BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » *Pelaku Pengeboman WNA*

*Pelaku Pengeboman WNA*

Written By gusdurian on Kamis, 23 Juli 2009 | 12.17

*Pelaku Pengeboman WNA*


[JAKARTA] Dua pria pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz
Carlton, Jumat (17/7) lalu diduga warga negara asing (WNA) yang menyamar
dengan menggunakan KTP palsu. Dugaan itu didasarkan fakta saat
bercakap-cakap dengan petugas di bagian penerimaan tamu di Hotel JW
Marriott, tamu berinisial N yang menginap di kamar 1808, cukup fasih
berbahasa Inggris.

Sumber di Mabes Polri, Kamis (23/7) menuturkan, KTP yang digunakan
beralamat di wilayah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Namun, setelah
ditelusuri ternyata tidak ditemukan warga dengan identitas sebagaimana
tercantum dalam KTP.

Menyusul penegasan Mabes Polri bahwa berdasarkan tes DNA, pelaku
peledakan bukanlah Nur Hasbi alias Nur Said dan Ibrahim, sebagaimana
dugaan selama ini, polisi kini mengembangkan dugaan bahwa keter- libatan
WNA sebagai pelaku bom bunuh diri.

Kecurigaan lain, sumber tersebut menambahkan, jika dicermati rekaman
close circuit television (CCTV), penampilan pelaku tampak canggung
seolah asing dengan lingkungan hotel. Meskipun diduga WNA, penyidik
yakin bahwa pelakunya masih bagian dari jaringan Noordin M Top.

"Noordin M Top sengaja memasang orang asing sebagai pelaku bom bunuh
diri untuk mematahkan atau memutus jaringan tersebut. Sebab, jika
pelakunya WNI, seperti kasus bom bunuh diri selama ini, polisi dengan
mudah mengungkap identitas pelaku, dan mengungkap jaringannya," jelasnya.

Polisi pun menduga, jika benar pelakunya WNA, kemungkinan besar
berkewarganegaraan Malaysia, Thailand, atau Filipina.

Dengan berubahnya fakta di lapangan, upaya polisi mengungkap pelaku
pengeboman seolah kembali ke titik nol. Hal itu setelah pada Rabu
(22/7), Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna,
didampingi Kepala Pusat Kedokteran Mabes Polri Brigjen Pol Edi
Saparwoko, memastikan bahwa berdasarkan tes DNA, bagian potongan kepala
manusia yang ditemukan di lokasi ledakan, tidak cocok dengan DNA yang
diambil dari keluarga Ibrahim dan Nur Hasbi alias Nur Said.

Walaupun demikian, Nanan memastikan bahwa dua kepala tersebut adalah
milik eksekutor karena diperoleh kecocokan dari hasil penyelidikan,
bahwa potongan kepala dan tubuh yang terurai pernah berada di kamar
1808, Hotel JW Marriott, tempat ditemukan bom yang tidak meledak.

Dia menambahkan, tim Laboratorium Forensik Mabes Polri belum bisa
membuka lokasi tempat kejadian perkara (TKP), karena kemungkinan masih
ada korban yang belum ditemukan dan guna mencari barang bukti baru.
Penyisiran masih dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

"Paling lambat hingga lima atau enam hari ke depan hotel masih akan kami
sterilkan. Kemungkinan ditemukan korban yang hilang masih ada," ujar Nanan.

Sementara itu, Ketua Disaster Victim Identification (DVI) Polri, Eddy
Suparwoko, menambahkan, untuk mengungkap jati diri dua kepala tersebut,
pihaknya sangat membutuhkan partisipasi masyarakat melalui laporan dan
aduan.

Dari potongan kepala yang ditemukan di Hotel Ritz Carlton, Eddy
menuturkan, memiliki ciri berjenis kelamin laki-laki, umur 20-40 tahun,
kulit sawo matang, rambut hitam lurus, dan tinggi badan sekitar 165 cm.

Sedangkan potongan kepala yang ditemukan di JW Marriott, berjenis
kelamin laki-laki, umur berkisar 16-17 tahun, berkulit putih, rambut
hitam lurus pendek, tinggi badan 180-190 cm, dan memiliki ukuran sepatu
42-43.

"Walaupun sudah didapatkan ciri khusus, kami belum bisa menentukan
apakah yang bersangkutan berwarga negara Indonesia atau bukan. Kami
masih mendalami penyelidikan dan menunggu laporan masyarakat," ujar Eddy.



SP/Alex Suban

Rumah Ibrahim, perangkai bunga di Hotel Ritz-Carlton, di Jalan Cililitan
Kecil, Kramat Jati, Jakarta Timur, kosong dan berantakan, Rabu (22/7).
Sejak terjadinya Bom Kuningan II, keberadaan Ibrahim tidak diketahui.

Kumpulkan Lurah

Terkait upaya pengungkapan pengeboman di Jakarta dan perburuan Noordin,
Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo, pada Kamis (23/7)
pagi mengumpulkan sekitar 3.000 lurah dan kepala desa se-Jawa Tengah di
Solo. Pada pertemuan itu, Kapolda didampingi Gubernur Jateng Bibit
Waluyo dan Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Haryadi Soetanto.

"Pertemuan tersebut merupakan bentuk antisipasi warga yang difasilitasi
lurah setempat tidak saja sebagai bagian mitra Kamtibmas juga
mengantisipasi ancaman teroris di wilayah Jawa Tengah," kata Alex.

Selain diikuti lurah, menurut informasi, pertemuan itu juga melibatkan,
camat, kapolsek, serta danramil. Mereka akan diminta untuk menghidupkan
pamswakarsa (pengamanan swakarsa) sebagai bagian pencegahan aksi terorisme.

Selain itu, dibagikan pula poster terbaru wajah Noordin M Top. Poster
tersebut sebelumnya sudah disebar di sejumlah pusat keramaian, seperti
pusat perbelanjaan, terminal bus, dan stasiun KA. Dalam poster tersebut,
Noordin tidak lagi berjenggot. Selain itu rambutnya juga agak sedikit ikal.

Sementara itu, Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri, pada Rabu
telah menangkap beberapa orang di Lampung dan Kalimantan. Mereka
ditangkap karena diduga mengetahui seluk beluk dan pelarian Noordin M Top.

Secara terpisah, pada Selasa (21/7) lalu, polisi juga telah menggerebek
rumah Ibrahim, karyawan penata bunga (florist) di Ritz Carlton, yang
diduga terkait dengan pengeboman. Penggerebekan yang sempat menggegerkan
warga sekitar itu hanya mendapati rumah yang kosong, karena sudah
ditinggalkan pemiliknya lima tahun lalu akibat banjir besar.

Kendati demikian, di lantai dua rumah milik orangtua Ibrahim tersebut,
ditemukan kaus bertuliskan Hotel The Ritz Carlton yang diikat pada
dinding dengan menggunakan tali plastik. Pada dinding tembok terdapat
bekas coretan yang bergambar seperti menara tinggi dengan api yang
membakarnya.

Mundari, warga di sekitar tempat itu menuturkan, Ibrahim dan
saudara-saudaranya menghabiskan masa kecil hingga remaja di rumah
orangtuanya, bernama H Rodin Rajak Djafar. Mereka dikenal mudah bergaul
dan taat beribadah serta rajin membaca buku.

Rumah tersebut kosong setelah dilanda banjir dan orangtua mereka
meninggal dunia. Apalagi setelah Ibrahim dan saudara-saudaranya berumah
tangga.

Menyikapi aksi bom bunuh diri pekan lalu, mantan petinggi Jamaah
Islamiyah, Abu Rusdan meskipun tidak ada pernyataan tujuan peledakan
terhadap kedua hotel mewah itu, namun pesan yang disampaikan pelaku
sebenarnya sudah jelas, yakni melawan Amerika Serikat.
[G-5/YRS/IMR/U-5/B-15]

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=9353
Share this article :

0 komentar: