BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Mohamad Hasan: Krisis Ekonomi Dunia Karena Orang Semakin Serakah

Mohamad Hasan: Krisis Ekonomi Dunia Karena Orang Semakin Serakah

Written By gusdurian on Sabtu, 31 Januari 2009 | 11.20

Mohamad Hasan:
Krisis Ekonomi Dunia Karena Orang Semakin Serakah

Krisis ekonomi global saat ini memunculkan kekhawatiran banyak pihak. Ada yang menduga, krisis ekonomi --terutama yang dialami Amerika Serikat--bakal berlangsung satu hingga dua tahun. Namun ada pula yang memprediksi akan berlangsung lama, empat hingga lima tahun.

Satu di antara mereka yang memperkirakan krisis ekonomi di Amerika Serikat akan berjalan lama adalah Mohamad Hasan. "Karena borok ekonomi mereka, baru satu atau dua sektor saja yang terkuak. Borok yang lain, di sektor asuransi dan kartu kredit misalnya, dan borok ekonomi yang lain, saya perkirakan akan bermunculan," kata penasihat di sejumlah institusi bisnis yang dikelola anak-anak muda itu.

Berikut perbincangan wartawan Gatra Dwitri Waluyo dengan Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia itu di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Sabtu lalu. Bob Hasan, begitu para koleganya memanggil, tengah berjalan santai bersama beberapa atlet junior. "Mereka anak-anak muda yang potensial yang harus dibimbing dengan baik," kata Bob Hasan seraya menyebutkan slogan: "Atletik yes, smoking no, narkotik no, no, no!" Petikannya:

Apa kesibukan Anda saat ini?
Saya lebih banyak di lapangan. Selain membina para atlet atletik, saya juga butuh memulihkan kesehatan. Saya baru saja dioperasi jantung (bypass) oleh Prof. Munawar dan Dokter Alfaferi Santoso di sebuah rumah sakit di Kampung Melayu, Jakarta.

Kok, orang sekelas Anda berobat di kampung? Kenapa tidak berobat di luar negeri seperti yang lain?
Berobat di luar negeri kan membuang-buang devisa. Kita harus memberi kesempatan dokter, perawat, bekerja. Ahli-ahli kita lebih hebat dari yang di luar negeri.

Dunia sedang dilanda krisis. Menurut Anda, apa yang menjadi sebabnya?
Ini karena orang semakin serakah.

Maksud Anda?
Menurut saya, krisis global saat ini disebabkan oleh ulah nakal para spekulan. Mereka sibuk dengan transaksi derivatif, mengejar untung besar dengan melakukan rekayasa-rekayasa keuangan. Yang mereka perdagangkan hanya impian-impian saja, tidak ada investasi di sektor riil, tidak ada barang yang diproduksi, ya, akhirnya mati.

Menurut Anda, berapa lama krisis ini akan berlangsung?
Menurut saya cukup lama, bisa empat sampai lima tahun.

Kenapa begitu lama?
Sekarang ini kan baru sebagian saja borok ekonomi Amerika yang muncul. Borok-borok ekonomi lain, saya pikir, masih akan bermunculan. Kedua, dulu, di luar negeri, kan kita tahu ada banyak perusahaan blue chips, seperti Lehman Brother. Tapi mereka rugi sangat besar. Sudah hancur. Untuk bisa pulih, jelas butuh waktu lama.

Sementara itu, penyelesaian kasus subprime mortgage juga masih butuh waktu. Belum lagi penyelesaian atas orang-orang yang terkena PHK.

Bagaimana dengan harga minyak?
Harga minyak, menurut saya, masih tetap akan melemah. Ini karena penurunan produksi 1 juta barel yang dilakukan OPEC masih belum seimbang dengan penurunan 2 juta barel konsumsi minyak Amerika Serikat. Jadi, selama produksi masih lebih tinggi dari tingkat konsumsinya, harga masih melemah. Kecuali masih ada masalah keamanan di negeri Afrika, Rusia, dan Timur Tengah.

Bagaimana masa depan industri besar di luar negeri?
Industri besar di luar negeri, apakah di Jerman, Prancis, Inggris, akan mendapat kesulitan. Karena gaji direksi besar, jaminan sosial juga besar. Jadi, hasil operasional perusahaan tidak ngejar biaya-biaya itu.

Untuk menggerakkan roda ekonomi akibat krisis, salah satu cara yang ditempuh Pemerintah Amerika Serikat adalah mem-bailout tiga industri otomotif (GM, Ford, dan Chrysler). Bagaimana pandangan Anda?
Saya tidak setuju industri di-bailout. Pertama, tiga perusahaan otomotif Amerika Serikat itu mengalami kesulitan bukan karena krisis, melainkan karena kesalahan direksi. Mereka telah salah mengurus perusahaan. Ini terlihat dari kompensasi dan bonus mereka yang terlalu tinggi.

Kedua, organisasi buruh industri mobil terlalu kuat. Bargaining power mereka kuat, sehingga sulit menurunkan gaji yang tinggi. Nah, bagaimana mereka bisa survive melawan industri mobil Asia.

Masalahnya, kalau pemerintah membiarkan begitu saja, akan banyak karyawan terkena PHK. Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan?
Di Amerika Serikat, dikenal yang namanya Chapter 11. Jadi, pertama-tama, harus melihat ke Chapter 11. Biarkan saja mereka pailit, baru kemudian diambil alih. Direksi yang tidak becus diganti dan mereka harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Penyimpangan yang ada lalu direvisi agar perusahaan bisa sehat dan efisien.

Melongok ke perekonomian Indonesia, apa pendapat Anda?
Secara fundamental, ekonomi Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lain. Pasar dalam negeri kita yang besar merupakan modal yang sangat baik. Lagi pula, ketergantungan ekonomi kita pada ekspor hanya 30%. Katakanlah, kita tidak bisa ekspor sama sekali, masih ada 235 juta konsumen di dalam negeri yang bisa jadi pasar potensial. Hanya saja, kita harus meningkatkan daya beli masyarakat, terutama di pedesaan.

Sekarang, mari kita lihat indikator-indikator ekonomi yang ada. Semuanya masih dalam angka bagus. Cadangan devisa kita ada di sekitar US$ 50 milyar. Lihat juga neraca berjalan kita masih US$ 10,210 milyar. Bandingkan dengan Inggris yang minus US$ 111,000 milyar atau Amerika yang minus US$ 731,200 milyar. Tetangga kita, Australia, neraca berjalannya juga negatif (minus US$ 50,960 milyar). Dengan sesama negara Asia, seperti Korea Selatan (US$ 3,700 milyar) atau Thailand (US$ 8,169 milyar), jauh di bawah Indonesia. Jadi, kita masih lebih baik.

Menurut Anda, apa yang harus dilakukan masyarakat dan Pemerintah Indonesia agar bisa maju?
Krisis ini menjadi momentum kita untuk melakukan gerakan irit. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Berobat, misalnya, nggak usah ke luar negeri. Saya saja operasi jantung di dalam negeri. Aman juga, kok.

Kedua, di bidang pertanian. Semua bibit pertanian harus dikembangkan di dalam negeri. Transportasi desa diperbaiki, sehingga produk pertanian bisa disalurkan ke kota dengan lancar.

Ketiga, di bidang perikanan. Semua ikan harus diproses di dalam negeri. Ekspor ikan mentah harus dilarang, karena nilai tambahnya kecil. Sementara untuk kapal penangkapan mesti diatur agar awaknya 100% orang Indonesia.

Makan juga cukup yang produksi lokal: ikan bakar, ayam Mbok Berek, soto, gudeg, rawon, pempek, rendang, soto conro, dan lain-lain. Tidak usah makan makanan impor atau makan di restoran franchise asing yang menggunakan bahan-bahan impor. Sebab daging impor yang mengandung hormon bisa menimbulkan penyakit. Demikian juga konsumsi buah-buahan, cukup yang lokal, sebab buah impor yang hasil transgenik bisa berbahaya bagi kesehatan.

Intinya, kita mesti membeli produk yang asal dalam negeri: bibit tanaman, buah-buahan, dan lain-lain.

Bagaimana dengan pariwisata?
Kita ini punya 17.000 pulau. Itu potensi besar yang harus bisa dimanfaatkan untuk industri wisata. Mulai dari pulaunya, laut, pantai, ikan, serta kekayaan yang ada adalah objek wisata menarik. Kita harus meniru Spanyol yang bisa menarik wisatawan asing hingga 60 juta orang per tahun, padahal penduduknya hanya 50 juta. Coba bayangkan, kalau masing-masing wisatawan belanja US$ 1.000, maka sudah ada US$ 60 milyar satu tahun.

Yang kita tahu, kamar hotel di luar negeri minimal US$ 150 per malam. Di Indonesia, tarif hotel kan Rp 500.000. Kalau didolarkan (kurs Rp 9.000-Rp 10.000 per US$), kan kurang dari US$ 50 per malam. Mana ada di luar negeri tarif hotel semurah itu.

Kalau pariwisata berkembang, yang diuntungkan adalah petani dan nelayan. Karena wisatawan itu perlu makan, demikian juga penginapan. Dan kalau mereka membeli cenderamata, maka para perajin akan hidup.

[Laporan Utama, Gatra Nomor 11 Beredar Kamis, 22 Januari 2009]


http://gatra.com/artikel.php?id=122401
Share this article :

0 komentar: