BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Gereja sebagai Tertuduh: Pusat Kristenisasi

Gereja sebagai Tertuduh: Pusat Kristenisasi

Written By gusdurian on Selasa, 29 Maret 2011 | 12.29

oleh Ade Armando


Penolakan terhadap pembangunan gereja terus berlangsung. Kepastian hukum tak dipedulikan. Semua mungkin bermula dari kebencian dan kecurigaan.

Kasus terakhir yang memperoleh perhatian media adalah penyegelan gereja GKI di Taman Yasmin Bogor. Kasus ini mengemuka mengingat jemaat gereja tersebut itu sudah menjalani segenap proses yang dibutuhkan untuk memperoleh kepastian hukum bagi pembangunan rumah ibadat mereka. Bahkan Mahkamah Agung sudah menyatakan bahwa mereka berhak mendirikan gereja di wilayah itu. Dan toh, Walikota Bogor mengabaikan begitu saja keputusan hukum yang seharusnya mengikat itu dengan tetap membekukan IMB dan menyegel gereja tersebut.

Sang Walikota berkukuh bahwa proses perolehan IMB bagi pembangunan gereja tersebut cacat hukum. Sang Walikota juga menyatakan ia memutuskan untuk menghentikan pembangunannya untuk meredam keresahan warga.

Contoh ini menjelaskan betapa seriusnya tekanan yang diberikan kelompok-kelompok Muslim konservatif untuk menghambat pembangunan gereja.

Dan ini mengherankan karena umat Islam selalu mengatakan bahwa dalam Islam ada prinsip menghormati keyakinan umat beragama lain. Ayat yang sangat terkenal berbunyi: "Bagiku, agamaku; Bagimu, agamamu." Prinsip sederhananya: “Kalaupun kita berbeda, marilah kita tak saling mengganggu dalam hal keyakinan."

Lantas, mengapa umat Islam nampak begitu saja mengabaikan ajaran yang sedemikian luhur?

Jawabannya, nampaknya karena ada pihak-pihak yang dengan sengaja menyebarkan gagasan bahwa gereja bukanlah sekadar tempat ibadat. Dalam skema ini, gereja dituduh sebagai tempat pemurtadan umat Islam agar meninggalkan agamanya untuk menjadi penganut Kristen. Dan mengingat –menurut kalangan konservatif ini– murtad adalah sebuah bentuk kejahatan yang pantas mendapat hukuman mati, maka pihak yang mendorong orang menjadi murtad, harus pula dibasmi.

Argumen semacam ini bisa dibaca dalam berbagai penerbitan dan media online yang membawa suara kubu Islam konservatif, seperti: Suara Islam, Voice of Al Islam atau Hidayatullah. Salah satu tokoh yang berpengaruh dari kubu itu adalah Adian Husaini, yang memperoleh gelar doktor dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam dari Istac, International Islamic University, Malaysia. Setiap Minggu ia menulis Catatan Akhir Pekan untuk Radio Dakta di Jakarta dan website Hidayatullah.

Sekitar 11 tahun lalu Adian menulis buku berjudul, "Gereja-gereja Dibakar: Membedah Akar Konflik SARA di Indonesia." Buku itu ditulis untuk menjelaskan latar belakang pembakaran sejumlah gereja yang dalam beberapa tahun semenjak menjelang jatuhnya Soeharto meningkat. Akar masalah yang ditunjuk Adian adalah Kristenisasi.

Menurutnya, Kristenisasi merupakan musuh utama umat Islam di Indonesia. Kristenisasi adalah bagian dari kolonialisme Barat untuk mencengkeramkan kukunya di dunia Islam. Upaya mengkristenkan rakyat Indonesia sudah dilakukan sejak jaman penjajahan Belanda, dilanjutkan di masa kemerdekaan dan Orde Baru, dan masih berlanjut sampai sekarang. Bagi Adian, umat Islam harus bersatu dalam mencegah kemungkaran yang dibawa para pemuka Kristen. Dalam konteks peperangan melawan Kristenisasi itulah, gereja-gereja dibakar.

Sampai saat ini, argumen Adian nampaknya tidak berubah. Tokoh yang ironisnya duduk sebagai Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini secara konsisten menempatkan Kristen sebagai sumber masalah dalam soal kerukunan umat beragama di Indonesia.

Tulisan lengkapnya bisa diakses di

http://www.madina-online.net/index.php/editorial/907-editorial/354-gereja-sebagai-tertuduh-pusat-kristenisasi
Share this article :

0 komentar: