BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Mungkinkah Kredit Bank Ditingkatkan

Mungkinkah Kredit Bank Ditingkatkan

Written By gusdurian on Selasa, 20 Januari 2009 | 12.26

Mungkinkah Kredit Bank Ditingkatkan

Bank Indonesia cepat merespons imbauan berbagai kalangan untuk menurunkan kembali sukubunga acuan ( BI rate ) agar likuiditas lebih longgar dan bunga bank tak terlampau tinggi. Rabu lalu BI rate dipangkas 50 basis poin sehingga menjadi 8,75 persen. Penurunan yang cukup signifikan karena biasanya hanya 25 basis poin. Kondisi moneter dianggap sudah cukup kondusif terutama dengan melemahnya laju inflasi di samping stabilitas nilai tukar rupiah. Oleh karena itu BI berani melakukan kebijakan yang sudah lama ditunggu. Permasalahannya, mampukah kebijakan tersebut segera mendorong peningkatan kredit bank?

Kalau tidak akan kecil sekali manfaatnya. Sebab yang terpenting adalah peningkatan kinerja perbankan khususnya dalam penyaluran kredit. Pertumbuhan ekonomi 2009 yang diharapkan minimal sebesar 4,5 persen bisa dicapai dengan adanya investasi baru dan gerak sektor riil. Dan kesemuanya itu membutuhkan dukungan perbankan. Stimulus moneter baru akan berdampak manakala dunia usaha segera memanfaatkan kredit. Sayangnya banyak pengamat memperkirakan respons berupa penurunan bunga dan peningkatan kredit masih lamban disebabkan oleh persoalan internal perbankan maupun kondisi bisnis pada umumnya.

Perbankan akan terkena dampak krisis keuangan global pada tahun ini berupa penyusutan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) dan peningkatan kredit macet ( Non Performing Loan/NPL). Posisi CAR akan menurun dari 16 persen menjadi 14,3 persen sedangkan NPL dari 4 persen naik menjadi 5 persen. Di samping itu masih banyak dana mahal yang mengendap di perbankan sehingga penurunan bunga kredit tak bisa otomatis dilakukan. Bahkan karena kondisi eksternal yang dianggap belum kondusif maka perbankan masih lebih senang menyimpan dananya dalam bentuk Sertifikat BI.
Padahal kalau kita mengharapkan pertumbuhan ekonomi tahun ini mendekati 5 persen maka setidaknya kredit bank harus tumbuh 20 persen atau kira-kira ada kucuran kredit baru sebesar Rp 250 triliun. Justru itulah yang membuat tanda tanya dan memunculkan pesimisme mengingat sekarang ini justru sedang terjadi stagnasi dalam penyaluran kredit. Bulan November dan Desember lalu relatif tidak ada lagi penyaluran kredit dalam jumlah besar. Ditambah lagi persoalan likuiditas antarbank yang mengkhawatirkan karena penumpukan dana terjadi hanya pada bank-bank besar. Maka stimulus moneter tak bisa efektif dalam waktu cepat.

Yang lebih mungkin adalah menggerakkan lagi kredit konsumtif yang selama ini memang menjadi penopang utama di saat krisis ataupun ketidakpastian ekonomi. Kredit untuk perumahan, otomotif, elektronik dan lain-lain belakangan cenderung lesu karena bunga bank yang sangat tinggi. Jadi kalau secara perlahan bunganya diturunkan bisa diharapkan terjadi lagi peningkatan permintaan produk-produk yang sebagian besar transaksinya menggunakan kredit bank tersebut. Sektor-sektor konsumtif tersebut tetap penting dalam kaitan menjaga potensi pasar domestik dan sekaligus terkait dengan penyerapan tenaga kerja.

Sebaiknya kita tak terlalu skeptis terutama ketika menyambut berbagai jurus yang dikeluarkan otoritas moneter dan pemerintah. Betapapun tidak akan langsung memberi dampak positif, kebijakan stimulus dan penurunan sukubunga acuan BI tersebut memang diharapkan secara bertahap bisa mengatasi permasalahan yang masih membelenggu perekonomian. Bisa jadi BI rate bisa lebih rendah lagi dan dengan demikian pengaruhnya bisa lebih signifikan. Bahwa gerak perekonomian secara keseluruhan tahun ini akan melamban sudah kita sadari bersama. Yang penting tidak sampai menurun drastis sehingga membawa kesulitan lebh besar.

http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=46564
Share this article :

0 komentar: