Dari Bekasi Memburu Gelar Super
Pecatur belia Irene Kharisma tengah membidik gelar grandmaster super. Modalnya berlatih keras mengamati seribu partai dalam sepekan.
KAYU-kayu itu sama sekali tidak bersalah. Namun pria itu terus memelototinya. Persis seperti ayah yang marah kepada anaknya. Wajahnya keruh dan bibirnya pun, sori, maju-mundur mengusir gundah. Di meja lain, ada yang menggaruk-garuk kepala. Namun ada pula yang mesam-mesem, merasa strateginya mulai mendatangkan hasil. Ada juga yang celingukan melihat papan catur di meja sebelah.
Semua gara-gara perempuan muda yang berkeliling dari satu meja ke meja lain. Dialah Irene Kharisma Sukandar, 16 tahun, grandmaster wanita produk asli negeri ini. Selasa pekan lalu, dia datang ke Tempo untuk bermain catur simultan atau bertarung dengan banyak pemain dalam waktu bersamaan. Lawannya: 11 pecatur terbaik Tempo.
Prestasi Irene mengagumkan. Dialah pecatur pertama dan satu-satunya di negeri ini yang meraih gelar grandmaster wanita, pada usia yang sangat belia: 16 tahun. Gelar ini diraihnya tidak saja karena dia cerdas, tapi juga karena memiliki mental baja, penuh kesabaran, dan punya tekad yang luar biasa. Salah satu gurunya adalah pecatur terbaik Indonesia, Grandmaster Utut Adianto—Irene mengaku ”tak pernah main serius dengan Pak Utut, cuma menganalisis”.
Lihat saja buktinya. Selama tahun kemarin, dia melewati sebuah perjalanan yang berat. Dia memang bertekad meraih gelar grandmaster wanita. Namun syaratnya susah, harus mengumpulkan tiga norma atau kemenangan mutlak dalam sebuah turnamen. Norma juga hanya diperoleh bila rating lawannya jauh lebih baik.
Jalan terjal dia tempuh. Pertama kali terjadi di Japfa Chess Festival di Jakarta, April 2008. Pertandingan ini sengaja dibuat sebagai jalan pembuka bagi Irene untuk meraih norma awal. ”Tentu saja membuat beban bagi saya,” katanya. Namun hasilnya manis. Dia mampu keluar dari tekanan. Norma pertama dia kantongi. ”Itu merupakan hadiah ulang tahun bagi saya,” katanya. Norma keduanya diperoleh di Malaysia Open, Kuala Lumpur.
Nah, tinggal satu norma lagi. Irene berhasil membuat catatan gemilang di Olimpiade Catur di Dresden, Jerman. Dalam sembilan babak pertandingan, dia mengalahkan lima pecatur, bermain remis dengan tiga lawannya, dan hanya sekali kalah, dari Tatiana Kosintseva, pecatur Rusia. Umumnya mereka memiliki rating yang lebih tinggi daripada Irene. ”Tapi, setelah dihitung-hitung, rasanya saya belum mendapatkan angka yang ditentukan,” katanya.
Irene tak peduli. Tekadnya yang kuat menuntunnya pergi ke Singapura Terbuka, Desember lalu. Apa daya, di sana lawan yang dihadapinya di babak kedelapan adalah Yang Kaiqi dari Cina. Mujur tak dapat diraih. Dalam pertandingan itu, Irene menawarkan hasil remis, tapi ditolak lawannya. ”Namun akhirnya dia saya kalahkan, he-he-he….” Irene menduga, mungkin lawannya itu menganggap remeh—”Mentang-mentang Elo rating-nya lebih tinggi.”
Untuk membuang kesal, Irene mencari angin dengan berjalan-jalan di sekitar arena. Ketika hendak ke toilet, tak dinyana dia berpapasan dengan Presiden Konfederasi Catur ASEAN Ignatius Leong. Ternyata kejutan terjadi di sana. Leong, yang juga Sekretaris Jenderal Federasi Catur Internasional (FIDE), mengabarkan bahwa Irene telah berhak menerima gelar grandmaster wanita. ”Sungguh tak bisa dipercaya. Puji Tuhan. Ini merupakan hadiah Natal yang indah,” kata Irene dengan wajah berbinar, mengenang peristiwa itu.
Semua berawal dari pengorbanan sejak sepuluh tahun silam. Saat itu, Singgih Yehezkiel, ayahnya, yang juga mantan atlet nasional tenis meja, melihat bakat anak keduanya itu. Singgih pun memasukkan Irene ke sekolah catur. Sayang, Sekolah Catur Utut Adianto—awalnya bernama Sekolah Catur Enerpac—pindah lokasi ke Bekasi, Jawa Barat.
Alhasil, Singgih dan Ratna Mulia, ibu Irene, secara bergantian harus menempuh jarak puluhan kilometer dari rumahnya di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Agar Irene lebih serius belajar catur, Singgih memboyong keluarganya dan mengontrak rumah di dekat sekolah catur itu. Ratna pun berhenti bekerja.
Irene pun membalasnya dengan kerja keras. Praktis, dibanding anak-anak seusianya, Irene lebih banyak menghabiskan waktu di meja catur dan bepergian untuk bertanding. Setiap pekan dia mengamati 1.000 partai. Sehari dia berlatih catur tujuh jam. ”Di komputer saya, saat ini tersimpan sekitar 3,5 juta partai,” katanya. Waktu luangnya, menurut dia, lebih banyak dihabiskan untuk melakukan hal yang bermanfaat. ”Saya jarang jalan-jalan ke mal, dan lebih suka membaca buku,” jawabnya.
Kini, di usianya yang belia, Irene sudah mencapai prestasi gemilang. Namun ternyata itu belum cukup. ”Saya ingin menyandang gelar grandmaster super dan menyandang gelar di turnamen yang diikuti pecatur putra,” katanya. Rupanya, dia terinspirasi pecatur top kelas dunia, Judith Polgar, asal Hungaria, yang selalu bertanding dengan pria, di antaranya berduel dengan Utut di Jakarta. ”Tapi, setelah menikah, prestasi Judith melorot,” kata Irene.
Grandmaster super? Langkah yang berat. Masalahnya, untuk mencapai gelar ini, ia mesti mengumpulkan rating Elo hingga 2.500-2.600 dan mendapatkan tiga norma grandmaster lagi di kelas itu. ”Paling tidak, butuh waktu sekitar dua tahun,” kata Irene, yang kini memiliki rating Elo 2.300.
Untuk itulah tahun ini dia akan selektif memilih kejuaraan. ”Agar lebih efektif dan terfokus untuk menaikkan rating,” ujarnya. Untuk itu, dia pun serius berlatih—sesekali diselingi berenang. Keseriusan itulah yang menjadi kunci keberhasilan Irene. Itu juga yang diperlihatkannya saat menggasak para pecatur Tempo—beberapa di antaranya telah berlatih dengan melawan komputer. Nyatanya, semua jagoan itu tumbang.
Coba simak caranya melangkah dengan buah putih. Irene punya pembukaan favorit, yakni memajukan bidak e4—jurus agresif yang siap dengan pertempuran frontal. Ini langkah awal andalan juara dunia, si jenius asal India yang menjadi favorit Irene, Viswanathan ”Vishy” Anand.
Nyatanya ampuh. Dalam permainan tengah, pergerakan buah catur Firman Atmakusuma, salah satu peserta, tiba-tiba macet. Serangan menteri ke jantung pertahanannya membuatnya terkesiap, lalu, beberapa detik kemudian, Firman mengajak Irene bersalaman. Sebelas lawan dilalap hanya dalam waktu tak lebih dari 90 menit! ”Mereka lawan berat saya bertanding simultan di awal tahun ini, sampai berdarah-darah,” kata Irene.
Berdarah-darah? Sejumlah anggota redaksi yang menyaksikan sempat gede rasa. Rupanya, dia berseloroh ketika mengomentari ”berat”-nya pertandingan sore itu. Yang benar, aha, punggung tangan kanannya sedikit terluka, tergores paku payung yang menempel pada meja panjang berbentuk huruf ”U” untuk tanding simultan.
Saat matahari pulang, Irene pun pamit. Irene mengaku terkesan dengan pertarungan simultan pertamanya tahun ini. Hari-hari ke depan, di rumahnya di kawasan Bekasi Timur, Irene masih akan duduk menghadap monitor, mempelajari berbagai pertandingan catur kelas dunia, demi seonggok mimpi: meraih gelar grandmaster super.
WMU, Irfan Budiman, Agung Sedayu
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/01/19/OR/mbm.20090119.OR129269.id.html
Dari Bekasi Memburu Gelar Super
Written By gusdurian on Rabu, 21 Januari 2009 | 11.14
Related Games
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar