BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » 2009: Masih Tahun Stres

2009: Masih Tahun Stres

Written By gusdurian on Sabtu, 03 Januari 2009 | 11.43

2009: Masih Tahun Stres
Adrianus Meliala
Kriminolog Universitas Indonesia
Bagaimana kita menyebut tahun 2008 yang akan segera kita lalui ini: tahun kegemilangan? Tahun penuh tantangan? Berbeda dengan tahun 2007 yang penuh musibah, tahun 2008 relatif aman dari kejadian-kejadian yang mengindikasikan murka Tuhan. Juga pada tahun ini dunia (begitu pula di Indonesia) tidak memulai konflik baru, walaupun konflik-konflik lokal dan laten tetap saja berlangsung di beberapa belahan dunia yang itu-itu juga.
Dalam kaitan dengan itu, perkenankan penulis mengajukan suatu sebutan bahwa tahun ini adalah tahun stres bagi banyak orang. Dengan kata lain, pada tahun ini banyak muncul stressor (penyebab stres) yang menyebabkan banyak orang bingung, mengalami disorientasi, atau menurun kinerjanya. Itulah tandanya stres menjadi sesuatu yang merugikan (distress), ketimbang menjadi eustress atau yang menyemangatkan dan menggairahkan seseorang.
Beberapa sumber
Terdapat banyak sumber stres yang terjadi tahun ini, sebagai berikut: Pertama, sebagai tahun menjelang Pemilu 2009, banyak yang geregetan, penuh harap, cemas sekaligus tegang. Apa pun yang terjadi di tahun ini terkait dengan pemilu akan amat menentukan hasil tahun depan. Alhasil, pada tahun ini kita pun sudah merasakan masuk dalam suasana pemilu itu sendiri. Calon kuat presiden, misalnya, tentunya tambah stres melihat kandidat penantang yang satu per satu memperlihatkan wajah di tahun ini.
Terkait dengan itu, banyak pihak yang sebal melihat Undang-Undang Pemilu belum kunjung selesai. Atau, melihat kinerja Komisi Pemilihan Umum yang konon membingungkan dan tidak jelas prioritasnya (lebih mementingkan sosialisasi luar negeri ketimbang mengurusi persoalan domestik yang menggunung). Keputusan Mahkamah Konstitusi, yang menetapkan terpilihnya seorang calon legislator berdasarkan suara terbanyak dan bukan nomor urut, bukankah akan kembali membuat pusing banyak orang?

Kedua, kinerja komisioner baru Komisi Pemberantasan Korupsi di bawah pimpinan Antasari Azhar ternyata makin galak saja. KPK pada tahun ini benar-benar bikin banyak pejabat publik tidak bisa lagi tidur nyenyak, mengingat keinginan mempergunakan anggaran belanja secara arbitrer (dengan kata lain, semaunya) tetap saja tinggi. Dewasa ini ada provinsi di mana beberapa wali kotanya telah ada yang menjadi tahanan KPK (serta calon tahanan KPK) plus anggota DPRD dan beberapa pejabat pemda setempat.
Alhasil, tidak hanya mereka yang "kotor" yang stres, mereka yang bersih juga terkena penyakit itu, mengingat selalu mungkin mereka terkena implikasi akibat permainan kotor rekan-rekannya. Ditangkapnya Romli Atmasasmita, pakar korupsi, misalnya, diyakini banyak pihak sebagai akibat tidak langsung dari korupsi Sisminbakum di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dewasa ini.
Ketiga, gonjang-ganjing ekonomi dunia membuat indeks harga saham gabungan turun drastis, demikian pula harga-harga komoditas dunia, termasuk bahan bakar minyak, turun drastis. Tidak hanya pialang, bankir dan pejabat pemerintah juga terpaksa tidak bisa pulang kantor dengan teratur karena harus melakukan rekonsolidasi penerimaan maupun pengeluaran. Juga para investor dan pengusaha.
Menyusul itu, ada berita tentang seorang bapak yang membunuh anak dan istrinya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Konon, sang bapak kalah main saham. Andaikan ada hal-hal lain sejelas ini, kita tentunya juga akan tahun berapa yang mengalami gangguan jantung atau tekanan darahnya naik-turun akibat krisis ekonomi kali ini.
Keempat, pada tahun ini pula berbagai penyakit masyarakat disikat oleh aparat. Judi, premanisme, dan narkoba ramai disikat polisi. Sementara itu, Satuan Polisi Pamong Praja gencar melibas pengemis, penjual minuman keras, pelacur, serta pedagang kaki lima. Tiga hal di atas lebih membuat stres orang-orang dari kalangan menengah dan atas, sedangkan yang nomor empat ini membuat pusing orang-orang kecil.

Sistem menguat
Agak berkaitan dengan penjelasan di atas, dapat pula dikatakan bahwa stres yang banyak muncul dewasa ini diakibatkan sistem yang menguat di mana-mana. Sebagai contoh, sebelumnya banyak pelanggar hukum yang tenang-tenang saja karena hukum masih bisa ditekuk dan aparat tidak berkutik, tapi agak sulit bersikap serupa dewasa ini. Pada masa Soeharto, pemilu hanya "jurdil" dan "luber" dari motonya saja dan bukan dari prakteknya, sedangkan dewasa ini semuanya harus terefleksi secara nyata. Alhasil, ini menjadi sumber stres bagi mereka yang awalnya ingin coba-coba main kayu.
Implikasi dari sistem yang menguat juga terlihat dari keyakinan masyarakat yang tinggi ketika pemerintah mengatakan harga BBM harus dinaikkan, ketika gas tiba-tiba hilang dari pasar karena pasokan terhenti, atau ketika susu impor dari Cina harus disita dan diserahkan kembali ke pemerintah. Masyarakat tampaknya yakin bahwa itulah yang benar. Tetapi, sekaligus itu menumbuhkan permasalahan berupa stres baru terkait dengan keadaan yang berada di luar kendali masyarakat.
Beberapa waktu belakangan ini terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa anak muda. Konon, tindakan nekat itu terkait dengan kenyataan bahwa mereka tidak lulus ujian atau memperoleh nilai buruk. Menyadari bahwa sistem yang ada di lembaga pendidikan tidak memungkinkan mereka mengubah kenyataan, timbullah stres. Sayang sekali, mereka tidak kuat menanggungnya dan memilih langkah fatal.
Ironis, memang. Pada satu ketika kita menginginkan sistem yang kuat di segala bidang guna menjamin kepastian hukum, efisiensi usaha, kelancaran perjalanan, keamanan transportasi, dan sebagainya, tapi pada saat yang lain ada saja pihak yang "menderita" karena selama ini telanjur enak dengan kondisi seperti itu. Bentuk penderitaan yang sudah pasti menghadang adalah munculnya stres yang bisa berkembang menjadi penyakit ataupun sikap-sikap fatalistik.
Bagaimana 2009
Tahun depan diperkirakan akan memunculkan stres baru sebagai ikutan krisis ekonomi yang sekarang mulai memperlihatkan wajahnya. Ketika industri melesu karena tidak ada order dan ribuan orang terpaksa di-PHK, hanya ada stres yang membayangi hari-hari para mantan karyawan tersebut.

Ribuan calon anggota DPR tingkat I dan tingkat II maupun DPD juga akan semakin stres mendekati hari-hari pemilihan umum. Stres akan mencapai puncaknya ketika sudah jelas bahwa hanya ada beberapa ratus orang yang bisa meraih tiket ke Senayan.
Secara sosial, gejolak konsumerisme, gaya hidup dinamis, maupun tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi adalah generator stres yang secara konstan mencengkeram kehidupan orang kota. Pada 2009, hampir tidak mungkin kedua sumber stres ini akan berkurang peranannya. Yang juga menjadi masalah adalah ketahanan orang per orang menghadapi stres yang juga telah jauh berkurang. Ketahanan menghadapi stres umumnya disumbang oleh gaya hidup sehat dan seimbang. Masalahnya, khususnya menyangkut keseimbangan, hidup masyarakat kota sudah jauh dari seimbang. Pergi bekerja pagi hari dan pulang malam hari, tidak pernah berolahraga, dan memakan makanan berkolesterol tinggi adalah gaya hidup yang rentan stres. Alhasil, menghadapi permasalahan yang sedikit saja, masyarakat sudah gampang limbung dan ujung-ujungnya timbul permasalahan baru. *
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/01/02/Opini/krn.20090102.152482.id.html
Share this article :

0 komentar: