BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Kontemplasi Spiritualitas

Kontemplasi Spiritualitas

Written By gusdurian on Minggu, 20 September 2009 | 11.52

Toleransi
Kontemplasi Spiritualitas



Data Buku

• Judul Buku: Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna
• Penulis: J Sumardianta
• Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
• Cetakan: I, April 2009
• Tebal: xv + 188 halaman toleransi

Oleh *Anwar Holid*

Penulis buku ini dikenal sebagai salah satu peresensi buku yang baik.
Kemampuannya menemukan esensi buku dan maksud penulis sungguh baik, juga
kuat dalam menafsirkan signifikansi buku. Kekhasan cara bertutur,
pilihan diksi, serta kesukaan pada buku beraroma agama dan spiritualisme
membuatnya menonjol.

Tulang punggung Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna
ialah berupa pustaka yang kuat. Isinya hampir 100 persen berbasis buku,
terutama yang awalnya merupakan resensi. Hanya saja kemudian penulis
buku ini, J Sumardianta, membongkar naskah ini sedemikian rupa hingga
kesan resensinya lenyap, menyisakan pergumulan manusia dengan drama
kehidupannya, terutama demi memuliakan diri dan menemukan nilai yang
paling berharga, yaitu spiritualitas.

Singkatnya, buku ini berisi kontemplasi perihal masalah sederhana yang
berdampak luar bisa dalam hidup tokoh-tokohnya. Upaya ini relatif
berhasil, tetapi mempertaruhkan kepaduan isi buku. Boleh dibilang,
taktik Sumardianta memang cerdas, tetapi belum terbilang sangat sukses.

*Kisah inspiratif*

Membaca buku ini, dari bab ke bab pembaca akan bertemu dengan puluhan
insan bersama pergumulan hidupnya yang dramatik. Insan itu bisa tokoh
dalam buku, jurnalis, pengusaha pers, penerjemah, penyair, rohaniwan,
tukang becak, pedagang kecil, atau guru seperti penulisnya sendiri.
Kesan umum pergumulan itu ialah betapa spiritualitas merupakan hal
esensial dan melekat dalam kehidupan manusia, menjadi persoalan
sehari-hari. Ini membuktikan bahwa manusia rindu akan kasih Tuhan.
Biasanya, spiritualitas baru bangkit setelah manusia ada di ambang
kematian, dihajar derita luar biasa, didera kemiskinan di luar batas
nalar, atau merupakan konsekuensi logis dari hasil perjalanan dan
renungan mengarungi hidup yang sarat dinamika.

Dengan begitu, meski bentuknya bisa sangat kontras, pengalaman rohani
seorang eksekutif kaya raya dengan tukang becak melarat pun kualitasnya
sama. Mereka sama-sama merasa dekat dengan Tuhan dan Tuhan menjadi
sangat bermakna. Hal yang berbeda dari mereka hanya fenomena dan dampaknya.

Karena subyeknya mengenai kedalaman maupun pengalaman spiritual, apa
buku ini terkesan datar? Bagi sebagian orang mungkin iya. Namun, bagi
mereka yang haus kebajikan dan hikmah, condong pada iman, mencari-cari
kebahagiaan, buku ini justru merupakan appetizer yang dahsyat, membuat
ketagihan, sebab contoh orang yang akhirnya takluk kepada Tuhan ada di
seluruh halaman.

Sebagian pembaca mungkin akan lebih memilih satu buku utuh berisi
pergulatan hidup dan iman seseorang daripada buku berisi kisah-kisah
singkat pengalaman rohani. Karena pada dasarnya pengalaman rohani butuh
intensitas yang jauh lebih dalam. Di lihat dari sisi itu, Simply Amazing
menjadi terkesan hanya di permukaan. Namun, nyatanya berhasil
menggambarkan kondisi dengan baik. Sumardianta berhasil dengan jeli
memastikan kenapa dan kapan momen-momen spiritualitas seseorang bisa
tumbuh (mengalami epifani), lantas membentuk karakter orang tersebut
secara permanen. Pengalaman spiritual bukan hanya monopoli orang
beragama, melainkan bisa juga terjadi pada orang yang awalnya ateis atau
beralih iman. Spiritualitas itu berbeda sedikit dengan religiusitas
(keagamaan), ia membutuhkan intensitas penghayatan yang lebih besar
dengan kehidupan manusia dan Tuhan.

Meski bungkus utama buku ini spiritualitas, tiga bagiannya menekankan
nuansa berbeda-beda. Pertama, mengajak pembaca menyelami pengalaman
spiritual sejumlah orang terpilih. Kedua, merasakan pentingnya hidup
bersahaja dan tetap tenang meski perjalanan bisa sangat terjal dan penuh
halangan. Ketiga, cara berselancar begitu mengetahui ombak besar
kehidupan bakal datang.

*Mengajarkan toleransi*

Komentar Darmaningtyas, seorang tokoh pendidikan, dengan tepat
memosisikan Simply Amazing: ”Buku ini bikin pembaca kesengsem. Bahasanya
sangat memikat, judul-judulnya unik. Pilihan diksinya tidak lazim.
Kisah-kisahnya menggetarkan. Penulisnya lihai mengulas keutamaan hidup
bersahaja.”

Buku ini pantas direkomendasikan, baik kepada publik luas sekaligus bisa
menjadi contoh sempurna bagi para calon penulis atau peresensi bagaimana
sebaiknya mengulas buku sekaligus kembali membongkar isinya untuk
keperluan baru. Sumardianta berhasil menghidupkan istilah ”buku beranak
buku”, yaitu buku yang lahir berkat keseriusan penulisnya melahap,
menggumuli, dan mengandung pemikiran dari ratusan buku lain.

Keunggulan lain buku ini ialah memperlihatkan betapa pemahaman
Sumardianta terhadap iman lain—terutama Islam—bagus. Dia mampu menyelami
kedalaman spiritual agama Islam, Buddhisme, maupun Hindu. Hal ini cukup
mengagetkan bagi seorang guru kolese, yang bukan saja begitu akrab
dengan spiritualitas Katolik, melainkan juga sangat jelas komitmen
imannya. Lewat pancaran spiritualitasnya, di buku ini Sumardianta
mengajari kita soal toleransi dan kebajikan yang amat penting agar
terhindar dari bahaya SARA.

Dari segi kepaduan dan penyuntingan, buku ini sedikit membingungkan.
Banyaknya kosakata Jawa, istilah Latin, Italia, dan Inggris tampak malah
berpotensi merepotkan pembaca umum. Karena amat banyak, pembacaan jadi
terhalang dan kurang lancar meski boleh jadi niat penulis ialah
memperlihatkan kekayaan khazanah bahasa serapan Indonesia. Penulis
seakan-akan memaksa pembaca harus membaca istilah asing tersebut meski
sebagian besar sebenarnya bisa dipadankan dengan baik.

Tumpang tindihnya beberapa topik serupa juga kurang berhasil disiangi
editor. Sejumlah hal dengan konteks mirip berulang lagi di tempat lain.
Misal ketika penulis membahas spiritualitas dan ketabahan penduduk Anand
Nagar, kawasan miskin di Calcutta, India, dalam buku The City of Joy
(Dominique Lappiere). Topik ini muncul pada halaman 19 dan 60. Ini
memperlihatkan betapa upaya mengubah naskah sumber butuh kejelian dan
keberanian yang lebih. Salah eja terjadi berkali-kali, semisal
”Nietzche”, mestinya ”Nietzsche”. Juga Amstrong dan Amrstrong, mestinya
”Armstrong”.

Satu hal penting yang dilematik bagi Sumardianta ialah klaim terhadap
karakter umum bangsa Indonesia. Dia mengklaim bahwa kehidupan bangsa
Indonesia sekarang mengidap social distrust (kecurigaan sosial) yang
tinggi dan solidaritasnya rendah (hal xiv). Anehnya, dia sendiri malah
lebih sering menghadirkan contoh orang Indonesia dengan integritas kuat
untuk mengimbangi kemelaratan mental itu. Justru di buku ini tampak
klaimnya otomatis runtuh sendiri sebab betapa orang Indonesia itu masih
berhati mulia, tanpa pamrih, dan punya sifat spiritualitas tinggi
sebagaimana keyakinan kita selama ini. Nilai agung itu belum luntur
sebagai ciri umum bangsa Indonesia.

*Anwar Holid* /Eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung; Bekerja sebagai
Penulis, Editor, dan Publisis
/

/http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/17/02460552/kontemplasi.spiritualitas
/
Share this article :

0 komentar: