BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » MUHAMAD Aris, 38, dan rokok ibarat teman karib. Pria asal Desa Perigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, itu tak bisa lepas dari rokok. B

MUHAMAD Aris, 38, dan rokok ibarat teman karib. Pria asal Desa Perigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, itu tak bisa lepas dari rokok. B

Written By gusdurian on Rabu, 21 Januari 2009 | 10.15

MUHAMAD Aris, 38, dan rokok ibarat teman karib. Pria asal Desa Perigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, itu tak bisa lepas dari rokok. Berbatang-batang rokok telah menjadi teman sejatinya. Pokoknya, dari mulutnya tiada hari tanpa asap rokok.
“Dalam sehari, saya paling tidak menghabiskan dua bungkus rokok,” kata pria yang mengaku bekerja sebagai buruh.

Aris sebenarnya sudah lama ingin berhenti merokok. Apa daya, racun nikotin telah membuat Aris kecanduan. “Niat untuk berhenti merokok sudah lama ada, tetapi susah banget,” katanya.

Pada Minggu (18/1), di lapangan Kecamatan Pondok Aren, Jl Graha Raya, Perigi Baru, Pondok Aren, Tangerang Selatan, digelar acara Gerakan Stop Merokok. Pada acara itu terdapat stan terapi spiritual emotional freedom technique (SEFT).

Sebagai pecandu rokok, Aris yang juga jadi anggota panitia acara penasaran dengan SEFT. Kepada Jusman Nasir, 58, salah seorang penerapi SEFT, Aris mengatakan ingin diterapi agar kebiasaan merokoknya hilang.

Setelah berbicara dengan Jusman, beberapa bagian tubuh Aris mulai diketuk-ketuk (tapping). Yakni di ubunubun, wajah, dada, tangan, dan badan. Selama 10 menit, Jusman mengetuk tubuh Aris. Aris yang semula tak percaya mulai merasakan tenggoroknya terasa hambar. Selang 15 menit kemudian, Aris merasakan efek yang lain lagi. “Mulut saya terasa sangat pahit dan tak ingin merokok,” katanya.

Dian Serly, CSR Officer LoGos Institute yang mengembangkan SEFT, menjelaskan panjang lebar tentang SEFT. “SEFT adalah metode dari emotional freedom technique (EFT) yang dikembangkan Ahmad Faiz Zainuddin,” tutur mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia tersebut.

Ahmad adalah psikolog alumnus Universitas Airlangga yang kini menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Teknologi Malaysia. “SEFT sebenarnya pengembangan EFT yang dipopulerkan oleh Gary Craig pada 1991,” kata Dian.

Gary mendapat ilmu dari doktor psikolog klinis lulusan University of Michigan, Amerika Serikat, Roger J Calllahan. Tetapi Callahan tidak menamakan terapinya sebagai EFT, tapi thought field therapy (TFT).

Pada 1980, Callahan menangani seorang kliennya, Mary, yang mengalami intense aqua phobia (fobia air akut). Dengan ilmu psikologi yang dimilikinya, ia mencoba mengatasi fobia pada Mary, tapi gagal. Saat dicoba dengan terapi tapping, ternyata Mary sembuh dari fobianya.

Dalam bukunya, Ahmad menjelaskan SEFT adalah salah satu varian dari cabang ilmu baru yang dinamai energy psychology. “SEFT adalah gabungan antara kekuatan spiritual dan energi psikologi,” katanya.

Menurut Dian, SEFT mirip akupunktur dan akupresur yang menggunakan sistem energi untuk menyembuhkan pasien. Dalam mengobati pasiennya, seorang akupunktur menancapkan beberapa jarum ke titik jalur energi (energy meredien).

“Sementara itu, ahli akupresur dan refleksiolog menekan beberapa titik di kaki untuk menyembuhkan penyakit yang ‘jauh’ dari kaki seperti sakit ginjal dan hipertensi,” tuturnya.

Menurut Dian, SEFT bekerja dengan prinsip hampir sama dengan akupunktur dan akupresur. “Ketiganya berusaha merangsang titik-titik kunci di sepanjang energy meridian yang sangat berpengaruh pada kesehatan kita,” katanya.

Tetapi SEFT lebih aman daripada akupunktur dan akupresur serta lebih sederhana. Jika akupunktur dan akupresur menggunakan 361 titik di sepanjang jalur energi tubuh, SEFT hanya menggunakan 18 titik.

“Akupunktur harus menggunakan jarum, sedangkan SEFT hanya menggunakan tapping yang tak ada efek samping,” katanya. (Drd/S-7)




http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/01/21/ArticleHtmls/21_01_2009_015_002.shtml?Mode=1
Share this article :

0 komentar: