Kunjungan terakhir Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush ke Irak menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Betapa tidak, saat menghadiri jumpa pers bersama Perdana Menteri Irak Nuri Al-Maliki,Minggu (14/12), wartawan stasiun televisi Al-Baghdadia, Muntazer al-Zaidi, melemparkan sepatunya ke arah kepala Bush sambil berteriak, ”Ini ciuman perpisahan dari para janda dan anak yatim, you dog.”
Dalam tradisi Arab, melemparkan sepatu ke arah seseorang dianggap perbuatan yang sangat menghina. Meski bagi Bush insiden tersebut dianggap”menarik” dan ”pertanda masyarakat bebas”, namun reaksi luas terhadap insiden lempar sepatu ini selain menjadi guyonan juga ditanggapi serius.Ada yang mengecam, tetapi banyak pula yang memuji.
Editor harian Al-Quds Al-Arabi di Inggris,Abdel-Bari Atwan, misalnya, menyebut insiden itu sebagai ”salam perpisahan yang pantas bagi penjahat perang”. Ribuan demonstran menuntut pembebasan Al-Zaidi yang kini menjadi “pahlawan” bagi banyak kelompok masyarakat Arab, terutama korban perang.
Sebagai tanda solidaritas, seorang warga Saudi, misalnya, menawarkan USD10 juta bagi sepatu Al-Zaidi yang juga diusulkan agar ditempatkan dalam museum perjuangan. Antusiasme ketika AS dihina sering kali terjadi.
Hal ini juga yang dirasakan pada aksi teroris 11 September 2001, ketika beberapa pesawat dengan bebasnya menabrak simbol-simbol ekonomi (Menara WTC) dan militer (Pentagon) AS.
Hal itu juga diakui pejabat AS. Baru-baru ini Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengatakan,“Saya mengerti sejarah hubungan antara AS dan dunia Arab dinilai memalukan dan kurang perasaan saling menghargai. Itu terjadi bukan sejak pemerintahan Presiden Bush, dan tetap akan begitu meski Presiden Bush tak memimpin.
”Lebih dari itu ada yang beranggapan bahwa insiden pelemparan sepatu kepada Bush mewakili protes luas masyarakat dunia terhadap arogansi (kebijakan luar negeri) AS selama ini, bukan hanya dilakukan terhadap Irak. ***
Sekitar lima dekade lalu terbit sebuah buku roman berjudul The Ugly American karangan Lederer dan Burdick. Buku yang dengan cepat menjadi bestsellers itu mencoba menerangkan kepada warga AS tentang buruknya citra negerinya di mancanegara.
Penyebabnya, demikian para penulis mengajukan alasan, karena di mana-mana AS menebar pandangan hidup (American way of life) serta dominasi ekonomi tanpa mau peduli bahwa bangsa lain memiliki nilai dan pandangan hidup yang berbeda serta menginginkan kedaulatan ekonomi. Ironisnya, sewaktu kampanye pemilihan presiden untuk masa jabatan yang pertama Bush terdengar bijak ketika berkaca memanfaatkan pesan buku roman tersebut.
Menurutnya, “Bila kita tidak ingin kembali dianggap ‘ugly Americans’, kita harus berhenti berkata kepada seluruh dunia: Kami melakukan seperti ini, demikian pula yang harus kalian lakukan.”Sayangnya setelah terpilih semua tadi seakan terlupakan. Setelah peristiwa 11 September 2001 semua bangsa di dunia dipaksa mempunyai lawan yang sama dengan AS.
Siapa pun, yang tidak setuju pada sikap AS dalam perang melawan teroris otomatis dipandang sebagai lawan. Sepanjang masa pemerintahan Bush sangat kuat kepercayaan bahwa terorisme bisa diselesaikan dengan senjata, bukan lewat upaya mengurangi kemelaratan dan ketertindasan sebagai lahan subur penyemaiannya.
Bagi Walter Mead, AS ditengarai memiliki persepsi yang berbeda tentang perang dibandingkan Eropa (Council on Foreign Relations, 2004). Eropa, belajar dari pengalamannya, mencemaskan spiral kekerasan akibat perang. Sebaliknya AS,yakin perang dapat membawa penyelesaian.Siapa, misalnya, yang mampu mengalahkan Hitler? Mayoritas penduduk AS juga yakin bahwa keamanan pribadi sedikit banyak tergantung pada pemilikan senjata.
Monopoli kekerasan oleh negara seperti yang dianut Eropa dan dipercaya sebagai landasan bagi terbentuknya masyarakat beradab kurang meyakinkan warga AS. ***
Citra buruk AS memang mengental selama dua periode pemerintahan Bush.Pada saat sama AS digambarkan sebagai raksasa yang sedang mempreteli kekuatannya sendiri. Namun, dengan terpilihnya Barrack Husein Obama sebagai presiden yang dilantik kemarin, AS seakan ingin menunjukkan sisi lain dirinya.Aura optimisme dan semangat pembaruan Obama disambut antusias oleh mayoritas warga AS.
Dan sejarah mencatat, setiap kali terserang krisis, AS ternyata berhasil bangkit kembali karena memiliki dinamika yang jarang dimiliki negara lain. Pada saat yang sama kemenangan Obama juga disambut dengan penuh harapan oleh masyarakat dunia sebagai awal era baru bersejarah dalam upaya bersama membangun dunia yang penuh kedamaian.
Lebih dari empat dekade silam Martin Luther King memiliki impian tentang AS yang kelak pria dan perempuannya dinilai berdasarkan karakter mereka, bukan dari warna kulit mereka. Sebuah AS dan dunia yang berkeadilan.“ Dunia memerlukan energi ini,” ungkap PM Australia Kevin Rudd.Penolakan Obama terhadap ketidakadilan dan tekadnya ke depan untuk membangun keamanan, keadilan, dan dunia yang lebih stabil ditunggu dengan penuh harap.
Beberapa agenda sulit perlu segera diselesaikan. Selain masalah ekonomi AS dan global, Afghanistan, Iran, Guantanamo adalah beberapa persoalan pelik yang perlu diselesaikan. Dari semua itu, boleh jadi Gaza adalah yang paling menantang.Janji Obama untuk selalu mendukung Israel, bisa membuatnya terperangkap dalam sikap yang dianggap tidak berkeadilan.
Kita semua berharap Obama bisa mengatasi “dilema” ini dengan elegan. Sehingga dengan Obama AS akan menjadi negara yang kembali dihormati dan disegani dunia,tanpa memaksakan kehendak dan berahi perang—termasuk mendukung berahi perang Israel— seperti ditunjukkan pemerintahan sebelumnya.(*)
Ivan A Hadar
Analis Ekonomi-Politik Koordinator Nasional TARGET MDGs BAPPENAS-UNDP
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/206566/
Ivan A Hadar : Obama dan Citra AS Pasca-Bush
Written By gusdurian on Rabu, 21 Januari 2009 | 11.32
Related Games
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar