BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Menimbang Kelanjutan Program KUR

Menimbang Kelanjutan Program KUR

Written By gusdurian on Senin, 19 Januari 2009 | 12.02

Menimbang Kelanjutan Program KUR

Oleh Ryan Kiryanto

Melihat Peluang Ekspansi Perbankan

Pemerintah menilai, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) berjalan sukses. Pada tahun ini (2009), pemerintah merencanakan menambah alokasi KUR meskipun melebihi pagu anggaran semula. Bahkan, Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) 2008 sebesar Rp 51,3 triliun juga akan dialokasikan untuk peningkatan usaha mikro dan kecil (UMK).

Penguatan UMK diperlukan di tengah krisis global. Kecenderungan yang terjadi di berbagai negara akhir-akhir ini adalah perlambatan ekonomi global. Kini ancaman krisis mengintai Indonesia. Pemerintah sudah mengingatkan tahun ini tekanan krisis akan makin kuat sehingga dibutuhkan persiapan matang. Sinyalemen itu masuk akal jika menilik target pertumbuhan tahun ini yang hanya 4,5-5 persen.

Perlambatan ekonomi global memberikan dampak langsung ke perekonomian Indonesia. Dalam situasi ini, penurunan kapasitas produksi bakal berujung pada pengurangan karyawan agar dunia usaha bisa bertahan. Meksi pemerintah sudah menyiapkan stimulus fiskal, dengan adanya persyaratan, mustahil semua pelaku usaha dapat menikmti fasilitas stimulus.

Gelombang PHK memang bukan akhir segalanya. Mereka yang terkena PHK mencoba bertahan. Salah satu peluang usaha yang memungkinkan ditekuni adalah sektor informal (grassroot economy) yang bakal menjadi bumper perekonomian nasional.

Pengalaman krisis 1997/1998 membuktikan banyaknya pekerja beralih profesi dari sektor formal ke sektor informal. Dengan modal seadanya dari pesangon, ditambah sedikit simpanan, memungkinkan mereka memulai usaha kecil.

Ketika sistem pembiayaan modern belum menjangkau mereka karena pertimbangan pengalaman usaha belum memadai, pada satu-dua tahun pertama hal itu merupakan proses belajar.

Pengalaman pada awal-awal tahun menjadi tolok ukur apakah jalannya usaha akan berlanjut atau berhenti. Dari rekam jejak itulah, institusi pembiayaan, khususnya perbankan, akan memberikan pertimbangan sebelum menyerahkan bantuan.

Peluang Ekspansi

Mengacu kepada program KUR yang diluncurkan pada November 2007, perbankan berpeluang ekspansi. Program KUR memang didesain sebagai wujud nyata implementasi program Jaring Pengaman Sosial (JPS).

Spirit program KUR ialah memperkuat ekonomi di sektor mikro. Sebab, hampir separo penduduk Indonesia menggantungkan hidup di sektor informal, yakni UMK. Teristimewa, pelaku UMK memiliki daya tahan tinggi terhadap hantaman krisis.

UMK dipilih karena prospeknya cerah dan langkah perbaikan dilakukan untuk mengatasi aturan perbankan yang kaku, terutama soal jaminan, yang kerap kurang bersahabat terhadap mereka karena dinilai tidak bankable.

Penyaluran KUR juga relatif aman karena melibatkan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) yang menjamin 70 persen kredit yang disalurkan.

Pemerintah menunjuk enam bank penyalur KUR, antara lain, BNI, BRI, Bank Mandiri, dan BTN. Bank-bank itu memiliki jaringan luas sehingga tepat menjadi penyalur KUR. Hasilnya cukup impresif, realisasi penyaluran KUR per 31 Desember 2008 mencapai Rp12,456 triliun untuk 1.656.544 debitor dengan rata-rata kredit Rp7,52 juta per debitor. Artinya, bisa diharapkan semakin banyak masyarakat yang akan mampu bertahan dari hantaman krisis berkat perolehan modal bagi usahanya.

Pada 2009 ini, pemerintah mengalokasikan dana Rp 2 triliun untuk menjaminkan kredit yang lebih besar bagi UMK, yakni Rp 20 triliun. Penambahan dana diharapkan dapat meredam efek negatif gelombang PHK. Mereka yang terkena PHK dapat beralih profesi dengan membangun usaha mikro melalui akses KUR.

Bagi perbankan, KUR memberikan dampak positif dari sisi perluasan basis nasabah dan debitor. Pembinaan intensif bertahun-tahun memungkinkan penerima KUR beralih status (naik kelas) menjadi debitor usaha kecil sehingga layak memperoleh fasilitas kredit kecil secara komersial.

Potensi Penerima KUR

Dalam konsep pertumbuhan vertikal, penerima KUR berpotensi menjadi pengusaha kecil, lalu naik kelas menjadi pengusaha menengah, bahkan pengusaha besar. Tentu waktu yang akan membuktikan kelak.

Pembinaan intensif oleh bank bakal menciptakan loyalitas luar biasa dari pengusaha kecil. Mereka tidak akan ''pindah ke lain hati'' kendati diiming-imingi sesuatu untuk berpindah ke bank lain.

Bagi pemerintah, dukungan perbankan menyalurkan KUR membantu penciptaan ketahanan ekonomi dan penguatan fundamental ekonomi. Ancaman gejolak sosial juga dapat dimitigasikan karena mereka yang terkena PHK memperoleh lahan usaha baru.

Dengan demikian, KUR merupakan resep jitu menangkal krisis di sektor mikro sekaligus melengkapi produk-produk kredit skala kecil yang selama ini sulit diakses masyarakat yang tergerak menjadi wirausahawan tangguh.***

Ryan Kiryanto, analis ekonomi dan perbankan di Jakarta

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=46283
Share this article :

0 komentar: