BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Mereka yang Kian Terjepit

Mereka yang Kian Terjepit

Written By gusdurian on Rabu, 14 April 2010 | 13.16

Oleh Doty Damayanti

Rudi Djunaedi (38), pemilik usaha konfeksi rumahan di belakang Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, sudah dua bulan ini pusing. Tagihan ke toko tempat ia menitipkan pakaian anak-anak jumlahnya sudah Rp 27 juta.

Yang punya toko bilang pembeli sepi, terutama dari daerah. Jumlahnya berkurang jauh,” kata ayah dua anak itu, akhir Maret, seraya menunjukkan dua lembar bon tagihan. Ia tinggal di rumah kontrakan sekaligus tempat usaha konfeksinya di permukiman padat di Kelurahan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Pemilik toko menawarkan solusi ”membeli putus” barang Rudi, tetapi harga baju per kodi (isi 20 lembar) dipotong dari Rp 200.000 jadi Rp 150.000. ”Saya enggak mau. Modalnya saja sudah Rp 170.000. Lebih baik bertahan saja,” ungkap Rudi. Dia mengaku lebih memilih berutang ke rentenir untuk membayar upah para penjahit.

Laki-laki asal Padang itu memulai usaha konfeksi pakaian anak-anak dari sisa-sisa bahan garmen pada tahun 2001. Potongan bahan garmen berbagai jenis, ukuran, dan corak itu disambung sedemikian rupa sehingga menghasilkan baju anak yang lucu-lucu.

Bermodal satu mesin jahit seharga Rp 1 juta yang dibayar mencicil tiap bulan, sekarang Rudi mempekerjakan tujuh penjahit. Ia sebenarnya berharap mendapat fasilitas kredit usaha rakyat alias KUR, tetapi informasi mengenai program yang kerap dipidatokan pejabat pemerintah itu sulit didapat.

Apa yang dialami Rudi juga dirasakan Agus Salim (50), pemilik PT Gerimis Garment yang memproduksi celana jins dan kaus. Sebagai pengusaha garmen skala menengah, ia mulai merasakan persaingan dari kehadiran garmen asal China di pasar lokal sejak tahun 2004. Dua tahun terakhir, penurunan permintaan itu semakin memberatkan. Tahun lalu, dari produksi sebanyak 8.000 lusin, yang terserap pasar hanya sekitar 2.000 lusin. Padahal, selain biaya operasional, ia juga harus membayar cicilan pinjaman ke bank. Puncaknya, sejak pertengahan tahun lalu ia tekor Rp 40 juta sampai Rp 80 juta per bulan.

Awal 2010, Agus memutuskan menutup satu pabriknya yang memiliki 250 pekerja. ”Sulit bersaing dengan produk China. Untuk kualitas sama, harga produksi mereka bisa lebih murah 30 persen dibandingkan barang lokal,” ujarnya.

Kalah bersaing

Rudi dan Agus adalah bagian dari ribuan pelaku industri usaha pakaian jadi yang yang terkena dampak negatif kesepakatan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China. Pemerintah telah mengidentifikasi industri tekstil dan produk tekstil sebagai yang paling sulit bersaing dengan produk China, terutama untuk jenis yang diproduksi dalam volume besar dan harga murah. Mereka yang punya akses informasi, teknologi, dan akses permodalan sejak beberapa tahun lalu mengganti produknya ke kelas menengah atau berganti usaha sama sekali.

”Bagaimana sanggup bersaing jika kapas untuk bahan baku diimpor dari China. Di sini pelaku usaha dicekik bunga kredit 14 persen, sedangkan pengusaha China menikmati bunga kredit 5-6 persen,” kata Haji Mawi, pemilik Toko Ega Citra di Blok F, Pusat Grosir Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Mawi semula menjual celana jins dan pakaian Muslim konfeksi sendiri. Namun, sejak tahun 2000 usaha itu semakin sulit bersaing dengan produk berbahan impor dari China. Banyak pelanggan di daerah beralih ke pedagang grosir lain yang bisa memberi harga lebih murah.

”Tahun 2007, semakin banyak distributor produk China menawari memesan langsung ke mereka. Akhirnya saya pun pesan langsung ke pabrik mereka di Huang Ming,” kata Mawi.

Pasar Cipulir, Pasar Tanah Abang, Pasar Jatinegara, dan Pasar Pagi Mangga Dua merupakan pusat grosir garmen yang memasok keperluan konsumen di sekitar Jakarta dan hampir seluruh wilayah Indonesia. Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mencatat, sejak dua bulan terakhir ada penurunan permintaan dari pembeli di daerah.

”Penurunannya hampir 50 persen,” kata Ketua APPSI Hasan Basri.

Ia menengarai distributor barang-barang China semakin leluasa bergerak langsung ke daerah sejak perjanjian kerja sama perdagangan yang memangkas bea masuk resmi per 1 Januari lalu. Saat ini produk China menguasai hampir semua pasar grosir utama di Jakarta.

Di Pusat Grosir Tanah Abang, sekitar 70 persen produk tekstil, mulai dari pakaian anak sampai busana Muslim, berasal dari China. Di Pasar Jatinegara, yang dikenal sebagai pusat aksesori, sekitar 75 persen barang dari China. ”Di Pasar Pagi Mangga Dua, sekitar 80 persen barangnya buatan China,” kata Hasan.

Ia mengaku gemas dengan sikap pemerintah yang hanya bicara normatif. ”Terus terang, kami pesimistis ketika yang dihadapi adalah negara China yang kompak: ya pemerintahnya, ya perbankannya, ya pengusahanya,” kata Hasan.

Sebagai Ketua APPSI, Hasan berharap pejabat pemerintah tidak melihat persoalan dari belakang meja, tetapi melihat kondisi sebenarnya di lapangan.

”Sekarang semua menteri kelihatannya mencari pembenaran bahwa perjanjian perdagangan bebas ini membuka kesempatan. Coba tengok di lapangan. Nyatanya bukan hidup, tetapi malah pada mati,” kata Hasan.

Kini rakyat menunggu janji pemerintah bahwa ACFTA akan menguntungkan rakyat secara merata, adil, dan sejahtera.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/09/05330782/mereka.yang.kian.terjepit
Share this article :

0 komentar: