BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Golput Bukan Pilihan Cerdas

Golput Bukan Pilihan Cerdas

Written By gusdurian on Sabtu, 21 Maret 2009 | 14.26

Golput Bukan Pilihan Cerdas

Banyak peneliti ataupun lembaga survei yang telah mempublikasikan hasil riset tentang golput dengan beragam alasan yang dikemukakan. Sikap pro dan kontra pun bermunculan seiring dengan benturan kepentingan masing-masing. Megawati pernah mengemukakan bahwa golput bukan WNI dan tak layak tinggal di Indonesia, sedangkan Gus Dur mengkampanyekan golput setelah partainya "kalah" di depan hukum.

Tingginya angka golput yang diperkirakan akan meningkat memang cukup mengkhawatirkan. Beberapa pihak berupaya mencoba meminimalkannya, di antaranya merasa perlu dan mendorong untuk dimunculkannya "fatwa haram". Golput merupakan pilihan yang kurang baik, meski merupakan suatu pilihan. Sebab, pemilu itu sendiri bertujuan memilih calon pemimpin bagi umat.

Mengklaim golput sebagai pemenang memang masuk akal bila hanya ditinjau dari segi persentase suara. Tapi menjadi tidak masuk akal karena golput (dengan alasan apa pun) tidak bisa mewakilkan anggotanya baik di eksekutif maupun legislatif. Apalagi bila mereka mengklaim pemerintahan yang terbentuk menjadi illegitimate. Jadi layakkah golput disebut pemenang?

Benarkah mereka pemilih kritis/cerdas? Sayangnya, analisis dari kesimpulan itu tidak berlanjut. Golput, karena merasa kepentingan pribadinya "dirampas", kritiskah mereka? Golput, karena "menganggap" semua partai jelek, kritiskah mereka? Golput, karena ikut-ikutan "biar" dianggap sebagai orang kritis, kritiskah mereka? Atau bahkan karena "saya kan tidak berdosa kalau nantinya negara makin hancur, karena saya tidak memilih mereka alias golput".

Pemilih yang kritis adalah pemilih yang sadar akan eksistensi dan kedaulatan negara yang karena itu memilih menjadi bagian kewajibannya sebagai warga. Bahwa negara harus memiliki pemerintah yang didukung penuh rakyatnya. Bahwa setiap warga negara mempunyai rasa optimisme, nasionalisme, dan andil membangun negara. Mereka tidak putus asa, karena harapan itu masih ada. Perlawanan demokratik terhadap golput harus dilakukan dengan gerakan sadar memilih. Tidak memilih dalam pemilu adalah hak, meskipun tidak baik bagi demokrasi.

Siti Umiyati
Jalan Raya Wangun Tajur
Ciawi, Bogor

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/20/Opini/krn.20090320.160068.id.html
Share this article :

0 komentar: