BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Mari Alkatiri: Anak Mudanya Xanana Kelompok Paling Korup

Mari Alkatiri: Anak Mudanya Xanana Kelompok Paling Korup

Written By gusdurian on Jumat, 11 Maret 2011 | 11.55

MARI ALKATIRI


RMOL. Bekas Perdana Menteri Timor Leste Mari Alkatiri optimistis partainya, Frente Revolucion·ria do Timor-Leste Independente (Fretilin), akan memenangkan pemilihan umum tahun depan dengan absolute majority.

Muslim berdarah Yaman ini menilai pemerintahan Xanana Gusmao gagal membangun sta­bilitas dan kesejahteraan rakyat.

Pemerintahan Xanana juga gagal melakukan regenerasi poli­tik di Timor Leste, sehingga gene­rasi muda di tubuh pemerin­tahan Xanana menjadi kelompok yang paling korup.

“Saya mengunjungi Timor Leste pada Desember lalu, dan saya melihat Timor Leste kini lebih stabil dan damai. Saya ber­te­rima kasih kepada Fretilin, bukan kepada pemerintah. Sebab, pemerintahan yang korup ini tidak bisa membuat perdamaian dan stabilitas,” ungkap Alkatiri dalam wawancara dengan Rakyat Merdeka akhir pekan lalu.

Berikut petikan wawancara:

Tahun depan, akan ada pe­milihan umum di Timor Leste. Apa rencana Anda? Anda akan mencalonkan diri?
Saya tidak pernah mencalon­kan diri sebagai perdana menteri. Yang mengikuti pemilihan umum adalah partai politik. Nanti (bila menang), partai (Fretilin) yang akan menentukan siapa yang menjadi perdana menteri.

Anda yakin Fretilin menang?
Absolute majority, 50 plus.

Dalam Pemilu 2007 partai Anda menang, tapi Anda akhir­nya kalah karena tidak bisa men­jadi perdana menteri. Apa yang terjadi?
Itu karena ketiadaan etika demo­krasi dan etika politik di kalangan elite (politik). Itu hal biasa yang dapat kita temukan di mana saja, di muka bumi. Se­harus­nya, pemenang pemilu me­mang memiliki hak membentuk pemerintahan.

Apakah ketiadaan etika di ka­langan elite merupakan penye­bab utama terjadinya kudeta di Timor Leste?
Di Timor Leste pernah terjadi dua kudeta secara berturut-turut. Pertama, tahun 2006 (yang me­maksa Mari Alkitiri berhenti, red), dan kedua kudeta setelah pe­milihan umum tahun 2007.

Namun, kudeta kedua saya se­but sebagai kudeta konstitusional, karena aktor utamanya adalah sahabat saya, Xanana Gusmao.

Artinya, hubungan Anda de­ngan Xanana baik-baik saja?
Ya. Itulah sebabnya saya sebut dia sebagai sahabat saya. (Mari Alkatiri tertawa)

Anda pernah menang pemili­han umum tapi gagal memim­pin pemerintahan. Apakah Anda ti­dak khawatir hal serupa akan teru­lang lagi?
Itulah sebabnya kami bekerja keras untuk mendapatkan keme­nangan absolut, seperti yang kami peroleh di tahun 2001. Saat itu, dari 88 kursi di parlemen kami memiliki 57 kursi. Semen­tara sekarang, dari 65 kursi di par­lemen, kami memiliki 21 kursi.

Apa yang akan Anda laku­kan bila mendapatkan masalah yang sama?
Tidak akan. Karena, faktanya kami menghadapi situasi yang berbeda. Bahkan, kalaupun kami hanya menang dengan simple majority, saat ini jauh lebih mu­dah untuk membuat koalisi.

Xanana ingin membuat koalisi dengan yang lain, termasuk de­ngan kami. Jadi, apakah dengan simple majority atau absolute ma­jority, kami akan dapat memim­pin pemerintahan tahun depan.

Jadi, Anda akan menerima Xa­nana?
Sebagai wakil saya, mungkin.

Mengenai regenerasi politik di Timor Leste, bagaimana tangga­pan Anda?
Pemerintah telah gagal dalam me­lakukan regenerasi politik. Generasi muda di dalam peme­rin­tahan Xanana merupakan ke­lompok yang paling korup. Tapi, saya tidak mau menyebut nama mereka. Biarkan Komisi Antiko­rupsi yang bekerja untuk meme­cahkan masalah ini.

Mengapa?
Lebih baik tanya mereka. Tapi, menurut saya ini terjadi karena mereka sama sekali tidak me­miliki kualifikasi sebagai pejabat eksekutif, dan tidak pernah mem­bayangkan hal itu. Namun, tiba-tiba mereka diangkat sebagai pe­jabat eksekutif oleh aliansi yang sangat kosmetikal ini.

Menurut Anda, apakah tidak aneh bila di Timor Leste hanya ada tiga tokoh yang selalu mun­cul, yakni Anda, Ramos Horta, dan Xanana Gusmao?
Kami punya hampir satu juta orang. Dari jumlah itu, sebetul­nya ada yang memiliki kualifi­kasi. Tapi mungkin orang lebih suka nostalgia, berbicara tentang pe­mimpin dari masa lalu. Karena itu, kami perlu menghentikan hal ini.

Banyak yang mengatakan Xanana lebih Timor daripada Anda dan Ramos Horta, karena dia berjuang di Timor Leste se­mentara Anda dan Horta ber­juang di luar negeri?
Kami tidak melarikan diri. Kami dikirim untuk berjuang dari luar negeri. Benar, Xanana ber­juang di Timor Leste Dan saya adalah orang pertama yang meng­hormati hal itu. Tapi, yang dibutuhkan oleh Timor Leste hari ini adalah bergerak ke depan, bukan lagi terjebak pada nostal­gia masa lalu.

Mengenai hubungan Timor Leste dengan Indonesia dan ne­gara tetangga lainnya, bagi­mana?
Kami di antara dua raksasa (Indonesia dan Australia). Kami harus membangun hubungan yang baik dengan keduanya. Kami tidak bisa berpura-pura men­jadi kekuatan besar di kawa­san ini. Masa lalu adalah masa lalu. Kami berbagi batas dan sumber daya alam dengan cara yang tepat dan pantas. Yang juga jelas, kami tidak bisa mengisolasi diri kami. [RM]

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=20682
Share this article :

0 komentar: