BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Point of no Return PDI Perjuangan

Point of no Return PDI Perjuangan

Written By gusdurian on Rabu, 14 April 2010 | 13.18

Point of no Return PDI Perjuangan
Oleh Ansel Alaman Pengajar character building Unika Atma Jaya dan Binus Jakarta


MAJU terus, jangan mundur.

Mundur-hancur, mendeg ambleg; bongkar, maju ter- us, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi. Kita telah mencapai point of no return!” Kata-kata Bung Karno itu diang- kat kembali oleh Ketua Umum DPP PDI Per- juangan Megawati Soekarnoputri saat pidato politik acara pembukaan Kongres III PDI Per- juangan di Hotel Inna Grand Bali Beach, 6 April 2010. Pidato politik di depan ribuan kader, undangan, simpatisan, beberapa pejabat perwakilan diplomatik itu benar-benar spek- takuler, cerdas, menantang, bahkan dalam arti tertentu ‘membebaskan’ kader PDI Perjuangan dari pesimisme atau apa tisme politik ke de- pan.

Kongres III yang bertemakan Berjuang untuk kesejahteraan rakyat ini, menurut Ketua Penye- lenggara Kongres III PDIP Puan Maharani, dalam laporannya, dihadiri seluruhnya 1.489 peserta. Mereka terdiri dari 1.410 orang utusan daerah dari 470 DPC (dewan pimpinan cabang kabupaten/kota) dan 33 DPD (dewan pimpinan daerah/provinsi). Hadir juga Korwil PDI Per- juangan beberapa negara seperti Australia, AS, Arab Saudi, Jerman, Belanda dan lainnya. Para tokoh nasional dan tokoh parpol seperti Ketum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua DP Ge- rindra Prabowo Subiyanto, Ketum Partai Ha- nura Wiranto, Surya Paloh, Akbar Tanjung, Hamengku Bowono X dan istri, beberapa wakil ketua DPR-RI, dari PPP, PKS, PAN, PKB, juga hadir. Juga peninjau, pakar politik, ekono- mi dan komunikasi politik, selaku opinion lead- ers.

gi bangsa dan sikap pragmatisme yang me- ngaburkan tujuan berbangsa. “Saya sungguh berduka karena politik telah direduksi tidak lebih daripada sekadar urusan perebutan dan pembagian kekuasaan antarkekuatan politik,” tegas Megawati.

Dengan pernyataan itu, jelas Megawati meno- lak koalisi yang meninggalkan inti etis dan ideologis, sebagai seni berbudaya politik untuk mewujudkan kedaulatan di bidang politik, keberdikarian ekonomi dan jati diri di bidang kebudayaan. Semua utusan seluruh Indonesia melalui pemandangan umum 33 daerah me- negaskan pilihan sikap oposisi tidak bisa dita- war-tawar. Boleh jadi ada keinginan mengu- rangi tensi dari hard oposition menjadi soft-opo- sition (dengan istilah penyeimbang), bagi

Megawati silakan saja. Persoalan format atau model pelembagaan oposisi dalam konteks sistem presidensial memang perlu dikaji ulang secara akademis dalam konteks culture (budaya) politik Indonesia.

Arah sikap Megawati jelas. Oposisi atau pe- nyeimbang, bukan tujuan, melainkan instrumen (utama) menyehatkan demokrasi substansial.

Yang tidak bisa ditawar-tawar adalah ideologi negara Pancasila 1 Juni 1945 dan UUD 45,

kedaulatan bangsa dalam wadah NKRI, ke- bhinekaan dan pluralisme/kemajemukan dan roh kerakyatan. Semua itu tidak boleh menjadi ‘proyek’ ideologi developmentalisme yang adalah ‘anak kandung’ dari kapitalisme.

Ideologi yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, dan mengesampingkan pemerataan dan keadil an, yang sangat mungkin disusupi komrador dari korporatokrasi yang menguras hasil bumi negara-negara demi ekonomi neo- liberalisme (Lihat John Perkins, The Secret His- tory of The American Empire, 2007), termasuk WTO, AFTA, dan ACFTA.

nipulasi daftar pemilih tetap (DPT) pemilu lalu.

Pelaksanaan yang amburadul, tampak sebagai demokrasi yang manipulatif. Dugaan pelang- garan serius seperti penghilangan hak warga untuk menyalurkan hak pilih karena tidak didaftar, jutaan nama yang dobel/sama, anak di bawah umur bahkan ada yang sudah men- inggal masih terdaftar. Pencetakan surat suara yang melampaui batas memudahkan perbuatan manipulasi. Dengan itu, politik kehilangan

keutamaan dan moralitas karena hanya dipersembahkan demi kekuasaan bahkan keuntungan finansial.

Namun, PDI Perjuangan tidak boleh larut dalam kegagalan dan kebencian, tetapi harus berada di garda depan membangun demokrasi yang deliberatif. Bagi perjuangan bangsa ke depan, demokrasi deliberatif harus menjadi cara hidup bukan sekadar pilihan politik lima tahunan. Demokrasi deliberatif yang diusulkan Megawati dalam pidato politik itu adalah bekerja bukan sekadar melindungi citra. Demokrasi yang dibangun di atas keutamaan kolektivitas yang mandiri, musyawarah untuk mufakat, menerima pluralitas/kemajemukan bangsa sebagai anugerah Tuhan. Demokrasi yang menghargai dan melindungi suara minoritas, yang tidak mengobjekkan kaum miskin dan terpinggir dalam percaturan ekonomi-politik di era digitalisme komunikasi.

Demokrasi deliberatif bersendi pada akar budaya Indonesia. Memang, political culture Indonesia masih berciri parochial, seperti telah lama diungkapkan Gabriel Almond, dengan demokrasi Amerika. Salah satu apresiasi budaya untuk mendukung budaya politik Indonesia uang sempat diangkat Megawati ialah ungkapan Bung Karno, "Karma nevad ni adikaraste Ma Phaleshu kada chana." Kerjakanlah kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitungkan akibatnya. Ungkapan yang dikutip dari Kitab Baghawad Gita itu merupakan percakapan Kresna dan Arjuna di medan perang Kurusetra, saat Arjuna bimbang menghadapi lawannya.
Salah satu pekerjaan rumah bagi political culture Indonesia ke depan ialah pemberantasan mafia hukum, mafia korupsi.

Skandal Century sebagai kasus besar yang mengambang antara politik, hukum, dan budaya. Korupsi yang membudaya akan semakin mengakar dalam hidup rakyat Indonesia, jika hukum hanya berlaku bagi orang kecil yang mencuri tiga buah kakao dan membebaskan penjahat kakap pencuri Rp6,7 triliun, yang lari ke Singapura. Termasuk mafi a pajak Gayus Tambunan yang melibatkan petinggi Polri dan kejaksaan, menarasikan borok moral bangsa.

Dan, point of no return PDI Perjuangan harus menjadi pelopor memberantas mafia hukum dan mafia politik. Berani beroposisi demi tegaknya kebenaran, berani bersuara lantang jika mencederai nurani bangsa, berani menentang jika kelaliman menjadi alat ketaatan dan keserakahan tersembul dari balik tebar senyum pencitraan. Namun, jika benar kongres ini kongresnya wong cilik, kongres kaum militan ideologi bangsa, kongres kejujuran energi politik, mulailah dari kader PDI Perjuangan sendiri, sekarang juga!

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/04/09/ArticleHtmls/09_04_2010_017_018.shtml?Mode=0
Share this article :

0 komentar: