BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Caping : KPK

Written By gusdurian on Selasa, 06 Oktober 2009 | 12.14

KPK

Semua bermula di Hong Kong, kurang-lebih. Seorang teman yang telah
menonton film baru sutradara Wong Jing mengingatkan: film I Corrupt All
Cops (produksi 2009) menunjukkan bahwa bentrok antara komisi
pemberantasan korupsi dan pejabat polisi bukan hanya cerita Indonesia.

Tentu saja I Corrupt All Cops bukan cukilan sejarah. Film ini
menceritakan pergulatan beberapa petugas Independent Commission Against
Corruption (ICAC) melawan sejumlah perwira polisi Hong Kong yang korup.
Wong Jin berusaha untuk tak norak, kata teman itu, tapi filmnya akhirnya
hanya menyajikan sepotong kisah yang disederhanakan.

Sejarah ICAC, yang didirikan pemerintah Hong Kong pada 1974, dan
akhirnya jadi sebuah ikhtiar yang berhasil (dan dicontoh oleh Indonesia
untuk membentuk KPK), memang bukan potongan-potongan cerita yang lurus.

ICAC mencatat prestasi ketika lembaga baru ini memenjarakan Peter
Fitzroy Godber, perwira tinggi polisi yang tak bisa menjelaskan dari
mana uang US$ 600 ribu ada di rekening banknya. Godber melarikan diri ke
Inggris dengan bantuan rekan-rekannya. Dengan gigih, ICAC berhasil
mengekstradisi sang buaya kembali ke Hong Kong. Ke dalam kurungan.

Tapi dengan segera HKPF, angkatan kepolisian kota itu, merasa terancam.
Pada 28 Oktober 1977, beberapa puluh anggotanya menyerbu memasuki kantor
ICAC. Ketegangan terjadi. Akhirnya kepala pemerintahan Hong Kong (dulu
disebut ”Governor”) memutuskan untuk memberikan amnesti kepada hampir
semua anggota polisi yang korup yang melakukan kejahatannya sebelum
1977. Wibawa ICAC pun merosot.

Tapi kemudian terbukti, kebijakan pemerintah berbuah. Sejak amnesti itu
polisi Hong Kong memperbaiki diri. Bahkan HKPF membiarkan pembersihan
besar-besaran dalam dirinya oleh ICAC pada 2008. Dari sini tampak,
kekuasaan—apa pun asal-usulnya—tak pernah berada di sebuah ruang politik
yang konstan.

Kekuasaan ICAC yang luas dan dijamin hukum tak dengan sendirinya lepas
dari gugatan hukum. Wewenangnya untuk menyadap pembicaraan telepon tak
selamanya direstui peradilan. April 2005, seorang hakim pengadilan
distrik tak mau menganggap rekaman yang dihasilkan ICAC sebagai barang
bukti. Alasan: tak ada prosedur yang legal yang mengatur penyadapan itu.
Tiga bulan kemudian, seorang wakil hakim pengadilan distrik menganggap
ICAC telah melanggar ”secara terang-terangan” hak empat terdakwa, dengan
memberikan tugas kepada seorang bekas tertuduh merekam percakapan mereka.

ICAC, sebagaimana KPK, tentu bisa mengatakan, dirinya adalah tanda
keadaan genting. Ia tak akan ada seandainya polisi, jaksa, dan
pengadilan bekerja penuh, sesuai dengan tugas mereka, seandainya mereka
membangun sebuah situasi yang disebut ”normal”.

Tapi di Hong Kong sebelum 1980-an, sebagaimana di Indonesia sampai
sekarang, korupsi menyakiti tubuh masyarakat di tiap sudut. Ada korupsi
model Godber, yang mempergunakan kekuasaannya yang tinggi; ada yang
dilakukan pemadam kebakaran yang memungut uang sebelum bertugas
mematikan api; ada pula para pelayan rumah sakit yang di tiap sudut,
dari ruang ke ruang, meminta uang.

Dalam situasi itu, kejahatan terbesar korupsi adalah menghancurkan
”modal sosial”—sebuah sikap masyarakat yang percaya bahwa orang lain
bukanlah buaya. Korupsi menyebabkan kepercayaan itu rusak. Ejekan yang
memelesetkan singkatan ICAC (jadi ”I can accept cash”, atau ”I corrupt
all cops”) adalah indikasi hancurnya ”modal sosial”. Negeri telah jadi
sederet labirin yang membusuk.

Maka ICAC, terlebih lagi KPK, lahir dengan kekuasaan yang abnormal: ia
mekanisme penyembuhan yang juga sebuah perkecualian. Kekuasaannya lain
dari yang lain. Wewenang KPK bahkan lebih besar ketimbang ICAC. Di Hong
Kong komisi itu tak punya wewenang menuntut. Di sini, KPK mempunyainya.

KPK juga tak hanya harus bebas penuh dari dikte kekuasaan mana pun. Di
Hong Kong, ICAC bekerja secara independen namun bertanggung jawab kepada
”Chief Executive”, yang dulu disebut ”Governor”. Di Indonesia, KPK tak
bertanggung jawab kepada Presiden.

Keluarbiasaan itu mungkin kini tak hendak dibicarakan. Tapi mungkin tak
bisa dilupakan: keadaan yang melahirkan kekuasaan sebesar itu ibarat
(untuk memakai kata-kata Agamben) ”daerah tak bertuan antara hukum
publik dan fakta politik”. Dengan kata lain, kekuasaan itu lahir dari
kehendak subyektif yang menegaskan kedaulatan.

Tapi pada akhirnya kedaulatan itu bertopang pada legitimasi yang
contingent. Tak ada dasar yang a priori yang membuat kedaulatan itu, dan
para pemegang kekuasaan istimewa itu, datang begitu saja.

Dengan kata lain, di ”daerah tak bertuan”, kekuasaan justru semakin
perlu pembenaran. Apalagi kekuasaan yang diperoleh ICAC dan KPK bersifat
derivatif: bukan datang dari pilihan rakyat—sumber mandat sebuah
demokrasi—melainkan dari badan-badan yang dipilih rakyat. Ia
terus-menerus butuh pihak di luar dirinya. Ia butuh sekutu, dengan
segala risikonya. Bahwa tugas ICAC maupun KPK merupakan tugas luhur yang
mengatasi kepentingan sepihak, tak berarti politik (”the political”)
berhenti. Kekuasaan selalu ada bersama resistansi terhadap dirinya.

Maka konflik bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Sengketa bahkan bisa
lebih panjang ketimbang sebuah cerita film Hong Kong. Adegannya mungkin
kurang brutal dan dramatis, tapi akan ada korban manusia yang bersalah
atau tak bersalah. Sebab, di ”daerah tak bertuan”, perjuangan melawan
korupsi adalah perebutan tiap jengkal ruang strategis yang tersedia.
Tiap benteng harus dikuasai, bukan dikosongkan. Tiap langkah adalah
kesetiaan, dengan kegemasan, tapi juga dengan organisasi yang
dipersiapkan untuk perang 100 tahun.

*Goenawan Mohamad
*

*http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/10/05/CTP/mbm.20091005.CTP131593.id.html
*

Ketika Cinta Bertasbih Arti Poligami

Written By gusdurian on Sabtu, 13 Juni 2009 | 12.42

Ketika Cinta Bertasbih Arti Poligami
/Launching/ film /Ketika Cinta Bertasbih/ (/KCB/) pada 11 Juni 2009
cukup menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Seperti diprediksi
sebelumnya, tiketnya laris terjual. Diambil dari kisah novel karya Kang
Abik, film tersebut menceritakan mahasiswa Indonesia yang belajar di
Mesir. Tentunya, kisah asmara juga kental di dalamnya.

Seperti film /AAC/ (/Ayat-Ayat Cinta/), yang diangkat dari novel karya
Kang Abik sebelumnya, film /KCB/ sarat nuansa religius. Sayang, film itu
terkesan menolak hukum diperbolehkannya poligami dalam Islam. Bahkan,
dalam tayangan iklannya di TV, film /KCB/ menampilkan adegan salah
seorang pemeran wanita yang menyatakan menolak dipoligami.

Padahal, sejatinya Islam memperbolehkan poligami. Seorang muslim yang
beriman seharusnya memahami bahwa jodoh ada di tangan Allah. Hanya Allah
yang tahu apakah kita terpilih menjadi wanita yang dipoligami atau tidak.

/Umi Salamah SPd, alumnus Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Surabaya (Unesa)/

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=74747

Pers Realese TEATER GANDRIK PENTASKAN â€Å“KELUARGA TOT”

Written By gusdurian on Senin, 06 April 2009 | 14.25

Pers Realese
TEATER GANDRIK PENTASKAN â€Å“KELUARGA TOT”

Naskah: István Örkény
Diterjemahkan oleh Adi Krishna, Sukasah Syahdan, dan Wendy A.G. Bele. Disunting untuk dilakonkan oleh Heru Kesawa Murti dan Agus Noor

Penyutradaraan:
Jujuk Prabowo, Heru Kesawa Murti, Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Agus Noor

Penata Musik: Djaduk Ferianto

Pemain:
Susilo Nugroho, Dyah Arum, Jami Atut Tarwiyah, Whani Dharmawan, Heru Kesawa Murti, Djaduk Ferianto, Sepnu Heryanto, Butet Kartaredjasa, Abdilah Yusuf, Rulyani Isfihana, Ferry Ludianto, M Arif Wijayanto, Wahyu Novianto, M Hendra Himawan, dan Yopi Hendrawan



Teater Gandrik Yogyakarta akan mementaskan lakon Keluarga Tot, 17-20 April 2009, ukul20.00 WIB di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lakon ini kemudian akan dipentaskan lagi di Yogyakarta, 29-30 April 2009, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.

â€Å“Saya ingatkan dan tegaskan, ya,” ujar Butet Kartaredjasa, â€Å“Judul lakon ini Keluarga Tot, bukan Keluarga To. Soalnya Kalau Kelaurga To nanti dikira nyindir yang sudah almarhum.”

Butet Kartaredjasa mengatakan, proses persiapan sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu. â€Å“Saya sempat sakit kena deman berdarah saat itu, tetapi proses latihan terus berjalan. Karena pas saya sakit, kebetulan bukan saat penggarapan adegan di mana ada peran saya,” jelas Butet. Pada pementasan kali ini, Butet berperan sebagai Profesor Yohanes Cipriani, seorang yang ilmuwan yang eksentrik. Aktor lain yang ikut mendukung adalah Susilo Nugroho (berperan sebagai Lajos Tot), Dyah Arum (Mariska Tot), Heru Kesawa Murti (Mayor), Whani Darmawan (Tukang Pos), Sepnu Heryanto (Tomaji) juga Djaduk Ferianto (Mayor Elegan) yang sekaligus bertindak sebagai penata musiknya.

Lakon Keleuarga Tot adalah lakon dari Hongaria. Lakon ini ditulis oleh István Örkény, pengarang yang boleh dibilang sangat penting di Hongaria. Ini adalah lakon satir yang komikal tentang sebuah masyarakat yang dipaksa menerima sebuah kebenaran atau kenyataan hidup, meski ia tak menyukainya. Oleh banyak kritikus, lakon ini disebut sebagai alegori politik yang cerdas. Lakon ini merupakan â€Å“lakon wajib”, yang nyaris dipentaskan setiap tahun di Hongaria, dengan berbagai variasi pementasannya. Di pentaskan di gedung-gedung teater standar hingga taman dan jalanan. Bahkan, naskah ini sudah banyak dipentaskan di panggung-panggung teater penting di Eropa dan Amerika, antara lain di Perancis, Belanda, Jerman, Rusia hingga New York. Lakon ini juga telah melanglang hingga ke dataran Asia, seperti Mongolia dan Jepang.


István Örkény (lahir dan meninggal di Budapest, 1912-1979). Keluarga Tot boleh dibilang merupakan salah satu karya agung (masterpeace) yang pernah dihasilkannya. Ia dikenal sebagai penulis yang bergaya satir dalam melihat situasi masyarakat. Beberapa karyanya, antara lain novel dan lakon, seperti, Ocean Dance (1941), One Minute Stories, yang merupakan buku kumpulan cerita paling populer yang dihasilkannya dengan gaya absurd dan grotesque yang khas dirinya. Ia sempat tinggal di Moskow, di lingkungan buruh, dan menuliskan lakon Voronesh, sebelum kemudian ia kembali menetap di Hungaria tahun 1946. Ia kemudian menjadi penulis lakon terpenting Hungaria, ini didibuktikan ketika pada tahun 2004 namanya diabadikan menjadi nama gedung teater di Budapest: Örkeny Theater.

Kenapa Gandrik tertarik mementaskan lakon ini?
â€Å“Ini adalah naskah realis dengan standar dramaturgi Eropa. Tetapi kami melihat ada kejenakaan dan semangat komikal yang sama sebagaimana lakon-lakon yang biasa dimainkan Gandrik, itulah yang membuat kami tertarik mementaskan lakon ini,” kata Butet. â€Å“Pilihan naskah itu juga memperlihatkan, bahwa kawan-kawan Gandrik ternyata masih memiliki semangat untuk mencari tantangan baru untuk terus mengembangkan diri. Dalam proses ini kami menjadi seperti berhadapan dengan tantangan baru. Menurut saya ini penting bagi Gandrik, agar ia terus punya semangat untuk berkembang. Dengan lakon realis seperti ini, temen-temen Gandrik punya pengalaman yang berguna bagi proses Gandrik ke depan. Di sisi lain, lakon ini sekaligus juga barangkali akan menyenangkan bagi penonton Gandrik, karena pementasan Gandrik tidak berhenti menjadi sesuatu yang rutin. Dalam proses latihan, kami mencoba mengolah kekuatan naskah realis itu dengan gaya sampakan. Nah, mungkin ini akan bisa dilihat sebagai realisme ala Gandrik”

Sinopsis ‘Keluarga Tot’
Kisah Keluarga Tot ini berlatar belakang suasana perang yang muram, dengan setting historis Perang Dunia II. Dalam suasana seperti itu, keluarga Lajos Tot kedatangan seorang Mayor, yang ingin menginap di rumahnya. Sang Mayor memerlukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Mau tak mau, Lajos menerima mayor itu, karena Sang Mayor adalah atasan anaknya, yang jadi prajurit dan sedang bertempur. Mariska Tot, sang ibu, berharap agar Mayor itu terkesan dan betah selama masa beristirahat, hingga bisa mempermulus karier anaknya di kemiliteran.
Para tetangga pun diberitahu, dan diminta untuk ikut menerima kedatangan Sang Mayor. Karena Sang mayor memang menginginkan ketenangan: tak boleh ada suara, tak boleh ada keributan sekecil apapun, tak boleh tercium bau-bauan yang tidak menyenangkannya, tak boleh ada warna yang akan membuat sang Mayor gelisah dan marah. Pendeknya, semua orang, harus menyesuaikan kebiasaan sang Mayor. Mereka harus merubah â€Å“rutinitas hidup mereka”, dan menyesuaikannya dengan kebiasaan Sang Mayor. Kebiasaan jam tidur harus menyesuaikan jam tidur Mayor. Cara mereka menguap, menggeliat, cara mereka makan. Semua harus menyenangkan dan menyesuaikan dengan kebiasaan Mayor. Lajos Tot dan keluarga menjadi asing di rumahnya sendiri, tetapi mereka harus menerima keasingan itu sebagai kenyataan yang harus mereka terima.

â€Å“Relevansi tema itu juga menjadi pertimbangan lain, kenapa lakon ini terasa cocok bila dipentaskan Gandrik,” jelas Heru Kesawa Murti, â€Å“Karna kita hari ini pn sering kali mesti menerima hal-hal yang tidak kita sukai, hidup dalam kondisi yang tidak kita maui, tetapi mau tidak mau kita harus menerimanya.”

Nasib Keluarga Tot boleh jadi adalh nasib kita hari ini: yang dipaksa menerima keadaan yang sesungguhnya tidak kita sukai. Poster caleg yang menyebalkan yang setiap hari mesti kita lihat. Para pemimpin yang sibuk minta kita perhatikan sementara tak seupil pun mereka pernah memerhatikan kita. Kita terpaksa mendengarkan apa yang tidak ingin kita dengarkan. Kita menerima keadaan yang rasanya kita tak kuasa menolaknya. Begitulah, lakon ini bisa menjadi satir sosial, tentang masyarakat yang nyaris tanpa pilihan, dan terpaksa menerima keadaan. Kita ini sesungguhnya bagian dari anggota Keluarga Tot itu.

Di Jakarta, lakon itu ditiketkan dengan harga VVIP: Rp.150.000, VIP: Rp. 100.000, Festival: Rp. 50.000. Reservasi tiket bisa dipesan di Tiketbox: Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya No. 71 Jakarta Pusat, Telp. (021) 315 4087, 319 37325. Atau di Jalan Garut No. 10 Menteng Jakarta Pusat, Telp. (021) 314 9425, 391 5012.

Untuk pementasan di Yogyakarta, tiket bervariasi dari VVIP: Rp. 100.000, VIP: Rp..50.000, Lesehan: Rp.50.000, Festival: Rp.30.000. Di Yogyakarta, tiket bisa di di pesan di tiketbox Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedari No. 1 Telp. (0274) 561 914, Sonora FM (0274) 450 365, 450 364, Yayasan Bagong Kusudiardjo Telp. (0274) 376 394 atau 0813 2817 1688 (dengan Dian atau Ninin), Customer Service Centro di Ambarukmo Plaza Lt. I Telp. (0274) 433 1100, dan Harian Kedaulatan Rakyat, Telp. (0274) 565 685.

'Yu Beruk' Yustiningsih

Written By gusdurian on Kamis, 26 Maret 2009 | 12.41

NARA
'Yu Beruk' Yustiningsih
Hampir dua tahun tidur di pesawat.
Menjadi pelawak ternyata tak serta merta membangun image lucu. Setidaknya begitulah yang dialami Yustiningsih, pemeran Yu Beruk atau Mbok Beruk dalam dagelan Angkringan TVRI Jogja. Dia menjadi sosok perempuan bodoh, sok pintar alias keminter, suka ngomong ceblang-ceblung, dan terkesan nyenyengit.

Hal tersebut berbeda dengan kehidupan keseharian sebagai perias pengantin di sanggarnya, Nawangsari, di tempat tinggalnya di Jalan Bantul. Gara-gara image itu, Yustiningsih sempat tidak dipercaya orang kalau dirinya bisa merias pengantin.

Yustiningsih pun bercerita, ada orang Godean meminta dia merias anaknya yang akan menjadi pengantin. Mula-mula anaknya nggak mau karena takut wajahnya menjadi tidak karu-karuan dicoreng-moreng. Lalu ayah calon pengantin itu mengajak anaknya ke Sanggar Nawangsari. Barulah si anak tahu bahwa Mbok Beruk bisa serius mendandani pengantin.

Sesungguhnya, profesinya sebagai pelawak dilakoni Yustiningsih secara tidak sengaja. Itu terjadi pada 1966 lalu, saat dia sering diajak sang ayah, Padmodihardjo alias Kapuk, manggung ketoprak. Kapuk, yang dikenal sebagai pelawak, mendapuk anaknya sebagai sosok anak yang lucu dalam keluarga dagelan.

Yustiningsih kecil pun tak canggung memasuki panggung lantaran sejak usia 14 tahun sudah terbiasa menari di acara perayaan Tujuh Belasan dan hajatan. "Saya sendiri heran kok tiba-tiba jadi pelawak," tutur perempuan kelahiran Yogyakarta, 5 Januari 1950, ini saat ditemui Tempo di rumahnya yang asri karena penuh dengan aneka tanaman.

Sejak itu, Yustiningsih mengenal uang dan tidak mau lepas dari dunia panggung. Dia pernah nekat menyusul ayahnya yang sedang mentas di Madukismo. Malam-malam, sendirian, dia menggenjot sepeda mini yang diberi penerangan lilin. Padahal, paginya dia harus ulangan umum. Sampai di arena pentas, sang ayah yang sedang nongkrong di warung bakmi kaget. "Lho, kok iso tekan kene to? Trembelane ki, mesti nyusul, karo sapa kowe?," tutur Yustiningsih menirukan ucapan ayahnya sambil terkekeh.

Pentas yang sering digelar malam hari membuat Yustiningsih kecil sering tidak konsentrasi di sekolah, bahkan sering tidur di kelas dan sering bolos. Ayahnya lalu mengultimatum: tetap sekolah atau menjadi seniman. Dia memilih menjadi seniman.

Begitulah, Yustiningsih mengawali karirnya di dunia seni peran ketoprak. Pada usia 17 tahun, dia menikah dengan seniman serba bisa: Yusuf Agil, laki-laki keturunan Arab, pemimpin rombongan Ketoprak Tobong (ketoprak keliling) Dharmo Mudho, Ungaran.

Bersama laki-laki yang usianya lebih tua 13 tahun itu, Yustiningsih memiliki lima anak. Dia pun sempat ikut menjadi pemain ketoprak keliling di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka akhirnya bercerai lantaran Yusuf ingin menikahi anak buahnya. Dari pembagian harta gana-gini, Yustiningsih mendirikan kelompok baru pada 1974 dengan nama Mudho Rahayu. Uniknya, semua anggota ketoprak mantan suaminya masuk ke Mudho Rahayu. "Mereka bilang tidak mau ikut mbok tiri," ujar Yustiningsih.

Pada 1976, Yustiningsih menikah dengan Santosa dan dikaruniai empat anak. Pada 1982, dia memutuskan berhenti pentas keliling. Dia sempat mengalami masa pahit, tepatnya saat maraknya isu penembak misterius sehingga jam malam diberlakukan. Ketoprak tak boleh main, tapi Yustiningsih harus tetap memberi uang makan kepada 130 anak buahnya selama 23 hari. Dua tahun kemudian, ketoprak itu resmi bubar.

Yustiningsih tidak lantas diam. Dia sempat ikut pentas kelompok Ketoprak Siswo Budoyo di Alun-alun utara Yogyakarta. Selain itu, ayahnya yang bekerja di Jawatan Penerangan Bantul memintanya melamar di Jawatan Penerangan Yogyakarta. Dengan berbekal ijazah SMP, dia diterima sebagai pegawai negeri di RRI pada 1986. Dia bertugas mengasuh ruang budaya hingga pensiun pada Januari 2009 lalu.

Tiga tahun lalu, nenek 16 cucu yang masih tampak muda ini membintangi beberapa sinetron, Kepergian Bunda (bersama Widyawati dan Cornelia Agatha) dan Jomblo (bersama Parto Patrio dan "Guru Topan". "Setiap pagi pukul 05.30 pulang ke Jogja langsung ngantor. Sorenya berangkat lagi ke Jakarta, syuting. Hampir dua tahun saya tidur di pesawat," tuturnya.

Bagi Yustiningsih, masa pensiun bukanlah momok. Seabrek kegiatan masih dilakoninya, misalnya sebagai perias pengantin serta pengisi acara Dagelan Mataram Gudheg Jogja dan Mana Suka Pangkur Jenggleng di RRI. Juga, Mbangun Desa, Pangkur Jenggleng, dan Angkringan di TVRI Yogyakarta. "Sampai akhir hayat, aku akan tetap di seni. Mau apa to di rumah?" katanya.

Menurut Yustiningsih, image masyarakat menjadi salah satu barometer keberhasilannya. Suatu hari, dia memerankan Calon Arang di Ambarawa. Setelah itu, saat jajan di warung, dia dibenci oleh si pemilik warung. "Saking sengitnya sama aku, orang itu wegah ngedoli (nggak mau melayani). Didoli keri dhewe (dilayani paling akhir)," tuturnya. Sesampai di hotel, dia pun tertawa. PITO AGUSTIN RUDIANA

"Beruk Ki Munyuk Je..."

Tak banyak orang tahu siapa Yustiningsih. Nama indah milik perempuan kuning langsat itu seolah tertelan ketenaran Yu Beruk. "Dulunya saya nggak mau. Beruk itu munyuk je. Iya to?" katanya. Tapi, kalau sebagai pelawak, menjadi Yu Beruk tidaklah masalah. Apalagi kalau ujung-ujungnya membawa berkah yang banyak sekali.

Kristiadi, sutradara Angkringan di TVRI Yogyakarta, disebut Yustiningsih sebagai orang yang "bertanggung jawab" atas pemberian nama itu. Yustiningsih sendiri tidak tahu mengapa nama itu disandangkan kepada dirinya.

"Dulu saya pernah tanya, nyari nama saja kok pakai nama hewan. Njupuk ilham saka ngendi? Imajinasimu piye to, apak bentukku kaya beruk? He-he. (ambil ilham dari mana? Imajinasimu bagaimana, apa saya seperti beruk?)," tuturnya mengenang. Tapi kini dia senang. "Malah lebih dekat. Ketimbang Mbak, ora wangun, he-he." PITO AGUSTIN RUDIANA



http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/25/Berita_Utama-Jateng/krn.20090325.160500.id.html

Dongeng Kiamat 2012: Film dan Mitologi

Written By gusdurian on Senin, 23 Maret 2009 | 12.10

Dongeng Kiamat 2012: Film dan Mitologi
Para penulis buku Kiamat 2012 cuma menyebarkan pseudoscience. NASA bantah ada Planet Nibiru yang bakal menabrak bumi.
Sutradara Roland Emmerich kini sedang menghitung mundur. Filmnya yang berjudul 2012 bakal diputar perdana pada 10 Juli 2009. Film itu dibintangi oleh John Cusack, Amanda Peet, Danny Glover, dan Chin Han, aktor dari Singapura.

2012 memang karya terbaru Roland, spesialis pembuat film-film kiamat dan bencana. Sebelumnya dia menjadi sutradara film 10,000 B.C., The Day After Tomorrow, Godzilla, dan Independence Day. "Saya menikmati jadi bagian film sains fiksi dan bencana besutan Roland Emmerich," kata Chin Han.

Film terbaru Roland Emmerich bakal menggenapi keriuhan di media Internet dan infotainment mengenai kiamat yang bakal terjadi pada 21 Desember 2012. Tak hanya itu, ada 10 buku yang mengulas kiamat 2012 yang dijual di Amazon.com. Belum lagi film-film dokumenter.

Yang paling anyar ialah karya Lawrence E. Joseph yang berjudul Apocalypse 2012: A Scientific Investigation into Civilization's End. Buku terbitan 2007 ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tajuk Kiamat 2012: Investigasi Akhir Zaman. Buku ini sudah mengalami cetak ulang oleh penerbit Gramedia.

Munculnya tanggal keramat ternyata bersumber dari Kalender Maya (lihat "Rumus 13 dan 20"). Sistem kalender dari kekaisaran di Amerika tengah ini ternyata berakhir pada 21 Desember 2012. Dalam mitologi Maya, sesuatu yang buruk bakal terjadi pada akhir kalender. Ada yang menyebut bumi diisap oleh lubang hitam dan ditabrak meteorit. Zecharia Sitchin dan Burak Eldem dalam bukunya menyebut bumi bakal ditabrak oleh Planet Nibiru pada tanggal tersebut (lihat "Meneropong Nibiru dari Artefak").

Lawrence E. Joseph dalam bukunya menakut-nakuti dengan data sensasional. Jurnalis dan ketua dewan direksi Aerospace Consulting Corporation ini memaparkan, retaknya medan magnet yang melindungi bumi dari radiasi berbahaya. Rekahan terbesar terletak di atas lautan antara Brasil dan Afrika Selatan, terbentang sepanjang 160.000 kilometer yang dikenal sebagai anomali Atlantik Selatan.

Paparan lain dari buku Joseph adalah soal supervolcano Yellowstone. Setiap 600.000 hingga 700.000 tahun, gunung mahabesar di Amerika Serikat ini meletus. Menurut Joseph, Yellowstone tak lama lagi bakal meletus. Selain buku-buku ilmiah, Joseph mengutip tradisi beberapa masyarakat purba seperti bangsa Maya, Cina, dan sumber-sumber Kristen.

Sejumlah ahli di NASA dan lainnya, seperti dikutip oleh Universetoday, meragukan pernyataan Joseph. Menurut mereka, kekuatan medan magnet saat ini di atas rata-rata bila dibandingkan dengan jutaan tahun lalu. NASA juga membantah klaim soal Planet Nibiru. Lembaga ini menjelaskan tidak pernah menemukan atau mendeteksi Nibiru di tata surya kita. "Nibiru adalah cerita palsu dan cuma lelucon," kata David Morrison, ilmuwan senior dari NASA Astrobiology Foundation.

Profesor Michael Heiser, ahli Hebrew Bible and Ancient Semitic Languages dari University of Wisconsin-Madison, menuduh Sitchin telah menyebarkan pseudoscience. Nibiru, katanya, merupakan pseudoscience planetary object. Untuk sebuah film, Kiamat 2012 memang menarik untuk ditonton. Film Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skull juga dibuat berdasarkan mitos bangsa Maya.

Dalam film Indiana Jones itu, 13 tengkorak kristal akan dapat menyelamatkan umat manusia dari kiamat. Mitologi Maya menyebut, jika ke-13 tengkorak kuno tidak diletakkan bersama pada waktu tertentu, bumi akan bergeser dari sumbunya. Kini, Roland Emmerich kembali mengangkat mitologi Maya dalam film bertajuk 2012. Ayo siap-siap menghadapi kiamat, eh nonton film karya Emmerich yang bakal tersedia mulai Juli. UNTUNG WIDYANTO [berbagai sumber]



http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/23/Ilmu_dan_Teknologi/krn.20090323.160294.id.html

Fwd: Gebyar Literasi di Kampung Budaya Lipursari, Wonosobo

Written By gusdurian on Kamis, 12 Maret 2009 | 12.47

Gebyar Literasi di Kampung Budaya Lipursari, Wonosobo

(Kolaborasi: Rumah Baca “Istana Rumbia“, Pondok Maos Guyub, Milis Apresiasi-Sastra)



Pelaksanaan: Jumat, Sabtu, Minggu 24, 25, 26 April 2009

Tempat: Desa Lipursari, Leksono, Wonosobo.

Kontak Person HP: 081- 314 943 509 (Maria), 081- 391 202 484 (Stevie)



Email: istana.rumbia@gmail.com , diskam@yahoo.com

Blog: http://boniok.multiply.com/



Rumah Baca “Istana Rumbia” telah dirintis dan telah melakukan kegiatan sejak 1 Januari 2006. Berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan literasi dan seni budaya telah diadakan tanpa melupakan peran aktif masyarakat desa Lipursari, khususnya anak-anak. Teman-teman media pun telah sering memberitakan kegiatan kami tersebut, antara lain: Kompas, Suara Merdeka dan Jawa Pos.

Syukur alhamdulilah rumah baca “Istana Rumbia” hingga tahun 2009 ini mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak, terutama dari teman-teman penulis, taman baca, dan penerbit sehingga anak-anak rumbia yang telah menjadi haus akan ilmu dapat tersenyum dan membawa pulang ilmu dari bacaan yang tersedia di rumah baca “Istana Rumbia”.

Melihat kemajuan yang sangat signifikan ini, maka kami mengadakan kegiatan yang berorientasi pada lingkungan hidup agar anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa dapat mencintai, melestarikan dan menjaga alam dan budaya lokalnya.

Dalam kegiatan ini kami juga mengundang dan mengajak peran aktif teman-teman penulis dan penggiat literasi dari berbagai kota, antara lain: Boja (Kendal), Yogyakarta, Muntilan, Jakarta, dan Wonogiri.

===============

Bagi mereka yang ingin memberikan sumbangan buku, silakan mengirimkannya ke:

Rumah Baca "Istana Rumbia"
u.p. Maria Bo Niok
Pasunten 03/02
Lipursari, Leksono
Kab. Wonosobo 56362 – Jawa Tengah

Bagi mereka yang ingin memberikan sumbangan dana, silakan transfer ke rekening:

BCA KCP Wonosobo
AC 239 032 9481
a.n. Siti Mariam

===============

SUSUNAN ACARA

Hari Pertama: Jumat, 24 April 2009

14.30 s.d. 15.30 : Lomba Memancing Anak-anak

Peserta: Anak-anak usia 6 s.d. 17 tahun yang sudah mendaftar
Lokasi Kegiatan: Ngelak-Kali Putih, Sunten, Lipursari, Wonosobo
Agenda:
-Pembukaan + Tebar Benih Ikan oleh Dinas Perikanan di Ngelak-Kali Putih, Sunten
-Lomba Mancing
-Penilaian oleh panitia (Jumlah ikan + udang terbanyak)
Hadirin:
: Umum
: Anak Rumbia
: Tamu Komunitas Antar Rumah Baca
: Kawan-kawan media yang meliput acara

Hari Kedua: Sabtu, 25 April 2009

06.00 s.d. 09.00: Wisata Kampung

Peserta: Tamu Komunitas yang menginap di Istana Rumbia & sekitarnya
Agenda:
-Dolan-dolan ke hutan pinus di Lipursari
-Diskusi kecil di tengah alas

14.30 s.d. 15.00 : Kumpul Bocah

Peserta:
: Anak Rumbia yang mendaftar ikut pelatihan penulis cilik
Agenda:
: Pengarahan dari Arie Saptaji (Penulis “Warior: Sepatu untuk Sahabat”)

15.30 s.d. 17.30 : Dolanan Bocah

Agenda: Dolanan Aneka permainan:
: Sulapan : Sigit Susanto
: Mendongeng : Ariyo/Rini (1001buku Jakarta)
: Dolanan Karet : Anak Rumbia

19.30 s.d. selesai : Diskusi

Agenda/Topik Diskusi: Literasi dan Rumah Baca
Pembicara:
: Sigit Susanto (Penulis buku “Lorong-lorong Dunia”)
: Desy Sekar (Forum Indonesia Membaca-Jakarta)
: Daurie/Virghien (KKS “Melati”- Jakarta)
: Asrie Lesningati- Taman Baca KiRANA- Wonogiri
: Rumah Baca “Istana Rumbia”- Wonosobo

Hadirin/peserta:
Umum (Pengajar/Pendidik/Penulis/Pengamat/Penggiat Literasi dan Rumah Baca)

20.30 s.d. selesai: Pentas Seni Pemuda dan Remaja Lipursari

Agenda: Kelompok seni tampil di atas panggung.
Teknis: Tim panggung mendaftar kelompok seni yang akan tampil

Hari Ketiga: Minggu, 26 April 2009

08.00 s.d. 14.30 : Pelatihan Penulis Cilik

Agenda Perjalanan:
: 08.00 s.d. 09.00 : Kumpul
: 09.00 s.d. 10.00 : Berangkat dari Rumah Baca “Istana Rumbia”
: 10.00 s.d. 11.00 : Kebun Teh Tambi-Garung
: 11.15 s.d. 12.15 : Perjalanan pulang
: 12.15 s.d. 12.45 : Sholat Dhuhur, Istirahat, dan Makan
: 12.45 s.d.13.15 : Kunjungan ke Pabrik Roti “Tunggal Jaya”
: 13.30 s.d. 14.00 : Kunjungan ke Pembuat Tempe
: 14.15 s.d. 14.30 : Kembali ke rumah baca “Istana Rumbia”

Peserta: anak-anak yang ikut pelatihan + pendamping

14.30 s.d. 17.00 : Diskusi Budaya
Agenda/Topik Pembicaraan: Strategi dan Wacana Pengembangan Budaya Lokal
Hadirin/Peserta: Jagong Budaya + Tamu Komunitas

- 19.00 s.d. 22.00 : Malam Budaya
Agenda:
: Baca dan Musikalisasi puisi anak Rumbia
: Puisi Terbangan
: Tari Keplok
: Pembagian hadiah
: Gambus Rudad “Al-Huda”- Sunten, Lipursari
: Musik Orgen: Hartono (Pondok Maos Guyub)
: Spontanitas



Selesai*

Berebut TakhtaThe Master

Written By gusdurian on Jumat, 13 Februari 2009 | 12.22

Berebut TakhtaThe Master



INGIN bukti Deddy Corbuzier layak disebut sebagai jawaranya Indonesia? Acara The Master akan jadi jawabannya.Reality show terobosan terbaru dari RCTI,The Master,yang tayang setiap Jumat mulai 6 Februari, akan jadi tantangan terbesar bagi Deddy Corbuzier.


Sebab, bisa saja karena acara ini kemampuan Deddy mampu dikalahkan. Program ini semakin menarik karena akan jadi wadah baru untuk masyarakat Indonesia yang tertarik untuk menguji keterampilan mereka melakukan sulap.

”Dibuatnya acara ini mudah-mudahan bisa menjadi kontribusi RCTI yang ingin memberikan tempat untuk anak-anak muda yang ingin menekuni dunia sulap ini,” ujar Direktur Programming RCTI Harsiwi Ahmad. Rencananya, program The Master ditayangkan sebanyak 14 episode.

Sebelumnya, RCTI sudah melakukan audisi tertutup dengan menyambangi langsung komunitas ataupun sekolah sulap yang ada di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Hasilnya, sebanyak 10 pesulap terpilih menjadi finalis dan akan membuktikan apakah mereka layak menggeser takhta Deddy Corbuzier.

”Kamimelakukanaudisi tertutup pada bulan Desember. Bahkan, kami dan Deddy langsung turun mendatangi komunitas- komunitas pesulap ini,” tegas General Manajer Produksi RCTI Indra Yudhistira. Bercerita tentang perjalanan audisi tertutup,Deddy mengatakan kalau sepuluh orang yang terpilih menjadi finalis ini adalah orang yang memiliki ilmu,tetapi tidak ngilmu.

”Ketika audisi banyak yang bagus, dan banyak juga yang ngaco.Ada dukun, ada pemain debus. Saya tidak mengharapkan tukang sulap. Saya mengharapkan bertemu dengan orang yang bisa dibilang sebagai The Master.Dan itu hanya ada pada orang yang punyagift,”ujar Deddy. Acara The Master akan hadir dalam dua sesi.

Setiap sesinya akan menghadirkan lima finalis dan setiap minggunya akan ada satu finalis yang tersisih, hingga akhirnya mendapatkan satu pemenang. Pemenang sesi pertama akan diadu dengan pemenang sesi kedua di grand final.

Kapasitas Deddy Corbuzier di acara ini hanyalah sebagai juri yang memberikan penilaian maupun pendapatnya. Untuk pemilihan siapa yang berhak menyandang gelar The Master, akan dipilih langsung oleh pemirsa melalui voting via telepon.

Deddy Bertarung dengan Utut dan Rommy Rafael

Bagian yang paling seru dari The Master adalah pembuktian dari Deddy Corbuzier.Pada episode awal yang tayang Jumat nanti pemirsa RCTI dapat menyaksikan duel sang master. Pertama, perseteruan antara Deddy Corbuzier dan GM Utut Adianto akan kembali dilakukan.

Ini merupakan kedua kalinya Deddy bertemu dengan Utut. Yang kedua, untuk pertama kalinya, duel antara Deddy dan sang master hipnotis Romy Rafael juga akan terjadi di episode pertama nanti. ”Pertandingan nanti masih saya anggap sebagai pertandingan persahabatan.

Kalau saya menang, ya saya senang.Saya sudah kenal Romy sejak lama, jadi melihat Romy, saya seperti melihat buku yang sudah saya pelajari dan sudah saya baca,” ungkap Deddy. Di lain pihak,Romy juga mengungkapkan kesiapannya untuk melawan Deddy.

Baginya, jika Deddy merasa dapat membaca tentang dirinya, itu bukan berarti Romy akan mudah dikalahkan. ”Bacalah saya, tapi bukan berarti saya mudah dikalahkan,” yakin Romy.(megiza)


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/210355/38/

Memperkenalkan Wayang Kancil

Written By gusdurian on Rabu, 11 Februari 2009 | 13.35

NARA
Ki Ledjar Soebroto
Memperkenalkan Wayang Kancil
Sakit hati karena karyanya pernah diaku buatan orang lain.
SAKIT hati. Dua kata itulah yang paling pas mewakili perasaan Ki Ledjar Soebroto saat ini. Pria 70 tahun yang telah lama bergelut dengan dunia seni tradisional ini merasa dikhianati sesama seniman. Pencipta wayang kancil ini bahkan merasa terasing di negeri sendiri.

"Sedih rasanya kalau mengingat kejadian itu. Sesama dalang kok ya tega berkhianat," kata Ki Ledjar Soebroto saat ditemui di rumahnya yang juga difungsikan sebagai studio di Jalan Mataram, Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Peristiwa itu memang sudah berlalu, tepatnya pada Pekan Wayang keenam di Jakarta pada 1993. Saat itu, wayang kancil hasil kreasi Ki Ledjar yang dipamerkan di Museum Wayang Taman Mini Indonesia Indah--tempat pekan wayang itu digelar--justru diberi label buatan orang Cina bernama Bo Liem yang dibuat pada 1925.

Kesedihan Ki Ledjar makin bertambah manakala ia mengetahui wayang kancil yang dipajang di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, juga dilabeli buatan Bo Liem pada 1925. Padahal, nama Ledjar dalam huruf Jawa jelas-jelas tertera pada anak wayang yang dipajang di museum itu.

Wayang kancil diciptakan oleh Ki Ledjar pada 1980 sebagai ungkapan keprihatinannya terhadap merosotnya minat anak muda pada seni pewayangan. Ia sengaja membidik kalangan anak-anak sebagai sasaran utama mengenalkan wayang sejak dini. Ki Ledjar mengangkat cerita Kancil yang sudah sangat populer di kalangan anak-anak, sekaligus membuat anak wayangnya.

Ki Ledjar benar-benar memulai dari nol saat membuat wayang kancil. Penciptaan itu diawali dengan membuat sketsa tokoh-tokoh cerita kancil, mulai dari tokoh utama kancil, kurungan, anjing, hingga petani. Kemudian ia memindahkan sketsa tokoh-tokoh itu ke atas lembaran kulit kerbau, ditatah, diwarnai, dan diberi penjepit dari tanduk kerbau layaknya wayang kulit pada umumnya.

Menurut Ki Ledjar, sejumlah literatur kuno memang menyebut pernah ada wayang kancil Bahuwarno kreasi Raden Mas Said. Tapi wayang itu tak meninggalkan jejak.

Pentas pertama wayang kancil digelar Ki Ledjar di Gelanggang Mahasiswa UGM pada Mei 1980 dengan lakon Kancil Nyolong Timun. Setelah itu, Ki Ledjar rajin "mengganggu" dalang-dalang wayang kulit yang juga rekan-rekan seprofesinya. Setiap ada pementasan wayang kulit, Ki Ledjar selalu meminta waktu sekitar 30 menit untuk mementaskan wayang kancil. Pentas biasanya berlangsung sebelum pergelaran wayang kulit dimulai, sekaligus memberi hiburan bagi anak-anak.

Keterampilan mendalang Ki Ledjar diperoleh dari Ki Narto Sabdo, dalang kondang yang kini sudah almarhum. Sejak 1956, Ledjar menjadi srati (petugas yang menyiapkan anak wayang yang akan dipentaskan) pada setiap pementasan wayang kulit Ki Narto Sabdo.

Usaha Ki Ledjar memperkenalkan wayang kancil tak sia-sia. Wayang hasil kreasinya itu akhirnya tak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga mulai diminati orang asing. Wayang kancil buatan Ki Ledjar dipajang di sejumlah museum di luar negeri, misalnya Ubersee Museum (Bremen, Jerman), Volkenkundig Museum (Groningen, Belanda), Museum of Anthropology (Kanada), dan Museum Westfreis (Hoorn, Belanda). "Wayang kancil juga telah menghasilkan puluhan skripsi dari berbagai perguruan tinggi," tutur Ki Ledjar.

Sukses dengan wayang kancil, Ki Ledjar mulai mencoba kreasi baru. Pada 1987, ia menciptakan wayang VOC atau wayang Sultan Agung. Pada 2007, ia menciptakan wayang revolusi yang menceritakan kejadian Agresi Belanda II di Indonesia. Ki Ledjar menciptakan 25 tokoh untuk wayang revolusinya itu. Baik wayang VOC, wayang Sultan Agung, maupun wayang revolusi kini telah dikoleksi sejumlah museum di Belanda. Bahkan pada Mei tahun lalu Ki Ledjar diundang ke Belanda untuk mementaskan wayang VOC di Pasar Malam Tong-Tong.

Ia mengaku bangga bila wayang kreasinya diminati orang asing dan menjadi koleksi sejumlah museum di luar negeri. Tapi di sisi lain ia sedih karena justru orang asing yang mau menghargai jerih payahnya itu.

Meski merasa terasing di negeri sendiri, beberapa penghargaan pernah ia peroleh. Pada 1997, ia mendapat penghargaan seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun lalu, ia juga mendapat penghargaan dari Wali Kota Yogyakarta dan menjadi tokoh terpilih di bidang seni dan budaya.

Tapi, walaupun karyanya telah dikoleksi sejumlah museum di luar negeri, kehidupan sehari-hari Ki Ledjar masih jauh dari kemewahan. Bersama sang istri, Karjiyah, yang dinikahinya pada 1962, Ki Ledjar menopang hidupnya dengan mengandalkan art shop di Jalan Mataram DN I/198 yang juga dijadikan sebagai tempat tinggal. Undangan manggung sudah jarang ia terima. "Setahun paling hanya dua atau tiga kali,: tuturnya.

Sesekali Ki Ledjar menerima pesanan wayang wajah dari turis-turis asing yang mampir ke rumahnya."Beberapa turis asing yang mampir ke sini meminta dirinya dibuat wayang," ujarnya. Untuk satu anak wayang wajah ukuran 50 sentimeter dan terbuat dari kulit kerbau, Ki Ledjar memasang harga Rp 750 ribu.

Meski jarang menerima pesanan wayang wajah, Ki Ledjar masih bersyukur. Dengan karyanya itu, roda perekonomian rumah tangganya tetap berputar. HERU CN



http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/02/11/Berita_Utama-Jateng/krn.20090211.156415.id.html

Penari Jaipong Diminta Tutup Ketiak

Written By gusdurian on Jumat, 06 Februari 2009 | 09.46

Penari Jaipong Diminta Tutup Ketiak
"Katakanlah dari 100 persen, dikurangi 10 persen."
BANDUNG - Para seniman tari jaipongan di Jawa Barat kini harus mengubah kostum dan penampilannya jika tampil. Selain tak lagi berkostum terbuka, diharapkan bisa mengurangi lenggak-lenggok goyangan. "Bagian tubuh yang terbuka sebaiknya lebih tertutup," kata Herdiwan Iing Suranta, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, saat dihubungi Tempo di Bandung kemarin.

Menurut Herdiwan, permintaan ini sesuai dengan amanat Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, yang disampaikan melalui Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Jawa Barat Wawan Ridwan. "Sewaktu serah terima jabatan, Pak Wawan mengatakan amanat dari Gubernur itu," kata Herdiwan.

Penegasan itu disampaikan Herdiwan menyusul isu pelarangan tari jaipongan di wilayah Jawa Barat kemarin. Isu itu sempat meresahkan sejumlah seniman tari di Bandung.

Herdiwan mengaku tak mendengar langsung dari Gubernur, pun ia tak mendapat instruksi langsung dari Gubernur. Namun, menurut Herdiwan, pejabat sebelumnya telah menyampaikan amanat Gubernur itu kepadanya secara khusus.

Selain perubahan pakaian agar tidak "lekbong" alias menutup ketiaknya, para penari jaipongan akan diminta mengurangi lenggak-lenggoknya. Setidaknya, goyang, gitek, dan geol (3G) para penari itu diperhalus. "Katakanlah dari 100 persen, dikurangi 10 persen. Toh, tidak berpengaruh nyata terhadap keindahan tarian," kata Herdiwan.

Herdiwan mengaku malah sudah meminta pendapat dua penari senior: Indrawati Lukman dan eks penari istana, Tien Rostini atau Ma Ageung. "Menurut mereka, keindahan jaipongan tak masalah dengan pakaian tertutup," ujarnya.

Herdiwan mengaku sepakat dengan amanat itu. Menurut dia, amanat Gubernur bukan melarang jaipongan, hanya mengingatkan ada sebagian masyarakat risi terhadap bagian tubuh penari yang terbuka dan gerakan pinggul yang demonstratif. "Bukan dalam rangka memasung kreativitas seniman," ujarnya.

Meski sadar permintaannya bakal memicu polemik, Herdiwan mengaku tetap berencana mensosialisasi hal ini ke komunitas seniman di Jawa Barat. "Saya pun siap dimarahi," katanya.

Gubernur sendiri, hingga berita ini diturunkan, belum bisa dimintai konfirmasinya. Melalui dua nomor telepon selulernya, Gubernur tak bisa dihubungi.

Para penari jaipongan menanggapi beragam "amanat" ini. Irma Ria menilai keinginan Gubernur sah-sah saja meskipun sang penari sendiri yang menentukan seberapa besar goyangan itu. Ini pun bergantung pada jenis lagu dan siapa yang menonton. "Ada jenis lagu jaipongan yang tak harus disertai goyangan sensual, seperti Lagu Ageung (Besar). Di situ penari malah terlihat gagah," ujarnya.

Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia Endang Caturwati menilai penertiban kostum tak perlu dilakukan. Soalnya, di banyak daerah, kostum jaipongan kini sudah lebih tertutup. "Di daerah Pantura bahkan lebih banyak yang tertutup," kata dosen yang menulis disertasi tentang tari jaipongan itu.RANA AKBARI FITRIAWAN | AHMAD FIKRI



http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/02/06/Nusa/krn.20090206.155963.id.html

Pejabat dan Mantan Pejabat Bikin Album Musik

Written By gusdurian on Senin, 02 Februari 2009 | 10.00

Pejabat dan Mantan Pejabat Bikin Album Musik

Sejumlah pejabat dan mantan pejabat penting bikin album musik. Salah seorang di antaranya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ada yang berkaitan dengan Pemilu 2009?

-----

SBY barangkali satu-satunya presiden RI yang memiliki album musik. Sudah tiga album yang dibuat. Album terakhir diluncurkan pada 11 Januari lalu dalam bentuk konser di Jakata Convention Center. Itu merupakan album kompilasi antara SBY dan musikus Yockie Suryo Prayogo.

Sekitar 10 ribu penonton menjadi saksi konser sekaligus peluncuran album bertajuk Evolusi itu. Itu merupakan album ketiga SBY, yang sebelumnya me-launching dua album berjudul Rinduku Padamu dan Majulah Negeriku. Terdapat sepuluh lagu dalam album tersebut yang merupakan lagu-lagu yang sudah ada di dua album sebelumnya. Bedanya, di album Evolusi itu adalah instrumentalia dan diaransemen mantan personel God Bless Yockie Suryo Prayogo.

Yockie mengemas konser layaknya pentas orkestra. Sederet nama kondang ikut tampil, yakni maestro biola Idris Sardi, dua bersaudara Ireng Maulana dan Kiboud Maulana, serta soprano Aning Katamsi. Selain itu, ikut tampil gitaris Edi Kemput dan Totok Tewel, Oni Krisnerwinto (saksofon), dan pemain terompet Marwan, dan Juhad (flugelhorn). Konser bertajuk Senandung Anak Bangsa itu menampilkan 160 pendukung dan dikonduktori Onnie Krisnerwinto.

Sepuluh musik instrumentalia dalam album Evolusi adalah hasil reinterpretasi dari lagu-lagu ciptaan SBY. Sepuluh lagu tersebut adalah Kuyakin Sampai di Sana, Rinduku Padamu, Mengarungi Keberkahan Tuhan, Mentari Bersinar, Dendang di Bulan Purnama, Kawan, Hening, Kuasa Tuhan, Untukmu Anak Manis, dan Selamat Berjuang.

Gesekan biola Idris Sardi mengiringi lagu Kuyakin Sampai di Sana. Lagu itu terasa syahdu dengan vokal soprano Aning Katamsi. Lagu yang diciptakan pada 2 November 2007 di Cikeas itu bercerita tentang kehidupan yang harus memiliki prinsip dan pilihan.

Lagu Rinduku Padamu -yang di album pertama SBY dinyanyikan Dharma Oratmangun- di album tersebut terdengar lebih apik dan memunculkan harmoni string ensembel, piano, dan gitar akustik. Nuansanya menjadi lebih romantis.

''Karya-karya dalam album Evolusi ini mengungkap beragam isi hati dan pikiran saya sebagai seorang presiden dan manusia biasa, yang ingin berbagi rasa, serta mengajak sesama anak bangsa untuk selalu bersatu, mencintai dan mengabdi kepada tanah air, membangun masa depan Indonesia yang lebih baik,'' kata SBY.

Yockie ketiban sampur menggarap album kompilasi gara-gara mengkritik album pertama SBY Rinduku Padamu. Di blog pribadinya, Yockie menyebut album Rinduku Padamu digarap kurang sesuai sehingga tidak cukup pantas kalau menjadi album seorang presiden. Rupanya, tulisan Yockie itu sampai ke presiden. Dipanggillah dia ke Cikeas. Bukan dimarahi, Yockie justru diminta untuk menerjemahkan ulang dua album SBY yang sudah ada. Dan, jadilah album Evolusi.

SBY merasa puas dengan hasil kerja Yokcie dan timnya. Bagi SBY, Yockie menyuguhkan aransemen instrumentalia yang berkarakter kuat pada setiap lagunya. ''Nada-nada musik dalam album ini diharmonisasi secara alami seperti layaknya kata evolusi yang menjadi tajuk album untuk mendorong perubahan yang terus bergulir dan berkesinambungan,'' kata SBY.

Album-album SBY cukup laku di pasaran. Untuk lagu Rinduku Padamu, satu bulan laku 40 ribu kopi. Sebagian memang diborong istana untuk suvenir para tamu di acara-acara yang digelar di lingkungan Istana Negara. Simpatisan Partai Demokrat dan para pejabat sudah tentu ikut mengoleksi album tersebut.

SBY membantah bahwa album-albumnya dibuat untuk kepentingan kampanye menjelang Pemilu 2009. Menurut SBY, mencipta lagu dan bermain musik menjadikan kehidupan lebih seimbang. Makanya, ke mana pun SBY pergi, protokol istana selalu membawa gitar untuk berjaga-jaga kalau SBY tiba-tiba mendapat inspirasi mencipta lagu. (tom/gen/kum)

http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=50009

Sensualitas dan Sakralitas Tayub

Written By gusdurian on Sabtu, 31 Januari 2009 | 10.25

Sensualitas dan Sakralitas Tayub
Achmad Wiyono Dosen Universitas Islam Madura

Sebagai produk budaya tayub terlanjur mendapat cap 'nakal' meski dalam sejarahnya pernah menjadi media dakwah.

S EPINTAS, tayub adalah sejenis tari yang diperan kan perempuan yang terlebih dahulu ditata dengan busana rapi. Penari perempuan itu belakangan masyhur disebut sinden.
Sambil menyanyi dengan diiringi musik gamelan, da lam pentas tayub, sang sinden menari di atas panggung diikuti beberapa penari laki-laki. Dari awal hingga akhir, pertunjukan ini didominasi oleh penari perempuan. Kesenian yang satu ini sangat dikenal di Jawa Timur, Jawa Tengah, Tanah Sunda, bahkan Madura.

Tayub memang hanya sebentuk tari biasa yang tak jauh beda dengan kesenian tradisio nal lainnya. Seperti halnya cokek, yang dikenal dalam kebuda ya an masyarakat Betawi. Akan tetapi, jika ditelaah lebih jauh dengan menggunakan kacamata teologis, kesenian ini di samping menyimpan eksotisme juga menggam barkan adanya ajaran luhur di dalamnya.

Seni tayub jika direntang ekstrem ke ujung-ujungnya, yang pertama mengarah ke ke indahan bentuk, glamor, spectacle, dan seks. Yang kedua erat dengan nilai religi, ritual, kedamaian hati, dan pencarian jati diri. Kedua aspek ini terkait dalam sebuah continuum, artinya bukan dalam hubungan 'pilih salah satu' (kalau yang satu ada yang lain tidak), tetapi dua-duanya selalu hadir dalam adonan yang bervariasi, tipis sekali, wajar, atau sangat mendominasi.

Pada awalnya, tayub merupakan kesenian sakral warga ke raton. Tetapi seiring perkem bang an zaman, lebih-lebih setelah kemasukan budaya asing seperti ciuman, minum minuman keras, dan colek mencolek, yang jelas-jelas tidak cocok dengan norma keraton dan aturan budaya Jawa, tari ini pun sengaja dikeluarkan dari lingkungan keraton.

Oleh karena itu, dalam perkembangan berikutnya, tayub mulai mengalami pergeseran, dari tari keraton menjadi kesenian rakyat yang tumbuh secara bebas. Kesan tayub sebagai tari mesum semakin merebak pada abad ke-19.

Pada 1817, GG Raffles dari Inggris, dalam bukunya berjudul History of Java, menulis tayub sebagai tari ronggeng mirip pelacuran terselubung. Kesan sama juga dituliskan oleh peneliti asal Belanda, G Geertz dalam bukunya The Religion of Java.

Pada titik inilah tayub menjadi ritual yang mengandung kontradiksi nilai-nilai di dalamnya. Pada saat tertentu, tayub dibutuhkan sebagai bagian dari ritualisme, tetapi di saat yang bersamaan kesenian itu justru dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif, yakni seni sensual yang dekat dengan pelecehan seksual.

Jika tayub dipahami secara kasatmata, hanya akan ditemukan pentas seksual. Akan tetapi, jika melihatnya melalui kacamata teologi, nilai-nilai adiluhung niscaya akan ditemukan dalam pentas tayub.

Nilai dasarnya sebagaimana dilukiskan Prof Dr Suripan Sadi Hutomo, pakar filologi dan folklor humanis, adalah kesamaan kepentingan untuk mengapresiasikan kemampuan, jiwa, dan bakat seni, baik kemampuan sebagai penabuh gamelan (pengrawit) ataupun penarinya.

Dalam sejarahnya, seni tayub juga diyakini memiliki kandungan nilai agamais. Hal itu terjadi pada abad XV, ketika tayub digunakan sebagai media syiar agama Islam di pesisir utara Jawa oleh tokoh agama Abdul Guyer Bilahi. Ia selalu mengawali pergelaran tayub dengan zikir untuk mengagungkan asma Allah.

Budaya kejawen penganut paham tasawuf menilai tayub kaya kandungan filosofi akan gambaran jati diri manusia lengkap dengan anasir keempat nafsunya. Dalam tari itu selalu ada penari perempuan yang menjadi tokoh sentral, sebagai visualisasi keberadaan.

Kemudian dilengkapi dengan empat penari pria pendamping, yang disebut sebagai pelarih, sebagai penggambaran anasir empat nafsu manusia, terdiri atas aluamah (hitam), amarah (merah), sufiah (kuning), dan mutmainah (putih).

Perkembangan yang paling menarik terjadi di Blora, Jawa Tengah. Sejak dulu hingga sekarang, masyarakat Blora menganggap tayub bukan hanya pentas hiburan semata, melainkan juga termasuk ritual yang diyakini memiliki kekuatan magis sangat kuat.

Hal ini terbukti dengan dijadikannya seni tayub sebagai bagian dari sedekah desa, yakni sebentuk syukuran rakyat di mu sim panen. Tayub juga di tampilkan sebagai bentuk rangkaian upacara perkawinan, dan membayar nazar atau kaul, seperti nazarnya orang yang sedang sakit agar bila diberi kesembuhan akan 'nanggap' tayub, dan lain sebagainya.

Ada semangat gotong-royong dan religius yang amat kental di dalamnya. Kalau demikian adanya, masihkah tayub akan dikonotasikan dengan seni pelacuran? Entahlah! Hanya sejarah yang dapat membuktikannya.(M-4) miweekend@ mediaindonesia.com



http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/01/31/ArticleHtmls/31_01_2009_011_001.shtml?Mode=1

Jaya Suprana: Tessy

Jaya Suprana

Pada era reformasi yang berhasil membasmi tradisi cekal-mencekal di panggung performing arts, mendadak pelawak Tessy dicekal tampil di televisi.

Alasannya, Tessy yang berjenis kelamin pria dalam menunaikan profesi sebagai pelawak selalu berperan sebagai wanita. (Breaking News: Video klip grup band Cokelat ”Pinjam Hatimu” dicekal sebuah stasiun televisi karena menampilkan banci).

Kurang jelas mengapa kini mendadak pria berperan panggung sebagai wanita dianggap tidak layak tayang. Namun, jika dipaksa untuk diperjelas, tersedia aneka ragam alasan mulai dari sekadar tidak senonoh sampai melanggar UU Antipornografi.

Banci

Dalam sejarah bahasa Indonesia, kata ”banci” semula bermakna cacah jiwa, selain digunakan sebagai istilah pertukangan: patil besar penarah kayu. Namun, setelah menempuh evolusi makna, akhirnya pada masa kini disepakati sebagai bersifat laki-laki sekaligus perempuan atau laki-laki bertingkah laku dan/atau seperti perempuan, atau sebaliknya, bahkan juga sebagai kata cemooh bagi para penderita lemah syahwat.

Secara biologis, Tessy bukan banci karena dia mengaku berjenis kelamin lelaki sejati yang tidak pernah dibantah istrinya yang tentu paling tahu atas kebenaran pengakuan Tessy. Dalam menunaikan profesi sebagai pelawak, Tessy sengaja berperan sebagai perempuan lengkap dengan tingkah laku, busana (luar dalam), maupun tata rias khas wanita seperti bedak, gincu, dan bulu mata palsu.

Memang, di panggung lawak, de facto Tessy tampil sebagai seorang banci. Lalu, apakah melawak sebagai banci melanggar nilai-nilai susila yang kini dilindungi UU Pornografi?

Pornografi

Menurut UU Pornografi, apa yang disebut sebagai pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

Saya pribadi pada saat menonton lawak Tessy berbusana wanita tidak pernah merasa hasrat seksual saya bangkit, bahkan terangsang pun sama sekali tidak. Dapat diyakini Tessy populer bukan akibat seksi, tetapi jenaka belaka!

Nilai-nilai kesusilaan di Indonesia yang memiliki cultural diversity paling mahakaya raya di planet Bumi ini amat sulit, bahkan mustahil dibakukan kecuali dipaksakan untuk seragam dengan mengingkari falsafah Bhinneka Tunggal Ika!

Koteka memang bisa dianggap masyarakat Jawa sebagai aksesori melanggar nilai susila. Namun, bagi masyarakat Papua merupakan bagian kebudayaan busana tradisional. Memang ada yang bersikeras menganggap penampilan Tessy sebagai banci jelas melanggar nilai-nilai kesusilaan yang kebetulan mereka anut.

Namun, apakah Tessy harus dicekal dari televisi yang justru merupakan lahan utama nafkah pria bekas anggota KKO bernama Kabul Basuki beserta keluarganya itu? Apakah mereka yang alergi Tessy tidak bisa dengan remote control masing-masing memindah kanal stasiun TV atau mematikan pesawat TV yang sedang menayangkan Tessy berbanci ria?

Suaka

Menurut klausa suaka UU Pornografi di khazanah kesenian, peran teatralis tanpa niat membangkitkan hasrat seksual tidak tergolong pornografi. Ketika David Hofmann tampil sebagai perempuan dalam film Tootsie, alih-alih dituduh pornografi, dia malah memperoleh Piala Oscar.

Hillary Swank pertama kali dianugerahi Oscar untuk peran sebagai banci di film Boys Don’t Cry. Peran kunci opera Cosi fan tute Mozart adalah perempuan bernama Despina yang menyamar sebagai pria berprofesi notaris. Banyak kisah tentang wanita menyamar sebagai laki-laki, seperti di kisah klasik China San Pek Eng Tay atau di As You Like It karya Shakespeare, Rosalind menyamar sebagai pria bernama Ganymede.

Dalam Mahabharata, Bisma Dewabrata hanya bisa dibunuh oleh seseorang yang bukan pria, tetapi juga bukan wanita, yaitu Srikandi. Ketika mengembara pada masa pengasingan, Arjuna menyamar sebagai banci. Pada pergelaran wayang orang justru keharusan peran Arjuna dibawakan oleh perempuan.

Seniman serba bisa almarhum Bing Slamet kerap tampil berbusana wanita di panggung lawak. Pada pergelaran ludruk sebagai bentuk kesenian teater tradisional rakyat Jawa Timur, seluruh peran, baik laki-laki, perempuan, maupun banci ditampilkan oleh laki-laki!

Maka, melalui panggung kesenian teater rakyat tradisional Nusantara, di mana termasuk kelompok Srimulat tempat Tessy bergabung, dapat ditarik kesimpulan bahwa peran banci merupakan salah satu sifat dan bentuk hakiki seni teater yang sama sekali tidak berhasrat membangkitkan hasrat seksual, karena itu tidak layak dianggap pornografi.

Saya bukan banci dan bukan penggemar banci, tetapi nurani saya merasa kurang manusiawi apabila gara-gara tampil sebagai banci (yang sudah puluhan tahun tidak bermasalah), mendadak Tessy dipaksa kehilangan lapangan kerja dirinya pada masa semua pihak justru sedang gelisah kehilangan lapangan kerja akibat krisis ekonomi global.

Jaya Suprana Budayawan



http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/31/03563883/tessy