BERITA DARI ANDA UNTUK MEDIA KLATEN

Home » » Arah Politik Cendana

Arah Politik Cendana

Written By gusdurian on Rabu, 21 Januari 2009 | 11.19

Arah Politik Cendana
Mendompleng Karena Sadar Kurang Moncer
Deden Gunawan - detikNews



Jakarta - Wajah Halida Hatta kini sering tampil di iklan politik Gerindra di televisi. Ia juga menjadi salah satu caleg Gerindra di daerah pemilihan Sumatera Barat. Terjunnya putri bungsu Proklamator RI Mohammad Hatta ke kancah politik seolah melengkapi perjalanan putri Bung Hatta lainnya, yakni Meuthia Hatta yang kini menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan di pemerintahan SBY.

Munculnya putri-putri Bung Hatta tentu semakin mewarnai dunia perpolitikan di tanah air yang pada awal reformasi didominasi anak-anak Bung Karno, seperti Megawati, Rahmawati, Sukmawati, serta Guruh Soekarnoputra. Bahkan pada pemilu 2009, cucu Soekarno juga mulai ikut nyemplung mengikuti jejak orang tua mereka. Sebut saja Puan Maharani, putri Megawati yang tercatat sebagai caleg PDIP di Jawa Tengah serta Puti Guntur, putri Guntur Soekarnoputra, yang maju sebagai caleg PDIP untuk wilayah Jawa Barat.

Bagi partai-partai yang pengusung anak-anak tokoh nasional cukup pontensial untuk meraih dukungan suara. Jadi partai tidak perlu memakan waktu lama untuk mengenalkan kader "darah biru' tersebut ke masyarakat.

Itu juga yang coba dimanfaatkan Partai Demokrat dengan mengusung Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas. Anak bungsu SBY tersebut sekarang tercatat sebagai caleg dari PD di dapil Jawa Timur VII. Dengan mengusung Ibas, PD berharap bisa meraup suara dukungan yang lebih besar dari para pengagum SBY.

Lantas bagaimana dengan anak-anak mantan penguasa Orde Baru, Soeharto? Sejauh ini anak sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana, merupakan "darah biru" keluarga Cendana . Saat Soeharto berkuasa, Tutut, panggilan perempuan kelahiran 23 Januari 1949 ini, sudah dipersiapkan jalan politiknya.

Tutut pernah jadi anggota parlemen dan sempat menjabat sebagai Menteri Sosial pada Kabinet Pembangunan VII, yang merupakan kabinet pemerintahan Soeharto yang terakhir. Di samping sebagai politikus, Tutut juga dikenal sebagai pengusaha dan menjadi ketua maupun pelindung berbagai organisasi.

Sejarahwan Asvi Warman Adam mengatakan, di penghujung kekuasaan Orde Baru, Soeharto menunjuk orang-orang kepercayaannya, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) R. Hartono dan pengusaha Bob Hasan sebagai mentor politik bagi Tutut.

Sayangnya, sebelum Tutut lulus penggemblengan, Soeharto dilengserkan pada Mei 1998. "Tutut sudah dipersiapkan sejak 1997, tapi Soeharto keburu lengser. Jadi pengkaderannya terhenti saat itu," jelas Asvi kepada detikcom.

Tapi di tahun 2003, Hartono berusaha melanjutkan upaya penggemblengan Tutut yang sempat terhenti. Ia bersama Letjen (Purn) Ary Mardjono, mantan Menteri Agraria dan Ketua BPN dalam Kabinet Pembangunan VII, kemudian membentuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Hartono melalui PKPB berusaha merangkul simpatisan Soeharto di Pemilu 2004.

Ternyata nasib Tutut tidak bisa menyamai putri Soekarno maupun Hatta. Kalau Megawati sempat menjadi presiden dan Meuthia Hatta berhasil duduk sebagai menteri di Pemerintahan SBY, Tutut di Pemilu 2004 tidak meraih apa-apa. Sebab perolehan suara PKPB tidak seberapa saat itu.

Karena itu, pengamat politik dari Indo Barometer Muhammad Qodari menilai, persepsi yang menyebutkan kalau pendukung Soeharto masih sangat besar, tidak terbukti di Pemilu 2004. Namun apakah kondisinya akan serupa di Pemilu 2009, Qodari belum bisa menyimpulkan. Sebab sejauh ini ia mengaku tidak punya data dan informasi terkait sumber daya yang dimiliki keluarga Soeharto di Pemilu 2009.

Pada pemilu kali ini, keluarga Cendana kabarnya mengalihkan dukungan ke Gerindra, partai yang dibentuk Prabowo Subianto, mantan Pangkostrad yang juga bekas menantu Soeharto. Dukungan itu disampaikan keluarga Cendana Desember lalu.

Menurut informasi yang diterima detikcom, setelah menyatakan dukungan itu, Probosutedjo, adik tiri Soeharto mengumpulkan sejumlah kolega di sebuah tempat di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Probo juga mengundang Prabowo. Acara kumpul-kumpul itu kabarnya membahas pemenangan Prabowo dan Gerindra di Pemilu 2009.
.
Namun kata Qodari, sejauh ini dirinya belum melihat secara jelas sinergi antara Prabowo dan keluarga soeharto. Sebab dalam beberapa kesempatan Prabowo belum pernah mengeluarkan pernyataan terkait Soeharto. "Prabowo belum pernah mengeluarkan pernyataan soal Soeharto, misalnya membanggakan Orde Baru atau memuji-muji Soeharto," jelas Qodari.

Sedangkan Sekjen PKS Fahri Hamzah, yang dikenal dekat dengan Titiek Soeharto berpendapat, popularitas anak-anak Soeharto di politik masih kalah jauh dengan keluarga Soekarno maupun Hatta. Soalnya saat berkuasa, Soeharto tidak pernah mengedepankan ideologi. Bahkan Soeharto cenderung menghancurkan ideologi-ideologi yang ada.

"Saat berkuasa Soeharto tidak pernah mengeluarkan ajaran-ajaran. Dia juga tidak pernah berpidato di hadapan publik. Sehingga tidak melahirkan pengikut. Beda dengan Soekarno maupun Hatta," terang Fahri.

Karena itu, kata Fahri, paham Soehartoisme tidak pernah ada di masyarakat. Apalagi para pengikut Soeharto pun umumnya bersifat oportunis. Yang loyal hingga sekarang bisa dihitung dengan jari. Akibatnya pengaruh politik keluarga Soeharto tidak bisa membesar pasca lengsernya Soeharto. Tidak seperti keluarga Soekarno maupun Hatta.

Sadar kalau kekuatannya sudah tidak apa-apanya saat ini, keluarga Soeharto diduga berupaya mendompleng pengaruh nama besar keluarga begawan ekonomi, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, melalui Prabowo. (ddg/iy)

http://www.detiknews.com/read/2009/01/21/104720/1071951/159/mendompleng-karena-sadar-kurang-moncer
Share this article :

0 komentar: