BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Fenomena Selebritinya Penyakit Infeksi

Fenomena Selebritinya Penyakit Infeksi

Written By gusdurian on Jumat, 27 Maret 2009 | 14.02

Fenomena Selebritinya Penyakit Infeksi

Epidemi Ganda TB dan HIV

Oleh Prijono Satyabakti *

Ada pepatah yang berbunyi ''Sudah jatuh tertimpa tangga''. Arti bebasnya ialah ketika terkena musibah, belum sampai teratasi muncul lagi musibah lain. Mana yang lebih menyakitkan, jatuhnya atau tertimpa tangganya? Jawabnya adalah ''tak tentu''. Tapi, yang pasti jatuh itu menyakitkan dan diimpit tangga ya menyakitkan. Apalagi bersamaan.

Pepatah itu saya umpamakan dengan seorang yang mengidap HIV/AIDS, kemudian terinfeksi TB (baca: TBC). Atau, bisa juga sebaliknya, kena TB dulu baru terinfeksi HIV.

Apakah kasus itubanyak? Jawabnya, ya. Karena itu, dalam bidang epidemiologi sekarang sangat terkenal dengan istilah epidemi ganda TB-HIV.

Bagaimana itu bisa terjadi dan apa dampaknya? Berbicara dampak, ada dua hal yang utama, yakni dampak klinis dan dampak sosial. Untuk dampak klinis, baik TB ataupun HIV adalah penyakit infeksi yang berat. Terinfeksi salah satu saja sudah pasti merepotkan, apalagi sudah mengidap HIV terinfeksi juga TB, atau sebaliknya sudah menderita TB eh terinfeksi HIV juga.

Tentang dampak sosialnya makin heboh lagi. Walaupun TB sudah ratusan tahun dikenal, orang dengan penyakit TB pada umumnya mempunyai rasa inferior dalam penampilan ataupun pergaulan.

Akan jarang sekali atau bahkan mungkin tidak pernah seorang pasien TB akan bercerita kepada familinya atau temannya, apakah itu teman sekampung atau teman sekantor, bahwa dirinya terinfeksi TB. Hingga ada sebagian orang yang mengatakan, TB adalah penyakit tidak elite.

Lain misalnya dengan hipertensi, jantung, diabet, dan yang lain. Orang dengan penyakit itu akan dengan tegarnya, bahkan mungkin bangga, bercerita bahwa dirinya terkena hipertensi, jantung, atau diabet.

Anggapan seperti itu masih tetap ada walaupun sekarang ini ada juga orang mampu yang terkena TB. Sedangkan untuk HIV/AIDS, walaupun stigmanya sudah cukup berkurang, pada banyak situasi ternyata masih menunjukkan bahwa stigma tadi masih ada.

Epidemi ganda

TB adalah penyakit infeksi yang dikenal lebih dari seratus tahun lalu. Kuman penyebabnya disebut mycobacterium tuberculosa, dikenalkan oleh Robert Koch pada abad ke-18. Ada berbagai jenis organ tubuh yang bisa terserang TB. Misalnya, paru, ginjal, tulang, dan otak. Tetapi, di antara banyak organ tadi, yang paling banyak terkena infeksi TB adalah organ paru.

Menurut catatan WHO, Indonesia negara kita yang tercinta ini tercatat sebagai urutan ketiga besarnya jumlah kasus TB di dunia, setelah India dan Tiongkok.

Penyakit itu sangat membahayakan. Selain mudahnya proses penularan dari seorang TB aktif adalah angka kematian yang cukup tinggi, terutama bila tidak diobati. Kemungkinan tidak terbayangkan, tanpa terapi yang benar TB akan menjadi fatal.

Suatu prediksi mengatakan, bila tidak diobati, sepertiga di antara pasien akan meninggal dalam setahun. Dan, kira-kira separuhnya akan meninggal dalam 5 tahun semenjak terdiagnosis TB.

Gampangnya begini, bila ada seratus orang terkena TB aktif dan tidak mengobati penyakitnya, dalam waktu setahun akan sekitar 30 orang yang meninggal dan dalam waktu lima tahun jumlah kematian akan menjadi sekitar 50 orang.

Kalau HIV/AIDS, walau tergolong suatu penyakit infeksi baru (new emerging desease), berkat angka kematiannya yang tinggi serta penularan yang sangat mudah pada kelompok yang birisiko, penyakit itu menjadi sangat dikenal. Bahkan, ada yang menyebut sebagai selebritinya penyakit infeksi.

Penyakit itu disebabkan virus yang bernama human imuno deficiency virus yang selanjutnya dikenal sebagai virus HIV. Virus HIV dalam tubuh manusia tinggal pada cairan tubuh. Ada tiga cairan tubuh yang potensial tinggi untuk menularkan, yakni cairan darah, cairan sperma, dan cairan vagina.

Fatalitas yang cukup tinggi dari HIV disebabkan turunnya imunitas yang cukup drastis akibat dari peningkatan jumlah virus HIV pada seorang yang terinfeksi HIV.

Nah, di sinilah kunci jawaban dari terjadinya epidemi ganda TB-HIV. Seorang ODHA (orang dengan HIV/AIDS), yang artinya adalah seorang pengidap HIV, akan mengalami penurunan imunitas yang cukup drastis. Dan, bila dia tinggal di negara dengan prevalensi TB yang cukup tinggi, dengan mudahnya dia akan tertular TB dan mengembangkan kuman TB tadi dalam tubuh.

Kebalikan dari proses itu bisa terjadi juga. Orang yang terinfeksi TB, karena infeksinya adalah kronis, daya tahan tubuhnya akan turun. Maka, apabila seorang pengidap TB mempunyai perilaku yang berisiko tertular HIV, dengan mudah proses penularan akan berlangsung sukses.

Hubungan TB dengan HIV sangat berarti dalam memperburuk keadaan. Sebab, TB dan HIV akan saling memperburuk keadaan. Kira-kira kronologinya sebagai berikut: HIV akan meningkatkan risiko tertularnya TB aktif. Seorang ODHA mempunyai kemungkinan kemudahan 50 sampai 100 kali tertular TB daripada mereka yang HIV negatif.

Dikatakan pula bahwa infeksi TB merupakan 40% penyebab kematian dari AIDS. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa TB adalah infeksi penyerta utama yang menyebabkan kematian ODHA

Dari sini munculah program untuk menangani epidemi ganda itu. Beberapa langkah utama yang dilakukan, antara lain, meningkatkan pencarian kasus TB pada ODHA atau mereka yang berperilaku berisiko tertular HIV/AIDS dan meningkatkan pencarian kasus HIV pada pasien TB. Itu karena seorang ODHA mudah terinfeksi TB. Dan, sebaliknya bisa-bisa orang TB juga terinfeksi HIV

*. Prijono Satyabakti, dokter dan dosen di Fakulras Kesehatan Masyarakat Unair. Ketua Pengda IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) Jatim

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=59732
Share this article :

0 komentar: