BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Bencana Jurnalisme dan Jurnalisme Bencana

Bencana Jurnalisme dan Jurnalisme Bencana

Written By gusdurian on Sabtu, 30 Oktober 2010 | 10.05

Ketika bencana kembali melanda, sekali lagi kita disuguhkan
gambaran seronok jurnalisme yang anti nilai-nilai kemanusiaan.

Sesak rasanya hati ketika melihat kita tidak pernah belajar
dari pengalaman bencana yang sebelumnya dan berupaya mengurangi
persoalan-persoalan tinggalan yang justru ditinggalkan oleh
perilaku media yang tidak santun.

Pertama adalah ketika peliputan jurnalisme berbasis rating AC
Nielsen menjadi tujuan utama dari pelaku media. Akibatnya,
terjadi sebuah pertunjukkan anti kemanusiaan ketika justru yang
ditunjukkan peliputan media yang bertentangan dengan
nilai-nilai "code of conduct" kemanusiaan. Hati ini, sedih
melihat ketika stasiun TV berlomba menunjukkan mayat-mayat
dengan "telanjang" tanpa sensor yang sangat tidak menghargai
nilai kemanusiaan sang jazad yang telah tidak dapat berbuat
apa-apa. Puncaknya adalah ketika evakuasi Mbah Maridjan, dengan
sangat tidak bermartabat, mempertontonkan tubuhnya yang sudah
dimuliakan oleh Sang Mahakuasa menjadi komoditas pendongkrak
rating media yang ujung-ujungnya hanya berorientasi pada
keuntungan semata.

Satu hal lagi, upaya-upaya media untuk Resource Mobilization
kembali semarak dengan adanya bencana, Ini gejala yang tak
berkesudahan dengan indikasi pencarian untung yang minim atau
bahkan nihil nilai-nilai kemanusiaan. Berbagai media
mempertunjukkan strategi filantrofis yang masih dipertanyakan
apakah memang berpihak pada komunitas terdampak (baca: korban)
bencana, atau sekedar kembali menaikkan leverage
"akuntabilitas" peduli kemanusiaan yang outcomenya bersambut
dengan puja-puji terhadap stasiun TV atau Media yang
bersangkutan. Nilai-nilai filantrofis harus diusung dan
diperkuat, namun ketika media mangatasnamakan PENCARI DANA,
PEMBERI DANA, IMPLEMENTOR, yang berperan dari hulu ke hilir,
sehingga semua "Credit point" diambil untuk kepentingan "SOCIAL
PROFIT" dan bahkan berindikasi "EASY CASH" untuk media-media
tersebut. Yang hadir adalah uang pemirsa, dan pembaca tidak
jarang sulit dibedakan dengan uang pemilik media atau program
"CSR" yang bersangkutan.

Kemudian sebuah lagi indikasi yang sampai sekarang belum
terjawab, adalah apakah memang semua DANA yang dihimpun dari
masyarakat itu dilaporkan secara transparan dan akuntabel.
Apakah tidak juga terjadi bahwa pembiayaan operasional produksi
pemberitaan juga menjadi "penerima manfaat" dari dana
masyarakat yang terkumpul itu. Memang sampai sekarang belum ada
yang bisa membuktikan indikasi "korupsi" media untuk pembiayaan
dana-dana masyarakat untuk bencana ini, namun dari beberapa
pertemuan masyarakat sipil yang mengundang media, cenderung
media tidak berani untuk hadir. Akibatnya kecurigaan semakin
menggumpal dan transparansi dan akuntabilitas menggantung tanpa
pernah mendapat kepastian.

Melihat Merapi dan Mentawai, adalah melihat Media dan
kemanusiaan. Bencana jangan lagi menjadi komoditas pencarian
profit bagi siapapun juga. Jangan sekali-kali LSM, Pemerintah
dan siapapun menarik keuntungan dari bencana. Kali ini mari
kita berharap agar Media juga tidak mencari keuntungan dalam
bencana. Jangan sampai Jurnalisme Bencana menjadi Bencana
Jurnalisme di tanah air tercinta ini.

Salam duka untuk Mentawai, Merapi dan Media


Victor Rembeth
Pembaca koran, penonton TV dan pelaku PB
Share this article :

0 komentar: