidak dapat membatasi hak orang untuk berkomunikasi,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Gaya ‘alay’ dinilai tidak pan­tas dilakukan seorang men­teri, ba­gai­mana tanggapan Anda?
Lho, memangnya haram atau melanggar hukum, kan tidak. Saya juga tidak setiap hari menge­­luarkan hal-hal seperti itu. Saya hanya ingin melihat suasa­nanya seperti apa sih di twitter. Ya, coba saya keluarkan bahasa alay, dan memang 64 persen pengguna twitter, menurut sebuah riset adalah anak-anak ABG. Jadi, hal itu harus kita fahami. Toh, bahasanya juga seperti itu, tidak ada hal-hal yang krusial.

Targetnya apa?
Cuma ingin memahami saja. Seperti yang saya katakan tadi, ada survei seperti ini, dan saya mencoba menulis kalimat seperti ini, ternyata tanggapannya ba­nyak. Bukankah, jika kita ingin masuk ke sebuah lingkungan, kita kan harus terlebih dahulu menge­nali lingkungan tersebut.

Selain itu, twitter juga bagian dari teknologi IT yang harus saya fahami luar dan dalamnya. Ja­ngan sampai, saya ditanya orang, Pak Tifatul bagaimana tentang twitter, terus saya bingung dan mengata­kan, twitter itu jenis makan apa ya. Kan saya nggak boleh begitu.

Dengan memahami perangkat tersebut, saya dapat menjelaskan twitter itu adalah suatu mikro blok yang bisa digunakan untuk komunikasi, atau biasa disebut sosial media.

Artinya, Anda ingin meng­kampanyekan media tersebut?
Bukan, ini bukan kampanye untuk menggunakan peralatan tersebut. Tiba-tiba peralatan ini hadir, kemudian digunakan ba­nyak orang, ya kita harus meng­gunakan peralatan itu untuk mengetahuinya, ada apa ini.

Kalau alat ini harus digunakan untuk kepentingan hubungan-hubungan sosial, ya kita jangan justru merusak hubungan sosial dengan alat tersebut. Ini kan ko­munikasi sosial, dan komunikasi itu penting untuk menjaga hu­bungan satu sama lain. Jadi, gunakan bahasa-bahasa yang sopan. Kita kan orang timur.

Apa yang Anda harapkan dari para pengguna media ter­sebut?
Saya berharap, masyarakat menggunakan media itu untuk hal-hal positif, untuk berkomuni­kasi. Tidak menggunakan ba­hasa-bahasa yang memaki. Biar pun bahasanya ditulis dengan terang-benderang, tidak ‘alay’ tapi kalau memaki, ya nggak benar juga.

Di sana orang bebas berbicara, nggak ada Presiden atau Perdana Menteri twitter, semuanya sejajar. Meski demikian, kita harus ber­tanggung jawab atas tulisan yang kita buat, melanggar hukum nggak, melanggar agama nggak. Kan jadi enak komunikasi sama orang.

Jadi, perlu pembatasan?
Menurut saya, tidak perlu di­batasi. Yang saya sampaikan tadi hanya sekadar imbauan.

Bagaimana dengan usulan agar BIN mengawasi pengguna akun jejaring sosial facebook dan twitter untuk keamanan nasional?
Nggak apa-apa. Itu kan ter­buka, siapa saja bisa mengawasi twitter dan facebook. Saya saja diawasi terus, apalagi yang lain. Masa nggak boleh diawasi sih.

Maksud diawasi adalah status pengguna twitter dan facebook karena dibaca siapa saja. Saya juga dari dulu mantau twitter dan facebook, nggak usah diperintah. Masa’ harus diperintah kita main twitter dan facebook. [RM]

http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=23565
Share this article :

0 komentar: